Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 199


__ADS_3

***


"Kevin kenalkan ini Om Farel, suami Tante." ucap Rachel pada Kevin.


"Oh berarti kayak papa jadi suami nya mama? berarti tinggal serumah juga?."


Rachel dan Farel mengangguk, namun mereka belum tinggal di rumah mereka sendiri. Mereka masih tinggal bergantian di rumah orang tua mereka, satu minggu di rumah Ayuma, satu minggu di rumah Sarah. Orang tua mereka masih belum bisa mengikhaskan kepergian putra putri mereka. Namun secepatnya Farel ingin tinggal di rumah mereka sendiri.


Sesampainya di parkiran, Farel membukakan pintu mobil untuk Rachel. Kevin tidak mau duduk sendirian di belakang. Kevin duduk di pangkuan Rachel. Menyandarkan pipi nya di dada Rachel dan memejamkan mata. Wajahnya tampak lelah sekali.


"Kevin ngantuk yah?." Rachel mengusap rambut Kevin dan mencium dahinya.


"Iya."


"Kepala Kevin pusing?."


"Iya."


"Ya udah sekarang Kevin tidur ya. Nanti kalau udah sampai di toko es krim, Tante sama Om Farel bangunin Kevin."


Kevin mengangguk dan perlahan terlelap dalam pelukan Rachel. Rachel tersenyum dan memandangi wajah Kevin. Tampan, lucu, menggemaskan, baik dan penyayang Rachel bisa merasakan saat Kevin dewasa nanti dia pasti akan jadi sosok yang gentlement.


"Kevin udah tidur?." tanya Farel yang sudah duduk di kursi kemudian.


"Iya, langsung otw atau gimana?."


"Langsung jalan aja sambil nunggu Kevin bangun."


Farel pun melajukan mobil meninggalkan bassment parkiran rumah sakit. Sepanjang perjalanan Rachel fokus pada Kevin. Mengusap rambutnya, mencium dahinya, menekan-nekan lembut pipinya. Rachel suka sekali anak kecil.


"Mau punya kayak gini juga?." tanya Farel sambil mengusap punggung Kevin.


Rachel menoleh pada Farel dan tersenyum malu, "Mau."


"Tapi kalau mau yang lucu kayak gini, kita harus bekerja keras setiap malam."


Rachel tertawa. Mengerti arah pembicaraan Farel. Tentu saja aktivitas malam yang biasa di lakukan oleh sepasang suami istri di atas ranjang. Astaga, hanya sekedar membayangkan saja membuat Rachel merinding sendiri.


"Lagi bayangin ya?." goda Farel.


"Apaan sih. Enggak kok," pipi Rachel merona.


"Nggak usah di bayangin, di lakuin aja. Nanti malam mau?."


"Farel udah deh, jangan godain mulu," Rachel mencubit perut suaminya dengan gemas.


"Seperti Kevin tadi, sekarang kita sudah menikah dan kita akan tinggal satu rumah. Aku bisa puas menggoda kamu 24 jam."


Rachel menyipitkan mata, "Kamu pasti sudah menyusun ide-ide jail di kepala kamu?."


"Betul sekali, tapi kali ini jail nya yang 18+."


"Kan kan arahnya ke situ mulu."


Farel tertawa. Namun begitu menyadari di sini ada Kevin, Farel langsung merapatkan mulutnya. Farel terlalu senang sampai lupa di sini ada anak kecil yang tidak seharusnya mendengar pembicaraan mereka. Untung saja Kevin tidur.


Sampai detik ini, rasanya Farel belum percaya dia sudah menikah dengan Rachel. Semua terjadi begitu saja. Padahal Farel sudah menyusun rencana sendiri untuk melamar, bertunangan lalu menikah. Tapi ternyata Tuhan memiliki rencana lain, rencana sangat indah tanpa perlu berlama-lama langsung sah. Sekarang Farel hanya perlu mengurus dokumen-dokumen pernikahan dan mendaftarkan ke pengadilan agama.


***


Rachel dan Farel mengantar kan kembali Kevin ke rumah sakit, setelah mereka puas bermain dan memakan es krim di taman. Kevin meminta di antar ke ruang rawat Luna karena tidak ingin berlama-lama meninggalkan mama nya yang sedang sakit.


Karena haru sudah malam, Farel dan Rachel pun memutuskan untuk pulang. Luna masih belum sadar. Kevin meminta Rachel untuk tetap di sana, tapi orang rumah sudah mencari mereka, mau tidak mau mereka harus pulang.


***


Keesokan harinya. Pagi hari, 07.00.


"Papa, Mama belum juga sadar?." tanya Kevin.


