
Dilara meradang mendengar sindiran-sindiran yang di lontarkan pembantu di depannya ini. Oh bukan lagi sindiran tapi sudah merujuk pada penghinaan kepada dirinya.
"Anda jangan asal bicara kalau tidak tahu apa-apa yah, Saya bukan pelakor. Saya yang lebih dulu mengenal Mas Hendrawan daripada Ayuma. Seharusnya kamu mengatakan kata pelakor itu kepada Ayuma karena dia adalah orang ketiga antara saya dan Mas Hendrawan."
"Eleh-eleh pelakor jaman sekarang mukanya tebal ya. Nggak mau ngaku pelakor eh malah nusuh istri sah pelakor."
Dilara tak tahan lagi, dengan geram mencengkram lengan Bi Siwi.
"Aarg." Bi Siwi memekik pelan.
"Saya bukan orang kasar, tapi jika ada orang yang melampaui batas kesabaran saya, saya bisa menjadi orang yang paling kasar di didunia ini. Jika kamu masih ingin bekerja di rumah ini, tutup mulut mu! dan jangan berani menatap saya dengan tatapan seperti itu."
Dilara memperkuat cengkraman tangannya lalu mendorong perempuan berusia 40 tahun sampai terhuyung-huyung ke belakang.
"Ternyata hati dan sikap si pelakor sama busuknya." sinis Bi Siwi.
"Dengar, kamu cuman pembantu di sini. Jaga sikap kamu kalau masih ingin bekerja di rumah ini. Seperti yang kamu katakan tadi, sebentar lagi aku akan tinggal di rumah ini dan menjadi Nyonya Muda Tanoepramudya. Kalau sikap kamu masih kurang ajar seperti ini, aku akan memecatmu. Bukan hanya memecat, tapi aku juga akan menghancurkan kamu beserta keluarga mu. Jangan anggap remeh ucapanku."
Dilara mendekat lalu membenarkan baju Bi Siwi yang agak berantakan.
"Jadi aku harap kamu tidak melewati batas kamu lagu. Tetap nurut dan berlaku baik seperti anjing yang patuh pada Tuannya."
Dilara menyeringqi lalu melengos dan masuk ke dalam rumah menuju ke kamar Hendrawan.
Bi Siwi mengepalkan tangan sembari menatap Dilara yang kini sudah menaiki tangga. Seumur hidup pertama kali nya Bi Siwi di rendahnya seperti ini. Daripada memiliki majikan seperti Dilara dan Hendrawan lebih baik dia resign saja dari rumah ini. Dia bisa mencari pekerjaan yang lebih bisa menghargainya.
Tapi Bi Siwi masih menunggu kepulangan Ayuma dan Rachel setidaknya ingin berpamitan pada mereka.
"Mas Hendrawan." Ucap Dilara begitu membuka pintu kamar utama yang menjadi kamar Hendrawan dan Ayuma. "Ya ampun Mas."
Dengan panik dan khawatir Dilara mendekat, duduk di tepi kasur tepat di samping Hendrawan yang terbaring lemah di atas kasur.
"Dilara," perlahan Hendrawan membuka mata, begitu melihat kekasih hatinya datang senyumnya mengembang.
"Kamu bilang luka kamu ngga parah. Tapi lihat wajah kamu, Mas. Wajah kamu babak belur. Ini sudah keterlaluan, Samuel harus mempertanggungjawabkan perbuatan nya. Sekarang dimana dia? oh apa dia pergi bersama Ayuma. Astaga kamu sedang menderita di sini tapi Samuel malah enak-enakan sama Ayuma. Ayuma juga keterlaluan sekali meninggalkan suaminya dalam keadaan seperti ini."
Hendrawan senang mendengar perhatian Dilara.
"Aku tidak membutuhkan Ayuma selama ada kamu di sisi ku. Cukup kamu yang di sisiku. aku pasti cepat sembuh."
__ADS_1
Dilara tersenyum, "Kamu ini ya, Mas. Dalam keadaan seperti ini masih aja bisa gombal. Oh yah, kamu sudah memanggil dokter?."
"Semalam aku sudah menelpon dokter, dan dokter juga sudah memeriksaku."
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang kamu harus banyak istirahat biar cepat sembuh. Oh yah kamu belum sarapan kan? aku biatkan sarapan dulu. Bubur Ayam?."
