
On Mission.
[Farel : Info terbaru?.]
[Dypta : Di apart nya ngga ada.]
[Tian : Di rumah nya juga ngga ada.]
[Rendy : Di kampus juga nggak ada.]
[Farel : Lo ngapain cari Rachel di kampus. Kondisi Rachel aja kritis.]
[Rendy : Gue di suruh Dypta. Marahin aja tuh Dypta.]
[Dypta : Gue diem aja padahal.]
[Farel : Lo juga ta, ngapain lo cari di apartement, nggak mungkin ada di sana.]
[Farel : Terus Lo Bas. Lo nggak ada info apa-apa dari Tante Ayuma atau dari keluarga lo gitu yang mungkin tahu di mana keberadaan mereka.]
[Tian : Kalau gue tahu, gue nggak bakal online di sini. Gue udah tanya satu-satu keluarga besar tapi nggak ada yang tahu di mana keberadaan mereka.]
[Tian : gue tau sekarang lo khawatir tapi nggak usah pakai emosi bisa kan ? Kita semua sama-sama khawatir. Tenangin diri dulu. Sekarang lo lagi nyetir kan fokus aja nyetir nggak usah sambil chattingan gini kalau ada info terbaru pasti kita kabarin kok.]
Farel menghela nafas panjang setelah membaca chat Bastian.
[Rendy : Ya ampun Farel yang di perhatiin gue yang meleleh. Abang Babas perhatiin aku juga dong. Aku lagi nyetir nih.]
[Tian : Nanti kalau lihat truk lo tabrakin diri lo aja.]
[Rendy : Abang Babas jahat!!!.]
Farel tersenyum membaca chattingan teman-temannya perasaannya menjadi lebih tenang sekarang. Mereka selalu bisa membuatnya lebih baik.
Farel nggak tahu akan seperti apa hari-harinya Tanpa mereka. Meskipun kadang berselisih paham mereka selalu menjadi support sistem terbaiknya.
Farel pun mengetik balasan.
[Farel : Sorry gue bener-bener kacau sekarang. Dari tadi bawaannya pengen marah-marah. Apalagi kalau lihat Rendy mengetik rasanya pengen cakar-cakar mukanya. Ntar kalau lo ketemu gue di jalan mending lu menghindar aja daripada gue cakar-cakar muka lo, Ren.]
[Rendy : Nggak apa-apa demi Bang Farel Rendy rela kok di cakar-cakar. Semangat abang kecup dulu biar tambah semangat muah.]
[Farel : Seketika bulu romaku berdiri.]
[Farel : Oke kembali ke laptop kita cari ke rumah sakit terdekat bukan urusan kasus gue dan Luna, Ayah gue udah turun langsung.]
[Rendy : Wih mantap polll.]
[Dypta : [Send file] Nih pembagian RS nya.]
[Tian : Mantap, diem-diem lagi susunin tabel.]
[Rendy : Duh makin cinta aja sama Ayang Dypta tsundere.]
__ADS_1
Farel memasukkan ponsel ke dalam dashboard mobil dan melajukan mobil menuju ke rumah sakit sesuai dengan pembagiannya. Farel berharap semoga Ayuma memindahkan Rachel ke salah satu rumah sakit yang masih ada di Jakarta.
Namun sejak tadi Farel tidak bisa positif thinking, pikiran-pikiran negatif menyerang kepalanya sampai terasa pening. Farel takut Ayuma membawa Rachel pergi jauh dari jangkauannya.
'Rachel kamu di mana?." meremas setir mobil Farel mempercepat laju mobil menuju ke rumah sakit.
Sebelum kecelakaan, mereka baru saja merencanakan momen yang indah. Farel baru saja ingin datang ke rumah Rachel dan melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Tapi sayangnya takdir berkata lain, Mereka boleh merencanakan tapi Tuhan yang menentukan.
Sesampainya di rumah sakit tujuan pertama. Farel langsung menuju ke resepsionis rumah sakit.
"Apa ada pasien bernama Rachel Aqeela Tanoepramudya dengan wali Ayuma?."
"Maaf, tidak ada."
Farel mengucapkan terima kasih dan balik lagi ke mobilnya. Mengecek file pembagian rumah sakit, lalu bergegas ke sana.
Tak memperdulikan perutnya yang keroncongan. Farel terus memacu mobil, pagi tadi dia sudah mau makan sepotong fried chicken, setelah itu dia belum makan sama sekali. Jangankan makan untuk minum pun Farel tidak sempat.
