Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 68


__ADS_3

"Uh ngga modal, mau bayar gue pake uang curian?."


Farel tertawa keras, "Rachel tiupin dong biar cepat sembuh."


"Iya, iyah deh."


Rachel menunduk dan meniup lengan Farel. Farel tersenyum dan memandang wajah Rachel yang berjarak lebih dekat. Dengan tangan kirinya Farel mengacak-ngacak rambut Rachel.


"Udah lama gue ngga di giniin."


"Ih berantakan nih." Rachel menegakkan badan dan merapikan rambutnya lagi.


"Oh yah cerita dong, kok lo datang ke apartement gue luka-luka gitu? lo kecelakaan? apa penyebabnya? nyebrang ngasih hati-hati? di tabrak pengendara lain? atau karena lo ngelakuin?."


"Gue ngelamun."


"Ngelamun apa?."


Farel menggenggam tangan Rachel, "Awalnya gue ingin menyembunyikan ini, tapi kalau di pikir-pikir, sebaiknya lo harus segera tahu. Dan gue harap lo ngga akan sedih. Ah lo pasti sedih denger ini, tapi gue harap lo ngga akan berlanjut dalam kesedihan. Gue akan selalu ada di sisi lo."


"Sembunyikan apa? jangan bikin gue deg-deg an dong. Ayo cerita!."


"Tapi janji jangan sedih! maksud gue jangan larut dalam kesedihan."


"Ya apa dulu cerita nya, kalau calon suami gue Gavi kenapa-napa gue sedih lah."


Farel tersenyum, Rachel masih bisa bercanda tapi entah bagaimana nanti setelah dia tahu kenyataan pahit bahwa Ayahnya selingkuh.


Apa Farel masih bisa melihat senyum ceria nya? Apa Farel masih bisa mendengar tawa riangnya? Ah seperti nya tidak. Sudah pasti Rachel berubah menjadi pemurung. Meskipun dua tertawa dan tersenyum, itu hanya topeng untuk menyembunyikan lukanya.


"Rel, ayo dong cerita jangan bikin gue penasaran mulu. Sesuatu yang membuat gue sedih? Apa ya kira-kira? Eh... jangan bilang lo punya penyakit serius? penyakit kronis mematikan gitu? serius, Rel, lo ngga sakit parah kan?."


Farel tersenyum sembari menggelengkan kepala pelan.


"Bukan, gue baik-baik saja."


"Ya terus apa? cepetan deh cerita."


Farel menghela nafas berat, menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan. Pandangan matanya menyorot teduh sekaligus terlihat kekhawatiran membuat jantung Rachel berdebar tak sabar menunggu cerita Farel.


"Jadi gini... Sebenernya Papa lo..."


"Iya, Papa kenapa?."

__ADS_1


"Papa lo se-"


Tok... tok...


Kalimat Farel tertahan saat mendengar suara ketukan pintu.


"Mamah sama Ayah boleh masuk nggak? atau kalian masih ingin bicara?." tanya Sarah dari luar ruangan.


"Boleh kok Tante masuk aja," ucap Rachel lalu mengalihkan perhatian pada Farel, "Sesuatu yang mau lo bilang itu nggak urgent-urgent banget kan? Masih bisa di tunda kan? kita bicarakan nanti saja setelah makan bersama.


Farel menganguk.


Tak lama Sarah dan Anthony masuk ke dalam ruangan.


"Rachel, sini makan, Nak." panggil Sarah sambil mengeluarkan boks-boke makanan dari kantung makanan ke meja. Sementara Anthony sudah duduk dan mencebloskan sedotan ke cup minuman.


Rachel mendekat dan duduk di samping Anthony.


"Kamu suka ini kan?, Om antri ini buat kamu." Anthony mengulurkan cup minuman blueberry kesukaan Rachel. Tentu Anthony tahu karena Rachel sering membawa Blueberry Ice saat datang ke rumah sampai-sampai si kecil Reza jadi suka Blueberry Ice.


"Terima kasih, Om."


