
"Akhirnya selesai juga!." Luna membanting tubuhnya di ranjang, lalu menggerak-gerakkan tangan dan kaki kanan dan kiri seperti penguin.
Dari jam tujuh hingga jam dua belas siang ini, Luna membantu Rachle beres-beres dan meletakkan barang-barangnya di Apartement barunya.
Rachel yang baru saja selesai, menyusun foto-foto dirinya dan teman-temannya di nakas lalu menghampiri Luna.
"Arrr..." Rachel yang jail duduk di samping Luna dan menggelitiknya.
"Achel.... geli tahu!."
Luna tertawa merasa kegelian tapi merasa belum puas dan menggelitik Luna lalu tiduran di samping sahabat tersayang nya itu.
"Peluk!." Luna lalu merapatkan tubuhnya pada Rachel dan memeluknya. Luna memposisikan tiduran agak ke bawah dengan berbantalan lengan Rachel, melingkarkan tangan di perut lalu menimpakan kaki di kaki Rachel.
"Manja!." Rachel mencubit pipi Luna dan menarik gemas di pipinya.
Luna terkikih, "Aku punya banyak teman, tapi cuman kamu sahabatku. Menjadi artis selalu di tuntutan tampil Perfect.Sku cemberut dikit aja orang bilang aku judes. Aku juga di tuntutan menjadi dewasa dan tidak kekanak-kanakkan. Tapi bersama kamu aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa bermanja-manja dengan kamu dan melakukan apapun yang aku mau. Kamu nggak akan marah atau mengataiku lebay, aneh, alay kamu selalu mendukungku apapun yang aku lakukan. Aku seperti menemukan sosok kakak perempuan."
Rachel tersenyum, "Pokonya gak usah mikirin apa kata orang, selama kamu tidak melanggar hukum, tidak menyalahi norma sosial, tidak menyakiti orang lain, tidak curang, lanjutkan saja. Kejar terus mimpi kamu. Tangan kita hanya dua jadi kita tidak bisa membungkam mulut semua orang, tapi dengan kedua tangan kita, kita bisa menutupi telinga kita dan mengabaikan semua itu. Omaku bilang naikkan kualitas mu sampai berada di level dimana orang tidak bisa menyentuhmu!."
Luna tersenyum mendengar kata-kata Rachel.
"Una sayang Achel" air mata Lun benar-benar mengalir.
"Achel juga sayang Una. Udah ah malah nangis. Kamu laper ngga?. Mau makan?. Tadi kan habis bersih -bersih. Makasih loh udah bantuin. Merasa terhormat di bantu artis papan atas."
Luna tersenyum malu-malu. " Aku juga seneng bantuin kamu, Oh yah aku mau nanya, kamu kenapa tiba-tiba pindah Apartement ini?."
"Karena aku pengen suasana baru. Apartement ini juga cukup dengan kampus. Lagian apartemenet tempat singgah sementara, kalau lagi banyak tugas dan kegiatan padat sekali baru aku menginap di Apartement. Tapi jika senggang aku memilih pulang ke rumah karena papa pasti sibuk dan Mamah sendiri di rumah."
Luna menganguk-nganguk.
"Kalau kau mau pindah ke apart ku ga papa kok. Ngga usah bayar sewa juga. Hitung-hitung biar lo bisa deket dengan laki-laki yang lo cintai."
"Ih siapa?."
"Farel lah, Kamu cinta kan sama Farel?."
__ADS_1
"Enggak."
"Enggak bohong kan?."
Luna tertawa lalu mengeratkan pelukannya pada Rachel. Rachel juga ikut tertawa meskipun perasaannya tak karuan sekarang."
"Aku ngantuk. Hoam mau tidur dulu terus nanti makan. Tapi kamu jangan makan duluan, kita makan bareng."
"Iya iya ya udah tidur!."
Luna memejamkan mata dan tak lama kemudian langsung terlelap. Rachel tersenyum dan mengusap rambut panjang Luna. Sedangkan Luna mengubah posisi nya menjadi terlentang dengan berbantal lengan Rachel.
