Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 195


__ADS_3

"Rachel, kamu tidak apa-apa kan?." tanya Farel yang saat ini sedang berada di ruangan tempat Rachel di rawat.


Setelah di UGD, Rachel di bawa ke ruang VIP yang sudah Farel pesan. Beruntung tidak ada luka serius.


Beberapa jam kemudian Farel menunggu Rachel siuman bersama Bastian dan Rendy.


"Fa-Farel." lirih Rachel pelan.


"Iya, Sayang. Mau minum?." tanya Farel dan di balas anggukan oleh Rachel.


Di ambil segelas air putih lalu menyodorkan ke arah Rachel. Farel membantu Rachel untuk minum.


"Terima kasih," ucap Rachel.


"Sama-sama."


Farel, Bastian dan Rendy saling lirik, mereka bingung apakah akan langsung menyampaikan berita buruk kepada Rachel atau tidak. Tetapi jika tidak, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya pada Hendrawan. Mengingat bagaimana luka yang di alami oleh Hendrawan lumayan serius, bahkan hampir sama dengan kecelakaan yang di alami Rachel. Rachel saja sampai hilang ingatan, Farel berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Hendrawan.


Melihat keterdiaman teman-temannya, Rachel tak kuasa untuk tidak bertanya.


"Ada apa?."


Melihat anggukan dari Bastian dan Rendy. "Begini, Hel. Mungkin ini berita buruk. Tapi kamu harus kuat yah! Hmmm, Papa kamu, Om Hendrawan..." ucap Farel terbata dan melihat kembali dua orang temannya.


"Apa yang terjadi dengan papa?." tanya Rachel mulai di landa ketakutan. Bahkan ingatan yang selama ini hilang, akibat kecelakaan kemarin membuat dirinya sudah bisa mengingat kembali.


"Om... Om Hendrawan kecelakaan, kecelakaan yang kita lihat tadi itu adalah kecelakaan papa kamu, Hel." ucap Farel.


Air mata menetes di pipi Rachel tanpa bisa di cegah, ketakutan menjalar ke seluruh tubuh. Tidak banyak kenangan yang mereka miliki, justru lebih banyak kenangan buruk antara mereka. Papa nya sekarang sudah mulai baik kepada dirinya, Rachel berharap bisa memiliki kenangan indah bersama papa nya dari mulai sekarang. Namun mendengar papa nya kecelakaan, Rachel takut tidak bisa mengukir kenangan indah bersama papa nya.


"Aku ingin bertemu Papa!."


"Tenang, Hel. Papa kamu sedang di tangani oleh Dokter." ucap Bastian menenangkan sepupunya itu.


"Tapi aku harus kesana Tian. Papa sendirian di sana." ucap Rachel sendu.


"Iyah, Iyah kita ke sana." ucap Bastian.


***


Tiga hari kemudian...


Luka Hendrawan cukup parah, dia dalam keadaan kritis dan belum sasaran diri. Dokter juga sudah melakukan yang terbaik, tinggal menunggu saja perkembangannya.


Belum ada tanda-tanda Hendrawan akan sadar, meskipun kondisinya juga stabil, tapi sama sekali belum ada perkembangan tentang kondisinya.


Soal pengendara truk yang menabrak Hendrawan sudah di lakukan proses hukum. Pihak kepolisian menjelaskan truk mengalami rem blong, begitu pun juga mobil Hendrawan. Bastian curiga dengan kecelakaan yang menimpa Hendrawan, kemudian mengerahkan anak-anak buah nya untuk menyelidiki lebih lanjut.

__ADS_1


"Pa..." Rachel duduk di kursi samping brankar dan menggenggam tangan Hendrawan. Sementara Farel berdiri di belakang Rachel, pandangan matanya tertuju pada Hendrawan.


"Papa kenapa jadi seperti ini? kita masih banyak hal yang harus di lakukan untuk mengukir kenangan indah bersama. Papa bilang ingin menjadi Ayah yang baik untuk Rachel. Bukankah papa ingin menebus kesalahan di masa lalu. Kalau papa tidur gimana bisa menebus kesalahan papa?."


Rachel mengusap punggung tangan Hendrawan dengan lembut.


"Papa, papa bangun."


Perlahan Rachel merasakan jari-jari Hendrawan bergerak dalam genggamannya.


