Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 165


__ADS_3

Malam ini Rachel berencana ikut Bastian menghadiri makan malam bersama keluarganya. Rachel tidak tahu siapa saja yang akan hadir, tapi Bastian bilang mereka sudah menyiapkan dinner spesial untuk menyambut Rachel. Namun ini bersifat kejutan. Bastian juga belum mengatakan pada semua orang kedatangan Rachel.


Sekarang, pukul 19.00, Rachel dan Farel berada di mobil sedang perjalanan ke rumah Bastian. Sepanjang perjalanan Rachel.menatap ke luar jendela. Jalanan cukup macet, tidak seperti saat Rachel masih di Swiss. Tapi karena Rachel sudah lama tidak datang ke sini, kemacetan ini tersamarkan dengan rasa senang di hatinya.


"Swiss memang indah dan nggak macet, tapi di sini pasti akan lebih menyenangkan." ucap Farel sambil menoleh pada Rachel.


"Menyenangkan? kenapa lebih menyenangkan?." tanya Rachel sembari tersenyum dan mengangkat sebelah alis.


"Karena ada aku."


"Cih, gombal," Rachel tertawa, "Kamu bilang karena ada kamu di sini jadi lebih menyenangkan daripada di Swiss kan? jadi kalau kisah nya kita terjebak macet dan aku buru-buru ke satu tempat. Apa kamu mau memindahkan semua mobil di jalan agar aku bisa cepat sampai di tujuanku?."


"Hm, nanti aku beli buldoser dan menyingkirkan semua mobil yang menghalangi mobilku yang mengantar Tuan putri Rachel."


Rachel tertawa, "Bisa aja kamu."


Farel menyetel lagu di mobil, lagu melukis senja karya budi-do re mi.


"Dulu kamu suka lagu ini. Saat kita berusia 7 tahun, aku pernah menyanyikan lagu ini untuk kamu sebagai hadiah tahun baru. Karena dulu kamu juga sering memberi aku hadiah."


"Oh ya?."


"Hmm"


Rachel terdiam dan mendengarkan lirik demi lirik lagu melukis senja yang bermakna cukup dalam.


"Izinkan ku lukis senja," Farel mulai bernyanyi membuat Rachel menoleh ke arahnya.


Rachel tidak tahu kenapa dia suka mendengarkan lagu ini, tapi yang jelas perasaannya menjadi lebih tenang. Apalagi di tambah Farel ikut bernyanyi. Rasanya lebih menyenangkan.


"Mengukir nama mu di sana," Farel lanjut bernyanyi sambil menatap Rachel lekat.


Lagu ini indah, tapi entah kenapa justru ingin menangis semakin lama mendengarnya. Seperti ada rasa sesak yang tak terganbarkan di dada. Apa dulu dia sering mendengarkan lagu ini saat sedang down?.


"Mendengar kamu bercerita, menangis tertawa."


Rachel semakin bertanya-tanya. Di mana dia sering mendengarkan lagu ini? apa tiduran di kamar sambil memeluk guling dan menangis? atau berendam di bathup sambil menangis juga? Rachel tidak tahu tapi seperti ada potongan-potongan memori yang berkelebat di kepalanya.

__ADS_1


"Biar ku lukis malam. Bawa kamu bintang-bintang."


Rachel menatap lekat Farel, sementara Farel masih terus bernyanyi. Apa dulu saat dia mendengarkan lagu ini Farel menemaninya? atau justru Farel yang menjadi alasan Rachel mendengarkan lagu ini? Farel membuatnya sakit hati, lalu Rachel galau dan memutar lagu ini? Ah entahlah, Rachel tidak tahu. Semakin dia bertanya-tanya semakin dia kebingungan.


"Tuk temanimu yang terluka. Hingga kau bahagia."


Tanpa sadar air mata Rachel mengalir begitu saja setelah lagu selesai. Bait lagu yang terakhir, begitu menyentuh hati Rachel. Kembali dia bertanya-tanya. Apa dulu dia sering terluka? kenapa mendengar lagu sedih ini, air matanya menetes, Apa Rachel yang dulu sering menangis?.


"Kenapa?." Farel mengulurkan tangan dan mengusap pipi Rachel.


Rachel menggeleng, "Nggak tau. Tiba-tiba nangis aja. Aneh kan?."


"Mungkin itu reaksi alam bawah sadar kamu. Kamu sangat menyukai lagu ini. Meskipun kamu tidak ingat lirik-liriknya, hati dan perasaan kamu masih ingat. Aku akan menunjukkan lebih banyak hal-hal yang sering kamu lakukan agar memori kamu lebih cepat pulih. Pelan-pelan ya!."


