
Hendrawan tertawa, "Betul sekali aku milikmu, kamu juga milikku."
Hendrawan memeluk pinggang Dilara dan menariknya mendekat dan mendaratkan ciuman di bibir.
"Kamu tahu Mas Hendrawan Aku cemburu, cemburu pada Ayuma membayangkan kamu dekat dengan Ayuma memeluk menciumnya di ranjang dan berhubungan intim dengan Ayuma tapi aku sadar, aku hanya masa Lalu kamu dan aku tidak berhak cemburu tapi semakin aku mencoba meredam perasaanku, cintaku justru semakin besar setiap kamu mengajakku balikan dan memperjuangkan cinta kita, aku selalu menolak, aku selalu meminta kamu untuk kembali pada Ayuma karena Ayuma lah masa depan kamu." Dilara mengusap pipi Hendrawan.
"Tapi setelah aku pikir-pikir aku begitu egois dan jahat memaksa kamu tetap bertahan pada Ayuma sedangkan kamu tidak mencintai Ayuma. Aku pikir kamu akan bahagia dengan Ayuma tapi ternyata aku salah bahagia Kamu adalah aku dan kamu adalah kebahagiaanku. Ternyata kita memang diciptakan untuk satu sama lain buktinya sekarang kita bisa bersatu lagi setelah sekian lama, setelah melewati banyak rintangan, aku minta maaf gara-gara memperjuangkanku dan Luna kamu kehilangan keluarga besar kamu dan juga nama belakang kamu."
Hendrawan menggeleng, "Kamu tidak perlu minta maaf. Seharusnya aku yang minta maaf karena dulu aku begitu pengecut melepaskan kamu hanya gara-gara ancaman Papa yang akan mencoretku dari kartu keluarga. Dulu aku masih muda dan penakut. Sekarang aku sudah dewasa dan memiliki power sendiri dan berhak menentukan apapun yang aku inginkan. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan selalu melindungi kamu dan jika nanti aku terpuruk dalam masa-masa sulit. Aku harap kamu tidak akan pernah meninggalkanku kan."
Dilara tersenyum, "Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu dalam keadaan apapun Mas Hendrawan, aku akan selalu ada untuk kamu."
Senyum Hendrawan mengembang, "Terima kasih aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu calon suamiku," Hendrawan mendekatkan wajah pada Dilara dan mendaratkan kecupan lagi.
"Bagaimana kalau kita olahraga pagi dulu?." gumamnya di sela-sela ciuman.
Dilara tersenyum, "Ada Luna, kalau Luna tiba-tiba di ke sini gimana?."
"Ini masih jam 06.00 pagi, Sayang. Aku yakin Luna belum bangun dan Luna juga bukan anak kecil lagi yang tiba-tiba menyelonong masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu dulu dan yang paling penting aku sudah mengunci pintu, kejadian memalukan di rumah mu tidak akan terulang lagi." Hendrawan mengedipkan mata.
Dilara tertawa mengingat hal-hal memalukan itu tapi juga mendebarkan dalam waktu bersamaan.
"Beneran sudah dikunci?." tanya Dilara.
"Beneran sayang."
Hendrawan dan Dilara saling menatap lalu perlahan bibir mereka bertemu melakukan pemanasan sebelum melakukan inti olahraga pagi.
***
"Tidak, tidak mungkin kalian tidak mungkin berselingkuh, ini semua pasti bohong katakan ini tidak benar Mas Hendrawan, kalian tidak mungkin menusukku dari belakang. TIDAK!."
Ayuma terduduk dengan nafas terengah bulir-bulir keringat membasahi dahi pipi dan sekitar leher pandangan matanya menyorot sendu, perlahan air matanya mengalir membasahi pipi, penghianatan suami dan sahabatnya membuat luka yang begitu dalam pada Ayuma, sejak dia merekam video itu, video saat Hendrawan dan Dilara bercumbu di sofa ruang tamu, Ayuma tidak bisa tidur dengan tenang selalu bermimpi mereka sedang bercumbu mesra sementara Ayuma terkurung dalam belenggu rasa sakit.
"Tuhan tolong ambil ingatanku tentang mereka, aku mohon! aku ingin melupakan mereka." Ayuma menunduk menyelipkan jari-jari ke celah rambut dan mencengkram kuat berharap bayang-bayang Dilara dan Hendrawan yang sedang bermesraan menghilang dari kepalanya.
