
"Iya, Sayang. kakek kamu juga mengetahui kehamilan Mama. Namun bukannya melindungi Mama, beliau justru menyuruh Mama pergi. Jika Mama menolak, Kakek Wisnu akan membunuh Mama dan membunuh kamu yang saat itu masih ada di dalam kandungan Mama. Mama tidak punya pilihan lain dan akhirnya meninggalkan Hendrawan."
Luna tidak menyangka ternyata di balik senyuman Mama nya, ada luka masa lalu yang begitu menyakitkan.
"Sayang, mari kita saling menguatkan. Mam harap kamu jangan membenci Mama. Mama sudah banyak menderita. Sejak dulu kira selalu bersama dan melewati apapun bersama. Jangan tinggalkan Mama ya."
Luna tak kuasa menahan tangis dan mengeratkan pelukan pada Mama nya.
"Maafin, aku Ma. Aku asal menyimpulkan begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan Mama. Ternyata selama ini hidup Mama sangat menderita. Mama benar-benar kuat."
"Terima kasih banyak Mama sudah bertahan sampai titik ini. Terima kasih tidak menggugurkan ku dan membesarkan meskipun keadaan Mama sangat sulit. Kemarin aku menyesal karena aku di lahirkan dari rahim pelakor. Tapi sekarang aku bersyukur karena aku di lahirkan dari rahim perempuan hebat seperti Mama."
"Iya, Sayang. Mama juga beruntung memiliki putri hebat seperti kamu. Mama menyanyangi mu." Dilara mencium kening putrinya.
"Aku juga menyanyangi Mama. Aku ngga sabar mau memberitahu kabar bahagia ini. Aku seneng banget saudaraan sama Rachel."
***
"Akhirnya sampai rumah juga." ucap Farel begitu mobil sampai di halaman rumah.
Dokter menyuruh Farel rawat inap semalam tapi karena Farel benci Rumah sakit Farel meminta pulang. Dulu waktu kecil Farel sering masuk keluar rumah sakit, entah Mama Ziya yang sakit, Mama Sarah yang luka atau Ayah yang drop. Farel sampai benci aroma rumah sakit.
"ABANG."
Begitu turun dari mobil, ketiga adik kecilnya menyambut riang sambil melambaikan tangan dari teras rumah. Lalu kompak lari mendekat dan sama-sama berhenti di depan Farel. Namun begitu Reza melihat Rachel turun dari mobil. Reza langsung menghampiri Rachel.
"Rachel, udah lama nggak kesini."
"Oh ya sudah lama ya? Perasaan baru beberapa hari yang lalu Rachel ketemu Reza," Rachel tersenyum dan mengacak lembut rambut langit.
"Udah lama, Rachel. Reza kangen Rachel. Rachel kangen nggak sama Reza."
Rachel tak kuasa menahan tawa, sementara Anthony dan Sarah menggeleng-gelengkan kepala melihat putranya yang suka sekali menggoda Rachel.
"Heh, bocah. Abang kamu yang luka, harusnya kamu nyapa Abang dulu," protes Farel.
Reza menoleh, "Halo, Bang." hanya menoleh sekilas pada Farel lalu menatap Rachel lagi, seolah Reza tidak ingin melewatkan sedetik pun memandangi Rachel.
"Gitu doang?."
Reza menoleh pada Farel lagi dengan wajah kesal, "Iya."
__ADS_1
Rana dan Rani terkekeh melihat tingkah jail Reza dan wajah kesal Farel.
"Udah, udah malah debat di sini. Ayo masuk." Ajak Sarah.
"AYOOO," Seru Rana, Rani dan Reza bersamaan.
"Ayo Rachel." Reza menggenggam tangan Rachel dan menariknya masuk ke dalam rumah tapi Racgek menahan kaki nya.
"Kenapa?." tanya Reza mewakili yang lain.
"Rachel sampai di sini saja yah, Rachel harus pulang. Mama Rachel sudah menunggu di rumah, "Rachel agak menunduk dan mencubit pipi Reza. Reza mencebikkan bibir kecewa.
"Sekarang banget pulang nya? Ini baru jam tujuh. Kamu nggak mau makan bersama kita duku?." tanya Sarah dan Anthony juga tampak berharap Rachel ikut makan malam bersama mereka.
