
Rachel tak kuasa menahan haru, sampai matanya berkaca-kaca, rasanya masih tidak menyangka dia begitu diterima di keluarga Farel. Rachel bisa merasakan kehangatan keluarga ini, pasti sangat menyenangkan menjadi anggota keluarga mereka.
"Ya ampun, maaf Tante jadi banyak bicara."
"Tidak apa-apa Tante. Aku senang mendengar itu. Terima kasih Tante sekeluarga sangat baik dan peduli padaku. aku nggak tahu kebaikan apa yang pernah aku lakukan di masa lalu, sampai aku bertemu dengan keluarga sebaik dan sehangat kalian."
"Karena kamu juga baik. Kamu tulus dan sangat peduli pada orang lain. Kamu pantas mendapatkan apa yang kamu dapatkan sekarang."
Rachel menganguk, Sarah mengusap rambut Rachel sebentar lalu meninggalkan kamar. Racgel menyeret koper masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi kasur.
Sebenarnya Bastian juga mengajaknya pulang ke rumah untuk bertemu Kakek Wisnu, Om Sebastian dan Tante Anggun. Dibandingkan keluarga Farel dilihat dari garis keturunan keluarga Tanoepramudya lebih dekat dengan Rachel. Tapi Rachel merasa lebih nyaman di sini, nanti malam atau besok pagi Rachel akan ke sana sekaligus memberikan surprise untuk mereka.
Rachel penasaran apakah sambutan mereka sebaik dan sehangat sambutan keluarga Gammaland. Bastian bilang mereka sangat menyayanginya, Rachel yakin mereka juga sangat baik, ah dia jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengan Kakek Wisnu dan yang lainnya.
***
Setelah mandi, Rachel berniat rebahan sebentar, tapi mungkin karena lelah atau bagaimana, Rachel ketiduran. Begitu membuka mata, Rachel tersentak melihat Farel duduk di sampingnya dan menatap lekat padanya.
"Astaga," Rachel memekik pelan sampai menekan dadanya saking terkejutnya melihat Farel. "Farel se-sejak kapan kamu ada di sini?."
"Dari tadi."
"Dari tadi kapan?. Jangan bilang kamu udah ada di sini sejak aku baru tidur?." Rachel memposisikan diri duduk dab melotot pada Farel.
Farel tidak menyangkal dan menganguk. Rachel mau marah tapi melihat wajah Farel yang melas tapi kok nggak tega. Rachel cuma diam dan menatap balik Farel.
"Aku nggak mau jauh-jauh. Aku nggak mau kamu pergi lagi."
"Astaga, Farel. Aku mau pergi kemana coba. Aku sudah memutuskan kembali ke sini nggak mungkin aku pergi lagi kecuali ada yang menculikku." Rachel tertawa.
"Kalau ada yang menculik kamu, aku akan membunuh orang itu dengan tanganku sendiri."
Seketika Rachel berhenti tertawa apalagi mendengar nada serius dari ucapan Farel.
"Bercanda, Farel. Ya ampun siapa juga yang mau menculikku."
Rachel menyingkap selimut dan menurunkan kaki. Seketika matanya membulat menyadari posisi duduknya terlalu dekat dengan Farel.
Ini agak awkward, Rachel ingin menaikkan kaki ke atas kasur. Tapi situasi akan lebih awkward lagi. Rachel pun memilih diam dan merapatkan kakinya yang ada di tengah-tengah kaki Farel yang terbuka. Sekarang Farel duduk di kursi samping ranjang yang tinggi nya sejajar dengan kasur.
__ADS_1
"Tian bilang dia menungguku dan mengajakku pulang ke rumahnya untuk bertemu Om Sebastian, Tante Anggun dan Kakek Wisnu."
Rachel mencoba memecah keheningan dengan membuka obrolan. Tapi Farel tetap diam.
"Farel katakan sesuatu. Kenapa kamu dari tadi diam saja. Apa yang kamu pikirkan?."
"Kamu akan marah jika tahu apa yang aku pikirkan sekarang," ucap Farel membuat Rachel mengerutkan alis penasaran.
"Emangnya kamu memikirkan apa?."
"Membaringkan tubuh kamu di kasur dan mencium kamu sampai kamu kehabisan nafas."