Ayuma boleh tersenyum dan tertawa di depan semua orang seolah perselingkuhan mereka tidak ada apa-apanya dan tidak berpengaruh besar dalam hidupnya orang-orang pasti berpikir, Ayuma sangat kuat melewati semua ini tanpa rasa sakit, namun saat semua orang sudah pergi, saat dia sendirian seperti ini yang terjadi terpuruk sesak bahkan untuk tidur pun harus menggunakan obat tidur.
"Aku harus apa biar aku lupa?. Aku harus apa biar rasa sakit ini hilang?." Menepuk-nepuk dadanya yang begitu terasa sesak.
Tok.
Tok.
Tok.
"Mama, Mama sudah bangun?." Ayuma mengerjap dan segera menghapus air matanya.
"Iya, Sayang. Mama sudah bangun, kenapa?."
"Nggak papa mah, aku mau siapin sarapan buat mama nanti kita sarapan sama-sama."
"Oke Mama mandi dulu ya nanti mama nyusul ke dapur."
"Iya Mah." Lalu hening sesaat dan Rachel kembali bersuara dengan lembut.
"Rachel sayang Mama, Sayang banget."
Ayuma kembali berkaca-kaca menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara tangis lalu tersenyum dan menatap ke arah pintu.
"Mama juga sayang Rahel sebesar rasa sayang Rachel pada Mama."
"Oke Mah, Rachel masak sekarang! Aku tunggu mama di dapur. Bye bye mother, muach." Ayuma memejamkan mata sejenak menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan, Rachel adalah penguat Ayuma, entah akan sehancur apa dirinya tanpa Rachel mungkin sekarang ah bukan mungkin lagi tapi sudah pasti Rachel juga sama hancur seperti dirinya tapi Rachel tetap terlihat kuat. Belajar dari putrinya Ayuma juga ingin menjadi sosok yang kuat.
"Aku pasti bisa melewati semua ini." Ayuma mengemangati dirinya sendiri.
Setelah itu bergegas mandi berganti baju dan menuju ke dapur.
"Morning, Sayang!."
Ayuma memeluk putrinya yang sedang memotong sosis.
__ADS_1
Rachel terkejut sesaat lalu mengulas senyum biasanya dia yang memeluk mamanya saat sedang memasak sekarang gantian mamanya yang memeluknya.
"Ih Mama, jangan digelitiki perut aku."
Ayuma tertawa, "Mama jadi ingat dulu waktu bayi dan mama menggelitik perut kamu, kamu tertawa. Kamu kelihatan sangat senang digelitikin."
"Ih mana ada kalau waktu bayi aku bisa bicara aku pasti protes gini 'Mama Aku Bukan Boneka yang bisa mama gelitikin' biar keluar suaranya."
Mereka sama-sama tertawa.
"Mau masak apa?." tanya Ayuma.
"Masak nasgor. Mama mau kan?."
"Mau dong, Mama akan makan apapun masakan dari Putri mama."
Di tengah-tengah makan dan obrolan mereka tiba ponsel Ayuma berdering, ternyata telepon dari Sarah.
"Halo Sarah?."
"Halo Ayuma itu aku sudah mengirim nomor Edgar, aku sudah meminta dia meluangkan waktu siang nanti kamu bisa kan?."
"Bisa kok terima kasih!."
"Sama-sama. Semoga berjalan lancar."
"Iya, terima kasih!."
Ayuma mengakhiri panggilan.
"Siapa Mah?." tanya Rachel.
"Ini Sarah, Mama minta bantuannya mencarikan seseorang yang bisa mengurus dokumen-dokumen dengan cepat. Sarah memberikan nomor Edgar. Semoga saja dia orang-orang yang bisa dipercaya."
Rachel menganguk dan melanjutkan makan lagi.
***
Jam 11.00 siang Ayuma sampai di restoran Sebelum turun dari mobil, Ayuma membaca ulang chattingan dengan Edgar tadi pagi setelah sarapan
[09.00] Edgar : Ya.
[09.05] Ayuma : Sarah bilang siang ini anda ada waktu luang untuk saya tapi Sarah belum bilang jam dan tempatnya. Sekiranya jam berapa dan di mana saya bisa bertemu dengan Anda pak Edgar?.
[10.00] Edgar : Jam 11.00 Restoran Moon reservasi 2001
[10.03] Ayuma : Baik terima kasih sampai bertemu nanti.