"Belum Sayang."


Jawaban Brandon membuat Kevin tertunduk lesu untuk kesekian kalinya.


"Papa."


"Iya?."


Kevin mengulurkan jari kelingking nya. "Nanti kalau mama sudah sadar, papa janji ya jangan suka pergi-pergi lagi. Papa jangan suka lembur kerja."


"Iya, papa janji," Brandon mengaitkan jari kelingking nya di jari kelingking mungil milik putranya.


Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba pintu terbuka. Ternyata Amora dan Ardito yang datang.


"Ya ampun, Luna." Amora langsung menghampiri brankar Luna. "Bagaimana keadaan Luna?." tanya Amora sambil menatap Brandon.


"Dokter bilang kondisi Luna stabil. Cuma nunggu waktu saja Luna akan sadar."


Amora mengangguk dan menatap Luna lagi, sementara Ardito duduk di samping Kevin.


"Maaf Opa baru datang. Kemarin Opa menghadiri pemakaman Tante Agnes. Kevin tahu Tante Agnes meninggal?."


"Pa, nggak usah di kasih tahu," kesal Brandon.


"Tante Agnes meninggal? bagus deh biar Tante Agnes nggak gangguan mama lagi."


Ardito melotot sementara Brandon hanya menipiskan bibir. Terkadang mulut Kevin bisa sepedas itu. Brandon tahu sifat Kevin tidak baik. Tapi untuk kali ini Brandon akan membiarkan saja, agar papa nya juga bisa belajar untuk tidak mengompori lagi Kevin sesuka hatinya. Kevin bukan anak yang bodoh dan bisa dikibuli.


"Kamu tidak boleh bicara kasar seperti itu Kevin," Ardito mencapit hidung Kevin dengan jari jempol dan telunjuknya. "Kalau Kevin mendengar kabar orang meninggal, Kevin harus mendoakan bukan malah tertawa bahagia begitu. Kamu juga Brandon harusnya menasehati putra kamu bukan malah mendukung sifat jeleknya. Sifat jelek kalau tidak di benahi sejak kecil bisa keterusan sampai dewasa."


"Opa sakit." Kevin mendorong tangan Ardito dari pipinya. "Tapi kan Tante Agnes jahat kenapa juga Kevin doain orang jahat. Nggak mau. Doa Kevin cuma buat orang-orang yang baik."


Ardito berdecih, lalu bertanya. "Kalau Opa? Kevin suka doin opa nggak?."


"Nggak."

__ADS_1


Ardito melotot, sementara Brandon mengulum senyum. Entahlah, ekspresi Kevin lucu sekali mengatakan itu.


"Kevin nggak mau doain Opa karena Opa suka membentak mama. Tapi mama selalu menyuruh Kevin doain Opa sama Oma. Karena mama yang minta, akhirnya Kevin selalu doain Opa sama Oma. Doanya agar Opa Oma panjang umur, sehat selalu dan bahagia."


Ardito terdiam sambil menatap erat Kevin. "Mama kamu menyuruh kamu begitu? kamu nggak bohong kan?."


"Nggak. Kenapa juga Kevin bohong. Mama bilang bohong itu nggak baik."


Amora memperhatikan perubahan ekspresi Ardito. Dari ekspresi nya sepertinya Ardito mulai bersimpati pada Luna. Tidak, ini nggak bisa di biarkan.


Amora berdehem, "Oh yah, Brandon, Kevin kalian dari kemarin belum mandi kan? kalian bisa pulang dulu biar mama sama papa yang jagain Luna."


"Nggak, Kevin nggak mau ninggalin mama. Kevin mau jagain mama sampai mama sembuh." Kevin menggeleng, menolak keras saran oma nya.


Brandon mengusap rambut putranya. Ada benarnya juga yang di katakan Amora. Dari kemarin Brandon Kevin belum mandi.


"Sayang, kita pulang sebentar yah. Mandi, terus datang ke sini lagi."


"Nggak mau? kalau papa mau pulang, papa pulang aja sendiri. Kevin mau di sini saja."


"Sebentar saja sayang. Nanti kalau mama bangun, terus mama mau cium Kevin, tapi gara-gara Kevin bau nanti mama malah pingsan."


"Kevin nggak bau." Kevin mencium aroma tubuhnya sendiri. "Iya sih emang bau." lirihnya sendu.


Brandon terkekeh dan mencuri kecupan di pipi putranya.


"Ayo pulang. Di sini ada Oma sama Opa yang jagain mama."


Kevin menatap Ardito, "Opa Kevin titip mama ya. Jangan marahin Mama, soalnya mama lagi sakit."


