Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 196


__ADS_3

"Sebenarnya saya yang sudah mengambil uang yang seharusnya di berikan kepada Dilara. Dilara tidak pernah berbohong. Dan sebenarnya Luna adalah anak kandung dari Bapak Wisnu." papar William.


Deg.


Mereka semua terkejut dan syok dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi.


"Kenapa Bapak baru menceritakan itu semua pada kami?." tanya Sebastian setelah ia bisa menguasai keadaan.


William menunduk, "Maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk menutupi kebenaran ini. Namun seseorang mengancam saya, saat itu nyawa keluarga saya jadi taruhannya." jelas William.


"Siapa yang mengancam Bapak?." tanya Sebastian lagi, perasaan nya sudah tidak menentu, kehilangan dua orang sangat ia sayangi di tambah dengan terungkap nya kebenaran yang selama ini tidak pernah dia duga.


"Dia Tante Dilara Pah." ucap Bastian, membuat semua orang terkejut. Pasalnya tidak ada yang tahu kabar wanita itu, bahkan oleh Sebastian sekalipun. Sebastian adalah orang yang mengirim Dilara ke negeri yang jauh, orang yang memisahkan Dilara dengan anaknya sebagai bentuk hukuman atas apa yang Dilara lakukan karena sudah menghancurkan rumah tangga Hendrawan. Dan itu pun di setuju oleh Hendrawan sendiri. Namun baru satu tahun berlalu, Sebastian merasa bersalah dan berniat untuk membawa Dilara pulang ke tanah air, tapi temannya yang membawa Dilara mengatakan kalau Dilara kabur dan di bawa oleh laki-laki. Sehingga Sebastian pun tidak tahu kabar wanita itu sampai sekarang.


"Kamu tahu, Nak?." tanya Sebastian.


Bastian mengangguk, " Dan menurut orang-orang suruhan ku, Tante Dilara adalah orang di balik kecelakaan Om Hendrawan!." jelas Bastian.


"APA?." Rachel berdiri. "Jadi Papa di bunuh?." tanya Rachel terkejut dan syok mendengar kabar itu, air mata nya kembali mengalir. Selama hidup ia tidak memiliki kenangan indah bersama papa nya. Bahkan setelah kesalahan yang Hendrawan lakukan pada Rachel, Rachel dengan tulus menerima permintaan Hendrawan tanpa ada dendam sekalipun.


Farel berusaha untuk menenangkan istri nya dan mengajak nya untuk ke kamar saja untuk menenangkan diri. Farel meminta ijin kepada Anggun dan di balas anggukan oleh Anggun.


Di ruang keluarga itu masih ada Sebastian, Anggun, Bastian, Sarah, Anthony dan William.


Keheningan menyelimuti mereka, tidak ada yang berkomentar. William hanya menunduk dengan perasaan bersalah. Karena kesalahan nya di masa lalu. Atasan sekaligus sahabatnya itu tidak pernah bisa akur dengan anaknya Hendrawan. Walaupun di detik-detik terakhir hidup mereka sudah mulai tidak pernah berselisih paham karena Hendrawan yang menyadari kesalahannya, namun tetap saja William merasa bersalah.


William pernah meminta maaf kepada Wisnu, namun belum sempat memberitahu jika Luna adalah anak kandung dari Wisnu. William berharap di akhirat kelak, Wisnu bisa memaafkan dirinya.


"Jadi Luna itu adik saya?." tanya Sebastian lagi kepada William.


William mengangguk.


"Ya Tuhan," Sebastian meraup wajahnya kasar dengan tangan nya.


"Aku merasa bersalah kepada Dilara karena sudah menjauhkannya dengan anaknya, Luna. Namun apa yang di lakukan Dilara sudah termasuk tindakan kriminal, dia membunuh adikku, Hendrawan. Aku ingin dia di penjara." jelas Sebastian, semua orang yang berada di sana setuju.


"Dan Luna..." Sebastian bingung, namun sebagai keluarga Tanoepramudya di harus bisa memberikan keputusan.


"Dia akan menjadi bagian Tanoepramudya, karena dia akan menjadi adikku satu-satunya setelah kepergian Hendrawan." ucap Sebastian mantap.


***


"Mama, ayo makan mah, Kevin suapi."


Kevin kecil membawa piring berisi nasi dan ayam, lalu dengan susah payah naik ke sofa di samping mama nya. Kevin menyadari sejak kemarin mama nya terlihat murung, dan sejak pagi tadi mama nya juga belum makan, Kevin bingung, dan bertanya, tapi mama nya bilang tidak apa-apa.


"Mama."Kevin mengulurkan lengan mungilnya dan menyentuh lengan mama nya


Beberapa hari yang lalu Brandon mengatakan jika Hendrawan meninggal, saat itu juga Luna lesu, tidak mood untuk melakukan sesuatu, ia merasa kehilangan sosok ayah kandungnya.


"Mama nangis yah?."

__ADS_1


Kevin menyentuh pipi Luna dan mengusap pipinya, Luna mengerjab menoleh pada putranya.


"Mama nangis kenapa?. Gara-gara papa nggak pulang?." tanya Kevin bingung.


Luna menggeleng, dan mengusap rambut putranya.


