
"Rachel, selamat datang," Sapa Amora begitu Rachel dan Brandon memasuki rumah.
Amora langsung memeluk Rachel, begitu juga Rachel membalas pelukan Amora sebagai sopan santun.
"Dulu saat kamu dan Brandon masih pacaran, kamu sering datang ke sini." Amora melepas pelukannya dan mengusap pipi Rachel.
"Maaf, tante saya tidak ingat apa-apa."
Amora menganguk, "Iya Brandon sudah cerita kalau kamu hilang ingatan semoga ingatan kamu segala pulih dan kamu bisa mengenal kembali kenangan manis kamu bersama Brandon," ucap Amora sambil melempar senyum pada Brandon.
Brandon hanya tersenyum kikuk.
"Om, juga senang sekali bertemu dengan kamu Rachel. Bagaimana kabar kamu?." tanya Ardito.
"Saya baik, Om."
"Syukurlah, akhirnya setelah 5 tahun kami bisa bertemu dengan kamu juga. Kamu tahu setiap hari Brandon selalu mencari kamu. Dia tidak mengenal lelah. Bahkan saat dia sakit dan masuk rumah sakit, dia terus mencari kamu dengan berkomunikasi dengan orang-orang suruhannya. Brandon bahkan pernah mabuk-mabukkan untuk melupakan kamu sejenak. Awal-awal kepergian kamu, Brandon seperti orang gila."
"Udah, Pa." Brandon menggelengkan kepala. Tidak perlu menceritakan masa lalu.
Ardito tersenyum dan menepuk bahu Brandon. Dari sekian banyak prestasi Brandon. Ardito akui mendapatkan cinta Rachel adalah prestasi terbesar Brandon. Ardito tidak sabar melihat putranya menikah dengan Rachel. Dengan begitu Ardito bisa mengembangkan perusahaannya lebih luas. Tapi masih memiliki ancaman terbesar, Luna. Ardito akan mencari cara bagaimana mengusir Luna dari hidup Brandon dan memastikan Luna tidak akan mengganggu hidup Brandon lagi.
"Ayo silahkan masuk, mama sudah menyiapkan sarapan untuk kamu."
"Terima kasih Tante, jadi merepotkan." ucap Rachel tak enak.
"Tidak, sama sekali tidak merepotkan."
Rachel tidak menyangka ternyata kedua orang tua Brandon sangat baik padanya. Sebaik orang tua Farel. tapi entah kenapa perasaan Rachel asing di rumah ini. Tidak seperti saat di rumah Anthony, di sana Rachel merasa tenang dan nyaman.
"Tante, ambilin yah," Amora mengambilkan lauk untuk Rachel.
Rachel duduk berdampingan dengan Brandon. Sambil menunggu makanannya siap, Rachel mengambil ponsel di dalam tas dan meletakkan di pangkuannya untuk melihat chat dari Farel. Ternyata belum ada balasan dari Farel. Rachel merasa bersalah bertemu dengan Brandon tanpa Farel. Tapi Rachel juga tidak enak dengan Brandon yang sudah menunggunya di rumah tadi dari jam 6.
"Nungguin chat siapa?." tanya Brandon bercanda.
"Farel," jawab Rachel.
Seketika senyum Brandon memudar. Sedih mendengar itu. Tapi karena Farel yang lebih dulu bertemu dengan Rachel otomatis Rachel sudah menghabiskan waktu lebih banyak bersama Farel. Sekarang Brandon akan memastikan Rachel memiliki banyak kenangan juga bersamanya.
Selesai sarapan, Brandon mengajak Rachel ke belakang rumahnya untuk melihat rumah pohon.
__ADS_1
"Wah, bagus sekali halaman belakang rumah kamu."
Brandon tersenyum, "Reaksi kamu masih sama seperti dulu."
"Oh ya?."
"Iya, kamu bilang temannya bagus."
Rachel menganguk-angguk dan mengendarkan pandangan.
"Dulu kita berapa lama pacaran?."
"Belum lama, kurang lebih satu bulan. Tapi meskipun baru sebulan, kita saling melengkapi satu sama lain, hubungan kita sangat dekat."
"Melengkapi sama lain?."