Dia bisa makan sepuasnya nanti setelah Rachel ditemukan.
Rumah sakit kedua, tidak ada.
Rumah sakit ketiga, juga tidak ada.
Perjalanan ke rumah sakit keempat Farel menghentikan mobilnya di pinggir jalan karena merasa begitu lelah. Melirik jam di pergelangan tangan ternyata tutup sudah pukul 12.00 malam.
"Ya ampun, kenapa cepet banget sih, kenapa udah jam segini?."
Farel menyandarkan dahi di setir mobil sambil membaca chat di grup. Sama saja mereka juga belum menemukan Rachel di rumah sakit pembagian mereka.
Farel meremas ponselnya sambil memejamkan mata. Hanya sebentar lalu membuka mata lagi mengucek-ngucek mata dan meraup-raup wajahnya untuk memulihkan kesadaran.
"Nggak aku harus mencari Rachel lagi.
Setelah menghembuskan nafas panjang Farel melajukan mobil menuju ke rumah sakit keempat. Sesampainya di sana nihil Rachel dan Ayuma tidak ada di sana.
"Aaargghhh," Farel berteriak di parkiran rumah sakit.
Seorang satpam menegur dan menanyakan apa yang terjadi.
"Tidak ada apa-apa Pak, saya mencari calon istri saya yang tiba-tiba hilang. Ya sudah saya permisi Pak!."
Farel masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil meninggalkan parkiran rumah sakit berhenti sesaat di tepi jalan lalu menyadarkan kepalanya di kursi.
"Rachel..."
Di tengah ke frustasian dan kekhawatiran nya, ponsel Farel berdering.
Dengan cepat Farel mengangkat panggilan itu berharap ada informasi terbaru tentang Rachel ternyata yang menelpon adalah mama Sarah.
"Halo Ma, Mama udah dapat kabar keberadaan Rachel dan Tante Ayuma?."
[Pulanglah ada yang ingin Mama sama Ayah sampaikan.]
__ADS_1
"Sampaikan lewat ponsel aja mah aku masih mau mencari Rachel lagi."
[Pulang nak sudah malam!.]
Mendengar suara Sarah yang lembut dan penuh permohonan hati Farel tidak akan pernah mampu bisa menolak keinginan ibu tiri tersayangnya itu.
"Ya udah Farel pulang sekarang mah."
[Hati-hati!]
"Iya Mah."
Farel melajukan mobil menuju ke rumah, sepanjang perjalanan pandangannya terus menyisir ke jalanan. Dia tahu tidak mungkin Rachel ada di sana tapi tetap saja Farel terus mencari-cari Rachel di sepanjang jalan.
Sssrttt
Farel langsung mengerem mobilnya saat tiba-tiba ada sebuah motor yang belok.
"Astaga hampir saja kecelakaan."
Farel menarik nafas dan mengeluarkan perlahan lalu menepuk dadanya untuk menenangkan diri kepergian Rachel. Baru beberapa detik tapi sudah bisa mengacaukan pikirannya bahkan nyaris membuatnya kecelakaan.
"Rachel kamu di mana? Tolong jangan ke mana-mana!."
***
"Mah!." Panggil Farel sesampainya di rumah.
Sarah dan Anthony yang sedang duduk di ruang tamu mendongakkan kepala.
"Farel." Sarah lega melihat putranya pulang dalam keadaan selamat sejak tadi dia khawatir sekali terjadi sesuatu dengan Farel di jalan.
"Yah, apa yang ingin kalian sampaikan sampai menyuruh pulang?." tanya Farel duduk di samping Sarah.
"Ini," Sarah mengeluarkan sebuah amplop.
"Apa ini Mah?."
Sarah mengusap punggung putranya, surat dari Paman Edgar.
"Paman Edgar? Oh Astaga kenapa kita tidak minta bantuan Paman Edgar untuk mencari keberadaan Rachel dan Tante Ayuma. Paman Edgar sangat profesional, dia pasti bisa menemukan mereka dalam waktu cepat Ya ampun aku benar-benar lupa aku akan menelpon Paman Edgar sekarang beliau pasti-."
Sarah tersenyum getir, "Baca dulu surat ini!."
Mendengar nada suara Sarah entah mengapa perasaan Farel tak enak namun buru-buru Farel menepis perasaan itu dan tetap positif thinking.
Perlahan Farel mengambil secarik kertas dari dalam amplop berwarna hitam itu dan membacanya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....