Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 96


__ADS_3

"Bagaimana lo bisa cinta sama Brandon?."


Rachel menatap lekat mata Farel, tatapan sebagaimana Rachel diam-dian menatap Rachel dari kejauhan.


"Setiap di dekat nya jantung gue berdebar kencang, setiap bertatapan dengan nya gue jadi gugup. Setiap berjauhan gue merasa rindu. Setiap berpisah malam hari, esok nya ingin segera bertemu. Senyum nya adalah kebahagiaan gue, tawa nya adalah semangat gue, melihat nya terluka gue ikut sakit. Melihat nya terpuruk gue ikut hancur. Segala nya tentang nya adalah semesta gue, Farel."


Kalimat itu untuk Brandon, tapi Farel merasa ungkapan itu untuknya. Ungkapan hati Rachel padanya? atau Farel yang kegeeran?.


Farel mencengkram selimut semakin kuat, sama hal nya dengan Rachel yang diam-diam mencengkram tali sling bag tas nya begitu kuat.


"Tapi lo baru mengenal Brandon, bagaimana lo bilang kalau dia semesta lo? ini terlalu cepat Rachel!."


Farel baru saja ingin mengenali perasaannya, tapi Rachel sudah menjadikan Brandon semesta nya.


"Cinta tidak mengenal waktu, cinta bisa datang kapan saja, Farel."


Farel tersenyum getir, "Benar, benar sekali. Jadi gue terlambat buat ngucapin selamat kan? selamat lo... lo sudah menemukan semesta lo."


"Iya terima kasih."


"Tapi masih bisa dekat selayaknya sahabat kan?."


"Hm, kita masih bersahabat. Lo ingat angan-angan kita tempo hari, angan-angan saat kita dewasa dan menikah dengan pasangan kita masing-masing lalu kita akan menjodohkan anak-anak kita."


Farel tersenyum samar, "Ya gue inget, kita beberapa kali membicarakan itu saat malam hari di roftoof gedung perusahaan Ayah sambil menatap langit. Malam itu sangat menyenangkan dan membanyangkan kita jadi besan juga menyenangkan. Bukan?."


"Iya sangat menyenangkan."


Mereka sama-sama melempar senyum dengan batin sama-sama menangis.


Sarah diam-dian mendengar pembicaraan mereka, tak kuasa menahan air mata. bahkan dia harus menekan dada nya yang terasa sesak. Sarah yakin mereka saling mencintai, tapi situasi yang rumit membuat mereka tidak bisa bersatu.


***


Setelah menjenguk Farel, Sarah dan Anthony menawari Rachel ikut makan malam, tapi Rachel menolak karena ingin makan malam bersama mama nya.


"Saya pamit, Om, Tante. Maaf ngga bisa lama-lama."


Anthony m3ngabgyk lalu mengalihkan pandangan pada Brandon, "Ingat ya kata-kata saya tadi. Lecet sedikit saja, saya gorok leher kamu "

__ADS_1


Brandon tersenyum, "Iya, Om."


Brandon dan Rachel pamit pergi. Sementara Sarah dan Anthony masih diam di tempat bahkan sampai mobil Brandon meninggalkan halaman rumah.


Kembali air mata Sarah mengalir.


"Kenapa nangis?." Anthony panik melihat istrinya menangis.


"Rachel... Nggak bisa jadi keluarga kita, Mas."


"Ya ampun. Sayang. Aku kira kenapa. Ya udah nanti aku suruh Reza rebut Rachel dari Brandon."


Sarah tertawa dalam tangis nya. "Ya mana bisa, Reza masih kecil."


"Ya terus gimana? Farel juga ngga mau putus sama Luna. Aku juga ngga mau jadi orang tua egois menyuruh Farel pacaran sama Rachel. Lagi pula mereka masih muda, masa depan mereka masih panjang. Terlalu dini memikirkan masalah takdir cinta. Siapa yang tau juga, ke depan nya nanti Farel sama Rachel bersama, kayak kita dulu. Banyak kok yang jodohin kamu sama Vincent, Victor bahkan sama Arsen. Tapi akulah laki-laki beruntung itu yang memiliki hati kamu."


Sarah berdecih dan menonjok lengan suaminya.


"Tapi ini beda, Mas. Aku merasa Brandon terlalu kuat. Takutnya Rachel pindah hati."


"Ya berarti bukan jodoh. Sudahlah ngga usah di pikirin. Biarin itu urusan mereka. Sekarang kita urus urusan kita, cuaca mendung, enak nih kalau kita..."


Sarah berjalan cepat ke dalam rumah. Sementara Anthony tergelak.


***


Karena tidak mendapat kabar sama sekali, Luna memutuskan untuk datang ke rumah Farel. Begitu sampai di sana, betapa terkejutnya Luna saat tau kondisi Farel semakin drop.


