Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 158


__ADS_3

Seperti sekarang... Luna tidak tahu apa yang di pikirkan Brandon.


"Mendekatlah," Perintahnya.


Luna bingung kenapa Brandon menyuruhnya mendekat tapi tetap mengikuti keinginan suaminya untuk mendekat. Luna selalu berusaha menjadi istri yang baik dengan mengikuti apapun yang Brandon inginkan.


Luna menggeser posisi tidurnya juga tubuhnya yang terbalut kain tidur tipis berjarak dekat pada tubuh Brandon yang bertelanjang dada. Sudah menjadi kebiasaan Brandon tidur tanpa atasan dia lebih suka bertelanjang dada.


"Kamu mau apa?."


"Menciummu."


Belum sempat otak belum mencerna dengan benar kata itu sebuah ciuman sudah mendarat di bibirnya, pinggangnya yang ramping di rengkuh, rapat, dekat dan hangat.


Sampai detik ini Luna masih belum tahu perasaan Brandon padanya tapi layaknya suami istri pada umumnya mereka juga bercinta, ciuman dan kadang-kadang berpelukan.


Selama ini Brandon yang selalu meminta duluan bukan tak ingin mengajak duluan, tapi Luna takut terlihat agresi jika dia mengajak Brandon berhubungan intim duluan. Luna takut Brandon ilfil dan menjauhinya.


"Kamu ingin lagi?." tanya Luna di sela ******* mereka. Semalam mereka baru saja berhubungan intim, mungkin Brandon ingin lagi.


"Maaf," Luna mendekat dan mengecup sekilas bibir bawah Brandon.


Brandon menyeringai, "Kenapa minta maaf?."


"Takut kamu marah dan pergi."


"Kalau aku pergi apa yang akan kamu lakukan?." Brandon mengulurkan tangan dan mengusap pipi istrinya.


"Kenapa diam, hm?."


"Aku nggak tau. Aku nggak tahu harus melakukan apa kalau kamu pergi. Mungkin aku akan mencari kerja dan membesarkan Kevin."


Luna menatap lekat mata Brandon, "Mama bilang ingin menjodohkan kamu dengan Agnes dan mengambil Kevin dariku. Kamu sudah tahu tentang hal itu?."

__ADS_1


"Mama bilang begitu? Aku nggak tau soal permohonan ku dengan Agnes. Aku nggak peduli tentang Agnes atau perempuan manapun. Aku menunggu Rachel. Aku menunggu kepulangan dia."


Luna tahu Brandon masih mengharapkan Rachel. Dulu awal-awal menikah, Luna pernah melihat Brandon mabuk dan menyebut nama Rachel. Bahkan beberapa kali mereka berhubungan intim Brandon mendesahkan nama Rachel.


Hubungan Brandon dan Rachel hanya terjalin sebentar tapi seperti nya sangat membekas di hati dan pikiran nya. Bahkan alam bawah sadarnya selalu memikirkan Rachel.


Luna tidak heran, Rachel memang sehebat itu. Bukan hanya Brandon yang merindukan Rachel, tapi Luna juga. Terakhir kali Luna mendapatkan informasi dari Brandon, Rachel mengalami kecelakaan gara-gara Dilara mengatakan Farel memperkosanya. Lalu setelah itu Rachel dan Ayuma menghilang.


"Kamu masih mencintainya?."


"Hm, aku masih sangat mencintainya. Dia cinta pertamaku. Aku terlanjur mencintainya sedalam itu. Selama 20 tahun Aku single dan tidak pernah tertarik dengan perempuan, tapi saat itu... saat aku melihat Rachel, tersenyum dan tertawa riang, untuk pertama kalinya jantungku berdebar kencang. Dia perempuan pertama yang membuatku semangat menjalani hidup setelah kepergian mama. Kami juga sudah saling berjanji untuk tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Aku tidak ingin mengingkari janjiku. Aku akan selalu menunggu kepulangan Rachel. Sampai sekarang pun aku juga masih mencari keberadaannya. Aku yakin suatu hari nanti Rachel pasti pulang dan kembali padaku."


Luna mengulurkan tangan dan mengusap pipi Brandon.


"Kalau Rachel pulang kamu akan menceraikanku?."


Brandon diam dengan tatapan lekat menatap mata Luna, tangannya masih berada di punggung Luna dan mengusap kulit punggungnya.