"Iya, emang nya Opa mau ngapain mama kamu sih. Khawatir banget."


"Oke, Kevin percaya sama Opa." Kevin mengalihkan perhatian nya pada Amora. "Oma juga jagain mama ya."


"Iya, Sayang."


Setelah memastikan Opa dan Omanya mau menjaga mama nya. Kevin baru mau pulang bersama Brandon. Itupun setelah Ardito mencium pipi Kevin.


"Kevin lucu sekali," gumam Ardito setelah Kevin dan Brandon keluar dari ruangan. "Kalau bukan dari rahim Luna, apa cucu kita bisa selucu dan sebaik Kevin?." tanya Ardito pada Amora.


"Tentu saja. Kamu kan tahu Mas, masa lalu Luna seperti apa. Luna itu jahat. Gen yang mengalir dalam tubuh Kevin jelas lebih banyak gen Brandon. Seandainya Brandon menikah dengan perempuan manapun, cucu kita pasti bisa secepatnya Kevin atau bahkan lebih hebat."


Ardito mengangguk-angguk.


"Oh yah, Mas. Aku lapar. Kamu mau nggak beliin aku nasi padang."


"Iya, aku belikan. Sebentar"


Setelah Ardito keluar dari ruangan. Amora mengalihkan perhatian pada Luna.


"Kamu pasti sengaja mencelakakan diri kamu sendiri kan? agar semua orang bersimpati sama kamu? kamu hampir berhasil Luna. Sekarang Brandon mulai perhatian sama kamu. Mas Ardito juga mulai peduli sama kamu. Kamu licik sekali," Amora terkekeh.


Amora tidak suka perhatian orang-orang di sekitarnya tertuju pada Luna. Luna benar-benar cantik. Bahkan tertidur seperti ini seperti sekarang saja dia masih terlihat cantik. Sementara dirinya untuk mendapatkan kecantikannya harus melakukan perawatan puluhan juta perbulan.


"Aku benci perempuan yang lebih cantik dariku di keluarga ini."


"Harusnya sejak awal kamu tidak datang dalam keluarga ini Luna. Selamat menyusul mama kamu ke neraka."


Amora hendak menarik selang oksigen di hidung Luna, tapi tiba-tiba pintu terbuka. Seketika Amora panik dan menarik tangannya.


"Mau ngapain kamu?." tanya Amora refleks pada perawat yang datang.


"Saya ingin mengecek kondisi pasien, Bu."


Perawat itu mendekat pada Luna, sementara Amora mau tidak mau menyingkir dari sana. Amora duduk di sofa.


Dalam hati, Amora mengumpat. Hampir saja dia berhasil mencelakai Luna, tapi soalnya perawat itu datang di saat yang tidak tepat. Tak apa, setelah perawat itu pergi Amora bisa beraksi lagi. Semoga saja Ardito datang terlambat.


Namun sayangnya perawat itu tidak mau pergi sampai Ardito datang.


"Sayang, nasi padang nya. Kita makan di luar aja biar nggak gangguan Luna. Ayo."


Tidak punya pilihan lain, Amora pun mengikuti Ardito makan di luar. Akhirnya tak lama Brandon dan Kevin datang. Amora semakin tidak punya kesempatan untuk mencelakai Luna.


***


Gagal total" Amora memukul setir mobil begitu dia sampai di parkiran klinik kecantikan.


Setelah dari rumah sakit tadi Amora langsung ke sini. Hari ini jadwal melakukan treatment wajah. Seminggu sekali Amora datang ke klinik kecantikan ini.


"Lain kali aku pastikan akan menyusun secara lebih matang. Hari ini kamu boleh tenang Luna, tapi besok atau Lusa kamu harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia."


Menghentikan langkah kaki kesal Amora keluar dari dalam mobil masuk ke dalam gedung kecantikan.


"Mari, Miss." Seorang pegawai mengantarkan Amora ke ruangan khusus untuk melakukan treatment.


Setelah Amora berbaring di tempat tidur. Seorang perempuan memakai jas dokter dan masker memasuki ruangan.


Dokter itu membawa troli berisi alat-alat biasa yang di gunakan untuk melakukan treatment.


"Untuk perawatan kali ini saya mau yang ekstra. Saya mau wajah saya glowing."


"Baik, Bu Amora tidak akan kecewa dengan hasilnya."


Amora memejamkan mata saat dokter itu mulai melakukan perawatan.


***


Setelah melakukan perawatan di dokter kecantikan tadi. Amora langsung shopping dan memborong barang-barang branded. Shopping menjadi salah satu pilihan healing terbaik bagi Amora. Soal uang dia tidak perlu khawatir, selain memiliki suami yang kaya raya, Amora juga memiliki usaha sendiri.


