Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 185


__ADS_3

Rachel tertawa melihat wajah kesal Farel. Dia sengaja memeluk Rendy agar bisa memancing kekesalan Farel. Rachel ingin melihat Farel cemburu. Benar saja, Farel terlihat cemburu. Bahkan sekarang Farel terus mengikuti motor Rendy sambil membunyikan klakson. Sesekali berkendara di samping motor Rendy saat jalanan agak sepi.


"Ren, gue tabrak lo!." ancam Farel dari dalam mobilnya.


"Nabrak gue sama aja lo nabrak calon istri lo. Mau calon istri lo kenapa-napa?."


Farel berdecak lalu mengalihkan perhatian pada Rachel. Seketika darahnya mendidih melihat tangan kecil Rachel melingkar di perut Rendy. Ini ada dua kemungkinan. Antara Rendy memang modusin Rachel, misal Rendy menakuti-nakuti Rachel akan ngebut karena itu Rachel memeluknya. Atau kemungkinan kedua, Rachel memang sengaja memeluk Rendy untuk membuat dia cemburu.


"Sayang, jangan peluk-peluk gitu dong. Rendy itu kutuan nanti kutu rendy nempel di badan mu."


Rachel tertawa, itu alasan terkonyol yang pernah dia dengar.


"Kutuan! kutuan! lo tuh yang kutuan. Kutu lo full dari rambut atau sampai rambut bawah." Rendy terkekeh mendapat pelototan dari Farel. "Maksud gue, rambut di kepala lo sampai rambut di kaki lo. jangan nething gitu dong, Rel. Lo pasti mikir rambut bawah yang lain kan? hahaha... Mesum banget lo. Awas Hel, jangan terlalu dekat sama Farel. Nanti kamu dia anuin."


Rachel tertawa, lucu saja melihat mereka bertengkar seperti ini. Setiap bertemu mereka pasti saling meledek satu sama lain.


"Ren, capek deh motoran terus. Pantat gue panas."


"Panas? Ya udah sini abang tiup."


"Ren."


Rendy terkekeh, "Ya udah iya, Yayang. Kita mampir ke hotel dulu, eh maksudnya ke kafe terdekat."


"Kamu ngatain Farel mesum. Padahal kamu sendiri mesum." cibir Rachel.


"Loh aku kan terang-terangan godain kamu, kalau Farel tuh mesum nya terselip kayak ****** kekecilan suka nyelip di belahan pantat, hehe canda Rachel," Rendy langsung tertawa begitu melihat ke arah spion Rachel melotot ke arahnya.


Begitu melihat ada sebuah Cafe, Rendy membelokkan motor ke sana. Farel juga mengikutinya dan menghentikan mobil di parkiran mobil. Tak menunggu lama Farel langsung turun dari mobil. Menghampiri mereka dengan Langkah lebar.


Bug...


Farel memukul helm Rendy dengan agak keras, membuat si pemilik kepala agak kesakitan. Tapi karena puas membuat Farel emosi, Rendy justru tertawa. Karena selama lima tahun ini setiap Rendy menjahili Farel, Farel hanya merespon nya dengan datar.


"Nakal banget kamu," sementara untuk Rachel, Farel mengahadiahi cubitan di pipi.


"Aargg, Farel."


"Heh heh KDRT ini," Rendy terkekeh.


Sekarang Rendy senang, setelah kedatangan Rachel, Farel mulai menunjukkan banyak perubahan. Farel lebih banyak berbicara, dulu jangankan banyak berbicara, Farel mau berbicara sepatah dua patah kata saja sudah suatu keajaiban. Sekarang Farel lebih banyak menunjukkan ekspresi wajah selain wajah datar. Sekarang juga Farel mulai suka bercanda lagi.


Sedikit demi sedikit Farel mulai kembali seperti Farel yang dulu. Tapi sepertinya tidak bisa benar-benar konyol, aneh, slengean dan full jahil seperti masa remaja dulu. Bertambahnya umur akan menjadikan nya dewasa.


"Lo pergi aja sana. Sekarang giliran gue berduaan sama Rachel."

__ADS_1


"Hadeh giliran, emang Rachel apaan?." cibir Rendy.


"Ck, bukan begitu maksud gue. Maksudnya tuh."


"Farel, lepasin dulu tangan kamu dari pipiku." Rachel melotot karena sejak tadi farel terus mencubit pipinya. Rachel juga sudah berusaha mendorong tangan Farel, tapi itu hanya membuat cubitan di pipinya semakin kencang.


"Maaf," Farel tersenyum samar dan melepas cubitannya.