Rachel baru saja ingin memejamkan mata, namun sayup-sayup dia mendengar suara pintu terbuka. Rachel pun buru-buru memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
"Rachel, Luna. Eh lagi pada tidur?." Rachel yang baru saja membuka pintu langsung menahan suara nya saat melihat Rachel dan Luna memejamkan mata.
Dengan langkah perlahan Farel mendekati ranjang.
Farel mengusap rambut Luna sembari tersenyum.
Puas menatap wajah Luna, Farel mengalihkan pandangan ke arah Rachel .
Farel pindah posisi ke sisi Rachel lalu mendekatkan bibir ke arah telinga Rachel.
"Gue tahu lo ga tidur. Jadi gak usah pura-pura."
Rachel tetap pura-pura tidur.
"Buka mata atau gue cium! di bibir."
Saat itu juga Rachel langsung membuka mata dan melotot lebar pada laki-laki menyebalkan ini. Farel terkekeh lalu mengacak rambut Rachel dan meninggalkan kamar.
"Nyebelin banget sih!. Rasanya ingin gue betot ubun-ubunnya." Rachel menggerutu pelan dan menguap akhirnya benar-benar tidur menyusul Luna.
***
Malam hari nya Farel menginao di tempat nya Dipta. Tentu saja Dipta menolak tapi Farel kekeh dan terus membujuk Dipta sampai akhirnya Dypta jengah dan membiarkan Farel melakukan apapun yang diinginkan. Anak itu emang keras kepala.
__ADS_1
"Rachel masih ada di Apart kan? tapi kok gue chat ga di bales-bales. Gue telepon berkali-kali juga gak di angkat. Apa Rachel pulang ke rumah?."
Dipta yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk menoleh sinis pada Farel yang tiduran terlentang di ranjangnya sambil menatap layar ponsel. Dipta baru saja merapihkan tempat tidurnya tapi karena Farel berguling-guling ke sana kemari karena geregetan menunggu balasan chat dari Rachel membuat kasusnya berantakan lagi.
"Rachel bilang ngantuk dan cape pengen langsung tidur cepet."
Farel langsung terduduk dan menyipitkan mata.
"Rachel chat lo gitu?."
"Iya tadi sebelum mandi."
"Boong!. Gue chat dari jam 5 sore sampai sekarang tapi ngga ada satu pun chat di balas apalagi mengangkat telepon."
Dipta tidak tahan untuk tidak memutar bola matanya malas. Seperti itulah Farel. Jika dia tidak melihat langsung atau mendapatkan bukti yang akurat Farel tidak akan pernah percaya.
Dipta mengambil ponsel nya dan menunjukkan chatingan ya dengan Rachel. Disana terlihat Rachel aktif pukul 20.45. Dan sekarang belum terlihat aktif lagi.
"Puas lo!."
Farel berdecak saat membaca chatingan Dipta dan Rachel.
"Kenapa Rachel ga bales chat gue. Gue samperin aja."
Baru saja Farel akan turun dari ranjang tapi tertahan mendengar suara sinis Dipta.
"Lo udah baca chatingan gue sama Rachel Kan? Di situ tertulis dengan jelas 'Dipta, gue cape pengen tidur cepet. Terima kasih sudah membantu gue pindahan tadi'. Apa kurang jelas!, artinya sekarang Rachel sedang tidur. Lo kesana kan cuman mau gangguin waktu istirahat Rachel aja. Mikir dong Rel, Tuhan menciptakan otak itu buat mikir bukan buat pajangan." kesal Dipta.
Farel terkekeh, "Kok lo sinis banget sama gue hari ini?."
"Sinis? bahkan lebih dari itu. Rasanya gue pengen bunuh lo sekarang."
"Jangan main bunuh-bunuh ah. Gue ngga suka. Mending kita tidur sambil pelukan aja. Sini!, sini!. Dipta!." Farel menepuk-nepuk sisi ranjang di sampingnya.
Demi Tuhan, Dipta benci sekali jika Farel sedang dalam mode jahil seperti ini. Dipta menebak sepanjang malam nanti Farel pasti akan mengerjainya.
...****************...
__ADS_1