Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 103


__ADS_3

"Saya hanya ingin menjenguk Ayuma. Apa kurang jelas tujuan saya datang ke sini. Saya tidak ada niat menyakiti Ayuma. Tolong jaga sikap kamu Siwi."


Siwi baru saja ingin mendebat Dilara namun Adelia menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa biarkan dia masuk Bi Siwi. Tolong buatkan minuman untuk Dilara. Bi Siwi ingin protes tapi jika ini keinginan Ayuma mau tidak mau Bi Siwi harus nurut. Setelah melototkan mata pada Dilara Bi Siwi bergegas menuju ke dapur.


"Silakan duduk!." ucap Ayuma setelah Siwi tak terlihat lagi.


Dilara meletakkan keranjang buah di meja lalu duduk di sofa single dengan posisi menyerong mengarah pada Ayuma.


"Aku khawatir sekali dengan kondisi kamu Ayuma. Kemarin aku lihat Story mamanya Rendy, Dia sedang menjenguk kamu di rumah sakit itu pun aku lihatnya sekitar jam 11.00 malam. Terus pagi-pagi sekali tadi aku ke rumah sakit tapi ternyata kamu sudah pulang. Jadi aku datang ke sini."


"Tidak ada yang memberitahuku kamu tinggal di rumah ini aku hanya menebak dan ternyata tebakanku benar. Dulu saat kita masih bersahabat kamu pernah bilang jika kamu dan Mas Hendrawan bercerai kamu akan kembali ke rumah ini, rumah mendiang orang tua kamu."


Ayuma tidak menjawab hanya menatap lekat Dilara.


Kesalahan terbesar yang pernah Ayuma lakukan adalah terlalu mempercayai Dilara.


Selama mereka bersahabat Adelia menceritakan banyak hal karirnya, impiannya, tumbuh kembang Rachel bahkan saking percayanya setiap ada masalah dengan Hendrawan Ayuma bercerita pada Dilara dan meminta sarannya.


Namun saat itu semua saran Dilara selalu positif dan selalu manjur saat dia mempraktekkan pada Hendrawan. Ternyata bukan sarannya yang hebat tapi karena pada dasarnya Dilara lebih mengenal Hendrawan sehingga Dilara tahu apa saja yang disukai dan tidak disukai Hendrawan.


Jika mengingat itu rasanya Ayuma sangat marah, kenapa Dilara tidak jujur dan mengatakan sejak awal. Padahal Dilara dan Hendrawan sudah bertemu sejak Luna lulus SMP yang artinya sekitar 5 tahun yang lalu.


Tapi Ah sudahlah, semua sudah berlalu tidak ada gunanya juga Ayuma menyesali semuanya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? kamu baik-baik saja kan?."


"Hm, aku baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu. Aku senang kondisi kamu membaik. Kamu..."


"Langsung saja." ucap Ayuma memotong kalimat Dilara. "Langsung saja katakan apa tujuan kamu datang ke sini?. Aku yakin kamu datang ke sini bukan untuk menjengukku."


Dilara tersenyum, "Aku bertanya-tanya kenapa sikap Siwi bisa sekasar itu padaku ternyata memang benar kamu yang menyuruhnya. Sama seperti kamu, Siwi juga tidak percaya aku datang ke sini untuk menjenguk kamu dengan tulus."

__ADS_1


Dilara menghela nafas panjang.


"Dulu saat aku berpisah dengan Mas Hendrawan, aku membenci takdir. Kenapa takdir sekejam ini pada dua orang yang manusia yang saling mencintai. Kenapa harus dipisahkan dengan cara yang sangat menyakitkan. Saat aku sedang mengandung buah cinta kami."


"Tapi ternyata takdir punya cara sendiri untuk menguji kekuatan cinta kami, berpuluh-puluh tahun kami berpisah lalu dengan cara yang tak terduga takdir mempertemukan kami lagi."


"Kamu, kamu Ayuma adalah jembatan takdir untuk mempertemukanku dan Mas Hendrawan takdir yang menjadikan kamu sebagai sahabatku, sekaligus istri dari Mas Hendrawan. Kamu sangat berjasa besar dalam menyatukan cinta kami aku sangat berterima kasih. Berkat kamu aku bisa bersatu lagi dengan cinta sejatiku."


Dilara tersenyum sementara Ayuma hanya menatapnya datar.


"Aku yakin suatu hari nanti kamu juga bisa menemukan cinta sejati kamu, aku yakin kamu bisa menemukan laki-laki yang lebih baik daripada Mas Hendrawan. Jadi aku harap kamu bisa melupakan Mas Hendrawan. Move on Ayuma, Jika kamu terus-menerus muncul di depan Mas Hendrawan, Kapan kamu bisa melupakan Mas Hendrawan dan menemukan cinta sejati kamu."