"Iya, Kak Rachel, ayo makan sama kita." Ajak Rana dibalas anggukan Rani.
Farel diam saja, namun dari sorot mata nya terlihat jelas Farel juga berharap Rachel jangan pulang dulu. Farel masih ingin berlama-lama dengan sahabat nya ini.
Rachel tak tega menolak permintaan mereka tapi mau bagaimana lagi Mama nya pasti sudah menunggu di rumah. Rachel ingin makan malam bersama Mama nya. Kalau bukan dia siapa lagi yang menemani Mama, papa nya juga pasti tidak pulang seperti biasanya.
Rachel tidak ingin Mama nya merasa sendiri.
"Maaf Tante, maaf semuanya, tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa. Sepertinya Papa lembur dan Mama di rumah sendiri. Aku ngga tega membiarkan Mama makan malam sendiri."
"Kamu perhatian sekali," Sarah mendekat dan mengusap pipi Rachel, "Ayuma sangat beruntung memiliki putri sebaik dan sehebat kamu, Nak."
Rachel bingung harus menjawab apa, hanya menganguk dan tersenyum.
"Mau Om antar pulang?." tanya Anthony.
"Ngga usah, Om. Aku sudah pesan Gocar. Sebentar lagi sampai kok."
Farel mendekat dan berdiri di depan Rachel, "Kalau ada apa-apa nanti, langsung hubungi gue."
Rachel tertawa, "Nggak bakal terjadi apa-apa lah. Orang gue mau pulang ke rumah, bukan pulang pada Tuhan kan, hahaha."
"Rachel ngga boleh ngomong begitu," Reza protes marah, "Meskipun itu bercanda, tapi ngga baik."
Rachel tersenyum, "Iya Reza. Lucu banget sih."
Rachel mencapit pipi Reza dengan gemas.
__ADS_1
Di tengah pembicaraan mereka, go-car pesanan Rachel sudah tiba dan berhenti di depan gerbang rumah.
"Rachel, hati-hati." ucap Reza.
Rachel tersenyum dan menganguk. Melambaikan tangan pada Rachel dan yang lainnya lalu bergegas masuk ke dalam go-car yang sudah menunggu. Mobil pun melaju.
Rachel merogoh ponsel di dalam ransel, ingin mengirim pesan kepada Mama nya dia sedang otw pulang, tapi ternyata sudah ada pesan mama nya sekitar 10 menit yang lalu.
***Mama : Sayang, kamu bilang kamu mau mengantar Farel pulang ke rumah dulu kan? sekarang kamu masih di rumah Farel?.
Rachel : Iya, Ma. Ini lagi otw pulang. Mama udah nungguin aku? Udah nggak sabar ya ketemu putri kesanyangan Mama ini***.
Rachel tersenyum sembari mengetik pesan.
***Mama : Tau aja, mama udah kangen banget sama kamu. Tapi maaf ya tiba-tiba mama ada acara penting di luar Di rumah nggak ada orang. Malam ini kamu menginap di rumah Farel dulu. Besok pagi mama jemput.
Rachel : Beneran, Ma."
Mama : Iya, Sayang. Mama sudah mengirim pesan ke Sarah tapi belum Sarah baca pesan mama. Sekarang kamu putar balik lagi. Jangan pulang ke rumah. Tetap di rumah Farel.
Rachel : Oke, Ma. Tapi Mama baik-baik aja kan? Mama udah makan belum?.
Mama : Mama baik-baik saja. Mama juga sudah makan. Mama makan banyak bersama teman-teman mama tadi. Mama sampai kekenyangan dan malas lanjut meeting lagi***.
Rachel tersenyum.
***Rachel : Ya udah kalau gitu aku nginep di rumah Farel, Ma.
Mama : Iya, Sayang. Mama off dulu ya. Love you.
Rachel : Love you too***.
Rachel memasukkan ponsel ke dalam tas lagi dan meminta sopir untuk balik lagi ke rumah Farel. Tak lupa Rachel meminta maaf kepada sopir go-car karena tiba-tiba membatalkan pesanan. Untuk pembayaran Rachel sudah membayar di awal dan Pak Sopir tidak perlu mengembalikan juga.
Begitu sampai di rumah Farel, Sarah langsung turun dari mobil.
"Nah itu dia," Sambut Sarah dengan senyum manis begitu melihat Rachel mendekat.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....