Amora baru saja selesai mandi dan menatap wajahnya di cermin wastafel kamar mandi.


"Ya ampun kenapa wajah ku jadi gatal."


"Kenapa gatal-gatal nya nggak hilang-hilang sih."

__ADS_1


Amora menggaruk wajahnya, tapi semakin dia garuk semakin gatal. Akhirnya Amora membiarkan saja dan lanjut memakai krim dari dokter di klinik kecantikan tadi.


Katanya ini produk terbaru mereka dan sudah di uji lab bisa mencerahkan kulit dalam sekejap. Kemasannya terlihat agak aneh, aromanya juga terlalu menyengat. Tapi berhubung Amora Sudan mempercayai klinik itu. Akhirnya Amora percaya saja.


"Aku harus tetap terlihat muda dan cantik."


Sambil menahan rasa gatal dan panas, Amora memakai krim itu.


"Ih kenapa semakin gatal sih," Saking gatal dan panasnya Amora sampai berkaca-kaca.


"Ini kenapa ya? Ini normal nggak sih?."


Amora keluar dari kamar mandi dan mencari kipas elektrik miliknya. Kipas ini biasanya dia bawa kemana-mana, terutama saat bepergian di tempat yang panas. Mengobrak-abrik tas akhirnya Amora mendapatkan kipas itu.


"Duh ini kenapa sih? kenapa tiba-tiba wajahku jadi gatal gini?."


Amora duduk di sofa, mengambil ponselnya di dalam tas dan menelpon pemilik klinik kecantikan tempatnya melakukan treatment tadi.


"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu Bu Amora?."


Krim kalian benar- benar teruji atau tidak sih? kenapa wajah saya jadi panas dan gatal?."


"Krim dari klinik kami sudah benar-benar teruji, Bu Amora. Banyak artis yang memakai produk kami. Produk kami juga sudah berBPOM. Jadi kami bisa memastikan keamanan produk ini. Jika Bu Amora mengalami keluhan seperti panas dan gatal, mungkin Bu Amora salah makan, atau Bu Amora mencampurkan krim kami dengan krim produk yang lain."


"Saya cuma pakai krim kalian. Dokter Laura baru saja memberikan nya pada saya tadi."


"Selama 2 minggu kami launching. Ini pertama kali nya kami mendapatkan keluhan dari konsumen. Sebaiknya Ibu datang ke klinik kami lagi, agar dokter kami bisa memeriksa lebih lanjut kondisi kulit Bu Amora."


"Ck, memangnya saya pengangguran yang nggak punya kerjaan sampai bolak-balik ke klinik kalian. Saya punya banyak kesibukan. Sore ini saya harus meeting untuk peluncuran produk bakery saya. Terus nanti malam saya ada dinner sama teman-teman sosialisasi saya. Dengan kondisi wajah saya sekarang, apa kata mereka? semua orang pasti akan meledek saya jelek."


"Maaf Bu, saya sudah memberi saran yang terbaik. Jika hari ini Bu Amora tidak bisa datang, besok masih bisa, Bu. Mungkin efek gatal dan panas di wajah Bu Amora karena baru awal pemakaian sehingga kulit Bu Amora masih menyesuaikan. Silahkan Bu Amora beristirahat atau tidur siang. Semoga setelah Bu Amora bangun nanti kondisi kulit wajah Bu Amora bisa kembali normal dan sembuh seperti sedia kala."


"Awas aja kalau sampai terjadi sesuatu dengan wajah saya. Saya akan menuntut klinik kalian."


Dengan emosi Amora mengakhiri panggilan. Melempar ponsel di sofa. Memutuskan untuk tidur siang saja. Setelah bangun nanti mungkin gatal dan panasnya menghilang.


Tapi karena terus gatal dan panas, akhirnya Amora memutuskan untuk minum pil tidur Baru setelah itu dia bisa terlelap.


***


Kembali di rumah sakit tempat Luna di rawat.


"Pah, kenapa Mama belum bangun."


Brandon sedang mengusap tangan Luna dengan handuk basah menoleh pada putranya.


"Sebentar lagi mama pasti akan sadar. Kevin jangan berhenti berdoa ya."


"Iya Pah."


Sambil duduk di bangku brankar, Kevin menatap lekat mama nya. Tangan kecilnya terulur dan mengusap pipi Luna.


"Mama nanti kalau mama sudah sadar, Kevin akan buatin mahkota bunga kesukaan mama. Kevin juga akan buatin lukisan buat mama. Apapun yang mama mau, pasti Kevin turuti, tapi mama cepat bangun ya. Kevin kangen, mau di suapi mama lagi."