"Jika itu yang kamu inginkan. Aku akan menerima nya. Kamu berhak bahagia dengan perempuan pilihan kamu. Selama ini kamu pasti tersiksa tinggal bersama aku. Tapi kamu tetap menjalankan tugas kamu sebagai seorang suami dengan baik. Aku sangat berterima kasih."


"Rachel, dia perempuan yang sangat hebat. Aku saja yang seorang perempuan begitu nyaman di dekatnya. Karena itu aku mengerti kenapa kamu sulit move on dari Rachel. Aku lebih mendukung kamu bersama Rachel daripada Agnes."


Brandon tersenyum, "Kamu nggak masalah melihat suami kamu pergi dengan perempuan lain? kamu nggak merasa sedih dan kehilangan?."


"Jelas aku sedih dan kehilangan. Aku juga nggak rela. Tapi jika itu membuat kamu bahagia, maka pergilah, jemput kekasih impian kamu. Tapi tolong jangan bawa Kevin. Biarkan aku merawat Kevin."


Tanpa bisa di cegah air matanya mengalir dari sudut mata.


"Maaf," Luna berbalik badan, memunggungi Brandon dengan tangan Brandon masih melingkar di pinggangnya. Luna malu jika menangis di depan suaminya.


Brandon merapatkan tubuhnya hingga menempel di belakang tubuh Luna, "Maaf, aku sering membuat mu menangis."


"Nggak kok, aku nggak nangis. Ini kelilipan. Tolong jangan merasa bersalah."

__ADS_1


Luna mengusap air matanya dengan cepat.


"Aku ke kamar Kevin dulu ya, Kevin pasti sudah bangun."


Luna menyingkirkan tangan Brandon dari perutnya, lalu menurunkan kaki dari ranjang, tapi Brandon menahan pinggangnya. Luna menoleh, hingga mata mereka saling bertemu dan menatap satu sama lain.


Luna bertanya-tanya apa yang Brandon pikirkan sekarang, apa jantungbya pernah berdebar kencang saat bertatapan seperti ini. Apa Brandon pernah sekali saja merasa bangga memiliki istri seperti dirinya. Saat mereka berciuman apa Brandon menikmati nya atau hanya sekedar menyalurkan nafsu saja.


Tanpa melepas tatapan, Brandon mengangkat tangan dan mengusap leher jenjang Luna yang putih dan halus. Lalu menarik belakang leher Luna hingga wajah mereka saling mendekat.


"Aku mau lagi," Brandon menyentuh bibir mereka.


Luna mengerti, Brandon ingin bercinta lagi. Ah seperti ya tidak cocok jika di namakan bercinta atau making love, hubungan ini lebih cocok di sebut dengan hatinya ****, **** sekedar melampiaskan nafsu.


Luna merasa Brandon hanya menggunakannya sebagai pelac*r pribadinya.


Brandon hanya mau berlama-lama dengannya saat mereka berhubungan intim saja. Tapi Luna juga tidak bisa pergi... Kevin masih membutuhkan kasih sayang Brandon. Begitu juga Luna, Luna membutuhkan Brandon Luna takut sendiri, sia tidak punya siapa-siapa lagi selain Brandon dan Kevin.


***


Jakarta, Bandara Soekarno Hatta, pukul 11.00.


Rachel benar-benar tidak menyangka akhirnya bisa menginjakkan kaki ke Indonesia. selama lima tahun dia memendam kerinduan pada tanah kelahiran nya ini tanpa berani mengutarakan pada Mama nya pasti merasa sedih.


"Tidak, Rachel tidak marah pada Mama nya. Mungkin mama nya punya kenangan buruk di sini, sehingga mungkin enggan membahas masa lalu. Tapi bagi Rachel uang hilang ingatan dan penasaran bagaimana kehidupan masa lalunya. Jelas Rachel sangat bersemangat untuk pulang.


Bisa jadi Rachel memiliki kenangan buruk di masa lalu. Mungkin saat ingatannya kembali nanti kenangan itu akan menjadi mimpi buruk baginya. Tapi Rachel sudah siap menerima segala konsekuensi nya dengan mengingat kembali masa lalunya.


"Apa yang kamu rasakan?." tanya Farel karena sejak tadi Rachel hanya diam dan mengendarkan pandangan menatap ke sekeliling Bandara.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2