Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 161


__ADS_3

Rana yang melihat interaksi absurd abang-abang ini sampai menggeleng-gelengkan kepala, "Ya ampun mendengar percakapan laki-laki dewasa ternyata sangat menggelikan."


Sontak saja semua orang tertawa mendengar celotehan Rana.


Rendy mengalihkan perhatian pada Rana.


"Geli? Ini nih yang namanya geli," Rendy mendekati Rana dan menggelitiknya.


"AAARGGG AYAH," Rendy tertawa puas mendengar anak teriak-teriak


"Rendy berhenti atau sepatu saya melayang ke kepala kamu!." ancam Anthony.


Rendy meringis, "Anak Om duluan yang jailin saya."


Rana bersembunyi di belakang Anthony sambil menjulurkan lidah pada Rendy. Rendy membuat gerakan menggores di leher tanda mengancam tapi Rana tidak takut justru menari-nari jail .


"Sudah ya, sekarang kita pulang malah jadi keasyikan ngobrol di bandara. Rachel pasti capek kan baru perjalanan jauh."


"Nggak capek kok, Tante," jawab Rachel jujur. Dia tidak merasa lelah sama sekali meskipun perjalanan jauh. Mungkin karena sakit excited nya pulang perjalanan jauh itu sama sekali tak terasa.


"Nggak capek, soalnya kan Kak Rachel Pulangnya sama Abang," goda Rani yang langsung mendapatkan cinta dari Farel. Rani akan selalu jadi adik favorit Farel karena Rani selalu mendukungnya apapun yang terjadi. Sedangkan Rana dan Reza adik-adiknya yang super tengil yang selalu mencari celah untuk menggodanya.


"Dih mana ada. Rasa capek Rachel hilang setelah bertemu gue." Protes Reza tak terima.


"Rachel nya mama culik aja biar nggak jadi rebutan terus." Sarah melingkarkan tangan di lengan Rachel dan mengajaknya pergi. Farel dan Reza saling berebutan berjalan di samping Rachel.


Anthony mengikuti istri dan calon mantunya bersama Rana yang melingkarkan tangan di lengan Anthony sementara Rendy berjalan di belakang Rana dan menarik rambut Rana yang dikuncir kuda.


"Bang Rendy," Rana melotot pada Rendy.


Rani berjalan di belakang bersama Bastian yang melingkarkan lengan di pundaknya. Sementara Dypta berjalan di samping Bastian.


***


"Sekarang pak Hendrawan sudah mandi dan segar," ucap Johng setelah membantu Hendrawan mandi.


Dengan kondisinya yang sekarang Hendrawan kesulitan untuk mandi sendiri, apalagi kakinya belum sembuh sepenuhnya pasca kecelakaan seminggu yang lalu. Hari itu, Hendrawan mengendarai mobil sendiri mencari Ayuma dan Rachel. Namun karena tidak konsentrasi dan melamun memikirkan mereka, Hendrawan kecelakaan yang mengakibatkan patah kaki.

__ADS_1


Dulu selama 3 bukan setelah kepergian Ayumpa dan Rachel, Hendrawan begitu terpuruk bahkan nyaris tidak mau makan. Berkat bujukan dan motivasi Johny, akhirnya Hendrawan bersemangat lagi menjalani hidup. Motivasi itu Hendrawan harus sehat dan panjang umur agar dia bisa terus mencari Ayuma dan Rachel. Tapi ada kalanya dia juga mengalami drop dan sudah puluhan kali dia keluar masuk rumah sakit selama 5 tahun ini.


"Terima kasih," ucap Hendrawan dengan tulus.


"Sama-sama," Johny melempar senyum, "Ya sudah kalau begitu saya harus pergi, Pak. Masih ada pekerjaan di kantor."


"Iya, saya juga mau mencari mereka lagi."


"Dokter bilang Pak Hendrawan nggak boleh beraktifitas terlalu berat. Nanti saja setelah Pak Hendrawan sembuh total dan bisa berjalan lagi Pak Hendrawan cari mereka, saya juga akan mencari mereka setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor nanti."


"Saya tidak bisa tenang dan merasa bersalah jika hanya diam saja di rumah."


