
Farel menghel nafas panjang, "Mencari sosok Mama dalam diri perempuan lain adalah kesalahan terbesarku. Tidak akan ada perempuan seperti Mama. Mama hanya satu dan sekarang menjadi istri Ayah."
"Sejak awal Mama sudah memperingatkan ku untuk menjalin hubungan tanpa ada banyang-banyang Mama. Mama meminta ku mencari seseorang yang memang aku inginkan dari hatiku bukan karena aku mencari sosok seperti Mama."
"Tapi aku tetap keras kepala dan akhirnya aku terjebak sendiri dengan obsesiku. Tanpa sengaja aku juga menyakiti kamu karena aku mencintai kamu bukan sebagai Luna tapi sebagai Mama Sarah. Karena itu aku ingin mengakhiri hubungan ini agar kamu tidak semakin sakit hati. Kamu juga tidak ingin hidup dalam banyang-banyang Mama Sarah kan?."
Luna menggeleng.
"Tidak masalah. Aku tidak masalah harus hidup dalam banyang-banyang Tante Sarah selama itu membuat kamu bahagia. Tidak masalah juga kamu memiliki kriteria perempuan seperti Mama kamu karena Tante Sarah memang sesempurna itu, Farel. Aku juga ingin sekali menjadi sosok Tante Sarah. Beliau Ibu yang baik dan juga istri yang baik. Mama kamu adalah idola Farel. Beliau panutan ku."
"Aku akan belajar banyak dari Tante Sarah, Aku akan belajar memasak, belajar berdandan. belajar bersikap, bertutur kata yang mirip Tante Sarah, pokonya semuanya. Aku akan memiripkan diriku semirip mungkin dengan Tante Sarah jika itu membuat kamu senang. Aku ingin mempertahankan hubungan kita Farel."
Di luar kamar, Sarah ingin mengetuk pintu, menyuruh mereka makan malam bersama, namun ketukannya tertahan mendengar pembicaraan mereka yang serius.
Anthony yang lewat ikut berdiri di samping istrinya. Sarah sudah menyuruhnya pergi, takutnya Rana, Rani dan Reza datang mencari Anthony. Tapi Anthony ngeles dengan mengatakan sudah menitipkan mereka pada Bibi.
Suara Farel dan Luna terdengar lebih jelas karena pintu memang di biarkan sedikut terbuka.
Anthony tak tahan lagi dan ingin masuk, namun Sarah menahan pergelangan tangannya.
"Mau ngapain?." tanya Sarah lirih.
"Kamu ngga denger? Farel mau putus tapi Luna nggak mau. Mana bilang mau mirip sama kamu lagi. Nggak bisa kamu cuma satu."
Sarah berjanji dan membungkam mulut suaminya dengan telapak tangan lalu menariknya menjauh.
"Mas kamu tuh ya," begitu sudah agak jauh Sarah mencubit lengan suaminya dengan gemas.
"Kenapa sih? aku cuman mau bilang sama Farel kalau mau putus ya sudah putus aja, nggak usah terpengaruh sama tangisan Luna. Aku nggak mau Farel jadi lembek, yang tegas gitu!."
"Kamu dulu juga begitu."
Anthony menipiskan bibir, "Itu kan dulu, sekarang beda. Terus aku juga nggak mau Farel melakukan kesalahan seperti yang aku lakukan dulu. Terlalu mempercayai seseorang sampai-sampai di bodohi dan di manfaatkan begitu saja "
"Jadi maksud kamu Luna membodohi dan memanfaatkan Farel?."
"Ya ngga tau juga, tapi kan intinya Farel sudah minta putus tapi Luna nggak mau."
Sarah terdiam.
"Jujur ya, Mas. Aku juga mau Farel dan Luna putus tapi bukan berarti kita ikut campur urusan mereka. Biarkan Farel dewasa dengan pengalaman-pengalamannya. Biarkan dia mengambil keputusan sendiri tanpa campur tangan kita. Dengan kesalahan Farel bisa belajar menjadi lebih dewasa."
Anthony menghela nafas berat.
"Ya udah iya, tapi menurut kamu Farel sama Luna bakal putus?."
"Entahlah, aku juga ngga tau. Masalahnya, Farel ini ngga tegaan. Dia mana bisa menyakiti orang lain, apalagi perempuan. Ya udah kita tunggu saja. Ayo ke ruang makan lagi."
Sarah melingkarkan tangan di lengan Anthony dan mengajak nya turun ke lantai bawah.
"Kamu gemas ya sama Farel?."
"Iya, kek bodoh banget gitu."