Brandon berhenti melangkah dan menatap pada Rachel.
"Kata orang seseorang tidak akan memahami luka orang sebelum dia merasakan apa yang orang itu rasakan. Saat itu luka yang kamu rasakan, aku juga merasakannya. Luka kamu yang tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ayah. Dan aku tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ibu. Mama Amora cuma ibu tiri, sedangkan Ibu kandung ku pergi dengan laki-laki lain. Aku dan kamu, saling mendukung satu sama lain kita juga berjanji tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain."
"Aku janji begitu?."
"Iya, aku tidak punya bukti rekaman atas sejenisnya, tapi aku selalu mengingat janji kita, aku menyimpannya di hatiku." Brandon meraih tangan Rachel dan meletakkan di dada kirinya"aku tidak berbohong, Aku berani bersumpah, aku berkata jujur"
"Kamu merasakan sesuatu?."
Rachel menggeleng.
"Jantung kamu tidak berdebar kencang?."
Rachel menggeleng lagi.
Brandon mengheal napas sendu, "Ya sudah, ayo kita jalan lagi aku akan menunjukkan rumah pohon."
Brandon dan Rachel menelusuri jalan setapak menuju ke rumah pohon di dekat rumah pohon ada lapangan basket yang masih terawat.
"Dulu kita naik ke sana tapi karena sudah lama dan sepertinya kayunya sudah agak tua aku tidak bisa mengajak kamu naik ke sana demi keselamatan kamu juga."
Brandon menatap pada Rachel yang kini sedang mendongakkan kepala menatap rumah pohon.
"Di rumah pohon itu kita berjanji kita akan saling setia sampai kapanpun dan kita tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Aku menepati janji itu selama 5 tahun dan kamu harap harap kamu juga menepati janji kita."
__ADS_1
Rachel juga menoleh dan menatap pada Brandon.
"Aku lupa tentang janji itu."
Brandon memposisikan tubuhnya berdiri tepat di depan Rachel dan memegang tangannya.
"Iya aku tahu tapi hubungan kita masih bisa dipertahankan kan?."
Rachel baru saja ingin menjawab tapi tiba-tiba.
"PAPA."
Rachel dan Brandon sama-sama menoleh ke sumber suara itu, seorang anak kecil berlari riang menghampiri mereka.
"Papa," Rachel mengerutkan alis melihat bocah kecil itu menatap ke arah Brandon sambil memanggilnya papa sementara Brandon membeku di tempat bingung kenapa tiba-tiba Kevin datang.
"Papa," Kevin menghamburkan diri memeluk kaki Brandon. "Gendong Kevin, Papa." dengan riang bocah manis itu mengulurkan kedua tangan minta digendong.
"Papa gendong Kevin."
Tapi Papanya hanya diam dan menatapnya dengan wajah syok, Kevin juga ikut diam mata bulatnya mengerjap bingung dengan reaksi Papanya berbeda tidak seperti biasanya yang terlihat sangat bahagia saat bertemu dengannya.
Kevin menoleh pada Rachel, "Halo tante, Tante siapa?."
Rachel juga masih tampak kebingungan.
"Ha-hai." meskipun bingung Rachel juga tetap berusaha tersenyum, Rachel agak menundukkan badan dan mengusap pipi Kevin.
"Nama saya Tante Rachel, teman kuliah papa kamu, Nama kamu siapa?."
"Oh teman Papa. Halo Tante Rachel aku Kevin anaknya papa."
"Kamu tampan sekali persis seperti papa kamu." Rachel menoleh pada Brandon begitu juga Brandon yang menatapnya dengan wajah pucat pasi Brandon tidak menyangka momen ini akan terjadi pertemuan Rachel dengan Kevin yang sangat di luar dugaan Brandon.
Kevin tersenyum riang, "Terima kasih tante, tante juga cantik." Kevin mengulurkan tangan dan mengusap pipi Rachel. Rachel tersenyum semakin lebar dia suka anak kecil apalagi anak kecil seperti Kevin. Kevin sangat lucu, manis, baik dan ramah. Saat dia mengatakan Kevin mirip Brandon dia tidak berbohong. Hidung dan mata Kevin mirip sekali dengan Brandon.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....