Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 32


__ADS_3

"Mereka apa?." tanya Farel penasaran.


Mereka menjalin hubungan di belakang kita. Jangan-jangan Papa Sugar Daddy Luna ? atau bisa jadi Luna mau jadi Mamah muda gue?."


Seketika itu Farel menganga.


"Oh Rachel, daripada lo mikir aneh-aneh mending kamu tidur aja!. Tenangin diri lo, sekarang gue mau lanjut makan, soalnya gue laper."


Farel memutar tubuh lalu lanjut makan lagi. Sementara Rachel masih berbicara random dan membuat teori sendiri tentang hubungan Hendrawan dengan Luna. Farel tak kuasa menahan senyum, gemas, dengan Rachel dan kerandoman isi kepalanya.


Sampai sepuluh menit tak terdengar suara lagi.


Farel menoleh dan benar saja Rachel sudah memejamkan mata dengan posisi miring kepadanya.


Farel pergi ke dapur untuk mencuci tangan. Lalu kembali ke posisi duduk di karpet. Farel duduk miring dan menyandarkan tubuh di sisi bawah karpet lalu menempelkan dagu di tepian karpet. Sehingga jarak wajahnya dekat dengan wajah Rachel.


"Lucu kayak bayi."


Farel mengangkat tangan dan menyentuh puncak hidung Rachel. Hanya memandang wajah Rachel saja, Farel betah-betah menghabiskan waktu berjam-jam.


Menelusuri setiap jengkal wajahnya, menatap betapa cantik alisnya, betapa lentik bulu mata nya, betapa hidungnya dan bibirnya....


Farel menelan ludah dengan pandangan tertuju pada bibir Rachel yang terbuka sedikit.


"Kalau gue cium, dia marah ngga yah?."


Farel tersenyum saat membanyangkan dirinya mencium bibir Rachel, tiba-tiba Rachel bangun dan mata nya melotot dan mulutnya mengomel panjang lebar, kemudian mengambil sapu dan menggebuk punggungnya.


"Gemas banget sih." Farel mencondongkan tubuhnya mendekatkan wajah ingin mencium hidung Rachel tapi tiba-tiba Rachel bergerak dan tanpa sengaja bibir Farel menyentuh bibirnya. Hanya sekilas karena Rachel terus bergerak mencari posisi nyaman dalam tidurnya dan tidur pulas lagi seolah tidak terjadi apa-apa.


Sementara Farel membeku di tempat. Kaget, dan tanpa bisa di cegah jantungnya berdebar kencang. Begitu kencang sampai dadanya sakit.


"Gila." Farel menyentuh dadanya sendiri. "Lo...lo bisa tidur pulas. Setelah lo lakuin ini sama gue?." Farel melotot sedangkan yang di ajak bicara justru mendengkur halus.


"Ngga bisa. Ini ngga bisa di biarin. Gu-gue mau cium lagi." ancam nya tapi Rachel tidak menyahut saking pulas tidurnya.


Hening.


Hanya terdengar suara dengkuran halus, suara detak jam dinding, suara detak jantungnya dan suara nafasnya yang tidak beraturan.


"Rachel lo harus tanggung jawab, gue mau cium lagi." rengek Farel sambil membuat gerakan tangan seolah mengunyel-nguyel pipi Rachel.

__ADS_1


Dan tiba - tiba....


Tring....Tring...


"Ck. Siapa sih yang nelpon. Ganggu aja." kesal Farel dengan suara tertahan agar tidak membangun Rachel.


Ternyata panggilan dari Hendrawan.


Farel meraih ponsel menuju ke balkon dan mengangkat panggilan itu.


"Halo Om."


"Dimana kamu sekarang? perempuan yang kamu cintai ada di rumah sakit. Tapi kamu malah kelanyapan ngga jelas. Pacar macam apa kamu Farel!."


"Saya bukan pacar Luna Om, kami hanya berteman."


"Berteman?, teman macam apa?, kedekatan kalian sudah lebih dari teman. Awas aja kalau kamu php Luna."


"Saya tidak Php Luna. Kalaupun aku php Luna apa urusannya sama Om. Om siapa nya Luna?."


"Saya Ayahnya."