Sarah tertawa, "Persis banget kayak kamu dulu. Kalau kamu mau liat gambaran diri kamu waktu muda dulu, lihat aja Farel. Tapi kamu lebih parah kayaknya "
"Enggak! Farel lebih parah."
"Serius, Mas. Kamu lebih parah. Farel sudah mendapatkan didikan dariku, aku yakin putraku lebih tegas."
Sarah tertawa melihat Anthony memutar bola mata.
.
.
.
Di sisi lain Farel dan Luna masih berbicara serius tentang hubungan mereka.
"Rel, please," Luna menggenggam erat tangan Farel dan menatap nya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir sejak tadi pagi tadi."
"Maaf ya Luna. Aku rasa aku benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Aku tidak ingin menyakiti kamu lebih jauh lagi dengan menjadikan kamu sebagai obsesiku. Aku juga ingin berhenti terobsesi dengan mencari sosok perempuan seperti Mama karena sosok Mama hanya ada satu. Aku ingin jatuh cinta kepada seseorang karena sifat yang dia miliki, kepribadian nya dan segala hal dalam dirinya."
"Lalu aku, apa sifatku, wajahku, semua hal yang ada dalam diriku tidak bisa membuat kamu jatuh cinta? Aku yakin kamu juga mencintaiku, Farel. Kamu mencintaiku sebagai Luna bukan hanya karena mirip Mama kamu. Coba pikirkan lagi, Farel. Dalam perasaan kamu. Aku yakin di hati dan pikiran kamu ada namaku."
Luna menangkup pipi Farel dan menatapnya lekat.
"Begini saja. Aku berikan kamu waktu satu bulan. Dalam waktu satu bukan ini pikirkan perasaan kamu baik-baik, apa kamu benar-benar mencintai ku sebagai Luna atau hanya terobsesi denganku karena aku mirip Mama kamu."
"Jika dalam waktu satu bulan ini kamu yakin kamu tidak mencintaiku dan ingin putus, aku tidak akan menolak. Aku juga tidak akan mengganggu kamu lagi. Please, Farel. Hanya sebulan. Sekarang kamu masih bimbang. Kamu hanya butuh waktu untuk menyadari perasaan kamu."
Farel terdiam.
"Farel."
Farel menghela nafas berat, "Luna, maaf. Aku.."
"Aku pulang sekarang, Rel. Ingat ya, aku kasih kamu waktu satu bulan. Love you."
Luna mencium pipi Farel dan langsung lari keluar kamar.
"Luna tunggu! kita putus, Lun. LUNA!."
__ADS_1
Farel turun dari kasur, ingin mengejar Luna, tapi kaki kanannya masih sakit membatasi langkahnya. Baru saja sampai tangga, Farel mendengar suara mobil. Langkahnya tertahan sembari menghembuskan nafas kasar.
Farel tidak ingin menunggu waktu selama satu bulan. Tidak akan ada yang berubah. Perasaannya pada Luna hanya obsesi semata, sedangkan perasaannya pada Rachel...
Farel belum tau pasti.
Jika dalam beberapa hari ini Farel masih cemburu dan kesal melihat Rachel bersama Brandon, itu artinya perasaannya sekarang benar-benar rasa cinta. Tapi jika perasaannya biasa saja artinya memang Farel hanya menganggap Rachel sebagai sahabat.
Lamanya persahabatan mereka membuat Farel bingung mengenali perasaannya. Karena kadang nyaman sebagai cinta dan nyatanya sebagai sahabat sangat sulit di bedakan.
Tapi... Seandainya perasaannya cinta, apa Farel masih bisa bersama Rachel atau Rachel sudah melabuhkan hatinya pada Brandon.
***
"AARGGG."
Bruak...
"Luna? Ada apa Sayang? kenapa pulang-pulang kamu langsung marah-marqh dan membuang-buang barang seperti ini?."
Luna mengabaikan Dilara dan terus membuang barang-barang yang ada di ruang tengah. Vas bunga yang ada di atas meja, bantal yang ada di sofa, bahkan koleksi-koleksi milik Hendrawan yang tertata di meja pinggir tembok menjadi sasaran kemarahan Luna.
"Aku benci Farel, aku benci Rachel. Aku benci semua orang."
Pyar...
Dilara tersentak saat Luna melempar barang yang hampir melukai kakinya.
"Luna cukup, Nak! jangan membuang-buang barang seperti ini! ini barang-barang koleksi papa kamu. Bagaimana kalau Papa kamu pulang dan melihat koleksi-koleksi nya pecah, Papa kamu pasti marah."
