
"Ihh," Rachel tertawa. "Aku nggak pemalas. Cuma kapan-kapan aja kita olahraga nya. Untuk besok kita jalan-jalan ke tempat lain mau ya Farel ?" Rachel mengerjabkan mata beberapa kali. Benar-benar lucu sampai membuat Farel menggigit bibir bawahnya. Jika Rachel sudah menunjukkan ekspresi seperti ini, Farel mana mungkin bisa menolak.
"Iyaa, sebahagia dan sesuka kamu aja. Aku ikut. Tapi minggu depan, jadwal olahraga."
"Aku nggak mau. Aku mau kabur aja."
"Aku kejar sampai ke lubang semut."
Rachel tertawa.
***
Sesampainya di rumah Brandon langsung turun dari mobil sebenarnya yang menelpon tadi bukan sekretarisnya tapi Luna yang menelpon.
Luna mengabarkan Kevin demam tinggi. Brandon sudah tidak memperdulikan apa-apa selain... Bagaimana caranya agar bisa secepat mungkin sampai di rumah dan melihat kondisi putranya. Urusan meeting dengan sekretarisnha, Brandon tidak peduli lagi dan langsung me-reschedule.
Begitu juga dengan kabar Rachel. Brandon masih ingin berbicara dengan Farel, mungkin Farel sudah mendapat informasi lebih lanjut tentang Rachel. Tapi Kevin tetap menjadi prioritasnya Brandon.
"Luna," panggil Brandon sambil berlari masuk ke dalam rumah.
"Aku di sini."
Brandon sampai di ruang tengah. Sesaat Brandon berhenti dan memperhatikan Luna yang sedang menggendong Kevin. Kevin sesegukan, perasaan meradang semakin tak karuan melihat Putra kecilnya tampak pucat.
"Papa... Mau gendong Papa, suruh Papa pulang Mama, Kevin mau papa."
Brandon segera menghampiri mereka.
"Papa di sini sayang."
Kevin mendongak dan tangisnya semakin kencang begitu melihat Papanya mendekat saking kencangnya sampai terbatuk-batuk.
"Papa." Kevin terisak-isak sambil menggulurkan kedua tangannya minta digendong.
Dengan hati-hati dan penuh kelembutan Brandon mengambil alih Kevin dalam gendongan Luna.
"Kevin gak mau jauh dari Papa," Kevin melingkarkan kedua tangan kecilnya di leher Brandon pelukannya mengerat seiring dengan tangisannya yang semakin kencang.
Luna tak tega melihat putranya menangis seperti ini.
Tumben sejak pagi tadi Kevin rewel sekali dan minta bertemu Papanya, tak ingin mengganggu Luna berusaha menenangkan Kevin dengan caranya sendiri.
__ADS_1
Biasanya saat Luna mengajak Kevin bermain, Kevin lupa keinginannya bertemu Brandon tapi Kevin justru menangis kencang. Sempat tidur siang juga tapi setelah bangun tiba-tiba suhu badannya juga tinggi.
"Maaf aku mengganggu kamu, Kevin terus meminta kamu pulang." ucap Luna merasa tak enak.
"Kamu ngomong apa sih, aku nggak pernah merasa terganggu. Jika itu berurusan dengan Kevin kamu bisa menghubungiku kapanpun saja. Ya sudah sekarang kita bawa sini ke rumah sakit badannya panas sekali."
"Iya."
Luna mengikuti Brandon keluar rumah.
"Jangan pergi lagi Papa, Kevin mau sama papa," Kevin merengek dan mendusel-duselkan wajahnya di leher Papa nya enggan melepas pergi.
"Nggak, Sayang. Papa nggak pergi. Kita ke rumah sakit."
"Siapa yang sakit Papa?."
Brandon tersenyum samar dan mencium pipi putranya. "Kevin yang sakit."
"Kevin gak sakit, Kevin cuma mau di gendong papa."
"Iya, nih udah di gendong papa. Tapi sekarang ke rumah sakit yah, Badan Kevin panas harus di periksa dokter."
"Nggak mau, nanti Kevin di suntik."
Kevin diam dan menyandarkan pipinya di bahu Papanyan "Tapi sama papa."
"Iya sama papa,"
Brandon mengusap rambut putranya sambil menatapnya. Luna lega meskipun Brandon tidak peduli padanya, Brandon tetap berusaha menjadi ayah yang baik untuk Kevin.