Farel tersentak. Nada suara Hendrawan tegas penuh peringatan dan penuh ancaman seolah-olah Hendrawan memang benar-benar Ayah Luna."


"Oh yah jelas saya teman yang baik, saat teman saya terluka saya ada untuknya."


"Ya udah kalau gitu, cepat ke sini!, tunggu apa lagi?."


"Untuk Rachel bukan untuk Luna."


Farel mendengar decakan keras dari Hendrawan.


"Rachel luka? emangnya Rachel luka apa?, saya lihat tadi Rachel baik-baik saja justru Luna yang terluka. Kamu saja yang tadi tidak me ihat luka Luna. Padahal tadi Luna sudah teriak-teriak memanggil nama kamu. Tapi kamu dengan songongnya pergi gitu aja."


"Om, Om itu Ayah kandung Rachel? Apa om tidak bisa melihat luka Rachel?, Rachel emang tidak luka fisik, tapi hatinya yang terluka."


"Ngomong apa sih kamu?."


"SAYA NGOMONG FAKTA."


"NGGAK USAH BENTAK SAYA."

__ADS_1


Farel mengepalkan tangan, lalu melirik Rachel yang sedang tidur. Untung saja Rachel tidak bangun mendengar teriakannya. Farel benar-benar jengkel dengan jawaban Hendrawan sampai tidak bisa mengendalikan emosinya. Pantas saja Rachel sampai mempertanyakan status nya anak kandung atau bukan, karena sikap Hendrawan tidak cocok di sebut dengan Ayah kandung.


"Kurang aja, kamu membentak saya, Farel!."


"Terus sekarang saya mau tanya, bagaimana rasanya di bentak Om?, rasanya pasti sakit , marah, jengkel kan?. Itu juga yang di rasakan putri Om. Apalagi Om membentaknya di depan umum. Tapi Rachel tak akan bisa marah sama Om, apapun yang Om lakukan Rachel sangat menyanyangi Om. Dan rasa sayang itulah yang membuat luka nya semakin dalam saat Om menyakitinya!."


"Semalam Om baru saja membentaknya kan?. Luka semalam saja belum kering dan Om sekarang Om tambah lagi dengan luka yang parah. Kalau begini terus Om akan kehilangan putri Om."


Hening beberapa saat, Farel berharap Hendrawan sedikit saja menyadari kesalahannya.


Farel tidak bermaksud menjadi orang yang paling benar dan sok menasehati. Farel pun pernah melakukan kesalahan pada Rachel, kesalahan yang membuat Rachel sedikit menjauh darinya dengan pergi dari Apartement.


Farel tidak mau mengulangi kesalahan itu lagi sehingga Rachel semakin menjauh. Jarak ini saja sudah begitu menyiksa, apalagi jika Rachel benar-benar pergi dari hidupnya. Farel tidak ingin itu terjadi.


"Halo Om?."


"Terus gimana keadaan Rachel sekarang?, Dimana dia sekarang?."


Farel senang mendengar pertanyaan itu, itu menunjukkan kalau Hendrawan peduli pada Rachel.


"Ada di Apartement saya, dia sedang tidur."


Hening lagi.


"Berarti Rachel baik-baik saja kan. Ya udah biarin Rachel tidur di sana, kamu ke sini sekarang!."


"Om menyuruh saya meninggalkan Rachel sendiri dalam keadaan begini?."


Farel ternganga dengan jawaban Hendrawan. Bahkan setelah penjelesannya panjang lebar tadi. Hendrawan masih belum menyadari kesalahannya tadi.


Wow, Farel spechless.


Kalimat makian dan umpatan sudah sampai di tenggorokan tapi Farel tahan demi rasa hormat kepada orang tua.


"Terserah Om deh, semoga Om segera bertemu Tuhan."


"Kamu mendoakan saya....."


Farel langsung mengakhiri panggilan daripada berbicara dengan Hendrawan membuat tekanan darah nya naik. Sekalian menonaktifkan ponselnya biar Hendrawan tidak menelpon nya lagi. Dia akan mengaktifkan ponsel setelah Rachel bangun nanti. Sekalian aja Farel ikut tidur siang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2