Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
5 Tahun Kemudian ...


__ADS_3

Swiss, 08.00 AM.


"Pagi, Ma."


"Pagi, Sweety."


Ayuma menoleh sekilas pada putrinya sembari melempar senyum lalu lanjut memotong sayuran untuk sarapan.


Aqila menguap dan merentangkan tangan, "Papa sama adek kemana, Ma?."


"Biasa, jalan-jalan Pagi di sekitar rumah."


Aqila memganguk-anguk, lalu mendekat dan memeluk mama ny dari belakang. Meskipun mama nya sudah berumur lebih dari empat puluh tahun dan memiliki dua anak, tubuhnya tetap bagus dan ideal.


Rahasianya pola makan yang sehat dan olahraga rutin. Kadang Ayuma juga malas tapi suaminya selalu membujuknya dengan cara-cara yang manis sampai Ayuma meluluh juga saat nolak biasanya Ayuma akan digendong paksa.


Aqila, gemas sendiri melihat mama dan Papanya saat sedang berduaan seperti itu.


"Biasanya Papa yang suka peluk Mama. Tapi karena sekarang Papa lagi sama adek aku yang peluk mamah. Apa pelukanku sehangat pelukan papa?."


"Kamu ini, pagi-pagi udah godain mama aja."


Ayuma dengan gemas memukul lengan putrinya yang meningkar di perut nya. Rachel pura-pura mengaduh, lalu terkekeh dan memeluk mama nya.


"Kalau kamu masih terus godain mama, jangan salahkan mama kalau panci ini melayang di kepala kamu."


Aqila tertawa, "Mama sensitif banget, mama hamil lagi ya?."


"Hamil lagi apaan coba? mama udah tua."


"Mana ada... Setiap pagi aja Papa selalu bilang 'Kamu cantik sekali', 'Setiap hari kamu bertambah cantik', 'Aku beruntung memiliki istri secantik kamu'. Sumpah, Na. Setiap aku denger Papa bilang gitu sama mama. Aku meleleh, jiwa jomblo ku meronta-ronta."


"Lebay banget kamu!." Ayuma mendengus, namun reaksi tubuhnya tidak bisa berbohong. Senyumnya mengembang dan pipinya merona teringat kembali saat suami dinginnya itu sering memujinya, sungguh Dia jarang bicara tapi sekali bicara kalimat yang keluar dari mulutnya selalu membuat Ayuma bahagia.


"Aku berharap suatu hari nanti aku bisa bertemu dengan sosok laki-laki yang seperti papa. Jarang bicara, cuek, dingin tapi diam-diam perhatian peka dengan istrinya, bertanggung jawab, baik, mapan royal terus tampan juga. Apa laki-laki kayak papa ada nggak ya, Ma didunia ini?."


"Yang kayak papa kamu cuma satu. Tapi ... karena putri mama sangat cantik dan baik. Tuhan pasti sudah menyiapkan pasangan yang baik untuk kamu."

__ADS_1


Aqila tersenyum aku jadi semakin nggak sabar ingin bertemu jodohku Sekarang aku sudah 25 tahun Aku ingin cepat-cepat menikah dan hidup bahagia bersama suami Bapak kira-kira sekarang jodohku lagi apa apa dia lagi pacaran sama cewek lain?."


Ayuma terkekeh, "Mungkin, mungkin juga sekarang jodoh kamu lagi ciuman sama pacarnya."


"I-ih mama kok gitu sih. Nggak boleh, first kiss jodoh aku harus sama aku."


Ayo Mah tergelap melihat putrinya marah-marah pipinya mengembung dan bibirnya mengerucut lucu.


Di tengah-tengah Obrolan mereka Terdengar langkah kaki mendekat ke area rumah makan Aqila dan ayuma sama-sama menoleh ke sumber suara itu


"Embul udah pulang. Cini-cini... kakak gendong." Aqila menghampiri adiknya yang di gendong papa nya. Mereka baru pulang dari jalan pagi. Aqila biasanya ikut juga tapi karena pagi ini bangun kesiangan dia diam di rumah dan mengganggu mamanya


Si kecil langsung mengulurkan tangan mungilnya pada Aqila. Aqila gemas sekali Dan mencium pipi gembilnya.


"Num num," si kecil meraba tenggorokan nya tand haus.


"Ayo kakak ambilkan minum."