"Biarin aja papa marah. Ini semua juga gara-gara Papa, gara-gara Mama juga. Gara-gara mama dan Papa bohongin aku, aku membuat kekacauan di rumah Farel. Aku kehilangan pacar, aku juga kehilangan teman-temanku. Aku kehilangan semuanya, Ma. hikss."
Luna mengambil vas bunga di meja dan melempar lagi.
Pyar.
Hendrawan yang mendengar suara benda pecah dari dalan rumah bergegas menuju ke ruang tengah. Begitu sampai di sana, betapa terkejutnya dia melihat ruang tengahnya seperti kapal pecah.
Hendrawan terkejut, saat marah Luna bisa sampai begini. Berbeda dengan Rachel yang nyaris tidak pernah marah. Astaga, kenapa dia jadi membandingkan Luna dan Rachel.
"Mas," Dilara panik melihat Hendrawan sudah pulang, sementara ruang tengah masih berantakan. Dilara berniat ingin membersihkan ruang tengah ini sebelum Hendrawan pulang, tapi terlambat Hendarawan pulang lebih awal.
"Mas, jangan marah," Dilada mendekat dan mengusap dada Hendrawan, berharap bisa menenangkan Hendrawan.
"Luna sedang kalut dan membutuhkan pelampiasan kesedihannya, maaf kalau Luna memecahkan barang-barang kamu . Tolong jangan marah!."
"Tidak sayang. Aku mana bisa marah sama Putri kita. Aku justru khawatir apa yang terjadi dengan Putri kita. Barang-barang ini gampang lah tinggal beli .
Hendrawan mendekat pada Luna yang hendak melempar vas bunga lagi. Dengan lembut dia menggenggam tangan putrinya .
"Papa hiks."
"Kenapa? ada apa?."
Hendrawan menarik Luna dalam pelukan.
"Farel, Pa. Hiks."
"Farel Kenapa lagi? Dia ngapain kamu?"
"Farel mutusin aku."
Hendrawan mendengus, lalu mengajak Luna duduk di sofa. Luna pun enggan melepas pelukan dan menyembunyikan wajahnya di dada Papanya. Dilara duduk di samping putrinya dan mengusap rambutnya dengan lembut.
"Ya udah kalau putus ya putus aja sayang."
Luna manggeleng, "Tapi aku cinta sama Farel Mah."
"Apa sih Hebatnya Farel sampai kamu cinta ini? Masih banyak laki-laki di luar sana yang lebih baik daripada Farel. Kamu nggak perlu membuang-buang waktu dan tenaga kamu buat bareng. Papa punya banyak teman, nanti Papa kenalkan kamu dengan anak teman-teman Papa. Kamu lihat Rachel sama Brandon, mereka baru beberapa hari kenal tapi Brandon juga sudah sangat mencintai Rachel. Bahkan kemarin Papa sampai berantem sama dia gara-gara Brandon terus membela Rachel. Papa yakin kamu bisa bertemu dengan laki-laki yang berkali lipat lebih baik daripada Farel."
"Tapi masalahnya aku sangat mencintai Farel Pa. Selain itu aku juga sudah mengumumkan aku dan Farel pacaran. Apa kata orang kalau tiba-tiba aku putus bahkan belum genap satu minggu. Orang akan mencari-cari kesalahanku dan ujung-ujungnya mereka pasti akan tahu Farel putusin aku gara-gara Aku anak di luar nikah. Akibatnya karirku akan hancur, Pa."
"Itu nggak akan terjadi. Jangan khawatir!."
Hendrawan mengusap punggung putrinya untuk menenangkan. Begitu juga Dilara yang ikut mengusap rambut putrinya.
"Ya sudah nanti papa bicara sama Farel dan meminta agar kalian jangan putus."
"Jangan nanti Farel ilfil sama aku pa."
Luna pun melepas pelukan dan menatap Hendrawan penuh peringatan.
"Hubunganku dan Farel sangat rumit Pa aku takut kalau papa ikut campur Farel semakin tidak suka sama aku, aku akan memberi Farel waktu 1 bulan untuk mempertimbangkan hubungan kami. Jika Farel tetap menolak dan ingin putus, aku menyetujui nya, jadi aku akan coba nanti membujuk dia lagi."
Hendrawan berdecak. "Ya sudah kalau hal itu yang kamu inginkan. Tapi ingat kalau Farel memang tetap ingin putus ya sudah putus saja. Pokok nya Papa gak suka Putri Papa merendahkan harga dirinya di depan laki-laki."
Luna tersenyum, "Iya Pa. Terima kasih Luna sayang papa."
"Papa juga sayang Luna."
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu ya.
Makan malam terus nanti kita makan malam bersama," ucap Dilara
__ADS_1
"Iya Mah."