"Iya Pak saya mengerti, tapi sekarang situasinya berbeda kondisi Pak Hendrawan tidak Fit. Jangan terus memacu diri sendiri terlalu keras juga menyalahkan diri sendiri Pak Hendrawan sudah melakukan sebaik mungkin untuk mencari mereka. Kalau Bapak melawan terus dan memaksakan diri seperti ini nanti kondisi bapak akan semakin drop, sakit Bapak semakin parah dan semakin lama juga proses penyembuhan semakin lama juga bapak bisa mencari Bu Ayuma dan Rachel lagi."


Hendrawan menghela nafas berat dan panjang


"Ya dudah kalau begitu saya pergi sekarang, nanti Perawat akan datang untuk memeriksa kondisi Pak Hendrawan dan menyiapkan sarapan permisi!."


Setelah Hendrawan mengangguk, Johny keluar kamar Hendrawan.


Sesampainya di halaman depan ada sebuah mobil Porsche memasuki halaman rumah itu mobil perawat Hendrawan.


"Luna," Sapa Johny.


"Selama pagi, Paman." Sapa Luna.


"Pagi, Paman," Si kecil Kevin tidak mau kalah dan ikut menyapa Johny.


Sopir yang mengantar Luna melajukan mobil menuju ke garasi, sementara Luna masih mengobrol dengan Johny di halaman.


Benar, perawat yang selama sekitar 3 tahun ini merawat Hendrawan adalah Luna. Awal mulanya beberapa tahun yang lalu saat Kevin sakit dan Luna membawanya ke rumah sakit, tanpa sengaja Luna melihat Hendrawan. Saat itu Hendrawan masuk UGD dan Johny menunggu di luar ruangan. Luna menanyakan kabar Hendrawan melalui Johny, Johny mengatakan kondisi Hendrawan sedang drop, kelelahan mencari Ayuma dan Rachel.


Lalu hari itu Luna meminta kontak Johny untuk memantau kondisi Hendrawan. Hingga suatu hari Luna memiliki ide untuk menjadi seorang perawat agar bisa menjenguk Hendrawan secara langsung. Penyamarannya berlangsung sampai sekarang. Untung saja tidak ketahuan sehingga Luna bisa berlama-lama mengurus Hendrawan.


Luna juga sudah izin pada Brandon, syukurlah Brandon mengizinkan asalkan jangan sampai ketahuan.


"Paman Johny mau berangkat kerja? Papa udah berangkat waktu Kevin ke sini tadi," celoteh Kevin.

__ADS_1


Johny tersenyum dan mengusap pipi Johny.


"Iya, Paman Johny mau berangkat kerja Kevin pasti sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Oppa Hendrawan kan?."


"Iya, Paman."


"Ya udah kalian masuk aja, Paman berangkat sekarang."


"Iya Paman. Semangat bekerja." Kevin tersenyum dan memberikan semangat pada Johny.


Setelah mobil Johny meninggalkan gerbang rumah, Luna dan Kevin masuk ke dalam rumah.


"Kita langsung ke kamar Oppa yah."


"Iya, Mama tapi Kevin mau jalan aja. Mama pasti berat gendong Kevin terus."


"Nggak berat kok, mama senang menggendong Kevin. Karena nanti Kevin sudah besar mama nggak akan kuat menggendong Kevin. Tapi kalau Kevin mau jalan sendiri mama turunkan Kevin sekarang."


Dengan hati-hati Luna menurunkan Kevin lalu menggenggam tangannya dan berjalan lagi menuju ke kamar Hendrawan.


"Mama nggak kepanasan pakai rambut palsu begitu?." tanya Kevin.


"Nggak, Sayang. Mama suka pakai ini. Pokoknya Kevin nggak boleh bilang sama Opa Hebdrawan kalau mama pakai wig. Jangan juga panggil nama mama, mama Luna di depan Oppa Hendrawan yah."


"Oke, mama." Kevin tidak mengerti kenapa mama nya menyuruh begitu. Tapi Kevin akan menuruti apapun perintah mama nya.


Sesampainya di depan kamar Hendrawan, Luna mengetuk pintu. Kevin mengepalkan tangan kecilnya dan mengetuk juga. Kevin mendongak dan meringis menatap mama nya.


"Boleh kan mama?."


"Boleh, ayo ketuk lagi, sekalian panggil nama Oppa Hendrawan."


Kevin mengetuk pintu lagi, "Oppa, Oppa Hendrawan. Aku Kevin. Aku datang sama Mama."


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2