Di read saja tidak dibalas.
Ayuma berdecih setelah membaca ulang chatingannya yang ternyata dia sangat fast respon tapi Edgar slow respon bahkan membalas pesannya saja 1 jam kemudian.
"Ck, kayaknya dia orang yang menyebalkan, bisanya Sarah bilang dia orang baik nggak ada foto profilnya lagi.
Ayuma mengirim pesan pada Sarah dan meminta foto Edgar tapi Sarah belum online, mungkin saja Sarah sibuk dengan anak-anaknya.
Setelah menghembuskan napas kasar Ayuma segera turun dari mobil menunduk untuk mengecek ulang beberapa potongan-potongan berkas yang tersisa di dalam tasnya namun tiba-tiba...
Bruuk,
"Eh," Ayuma terhuyung ke belakang saat tanpa sengaja menabrak lengan seseorang dan tasnya jatuh sehingga barang-barangnya berserakan di lantai basement parkiran.
"Kalau jalan hati-hati dong! Barang saya jadi berantakan nih," Ayuma mendongak dan menatap wajah laki-laki tinggi ini.
"Bantuin atau apa kek malah dipelototin doang semua laki-laki di dunia ini memang sama saja, menyebalkan. Kenapa sih di dunia ini harus ada laki-laki? Kenapa laki-laki nggak musnah saja?." Ayuma mengomel sambil memunguti barang-barangnya.
Laki-laki itu berjongkok di depan Ayuma, mau tidak mau Ayuma menatap ke arahnya hingga mata mereka bertemu dalam satu garis.
"Kalau laki-laki tidak ada," mengambil KTP Ayuma yang terbakar separuh dan mengeja identitas, "Kamu tidak akan lahir ke dunia ini Ayuma Ningtyas Tanoepramudya."
"Benar saya tidak bisa lahir ke dunia ini tanpa laki-laki tapi laki-laki yang saya maksud adalah laki-laki dewasa yang sudah berkomitmen dengan satu perempuan tapi tetap dekat dengan perempuan lain mereka golongan laki-laki seperti itu lebih baik musnah saja di muka bumi."
Ayuma mengambil KTP dari tangan laki-laki itu lalu memasukkannya ke dalam tas beserta potongan berkas-berkas lain yang berceceran tadi.
__ADS_1
"Terima kasih sudah membantu saya membereskan berkas-berkas saya," sarkas Ayuma sambil tersenyum sinis, lalu pergi begitu saja meninggalkan laki-laki itu yang masih terdiam di tempat.
Ayuma benar-benar bad mood hari ini, rasanya ingin pulang dan besok saja bertemu dengan Edgar. Tapi kalau bukan sekarang kapan lagi, Sarah bilang Edgar sangat sibuk dan sering menolak bertemu dengan klien secara personal.
Biasanya jika ada keperluan atau mengurus berkas-berkas seperti ini pegawai Edgar yang akan turun tangan menyelesaikannya. Berhubung Sarah teman dekat Edgar, Edgar bisa meluangkan waktu untuknya.
"Semoga saja aku nggak telat. Dan semoga saja Edgar bisa diajak kerjasama dengan baik paling enggak tidak menyebalkan seperti laki-laki tadi."
Setelah menarik nafas dan mengeluarkan perlahan Ayuma pun masuk ke dalam Restoran bertemu dengan resepsionis dan resepsionis pun memanggil seorang pramusaji untuk mengantar Ayuma menuju ke reservasi room .
Begitu sampai di sana ternyata Edgar belum datang. Syukurlah, setidaknya Ayuma bukan pihak yang terlambat. Ayuma akan merasa bersalah, jika datang terlambat. Padahal Edgar sudah meluangkan waktu untuknya.
Sambil menunggu Ayuma mengecek-ngecek lagi berkas-berkas di tas dan mengecek pesan yang ia kirim pada Sarah, namun Sarah belum online dan terakhir dilihat sekitar 15 menit yang lalu. Ya sudahlah toh nanti dia juga berkenalan langsung dengan Edgar jadi tidak perlu lihat fotonya dulu. Semoga aku nggak salah orang.
Suara langkah kaki masuk mendekat, Ayuma mendongakkan kepala.