"Rachel, kamu tahu. Reza kan suka banget sama kamu, jadi apapun yang kamu sukai pasti ikut di cobain. Contohnya yah Blueberry Ice ini. Dulu awal-awql kamu datang ke rumah membawa Blueberry Ice hampir setiap hari Reza minta di buatkan," Sarah tertawa mengingat rengekan putra kecilnya itu saat minta di biaykan Blueberry Ice tapi sekarang Reza sudah bisa membuat sendiri.


"Nanti aku racuni Reza dengan semua makanan dan minuman kesukaanku. Biar Om sama Tante pusing-pusing deh nurutin permintaan Reza."


Rachel tertawa.


"Ini Ayam katsu dan nasi, "Sarah membuka box makanan berisi ayam katsu dan nasi."Suka kan?."


"Suka, Tante suka banget. Tapi lebih suka masakan Tante. Ayam katsu buatan Tante enak banget."


"Besok atau kapan-kapan Tante buatin. Tinggal datang ke rumah saja."


"Oke Tante."


Farel yang melihat keharmonisan Mamah dan Ayah nya bersama Rachel menyipitkan mata.


"Ini yang sakit siapa? yang di perhatiin siapa?. Anakmu ini juga laper Mamah."


Sarah, Anthony dan Rachel sontak saja menoleh ke arah Farel lalu tertawa.


"Sayang, itu siapa ya? kamu kenal nggak?." tanya Anthony pada Sarah membuat tawa Rachel semakin kencang.

__ADS_1


"Nggak tahu, Mas. Mungkin anak tetangga sebelah."


"MAMAH, AYAH." Rengek Farel kesal.


Seketika mereka semua tergelak.


"Maaf, Sayang bercanda. Ya udah Mamah tadi belikan kamu bubur ayam biar mudah di cerna Mama suapin."


Sarah membantu Farel duduk dengan posisi bersandar di tiga bantal kemudian menyuapi putra kesanyangan nya ini dengan pelan-pelan. Sementara Anthony dan Rachel masih duduk di kursi sofa sambil menikmati makanan mereka juga.


"Oh yah kamu sudah memberitahu Bastian, Rendy, Luna dan Dypta belum soal kamu di rawat di rumah sakit?." tanya Sarah sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut Farel.


Farel baru saja ingin menyahut, tapi begitu mendengar nama Luna. Farel jadi teringat kejadian di rumah Luna Kejadian yang membuat Farel gelang-geleng kepala.


Masih terekam jelas dalam ingatannya, Hendrawan dan Dilara saling menindih dengan posisi Hendrawan berada di atas Dilara tanpa sehelai benang pun. Ini untuk pertama kali nya Farel melihat adegan orang dewasa di depannya. Bahkan Farel tidak pernah sekalipun melihat orang tua nya berhubungan intim walaupun mereka tinggal satu rumah.


Rasanya menggelikan dan menjijikan, kalau bisa Farel format, Farel ingin memformat isi kepala nya, menghapus memori kejadian tadi.


Dan untuk Luna...


Melihat dari keterkejutannya tadi, sepertinya Luna tidak tahu hubungan Hendrawan dan Dilara. Luna pasti kecewa dan sedih. Harusnya Farel menemaninya dan memguatkannya, tapi mau bagaimana lagi kondisi nya sekarang juga tidak memungkinkan. Memberi kabar Luna dengan kondisi nya yang sekarang akan menambah kekhawatiran Luna.


Farel memutuskan untuk tidak memberi tahu Luna, mungkin besok saja.


"Besok saja Mah, besok wekeend, waktu luang mereka lebih banyak. Jadi ngga akan ganggu aktifitas dan kegiatan penting mereka sekarang."


Sarah tersenyum dan mengusap lembut kepala putranya.


"Anak mama pengertian sekali."


"Iya dong Mah, siapa dulu Farel!."


"Udah sekarang kamu habiskan makanannya lanjut minum obat."


Sarah senang berada di tengah keluarga Farel, keluarga Farel sangat hangat dan baik kepadanya. Seandainya Rachel bisa menjadi bagian dari keluarga Farel, hidupnya pasti lebih bahagia. Tapi mau bagaimana lagi Farel tidak mencintainya.


***


Rachel : Mah, aku hari ini pulang telat. Mungkin sekitar pukul 19.00, aku pulang. Ini aku di rumah sakit menemani Farel yang di rawat karena kecelakaan."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2