Seketika Rachel ternganga benar-benar terkejut dengan ucapan Farel dan sialnya pipinya justru merona padahal ucapan Farel cukup kurang ajar.
Rachel berdehem, "Kamu kurang ajar."
Farel tersenyum samar.
"Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan."
Rachel semakin kikuk dan mengusap belakang lehernya untuk menyalurkan rasa gugup sekarang.
"Kita ciuman setiap hari."
"Bohong mana ada ciuman setiap hari," Rachel protes. "Kamu bilang hubungan kita cuma sahabat doang mana ada sahabat ciuman setiap hari."
"Aku bilang kita sahabat spesial kita berbeda dari sahabat-sahabat pada umumnya." Farel mencodongkan tubuh membuat Rachel refleks mencengkram pinggiran tempat tidur.
"Mau coba ciuman? Mungkin setelah kita ciuman ingatan kamu akan kembali lagi." Farel menyeringai, sontak langsung mendapat dorongan Rachel di dadanya.
"Apaan sih nggak usah modus deh. Aku cuma mau ciuman sama suamiku."
"Aku suamimu. Dulu sebelum kamu hilang ingatan aku suami dan kita sudah menikah."
"Bohong ih! kamu mah bohong mulu."
Farel tertawa, "Soal kita ciuman setiap hari Aku cuman bercanda, tapi soal kita pernah ciuman aku tidak bohong. Aku first kiss kamu dan kamu first kiss aku. Bahkan saat usia kita usia 7 tahun kita pernah ciuman."
"Tujuh tahun?." mata Rachel membulat saking tak percaya.
__ADS_1
"Aku serius, di drama sekolah aku jadi pangeran kamu jadi Snow White, saat detik-detik pangeran mencium Snow White, aku terpeleset dan tak sengaja mencium di ..."
"Bibir?." Rachel langsung menutup bibirnya, mata nya semakin membulat terkejut.
Farel tersenyum, "Hampir, dikit lagi aku hampir mencium bibir kamu, tapi saat itu aku mencium hidung kamu. Setelah hari itu lah aku denger di sekolah nggak pernah ada lagi drama Snow White untuk anak SD, terlalu riskan."
"Astaga mendengar cerita kamu aja aku deg-degan apalagi waktu aku masih kecil. Reaksi ku waktu itu gimana?."
"Kamu suka bilang harusnya kamu cium bibir aku, Farel."
"Bohong, aku ngga bilang begitu. Pasti kamu gitu, pasti kamu waktu kecil udah bucin sama aku."
Farel tertawa, "Hm, dari kecil sampai sekarang kamu selalu menjadi semestaku. Dulu waktu kecil aku mengatakan aku mencintai Luna, tapi kamu adalah orang yang pertama aku cari, entah dalam keadaan suka, duka, senang, canda dan tawa. Aku sudah menyukai mu sejak dulu tapi aku belum menyadari perasaanku."
Rumit itulah yang Rachel rasakan saat mendengar cerita Farel. Rachel ingin mendengar lebih banyak tentang cerita mereka, tapi untuk sekarang dia harus menahan dulu.
"Oke, nanti kita cerita lagi. Sekarang kamu keluar dulu, aku mau siap-siap dulu. Aku mau ikut Tian ketemu keluarga besar Tanoepramudya."
"Serius aku keluar sekarang? kamu nggak kangen sama aku?."
"Nggak, mana ada. kamu yang kangen aku. Udah sana."
"Itu bener. Aku masih merindukan kamu."
"Nanti juga ketemu lagi. Aku mau siap-siap nanti ke rumah Tian."
Rachel mendorong Farel keluar dari kamarnya.
***
"Kamu udah cocok banget jadi istri. Semua masakan kamu pasti enak. Dari menu paling gampang, kayak mie instan dan cemilan sampai menu-menu yang susah misal rendang dan opor. Nggak salah aku melihat kamu jadi calon istri."
Rani yang sedang menggoreng pisang tersenyum, "Aku masih 17 tahun, Bang Tian. Harus nunggu aku lulus kuliah dulu, seperti yang Ayah bilang. Jadi kira-kira 5 tahun lagi, saat usiaku udah 22 tahun."
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....