Ayuma terkekeh, "Sekarang aku mengerti. Kenapa kamu datang ke sini, kamu takut kan takut suami kamu yang kamu bilang sangat-sangat mencintai kamu itu tiba-tiba datang mencariku? Kemarin Samuel bilang saat aku pingsan tiba-tiba Hendrawan menggendongku."


"Aku terkejut tapi juga tidak benar-benar terkejut. Kami sudah menikah kurang lebih 20 tahun kamu tinggal serumah kami juga sering mengobrol bahkan kami juga berhubungan intim. Meskipun momen kami tak sebanyak pasangan suami istri di luar sana, tapi kami tetap pernah menghabiskan waktu berdua. Mungkin ada beberapa momen yang membekas di hati dan pikiran Hendrawan."


"Dilara kamu tahu tidak ada yang benar-benar tahu isi hati seseorang kecuali dirinya sendiri. Hendrawan boleh mengatakan dia mencintai kamu, tapi siapa tahu di dalam hatinya dia mencintaiku."


"TIDAK MUNGKIN!."


Dilara mengepalkan tangan kuat sembari menajamkan mata pada Ayuma.


"Tidak menutup kemungkinan juga Mas Hendrawan kembali kepadaku. Dia akan datang padaku dan mengemis-ngemis cintaku."


Ayuma tersenyum lebar, senang dan menyenangkan melihat wajah Dilara memerah padam menahan marah seperti sekarang.


"Tidak mungkin ! Jangan mimpi kamu Ayuma. Aku dan Hendrawan akan menikah Siri."


"Ya sudah nikah, nikah aja. Aku ucapkan selamat akhirnya kamu bisa bersatu dengan cinta sejati kamu. Tapi Dilara seandainya Mas Hendrawan sangat setia kepada kamu dan tidak akan tergoda kepada perempuan lain atau kembali lagi padaku. Ingat apa yang kita tabur itu yang kita tuai. Jika sekarang kamu berbahagia dan dengan Mas Hendrawan jangan lupa kamu masih punya anak perempuan."


"Jangan menangis jika suatu hari nanti Luna mengalami apa yang aku alami atau bahkan lebih parah. Katakan pada Luna untuk bersiap-siap menghadapi masa depan yang sama sepertiku. Di sia-siakan suami, diselingkuhin, anaknya tidak diharapkan, dituduh selingkuh, bahkan di detik-detik kepergiannya barang-barang yang sangat berharga nya dibakar tepat di depan matanya."


"JAGA BICARA KAMU AYUMA!, Luna tidak akan pernah mengalami itu. Luna akan menikah dengan laki-laki yang mencintainya. Dia akan hidup bahagia bersama suami dan anaknya. Aku, aku yang akan menjamin kebahagiaan Luna. Omongan kamu itu tidak akan pernah terjadi. Oh bisa jadi omongan kamu itu kembali pada Rachel. Rachel yang akan menderita lebih parah daripada kamu."


Ayuma tetap tenang dan tersenyum.

__ADS_1


'Sialan kamu.'


Dilara yang sudah terlanjur emosi tidak bisa meneruskan obrolan mereka lagi. Daripada dia mengamuk dan menjambak Ayuma, Dilara memilih pergi.


Rachel yang baru turun dari tangga melototkan mata begitu menangkap sosok yang cukup dia kenal pergi meninggalkan ruang tengah. Bi Siwi yang bersembunyi di balik pilar mendekat pada Ayuma. Bi Siwi sengaja menunggu obrolan mereka selesai.


"Itu Tante Dilara bukan mah?."


"Ya itu Dilara."


"Mau apa dia ke sini?." Rachel duduk di tepi sofa tepat di samping Ayuma. "Mama gak papa kan?."


"Nggak apa-apa, tadi cuma ngobrol doang nggak penting juga."


"Harusnya tadi Mama bilang sama aku, biar aku yang ngomong sama Tante pelakor itu."


Ayuma tersenyum,


"Non Rachel, Bibi dengar semua. Uh si pelakor itu mati kutu sama Nyonya Ayuma."


"Oh ya gimana Bi? ceritain dong!."


Setelah mendapat izin dari Ayuma dengan semangat Bi Siwi menceritakan semua yang dia dengar pada Rachel.


Ayuma hanya tersenyum mendengar cerita mereka. Lalu pandangannya tertuju pada arah pintu tempat Dilara pergi tadi.


Ayuma bertanya-tanya apa Dilara merasa senang setelah sekian lama akhirnya bisa mewujudkan impiannya menikah dengan Mas Hendrawan ? Apa tidak ada rasa bersalah sedikitpun di hatinya padahal mereka sudah berteman lama?.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2