Karena Kevin tidak mau lepas Brandon pun menyuruh sopir untuk mengantar mereka ke rumah sakit, sekarang Brandon dan Luna di duduk di bangku belakang.
Brandon menggendong Kevin dengan posisi duduk miring, pipinya menempel di dada Brandon sementara kedua kakinya berada di pangkuan Luna. Tak hentinya Luna mengusap kaki putranya yang juga terasa panas. Brandon juga tidak berhenti mengusap rambut Kevin dan sesekali mencium pipi atau dahi.
"Papa."
"Iya Sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit dan Kevin akan di periksa dokter. Kevin pasti akan segera sembuh."
"Papa terus temenin Kevin nya, jangan pernah tinggalin Kevin ya, Kevin nggak mau jauh-jauh dari papa," gumam Kevin dengan mata terpejam sambil mencengkram kemeja Brandon.
"Iya, papa akan selalu menemani Kevin. Papa nggak akan jauh-jauh dari Kevin."
__ADS_1
"Kevin sayang papa."
"Papa juga sayang Kevin."
Brandon mendaratkan satu kecupan lagi di dahi putranya. Setiap gerakan Brandon yang menenangkan Kevin dengan mengusap rambut, mencium pipi dan mengucapkan kata-kata penenang, membuat hati Luna terenyuh. Brandon benar-benar berusaha menjadi sosok yang baik untuk Kevin.
Kevin jelas tidak bisa jauh dari Brandon. Dan ini membuat Luna semakin khawatir. Seandainya nanti dia dan Brandon berpisah, bagaimana dengan Kevin.
Jika di suruh memilih, mungkin Kevin akan memilih Luna. Tapi jauh di dalam hati, Kevin juga ingin bersama papa nya. Dan seandainya Luna membiarkan Kevin bersama Brandon, lalu bagaimana dengan dirinya sendiri. Luna benar-benar tidak sanggup sendiri tanpa Kevin.
***
Sesampainya di rumah sakit, Brandon langsung berlari menuju ke lobi rumah sakit. Luna mengikuti Brandon dari belakang. Namun tiba-tiba langkah Luna terhenti begitu menyadari Luna lupa membawa masker wajah.
"Aku balik ke mobil sebentar."
Brandon tidak bertanya lebih lanjut dan terus berlari. Sementara Luna juga bergegas menuju ke basement pasrkiran sambil menunduk.
Luna takut ada yang mengenali wajahnya. Selama 5 tahun ini jika tidak lupa Luna selalu memakai masker kemanapun dia pergi tidak ingin keberadaannya diekspos atau diketahui orang lain. Luna takut muncul di berita lalu orang-orang akan mencari tahu tentang kehidupannya. Jangan sampai orang-orang tahu dia sudah menikah dengan Brandon dan memiliki anak.
Ucapan Agnes yang waktu itu muncul lagi dalam kepala Luna. Luna takut jika masa lalunya menghambat karir Brandon di dunia bisnis apalagi sampai membuat perusahaan Brandon bangkrut karena image buruk Luna di masa lalu.
Bruk...
Namun karena terburu-buru tanpa sengaja Luna menabrak seseorang.
"Maaf saya tidak senga- Om Hendrawan?." Kata maaf Luna terhenti saat menyadari seseorang yang dia tabrak adalah Hendrawan.
Hendrawan hampir saja terjengkang ke belakang tapi untung saja ada Johny yang menahan tubuhnya. Sontak saja Hendrawan meradang menatap orang yang menabraknya. Apalagi setelah tahu orang itu Luna, semakin besar amarah Hendrawan.
"Kamu Luna kan? Setelah bertahun-tahun tidak ada kabar sekarang kamu muncul di hadapan saya dan hampir membuat saya celaka!." bentak Hendrawan kesal.
"Ma-maaf Om, saya tadi terburu-buru."
"Buru-buru tapi masih bisa berhati-hati kan kalau saja jatuh tadi luka kaki saya bisa semakin parah atau jangan-jangan kamu sengaja ingin mencelakai saya. Belum puas kamu dan mama kamu menghancurkan hidup saya gara-gara kelicikan kalian, saya sampai kehilangan keluarga saya, Ayuma dan Rachel. Bahkan sampai sekarang saya belum tahu di mana keberadaan mereka."
Hendrawan menggebu-gebu, tangannya terkepal kuat dan matanya menyala-nyala penuh amarah.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....