Saat sampai di sini tadi Luna hanya bertemu dengan Sarah, sedangkan Anthony dan Adik-adik Farel entah kemana. Sarah bilang mereka sedang bermain di belakang rumah. Lalu Sarah menyuruhnya naik ke lantai atas, ke kamar Farel. Padahal Luna ingin meminta maaf soal kekacauan kemarin.


Semakin ke sini, Luna merasa orang tua Farel tidak menyukainya. Tapi Luna segera menepis pemikiran itu.


"Kenapa kamu ngga bilang kalau kondisi kamu semakin drop begini?."


Luna menyuapkan apel, tapi Farel justru menggenggam pergelangan tangan Luna dan menurunkannya ke bawah.


"Aku ingin berbicara sesuatu."


Jantung Luna berdebar, "Bicara apa?."

__ADS_1


"Aku rasa aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi."


Luna membeku beberapa saat saking terkejutnya dengan pernyataan Farel


"Ma-maksudnya kamu mau kita putus? kenapa? apa gara-gara masalah kemarin? Aku salah paham, Farel. Mama dan Papa membohongiku karena mereka tidak ingin aku sedih gara-garq aku anak di luar nikah. Aku juga sedang berusaha minta maaf sama Rachel tapi Rachel ngga mau ketemu sama aku. Aku jadi bingung harus melakukan apa sekarang. Tapi aku mohon jangan putusin aku!. Aku sangat mencintai kamu, Farel."


Luna mengenggam tangan Farel Tapi Farel menepis genggaman tangannya.


"Farel, please. Kenapa? kenapa tiba-tiba kamu putusin aku? kamu malu punya pacar anak di luar nikah? aku juga malu, Farel. Tapi aku juga bisa apa? aku nggak minta di lahirin di luar nikah. Ini semua di luar kendaliku."


"Bukan begitu, Luna."


"Terus apa? atau jangan-jangan kamu jatuh cinta sama Rachel?."


"Ini ngga ada hubungan nya dengan Rachel. Kenapa tiba-tiba kamu bawa-bawa Rachel."


"Ya karena selama inu kamu dekat dengan Rachel. Bahkan kemarin saja kamu lebih memprioritaskan Rachel daripada aku. Padahal aku juga sana terpuruknya seperti Rachel. Rachel memang tidak mendapatkan kasih sayang dari Papa Hendrawan, tapi Rachel mendapatkan kasih sayang dari semua orang. Keluarga kamu, keluarga Kakek Wisnu, Dypta, Rendy, semua ada di pihak Rachel. Sedangkan aku? aku nggak punya siapa-siapa. Aku juga sangat kecewa dengan Papa dan mama yang sudah membohongiku. Aku membutuhkan kamu Farel tapi kamu justru mutusin aku."


Air mata Luna tak terbendung lagi.


"Aku terpuruk dan hancur, Farel. Aku akan semakin hancur kalau kamu mutusin aku. Aku mohon jangan begini. Tolong katakan apa kurangku? Aku akan memperbaikinya tapi jangan putusin aku."


"Please kita baru beberapa hari jadian, bahkan seminggu aja belum ada. Hubungan kita baru seumur jagung. Kenapa kita nggak mencoba untuk menjalani ini dulu minimal satu bulan. Terlalu dini untuk kita putus, Farel."


Luna menggenggam tangan Farel erat dan menatap matanya lekat. Setelah kejadian kemarin Luna sudah menebak Farel akan memutuskannya. Namun hanya tebakan dan jauh di dalam hatinya dia tidak ingin itu terjadi. Namun ternyata Farel benar-benar minta putus.


Luna juga sudah mengumumkan hubungan mereka di sosial media. Semua orang tau mereka berpacaran. Seandainya tiba-tiba putua sekarang, apa kata orang?. Netizen-netizen yang super julid akan menghujatnya dan semakin mencari-cari kesalahannya. Padahal belakangan ini netizen-netizen jahat itu mulai mengagumi karena berhasil mendapatkan Farel.


Dan seandainya semua orang tahu, Farel memutuskannya karena dia anak di luar nikah, orang-orang akan semakin menghujatnya bahkan mungkin Luna akan kehilangan beberapa job karena mengira dia problematik.


"Farel, please. Kita coba dulu. Satu bulan saja. Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan. Katakan saja apa kekurangan ku dan aku pasti akan mengubahnya. Kita sudah sama-sama dari kecil. Kita saling memahami satu sama lain. Kamu juga mengaggumiku sebagai sosok Mama Sarah kan? terus kenapa setelah kamu berhasil mendapatkanku, kamu malah mencampakkanku seperti ini? Kamu menyakitiku sama saja kamu menyakiti Tante Sarah, Farel. Karena sosok Tante Sarah ada dalam diriku."


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2