Farel meletakkan tangannya di punggung tangan Rachel yang ada di atas paha dan meremas lembut Rachel memperhatikan tangan Farel yang besar dengan jari-jarinya tampak kokoh merangkum tangan kecilnya, dalam genggaman tangan ini Rachel merasa hangat dan nyaman, tapi juga deg-degan dalam waktu bersamaan.


"Apa yang kamu rasakan?." tanya Farel begitu mereka sampai di lampu merah dan mobil berhenti.


"Kalau kamu?." tanya balik Rachel karena dari kemarin sampai sekarang Farel terus bertanya tentang perasaannya.


Rachel tertawa, "Aku tidak ingin salto, tapi aku juga deg deg an."


"Gimana kalau kita salto berdua di jalan raya ini?."


"Farel aku tau kita absurd, tapi kita tidak gila. Mana ada orang waras salto di tengah jalan."


Farel tertawa, "Tapi aku suka absurd bersamamu."


Rachel menoleh, menaikkan dua kakinya di kursi dengan posisi di lipat ke samping belakang pahanya Malam ini Rachel memakai dress biru langit selutut lengan pendek, dress nya nyaman dan longgar sehingga Rachel bisa bergerak bebas.


Farel melirik posisi duduk Rachel sekarang.


"Aneh nggak?."


"Nggak se nyaman kamu saja," Farel melepas genggaman tangan Rachel, lalu menumpukkan tangan di paha Rachel sehingga tangan Farel terjulur sampai ke betis Rachel. Sesekali Farel mengusap betis nya.


Rachel senang dengan jawaban Farel dia tidak marah atau protes dengan posisi duduknya sekarang yang mungkin menurut kebanyakan orang tidak sopan. Rachel bisa saja di judge buruk.

__ADS_1


"Cerita lagi dong, hal gila apa yang pernah kita lakukan." pintar Rachel dengan penuh antusias dan tak sabaran.


"Oke, apa yang ingin kamu dengar?." Farel mengusap betis dan tulang kering kaki Rachel yang terasa lembut dan halus sekali.


"Ehhm apa ya?."


"Masa SD, SMP, SMA atau kuliah? kita sudah berteman sejak 7 tahun sampai 20 tahun. Aku punya banyak bahan cerita yang bisa aku ceritakan, kamu tanya saja apa yang ingin kamu tahu."


"Apa kamu pernah membuat ku menangis?."


Farel menoleh dengan mata menyipit, "Kenaoa dari sekian banyak hal yang bisa kamu tanyakan kamu bertanya begitu?."


"Karena kalau yang senang,senang kan sudah biasa, aku mau cerita yang lain."


Farel terdiam sesaat. "Diamnya kamu sudah menjawab pertanyaanku. Kamu pasti pernah membuatku menangis kan?."


"Rachel, kamu pandai menyembunyikan perasaan. Meskipun kamu dalam keadaan hancur, kamu masih bisa tertawa riang seolah tidak terjadi apa-apa. Kamu tertawa seolah kaku manusia paling bahagia di dunia ini. Kamu tidak pernah ingin menunjukkan kesedihan kamu di depan semua orang. kamu selalu mengatakan padaku, aku ingin kehadiranku menjadi kebahagiaan untuk orang lain."


Farel menoleh, meremas lembut betis Rachel untuk memberi ketenangan. Kemudian melajukan mobil lagi saat lampu lalu lintas sudah menunjukkan hijau.


"Aku rasa itu sifat alami kamu dan aku yakin sampai sekarang kamu masih melakukannya."


"Hm, aku sering memendam perasaanku?." lirih Rachel.


"Saat bersamaku, kamu tidak perlu memendam apapun. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Aku akan selalu menerima jamu dengan segala kelebihan dan kekurangan kamu."


Rachel hanya diam, menatap lekat Farel dari samping. Hari ini Farel memakai kemeja hitam, pas di tubuhnya. Lengan kemeja yang di guling sampai siku memperlihatkan otot tangannya, terlihat kuat, kokoh dan agak berurat. Rachel penasaran bagaimana Farel membentuk badannya seatlentis ini. Mungkin dia sering nge-gym.


Model rambut short comb-over, semakin membuat rahangnya tampak tegas. secara keseluruhan penampilan Farel malam ini sangat menawan. Dia tampan sekali. Di tambah lagi, jam tangan yang melingkar di tangan kirinya menambah kesan karismatik.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2