Setelah berdebat panjang lebar akhirnya Rendy memutuskan pergi saja. Dia juga ada pekerjaan lain. Padahal hari ini Rendy berencana ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Rachel.


Setidaknya sebelum Rachel menikah dengan Farel. Rendy ingin bermain sepuasnya dengan Rachel. Sekarang saja mereka belum menikah Farel sudah seprotektif itu, plagiat setelah resmi nanti. Jelas Farel tidak akan membiarkan Rachel berlama-lama dengan teman laki-laki nya.


"Ya udah deh gue cabut. Kapan-kapan kita jalan lagi."


Rachel mengangguk.


Setelah motor Rendy tak terlihat lagi, Farel mengajak Rachel masuk ke dalam kafe.


"Aku udah lapar." ucap Rachel.


"Emang Rendy nggak ngajak kamu makan?."


"Belum, dari pagi motoran terus. Baru juga mampir ke kafe ini mau makan, tapi dia udah pergi."


"Kasihan juga Rendy. Kayaknya dia juga laper, tapi malah kamu usir."


"Dia nggak laper, Rendy aja yang terlalu dramatis. Dia mau ketemu sama gebetannya."


"Gebetan?."


"Iya, istriku. Kayak kamu nggak tahu Rendy aja sih."


Tanpa bisa dia cegah, pipi Rachel merona saat Farel memanggilnya dengan panggilan istriku. Farel benar-benar melakukan apa yang dia katakan bahwa ucapan adalah doa. karena itu Farel selalu memanggil Rachel dengan istriku.


Rachel berdehem, "Iya juga yah. Aku juga inget Ariana, sahabatku yang ada di Rusia. Kita masih email-an sampai sekarang. Dia sering nanyain Rendy tau. Aku kasih aja emailnya, nomer ponsel, ig, dan sosial media Rendy lainnya. Ariana bilang dia sudah mengirim pesan, tapi Rendy cuek-cuek aja."


"Emang playboy cap kadal tuh anak!." Farel terkekeh. Rendy masih tahap mencari. Saking banyaknya perempuan yang di pacari, aku sampai nggak tahu tipe Rendy itu seperti apa. Rendy belum menemukan satu perempuan yang membuat nya benar-benar jatuh cinta. Beda denganku, aku sudah menemukan satu. Tidak perlu mencari lagi."


"Oh ya?."


"Siapa?."


"Kamu."


Rachel tersenyum, lalu perlahan senyum nya memudar. Teringat pertemuanya dengan Brandon tadi. Brandon masih mengira hubungan mereka belum berakhir. Rachel masih belum bebas. Bagaimana dia bisa menjalin hubungan, sedangkan hubungan di masa lalu belum berakhir. Setidaknya begitulah versi Brandon.

__ADS_1


"Farel."


"Hm,"


"Tadi aku..."


Kalimat Rachel sesaat saat makanan yang mereka pesan datang. Setelah makanan tertata dan pelayan pergi. Rachel kembali menatap Farel.


"Kamu mau ngomong apa tadi?." tanya Farel.


"Tadi aku ketemu dengan Brandon,"


Seketika wajah Farel berubah serius.


"Dimana?."


"Tadi waktu motor Rendy berhenti di lampu lalu lintas. Brandon mengenaliku."


Farel mengangguk-angguk, menyeruput ameracano untuk membasahi tenggorokan nya yang tiba-tiba kering.


"Terus?."


"Brandon bilang hubunganku dengannya belum berakhir. Brandon menganggap kami masih pacaran. Dia meminta kejelasan."


"Terus kamu bilang apa?."


Rachel menggigit bibir bawahnya, "Aku bilang aku butuh waktu."


Tidak di pungkiri Farel kecewa dengan jawaban Rachel. Seharusnya saat itu juga Rachel mengakhiri hubungannya bersama Brandon. Agar Brandon tidak terus berharap dan mengejar-ngejar Rachel. Namun Farel berusaha memahami posisi Rachel. Itu pertemuan pertama nya dengan Brandon, wajar Rachel masih bingung.


"Farel," panggil Rachel karena sejak tadi Farel hanya diam.


"Ga papa, jawaban kamu sudah benar. Kapan pertemuannya aku ikut."


Rachel tersenyum, "Nggak tahu mungkin besok, lusa atau kapan-kapan."


Farel meremas saku jaket nya yang terdapat kotak beludru. Rencananya nanti malam Farel ingin memberikan cincin ini pada Rachel, tapi melihat situasi yang masih rumit. Rasanya sekarang bukan waktu yang tepat meminta serius padanya. Farel khawatir Rachel jadi tertekan. Setelah Rachel mengakhiri hubungan nya dengan Brandon baru Farel akan menyatakan perasaan nya pada Rachel.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2