"Selamat siang Pak." Suara Ayuma tertahan di tenggorokan itu melihat laki-laki yang tadi dia marahin dan omeli memasuki ruang reservasi . Apa dia Edgar?serius? Ayuma kira Edgar seusia dengannya sekitar 40-an rasanya sangat jarang laki-laki muda memimpin perusahaan apalagi perusahaan besar seperti milik Mattew Ayah Sarah atau mungkin, Edgar memang berusia 40-an tapi mungkin ada keturunan dari keluarga berwajah awet muda karena itu wajahnya terlihat 30-an.
'Oh astaga,' Ayuma merutuk pada dirinya sendiri, bukannya menyapa laki-laki ini malah menebak-nebak umur. Ayuma yakin meskipun terlihat masih muda Edgar sangat profesional .Sarah tidak mungkin salah merekomendasikan seseorang padanya.
"Maaf , Anda Pak Edgar?."
"Kamu ingin bertemu dengan seseorang dan kamu tidak mengenali wajahnya?."
Ayuma melotot, terkejut mendengar pertanyaan Edgar.
"Bukan begitu, saya menghubungi Sarah dan meminta foto anda tapi Sarah belum membalas chat saya.
'Dia tidak marah gara-gara kejadian tadi dan melampiaskan sekarang kan?!' Batin Ayuma was-was.
Mungkin sebaiknya Ayuma minta maaf demi kelancaran kelanjutan kerjasama mereka ke depan.
"Saya minta maaf untuk kejadian tadi jika anda merasa tersinggung dengan omelan saya, lain kali saya akan berhati-hati saat berjalan seehingga saya tidak menabrak seseorang yang tiba-tiba berhenti berjalan di depan saya."
Edgar menatap Ayuma diam dan menatapnya lekat lalu duduk di kursi.
Ayuma memejamkan mata sejenak menahan diri untuk tidak mengomel lagi, jelas-jelas Edgar juga bersalah tiba-tiba berhenti di depannya tapi dia seolah tidak merasa bersalah?.
Menyebalkan, semua laki-laki di dunia ini sama aja saja !!!
Ayuma pun duduk di depan Edgar untuk memecahkan keheningan antara mereka Ruangan ini tertutup dan hanya ada mereka berdua, sehingga suasana menjadi sepi. Hening. Benar-benar sunyi. Dan rasanya awkward sekali.
"Seperti yang saya sudah sampaikan di chat pagi tadi, tujuan saya bertemu dengan anda saya ingin meminta bantuan anda untuk mengurus berkas-berkas saya secepat mungkin agar saya bisa segera menyelesaikan urusan saya."
Ayuma baru saja ingin mengeluarkan map berisi potongan-potongan berkas-berkas, namun tiba-tiba Edgar menekan tombol kecil di meja. Tak lama kemudian pelayan datang.
"Saya lapar." ucap Edgar.
"Oh ya silakan makan! saya akan meninggalkan berkas ini. Jadi anda bisa makan dengan bebas," Ayuma tersenyum lebar sementara Edgar masih menatapnya dengan ekspresi datar sama seperti sejak tadi mereka bertemu di parkiran.
Ini pertama kalinya Ayuma bertemu dengan laki-laki tanpa ekspresi. Untung wajahnya tampan, jadi masih enak dilihat.
"Kalau Anda mau pergi sekarang, sekalian bawa berkas-berkas ada pulang!."
Ayuma mengerjab, "Bukannya Anda ingin makan sendiri?"
"Apa Anda tidak bertanya dengan resepsionis saya memesan reservasi untuk berapa orang?"
"Saya tidak bertanya," Ayumamenoleh pada seorang pramusaji.
"Iya, untuk dua orang." jawab pramusaji itu sembari tersenyum.
Ayuma mengangguk-angguk, "Ya sudah saya ikut makan kalau begitu.
Ayuma pun memesan makanan lebih dulu, sementara Edgar masih melihat menu. kebetulan Ayuma juga sudah lapar, sebelum ke sini, Ayuma ke kantor dulu mengurus beberapa pekerjaan. Setelah ini Ayuma juga harus bertemu dengan pengacara untuk mengurus perceraiannya. Hari ini benar-benar full.
Seandainya si gila Hendrawan tidak membakar berkas-berkasnya, Ayuma tidak akan serepot ini. Ayuma juga tidak akan bertemu dengan laki-laki menyebalkan seperti Edgar, dari sekian banyak pertemuannya dengan laki-laki, pertemuan dengan Edgar adalah yang paling menguras emosi.
Setelah urusan ini selesai, Ayuma berharap mereka tidak bertemu lagi.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....