"Pa," Rachel menoleh pada Farel, "Farel, papa mulai sadar."


"Aku panggil dokter dulu."


Farel pun keluar dari ruangan.


"Ra-Rachel," lirih Hendrawan begitu pelan, Rachel tidak bisa mendengar suara itu.


Rachel mencondongkan tubuhnya ke sisi kepala papa nya.


"Iya, Pa. Ini Rachel. Papa merasa sakit? Tunggu sebentar yah. Dokter akan ke sini." Sambil menatap wajah pucat papa nya. Rachel mengusap punggung tangan papa nya.


"Rachel."


"Iyah Pa. Aku Rachel. Aku di sini."


"Rachel."


Hanya itu yang keluar dari mulut Hendrawan.


"Farel."


Farel mendekat pada Hendrawan. Berdiri di sampingnya dan agak mencondongkan badan mendekati sisi kepala Hendrawan.


Dengan lemah, Hendrawan menoleh pada Farel.


"Tolong jaga putri saya."


"Om," Farel menggenggam tangan Hendrawan, "Kita jaga bersama-sama."


Hendrawan menggeleng lemah, "Bisakah saya melihat kalian menikah sekarang? Saya ingin memastikan Rachel baik-baik saja setelah saya pergi," ucap Hendrawan dengan napas berat dan terbata-bata, berat napasnya terdengar menyakitkan di telinga Rachel.


"Maksud Om?."


"Menikah dengan putri saya, Farel. Saya ingin menjadi wali nikah putri saya."


***

__ADS_1


Selepas kepergian Hendrawan, tiga hari kemudian Wisnu juga meninggal dunia karena syok mendengar Hendrawan meninggal. Beliau terkena serangan jantung.


Keluarga Tanoepramudya sedang berduka kehilangan dua orang yang amat mereka cintai.


Saat ini mereka sedang berkumpul di kediaman Tanoepramudya. Farel dan Rachel yang sudah sah menjadi sepasang suami istri, kemudian ada Sebastian, Anggun, Bastian, Sarah dan Anthony. Sebelumnya Ayuma, Edgar juga turut hadir. Namun Rafa mendadak rewel dan menangis terus sehingga Ayuma dan Edgar merasa tidak enak dan akhirnya pamit pulang.


Tiba-tiba pembantu mereka datang menghampiri, "Tuan ada tamu di depan!." ucapnya.


"Siapa Bi?." tanya Sebastian.


"Katanya Tuan William."


"William?." Sebastian nampak berpikir. "Oh kalau begitu, suruh beliau masuk Bi."


Tak lama seorang pria paruh baya seusia Wisnu tiba di ruang keluarga. Sebastian datang menghampiri William dan menjabat tangan nya.


Tiba-tiba William terduduk di lantai seperti sedang memohon ampun kepada Sebastian dan seluruh keluarga Tanoepramudya sembari menangis.


"Maafkan aku, maaf." ucapnya dalam tangisan.


"Apa yang bapak lakukan!, tolong berdirilah!." titah Sebastian, ia syok tiba-tiba William bersimpuh di kakinya.


"Maafkan aku." ucap William lagi.


"Iyah Pak, sebaiknya bapak duduk di sana yuk. Jangan seperti ini. Kita bicarakan baik-baik."


William menurut dan bangkit lalu mengikuti langkah Sebastian dan duduk di sofa. Pandangan nya masih menunduk dengan popi basah karena menangis.


"Ada apa Pak?." tanya Sebastian penasaran karena kedatangan dan permintaan maaf William yang tiba-tiba.


"Saya meminta maaf atas apa yang saya lakukan kepada Almarhum Hendrawan dan juga Almarhum Bapak Wisnu. Karena kesalahan saya menimbulkan banyak kesalahpahaman."


Sontak mereka yang berkumpul di sana di buat bingung, apa maksud dari ucapan William. Mereka masih tidak tahu ke arah mana pembicaraan William. Namun mereka hanya diam saja dan mendengarkan dengan seksama. Menunggu kelanjutan pembicaraan William.


"Sebenarnya saya yang sudah mengambil uang yang seharusnya di berikan kepada Dilara. Dilara tidak pernah berbohong. Dan sebenarnya Luna adalah anak kandung dari Bapak Wisnu." papar William.


Deg.


Mereka semua terkejut dan syok dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2