"Nggak, Sayang. Mama nggak sedih gara-gara papa ngga pulang. Soalnya kan papa kerja, jadi papa belum bisa pulang, mungkin nanti siang papa pulang."


"Terus mama sedih kenapa."


"Mama sedih karen Opa Hendrawan meninggal."


"Opa Hendrawan? Opa yang biasanya mama rawat itu?."


Luna mengangguk, seketika wajah Kevin berubah sendu.


"Mama pernah bilang kalau orang meninggal nggak bisa hidup di dunia lagi. Berarti sekarang Kevin nggak akan bisa bertemu Opa Hendrawan?."


"Iya, Sayang. Kevin dan mama tidak bisa bertemu dengan Opa Hendrawan.


"Yah, padahal Opa Hendrawan baik banget sama Kevin. Kevin lebih suka bermain sama Opa Hendrawan daripada Opa Ardito."


Air mata Luna kembali membayang di pelupuk mata. Agar tak menetes Luna mendonggakan kepala dan mengerjabkan mata beberapa kali. Melihat betapa Kevin menyanyangi Hendrawan dan berharap Hendrawan masih hidup membuat Luna kembali bersedih.


"Sekarang Kevin doakan Opa Hendrawan ya semoga Opa Hendrawan di terima di sisi Tuhan dan di berikan tempat yang terbaik."


"Iya, Ma. Kevin akan selalu berdoa untuk Opa Hendrawan."


Saat merek sedang mengobrol tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.


"Sayang, tunggu di sini ya. Mama buka pintu."


"Iya, Mama."


Luna berdiri dan menuju ke ruang bagian depan untuk membuka pintu. Begitu pintu terbuka, Luna mengenyitkan alis melihat Agnes yang datang.


"Mau apa kamu ke sini?."


"Aku mai bertemu dengan Brandon."


"Suamiku nggak ada di rumah."


"Bohong, aku ingin berbicara sama dia. Ini pembicaraan penting karena menyangkut masa depan kami. Kami akan membicarakan pernikahan, kapan perceraian kalian,? lalu Brandon akan menikah denganku"


"Kalaupun aku dan Brandon bercerai. Brandon juga tidak akan menikah dengan kamu. Dia mencintai perempuan lain."


"Siapa?."


Luna tidak ingin menyebutkan nama, takut Agnes menjahati Rachel.


"Itu juga bukan urusan kamu, terserah Brandon ingin menikah dengan perempuan manapun."

__ADS_1


"Dengar Luna, aku dan Brandon sudah mengenal sejak lama. Kami berteman dari masa SD, SMP dan SMA. Aku sudah mencintai Brandon sejak kami duduk di bangku SD, tapi waktu kuliah kami berpisah. Aku melanjutkan S1, S2 di luar negeri tapi cinta untuk Brandon tidak akan berubah. Dan aku yakin Brandon juga memiliki perasaan yang sama."


"Kalau memang Brandon mencintai kamu dia pasti akan menyatakan cinta. Apa pernah dia mengatakan cinta? tidak kan? karena dia mencintai perempuan lain. Dan aku harap kamu bisa mengerti itu. Kamu cantik, pintar dan berpendidikan tinggu. Aku yakin kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik daripada Brandon."


"Tapi aku menginginkan Brandon. Sekarang minggir dan aku ingin bertemu dengan Brandon."


Agnes mendorong Luna dan masuk ke dalam rumah. Agnes tahu kamar mereka ada di lantai 2. Dengan langkah cepat Agnes menaiki tangga.


"Agnes tunggu!."


"Mama." Kevin mengejar Luna.


"Kevin masuk ke kamar dulu ya Nak!."


"Kenapa mama?."


"Ikuti kaya mama."


Tanpa bertanya lebih lanjut Kevin berlari masuk ke dalam kamar, Kevin ingin menjadi anak yang baik dengan selalu mengikuti perintah mamanya.


Luna berlari menaiki tangga dan Agnes baru saja keluar dari kamar mereka tapi, Brandon tidak ada di sana.


"Di mana Brandon?."


"Sudah aku bilang kamu Brandon tidak ada di rumah. Tolong keluar dari sini!."


"Tidak, aku yakin dia ada di rumah, pasti ada di ruang kerjanya kan?."


Agnes ingin mencari lagi Brandon di lantai 2, tapi Luna menariknya pergi.


"Aku ingin mencari Brandon."


"Berapa kali aku bilang, Brandon tidak ada di rumah. Kamu bisa kembali lagi ke sini setelah dia pulang, tolong jangan membuat keributan di sini."


Luna tarik menarik dengan Agnes menuju ke tangga, Agnes tak terima ditarik-tarik seperti ini dan menangkis lengan Luna namun Luna tidak ingin melepaskannya.


"Sialan kamu!."


Agnes terlampau kesal dan mendorong Luna, pijakan Luna pada tepi tangga goyah dan ...


Luna mengulurkan tangan berusaha memegang lengan Agnes tapi Agnes justru mundur dan akhirnya tubuh Luna jatuh menggelinding di tangga.


Agnes membeku di tempat, kedua tangannya gemetar takut. Agnes memang sengaja membiarkan Luna jatuh, tapi tidak menyangka akan sampai seperti ini. Luna tergeletak di ujung tangga bawah dengan sisi kepalanya berdarah.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2