Hendrawan menganguk, "Apa saja yang kamu masak aku pasti menyukainya dan memakannya sampai habis."
"Bucin banget sih, calon suamiku. Eh." Dilara langsung menutup mulut, "Eh eng-enggak Mas aku tidak bermaksud ngomong gitu. Aku keceplosan tadi. Aku nggak bermaksud memanggil kamu calon suamiku aku hanya..."
"Sstt," Hendrawan meletakkan jari telunjuk di bibir Dilara.
"Gapapa, kenyataannya memang begitu. Aku akan menjadi suami kamu dan kamu akan menjadi istriku. Setelah proses perceraianku dan Ayuma selesai, kita akan menikah. Aku harap kamu tidak berubah pikiran dan kabur seperti dulu."
Dilara menggeelng, "Aku tidak akan kabur kemana-mana, Mas. Aku tidak akan melarikan diri lagi. Jika Om Wisnu mengancam dan menyuruhku pergi lagi aku tidak akan pergi. apapun yang terjadi aku akan selalu di sisi kamu. Cukup sekali aku kehilangan kamu dan aku tidak ingin kehilangan kamu lagi, Mas Hendrawan."
"Terima kasih. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Mas Hendrawan."
"Cium aku," Hendrawan mengulurkan tangan kebelakang leher Dilara lalu menarik nya mendekat dan menyatukan bibir mereka.
"Udah ah, ciuman terus kapan aku masaknya. Aku ke dapur dulu, nggak akan lama kok."
Hendrawan menganguk dan Dilara pun bergegas ke dapur. Begitu sampai di dapur, ponselnya berdering.
Nama kontak Putriku Tersanyang muncul di layar ponsel begitu Dilara merogoh ponsel di dalam tas. Tanpa menunggu lama Dilara langsung mengangkat panggilan.
"Halo Sayang, ada a-."
"Hiks, Mama."
Hati Dilara mencelos mendengar tangisan putrinya.
"Ada apa Nak? kenapa menangis?."
"Rachel, Ma. Hikkss."
"Rachel kenapa? terjadi sesuatu pada Rachel?."
__ADS_1
"Nggak Ma. Rachel jahat sama aku. Rachel nampak aku di depan semua orang. Aku malu, Ma. Hikks."
Seketika mata Dilara melotot lebar.
"Kok bisa? Mama ingat. Kamu pamit buat ke rumah Farel mau jenguk Farel yang lagi sakit sama temen-temen kamu kan? Rachel menampar kamu di depan mereka semua?"
"Iyah Mah, bukan cuman mereka tapi juga Tante Sarah dan Om Anthony. Terus parahnya ngga ada satu pun orang yang belain aku, Ma. Justru mereka malah marahin aku, padahal aku hanya nyampein kebenaran. Sakit sekali Ma, pipi aku sakit hikks."
"Ya ampun Sayang, kasian sekali anak Mama. Ya udah sekarang kamu ada dimana? mama jemput yah?."
"Nggak usah Ma. Aku sedang dalam perjalanan pulang."
"Mama, ngga ada di rumah Sayang."
"Terus Mama di mana? aku mau ketemu Mama."
"Mama ada di rumah Papa kamu. Papa kamu lagi sakit gara-gara di pukulan Samuel selingkuhannya Ayuma gara-gara Papa memergoki Ayuma dan Samuel selingkuh."
"Hah? serius Ma?."
"Iya, Sayang. Kamu ke sini aja. Papa pasti senang melihat kamu."
"Ya udah aku minta supir putar balik. Aku nggak nyangka ternyata Tante Ayuma sejahat itu sampai menyuruh Om Samuel memukuli Papa padahal status Papa kan masih jadi suami nya Tante Ayuma."
"Iya, Mama juga nggak nyangka kenapa Ayuma melakukan itu. Ya udah Mama tutup dulu yah telepon nya, Mama mai masak bubur buat Papa kamu. Hati-hati di jalan yah."
"Iya Ma."
Dilara baru saja mengakhiri panggilan, tapi tiba-tiba Hendrawan datang.
"Loh Mas. Kok malah ke sini. Kan aku tadi minta Mas untuk istirahat aja di kamar."
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1