Mendengar suara sendu putranya, Brandon berkaca-kaca. Mendongakkan kepala, agar air matanya tak jatuh. Dia tidak ingin menangis di depan putranya.


"Sayang, Papa keluar sebentar ya."


"Iya, pa. Tapi jangan lama-lama yah."


"Iya."


Brandon meletakkan wadah dan handuk basah di kamar mandi. Ruang rawat VVIP ini di lengkapi dengan kamar mandi dalam, sehingga lebih memudahkan keluarga pasien beraktivitas di kamar mandi.


Setelah keluar ruangan, Brandon duduk di bangku tunggu. Menumpukkan siku di lutut dan mencengkram kepalanya. Brandon tidak tahu kenapa dia sekhawatir ini pada Luna. Padahal dia tidak mencintainya. Seharusnya jika terjadi pada Luna, Brandon senang. Apalagi jika sampai Luna meninggal. Brandon bisa bebas menikah dengan perempuan manapun yang dia inginkan.


Tapi tidak, hatinya takut sekali. Brandon takut Luna tidak bisa sadar kembali.


Apa ini yang di namaku cinta yang sesungguhnya? Ah, entahlah. Brandon tidak tahu. Tapi yang jelas Brandon berharap Luna segera sadar.


"Brandon."


Mendengar panggilan itu Brandon menoleh.


"Pa."


Ardito duduk di samping Brandon. "Gimana keadaan Luna?."


"Belum sadar Pa."


"Sampai kapan dia akan sadar?."


"Dokter belum bisa memberikan kepastian kapan waktunya. Tapi aku yakin Luna pasti akan segera sadar."


Ardito menghembuskan napas panjang. "Ini adalah waktu yang tepat kamu menceraikan Luna. Papa sudah mencarikan calon istri yang lebih baik daripada Agnes. Dia anak teman papa juga. Dia seorang dokter, berpendidikan tinggi dan cantik sekali."


Brandon tertawa getir, "Kadang aku bertanya-tanya sebenarnya apa alasan papa memiliki anak? Untuk papa sayangi? atau papa manfaatkan untuk kepentingan papa sendiri?."


"Tentu saja papa menyanyangi kamu karena papa ingin memberikan yang terbaik untuk kamu. Percaya sama papa, perempuan pilihan papa kali ini benar-benar baik. Dia jodoh yang paling cocok untuk kamu."


"Aku sudah menikah, Pa. Dan aku tidak akan menceraikan Luna."


Ardito menajamkan mata, "Kenapa tiba-tiba kamu jadi peduli sama Luna. Bukannya sejak dulu kamu ingin menceraikan Luna? Ini waktu yang tepat."


"Cukup Pa," Brandon berdiri, "Dulu aku memang ingin menceraikan Luna. Karena aku masih memiliki janji pada Rachel. Janji untuk tidak pernah meninggalkan nya, tapi sekarang janji itu sudah kami selesaikan. Rachel sudah bahagia bersama Farel dan aku akan mencari kebahagiaan ku sendiri. Luna... aku yakin bisa bahagia bersama Luna dan Kevin."


Ardito juga berdiri, "Apa Luna sudah mencuci otak kamu sampai kamu tiba-tiba berubah haluan begini? Apa yang perempuan itu lakukan! Apa servisnya di ranjang sehebat itu? kamu sudah ketagihan dengan pelacur itu?."


"PAPA CUKUP!." Brandon mengepalkan tangan kuat sampai kuku nya memutih, urat-urat di lehernya muncul saking marahnya sekarang. "Sekali lagi papa memanggil Luna dengan panggilan pelacur. Jangan salahkan aku jika aku memukul papa. Luna lebih dari ekedar patner **** ku di atas ranjang. Dia ibu dari putraku. Aku tidak akan punya anak sehebat Kevin jika bukan Luna yang melahirkannya! Aku mohon, Pa. Tolong cukup sampai di sini saja. Aku ingin bahagia dengan pilihan ku sendiri. Cukup papa menyetirku untuk melakukan apapun yang papa inginkan. Aku berhak menentukan kebahagiaan sendiri."


Brandon berbalik badan dan langsung pergi meninggalkan papa nya. Jika dia tetap di sana dan berdebat dengan papa nya, Brandon tidak yakin bisa mengendalikan diri untuk tidak melayangkan pukulan pada papa nya sendiri. Brandon tidak bermaksud menjadi anak durhaka dengan melawan orang tua, tapi Brandon juga tidak rela istrinya di hina.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2