Aqila mengambil segelas air putih dan membawanya keluar dari area dapur bersama adiknya dalam gendongan. Sebelum pergi dia sempat melirik papa nya mendekat pada Mama nya.


Gerakan tangan Ayuma yang sedang mencuci sayur terhenti saat suaminya berjalan mendekat, berdiri di sampingnya dan menatapnya lekat.


"Apa?." tanya Ayuma jutek, bukan beneran jutek, tapi karena Ayuma gugup suaranya jadi jutek. Gimana nggak gugup coba, sejak tadi suaminya hanya diam dan menatapnya intens.


Dia tersenyum samar, tampan, sangat tampan. Lalu berjalan ke belakang tubuh Ayuma. Dengan jantung berdebar Ayuma menunggu apa yang akan suaminya lakukan.


Sebenarnya Ayuma sudah bisa menebak, tapi tetap saja saat tangan kekar itu melingkar dan memeluk perutnya. Ayuma selalu gugup.


"Aku merindukanmu."


Ayuma tersenyum dan lanjut memotong sayur lagi.


"Kamu baru aja keluar bersama putra kita 15 menit yang lalu, masa ia udah rindu."


"Sana ah, malu, nanti di liatin Qila."


Bukannya pergi, Edgar justru mengeratkan pelukan dan kini menyandarkan dagu di pundaknya.

__ADS_1


"Aku mau masak, Pa. Pelukannya nanti saja kalau aku sudah selesai masak."


Edgar tersenyum, selalu senang jika Ayuma memanggil nya 'Pa'.


"Kamu selesaikan saja urusan kamu, aku akan menyelesaikan urusan ku sendiri."


"Urusan apa?. Peluk aku gini?."


"Hmm, ini penting dan darurat sekali untukku. Untuk stok energi hari ini."


Ayuma hanya menggelengkan kepala, gemas sekali dengan suami dinginnya ini, kadang bisa manja seperti saat ini. Dulu waktu awal mereka menikah sekitar 2 tahun yang lalu, Edgar masih canggung, bahkan untuk memeluk dan menciumnya dia harus izin dulu. Dia benar-benar kaku, ternyata dia benar saat dia bilang, dia tidak pernah pacaran atau mengenal perempuan dalam hidupnya. Sikap nya dan caranya memperlakukan perempuan sangat lah kikuk.


Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Edgar semakin terbuka dan sikapnya jauh lebih manis contohnya sekarang. Dulu Ayuma sempat ragu menikah dengan Edgar. Pertama, karena masa lalu Ayuma memiliki pengalaman buruk dalam pernikahannya. Sejujurnya Ayuma sempat enggan menikah lagi dan trauma. Tapi Edgar dengan sabar menunggu dan menemani dirinya sampai 3 tahun. Dan Edgar sendiri yang membantunya mengurus Aqila di sini.


Kedua, perbedaan umur mereka. Edgar lebih muda 5 tahun dari Ayuma. Ayuma jadi takut miss komunikasi. Ayuma juga takut tidak bisa mengimbangi jiwa muda Edgar. Tapi ketakutan Ayuma tidak terjadi, Edgar sangat dewasa dan bisa menganyomi dalam segala hal. Entah urusan rumah tangga atau urusan ranjang.


"Pa." lirih Ayuma.


"Hm,"


"Kamu nggak bosen peluk aku kayak gini setiap hari?."


"Nggak."


Ayuma tersenyum saat merasakan kecupan di pipi. Masih dengan dagu menempel di pundak Ayuma. Edgar menatap Ayuma dari samping mencoba membaca ekspresi. Apa Ayuma senang dengan jawaban nya atau tidak. Tapi melihat senyumnya dia pasti senang.


Edgar, tidak pernah berpacaran, hari-harinya di sibukkan dengan bekerja. Kadang dia juga bingung harus bersikap bagaimana. Edgar bahkan diam-diam suka browsing mencari tips dan trik bagaimana cara menyenangkan istri. Tapi kebanyakan tips dan trik nya tidak berguna. Semua mengalir begitu saja, Edgar hanya mengikuti kata hati dan naluri sebagai seorang suami.


Sampai sejauh ini semuanya baik-baik saja. Kadang Edgar masih tidak percaya dengan dirinya sendiri. Dulu dia pernah bertekad untuk tidak menikah. Tapi justru sekarang siapa yang menyangka dia menikah dengan janda beranak satu. Ayuma terlalu sempurna dan mempesona sampai Edgar tidak bisa berpaling darinya.


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2