Luna pamit masuk ke dalam kamar.
Sebelum mandi, seperti biasa Luna rebahan dulu sambil mengecek ponsel. Hal yang pertama yang Luna tuju langsung IG.
IGS yang terbaru adalah dari IGS Rachel. Tumben biasanya Rachel jarang membuat Story.
"Pasti dia buat status galau yang ujung-ujungnya jelekin aku dan sama mama."
Luna berdecil lalu mengklik IGS Rachel dan ternyata,
Rachel mengupload jari kelingkingnya bertaut dengan jari kelingking yang berukuran lebih besar mirip cowok dengan caption.
MyBigBoy @BrandonStanly.
Luna mengklik profil Brandan. Luna pernah memfollow Brandon, tapi karena nggak di follow balik Luna unfollow saja.
Luna mengklik IGS Brandon dan ternyata Brandon juga mengupload foto. Foto bayang-bayang mereka dengan posisi Rachel menyandarkan kepala di bahu Brandan dengan caption :
She's mine@Racheeelll.
"Iihhh," Luna melempar ponselnya ke kasur.
"Kenapa sih hidup Rachel beruntung terus. Sejak kecil sampai dewasa tinggal sama papa, lalu saat Papa kembali padaku, Rachel pacaran sama cowok sebaik dan sekarang Brandon. Sedangkan pacarku, Farel mana pernah seperhatian ini hiks."
Air mata Luna yang sempat kering, kini mengalir lagi.
"Kenapa Tuhan nggak adil. Kenapa hidupku terus menderita. Aku juga ingin bahagia. Aku mau punya pacar yang perhatian sama Brandon."
Luna menatap langit-langit kamarnya dengan sorot mata sendu.
"Nggak, aku nggak boleh putus sama Farel. Nanti aku jomblo, sedangkan Rachel punya pacar."
"Aku mau upload juga ah sama Farel."
Luna mencari fotonya bersama Farel. Karena belakangan ini mereka jarang bersama mereka tidak punya foto berdua, Luna mengupload foto mereka beberapa bulan yang lalu.
"Eh nggak usah deh, nanti aku upload, tapi Farel nggak ikutan upload, jadi kesannya bertepuk sebelah tangan."
"Huft, nyebelin. Aku mau ngilang aja biar Farel nggak bisa putusin aku."
***
Satu minggu kemudian,
"Morning, Ma. Huammmph." Rachel menguap sambil berjalan mendekati Mama nya yang sedang menyiapkan sarapan.
"Morning, Sayang. Tuh morning gitu dari Ayang kamu."
Rachel tersenyum dan membuka kotak kecil di meja makan. Terhitung sekitar satu minggu mereka jadian dan setiap pagi Brandon pasti mengirim sesuatu untuknya. Barang-barang kecil seperti jepit rambut, gelang, sticky note yang lucu-lucu, sandal dan lain-lain.
Pagi ini Brandon mengirim bando.
"Mama liat!." Ra hel memakai bando itu dan menunjukkan pada Mama nya.
"Cantiknya anak mama. Sana bilang makasih sama Ayang."
"Ih mamah jangan Ayang-ayang terus dong. Aku sama Brandon nggak panggil-panggilan gitu."
Ayuma tertawa, "Ya ga papa, biar gemes gitu."
Rachel selfie dan mengirim pada Brandon.
Brandon : Cantik.
Rachel : Makasih, aku suka bando nya. Kalau setiap pagi kamu kirim kan aku barang-barang gini bisa-bisa rumahku penuh printilan, hahaha. Mau buka olshop terus aku jualin.
Brandon : Nanti aku yang beli.
Rachel : Terus kamu kasih ke aku. Aku jual lagi, terus kamu beli lagi. Gitu aja terus sampai kakek nenek.
Rachel senyum-senyum sendiri sambil chatingan dengan Brandon. Dulu dia sering memberikan hadiah kecil untuk Farel, tapi sekarang giliran dia yang di berikan hadiah dari seseorang. Rasanya menyenangkan. Rachel juga ingin memberikan hadiah kecil untuk Brandon. Tapi Brandon bilang tidak perlu, cukup dia saja.
"Sayang, kamu sarapan di rumah sendiri ya
Mama ada rapat pagi inu terus nanti siang mama mau ketemu Edgar untuk mengurus berkas-berkas.
Mama ngga sarapan dulu?."
"Mama sarapan di kantor aja sama karyawan mama nanti.
ya udah mama jangan sampai kecapean.
"Iya Sayang Love you.
Ayuma mencium pipi putrinya dan bergegas keluar dari rumah.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...