
"Keras kepala sekali kamu ! Apa sih susahnya mengaku. Publik gak akan ada yang peduli sama kamu karena kamu bukan artis. Nggak akan ada yang membully kamu juga Berbeda dengan Luna yang memang seorang artis. Sampai sekarang Luna terus dihujat dan menjadi bulan-bulanan netizen. Apa kamu nggak kasihan dan setega itu dengan saudara kandung kamu sendiri? Kamu.."
"Pa."
Hendarawan berhenti berbicara.
"Apa Papa nggak ingin tahu bagaimana keadaanku sekarang? Apa Aku sedang bersedih atau tidak? Apa Aku sedang baik-baik saja atau tidak. Papa tidak ingin tahu?."
Hening.
Lalu Rachel tertawa kecil.
"Kenapa juga Papa peduli sejak awal Putri Papa hanya satu kan hanya Luna. Aku saja terlalu berharap. Ya sudah Papa lindungi saja Putri Papa dengan cara papa. Aku juga akan melindungi diri sendiri dengan caraku. Tolong jangan memintaku untuk membela Luna karena aku juga butuh pembelaan untuk diriku sendiri. Sudah dulu ya, Pa. Aku ngantuk. Selamat malam, Papa selamat beristirahat."
Tanpa menunggu jawaban dari papa nya, Rachel langsung mengakhiri panggilan. Memblokir nomer papa nya, menonaktifkan ponsel lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh kepalanya. Memaksakan diri untuk tidur untuk mengurangi kesedihan, tapi sialnya air mata nya terus mengalir.
***
"Maaf, semalam aku ngga bales chat kamu, semalam aku terlalu larut chatingan sama Papa."
Brandon yang sedang menyetir menoleh sekilas pada Rachel dan tersenyum samar, "Aku pikir kamu chatingan sama Farel sampai melupakan aku."
"Ya ampun enggak lah, kamu pacarku. Aku akan mencoba memprioritaskan kamu."
Brandon menganguk, "Ngomong-ngomong soal chatingan kamu sama papa kamu itu, kalian sudah baikan?."
Rachel menghela nafas berat, lalu menggeleng dan mulai bercerita pembicaraannya dengan Hendrawan semalam termasuk ancaman Papa nya untuk melaporkan Bastian ke polisi.
"Begitulah. Papa selalu memprioritaskan Luna. Kadang aku bertanya-tanya kapan papa datang kepadaku dengan perasaan tulus seorang Ayah pada putrinya. Kapan Papa tulus perhatian dan tulus memberiku kasih sayang."
Brandon menggulurkan tangan dan menumpukkan tangan kirinya pada tangan Rachel lalu menggenggam erat.
"Ga papa. Meskipun kamu ngga mendapat perhatian dan kasih sayang Papa kamu. Masih ada aku. Aku bisa jadi sosok papa buat kamu, bisa jadi sosok sahabat, sosok teman atau sosok apapun yang kamu inginkan."
Rachel tersenyum, "Kalau jadi spiderman?."
__ADS_1
"Bisa. Nanti aku cari laba-laba ajaib dan menggigitkan tanganku biar aku berubah jadi spiderman. Nanti aku buatkan rumah dengan jaring laba-laba."
"Ya ampun, bisa aja kamu."
Brandon tersenyum dan fokus menatap depan lagi, sementara tangan kirinya tetap setia menggenggam tangan Rachel. Sesekali menoleh memandangi wajah kekasihnya dari samping. Rachel tampak cantik dengan jumpsuit abu-abu, rambut di kucir dan make up tipis.
"Rachel,"
"Hm,"
Rachel yang tadinya memandang ke arah luar jendela beralih pandangan nya pada Brandon.
"Thanks hari ini kamu mau nemenin aku latihan basket."
"Nggak perlu terima kasih, kuliah ku nanti siang. Jadi pagi ini aku bisa nemenin kamu."
Brandon menganguk, "Dan thanks juga kamu mau memakai morning gift yang aku berikan tadi pagi."
Rachel mengerjab, "Oh ikat rambut ini." meraba kuncir rambut, lalu melempar senyum pada Brandon. "Iya dong, aku menghargai pemberian kamu. Ikat rambutnya juga lucu. Aku suka."
Rachel merasa canggung dan aneh. Genggaman tangab seperti ini, Rachel merasa tidak nyaman. Namun sesuai dengan janjinya pada Brandon, Rachel akan mencoba mencintainya.
Mungkin dengan melakukan hal-hal seperti ini, bergandengan tangan, sering jalan bersama, dan saling curhat, perasaan itu akan tumbuh seiring berjalan nya waktu.
Namun jika boleh jujur Rachel ingin berhenti sampai di sini, tapi rasanya sangat jahat jika Rachel melakukan itu.
Sesampainya di gedung latihan, Brandon mematikan mesin mobil
"Ayo turun!." Rachel ingin turun dari mobil tapi Brandon menggenggam tangannya membuat Rachel menolehkan kepala lagi padanya.
"Ada apa?."
"Apa kamu bahagia sekarang?."
Rachel mengerjab, "Bahagia, maksudnya bahagia karena apa?."
__ADS_1
Brandon masih menatap lurus ke depan, lalu perlahan menolehkan kepala pada Rachel, menatap tepat di bola matanya. Begitu juga Rachel yang menatap lekat padanya. Ada hal berbeda dengan tatapan Brandon kali ini, tapi sulit Rachel jelaskan.
"Brandon ada apa?."
Tanpa kata, Brandon merengkuh tubuh Rachel dan memeluk erat, Rachel terkejut.
"Aku mencintaimu, aku terlanjur sangat mencintaimu. Tolong apapun yang terjadi jangan pergi. Aku membutuhkan kamu, Rachel. Aki mohon."
Dari getar dan gugup suaranya, Rachel bisa merasakan ketakutan Brandon sekarang.
Rachel meremas sisi bajunya untuk menyalurkan rasa tak menentu di hatinya sekarang.
Rachel merasa terjebak dengan janjinya sendiri, janji yang dia ucapkan dalam keadaan kacau dan terpuruk. Benar kata orang, saat pikiran sedang sumpek, jangan sampai mengucapkan janji atau akan menyesalinya di kemudian hari.
Tapi kenapa rasanya sulit sekali
"Tolong bertahan sebentar lagi, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku," Brandon mengeratkan pelukan.
Dengan keraguan, kebingungan dan kegelisahan. Rachel mengangkat tangan membalas pelukan Brandon. Menepuk-nepuj lembut punggungnya untuk menenangkan.
"Udah nggak usah di pikirin masalah hati duku. Hari ini kamu ada penilaian harian dan dilihat oleh coach timnas langsung. Kamu harus fokus. Aku akan mendukung kamu."
"Apa aku bisa?."
"Pasti bisa."
Rachel melepas pelukan Brandin dan menangkup pipinya.
"Kamu pasti bisa. Kamu sudah berjuang dan latihan maksimal. Nggak usah gugup gitu, anggap saja latihan biasa. Kalau kamu gugup lihat aku, ku akan berserakan paling keras untuk kamu.
Brandon tersenyum, "Terima kasih."
"Sama-sama. Ayo."
Rachel tidak tahu bagaimana kedepannya, tapi untuk sekarang Brandon membutuhkan nya dan Rachel akan mencoba selalu ada untuk Brandon, seperti yang Brandon lakukan padanya.
__ADS_1
***