Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 61


__ADS_3

[khusus 18+]


Tok ... tok...


"Iya sebentar."


Dilara yang sedang berbaring di ranjang kamar bergegas untuk membukakan pintu. Sejak kejadian waktu itu yang tiba-tiba Ayuma datang ke rumah tanpa memberi kabar, sebelum membukakan pintu dulu memastikan siapa yang datang.


"Mas Hendrawan."


Ternyata yang datang Hendrawan. Dilara secara spontan merapikan rambut dan dressnya. Dilara tidak bermaksud terlihat cantik di depan Hendrawan. Hanya saja berpenampilan rapi pasti lebih enak di pandang. Iya, Dilara hanya ingin terlihat rapi bukan rapih demi Hendrawan.


Setelah menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, tak lupa mengatur detak jantungnya yang menggila, Dilara membuka pintu. Padahal mereka cukup sering bertemu dan inu juga bukan pertemuan pertama mereka tapi detak jantung Dilara selalu berdebar kencang setiap bertemu Hendrawan.


"Mas Hendrawan."


"Selamat sore, Sayang."


Hendrawan tersenyum dan mengulurkan sebuket bunga mawar untuk Dilara Sudah menjadi kebiasaan nya setiap datang ke sibu selalu membawa sesuatu entah bunga mawar, makanan, atau barang-barang mahal untuk kekasihnya.


"Berapa kali sih aku bilang kalau ke sini ngga usah bawa bunga-bunga kayak gitu. Sayang kan uangnya, toh besok nya bunga mawarnya layu."


"Kalau ini nggak akan layu kan." tiba-tiba Hendrawan mengeluarkan kotak beludru dari saku jas dan membukakan kotak itu tepat di depan mereka.


"Ya ampun, Mas. Kamu ini..." Dilara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala entah ke berapa kalinya. Di kamar, perhiasan Dilara menunpuk saking banyaknya Hendrawan membelikannya hadiah.


"Eits, tunggu sebelum mengomel, izinkan aku masuk. Omeli aku di dalam rumah saja sambil memijatku. Aku lelah sekali hari ini."


Dilara tersenyum, "Ya udah Ayo masuk."


Dilara pun mempersilahkan Hendrawan duduk di ruang tamu."


"Aku ambil minum dulu ya Mas."


Namun Hendrawan menahan pergelangan tangannya.


"Nggak usah kamu di sini saja. Aku datang ke rumah mu bukan untuk minum tapi untuk menemuimu."


"Iya alu tahu. Sebentar aku buatkan minuman."


Hendrawan menganguk dan dengan berat hati melepaskan genggaman tangannya. Sambil menunggu kedatangan pujaan hati nya Hendrawan melepas jas kerjanya dan meletakkan nya di pinggir sofa.


Tak lama Dilara datang membawa secangkir minuman yang lebih cocok di sebut jamu karena bahan-bahan nya terbuat dari rempah-rempah. Sejak dulu zaman kuliah Dilara suka meracik minuman-minuman herbal seperti ini. Memang terbukti ampuh setelah minum minuman herbal seperti ini tubuh terasa lebih segar.


"Ini bagus untuk kesehatan, Mas."


"Ck, kamu ini..."


Dilara tersenyum dan menyodorkan pada Hendrawan . Hendrawan mau tak mau meminumnya tapi hanya sampai setengah.

__ADS_1


"Habiskan dong."


"Nanti saja."


"Oh yah kebetulan aku meracik cukup banyak Bawakan sekalian untuk Ayuma dan Rachel apalagi sekarang sedang musim pancaroba. Minum jamu seperti ini bagus untuk kesehatan, saat sedang hujan juga bisa untuk menghangatkan tubuh."


Hendrawan tersenyum sembari menatap lekat Dilara.


"Padahal Ayuma perusak hubungan kita. Dia adalah penyebab utama perpisahan kita tapi kamu masih tetap baik pada Ayuma dan Rachel. Entah terbuat dari apa hati kamu Dilara. Aku adalah laki-laki yang paling beruntung di dunia ini karena bisa memiliki hati kamu."


"Gombal banget sih, Mas. Ya udah sini mana tadi yang pegel aku pijitin, tapi setelah itu pulang yah. Kamu ini bandel sekali. Padahal aku sudah bilang sama kamu jangan sering datang ke sini tapi kamu masih ngenyel. Kalau tiba-tiba ada yang lihat datang ke sini bagaimana?."


"Aku sangat merindukan kamu, Dilara."


Hendrawan meraih tangan Dilara, menggenggam erat dan mempertemukan mata mereka dalam satu garis lurus.


"Sampai kapan kita sembunyi-sembunyi seperti ini? kapan kamu akan menerima ku? Aku tahu kamu masih sangat mencintaiku Dilara!."


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menerima kamu, Mas Hendrawan. Hubungan kita sudah menjadi masa lalu dan sekarang masa depan kamu adalah Ayuma."


"Aku tidak mencintai Ayuma. Hanya kamu yang aku cintai. Sebenarnya apa yang kamu takutkan sampai kamu terus menolakku seperti ini? Kamu takut sama Papa? Takut Papa menyuruh kamu pergi lagi? Kamu juga belum menceritakan masa lalu sampai kamu meninggalkan ku. Jujurlah dan kita lewati sama-sama. Kita sudah terlalu menderita berpisah seperti ini Dilara. Aku tahu kamu juga tersiksa."


Dilara menggigit bibir bawah dalam kebimbangan. Ada banyak hal yang dia takutkan sekarang, salah satunya adalah Papa nya Hendrawan. Dilara takut beliau mencoba membunuhnya dan Luna seperti dulu.


Tapi sekarang mungkin situasi sudah berbeda Hendrawan sudah cukup kuat dan mampu melawan Papa nya.


Apa mungkin ini sudah saatnya mereka bersatu?.


Hendrawan menyentuh bawah bibir Dilara, seketika membuat Dilara berdesir. Sentuhan Hendrawan sejak dulu sampai sekarang tidak pernah gagal membuatnya gugup.


"Lebih baik di cium aja biar ngga sakit." Hendrawan mencuri kecupan di bibir Dilara.


"Mas." Dilara melotot.


Hendrawan tersenyum dan mencium bibirnya lagi. Kali ini Dilara tidak menolak dan matanya sayu. Hendrawan tak kuasa menahan diri dan menempelkan bibir di bibir Dilara lagi. Lima detik menempel lalu perlahan ******* ringan tak ada penolakan, Hendrawan pun memperdalam ciuman.


Menggunakan keahlian kissing untuk memancing Dilara membalas ciumannya. Lalu perlahan demi perlahan Dilara mulai membalas ******* dan membuka mulut sehingga Hendrawan bisa masuk dan bermain-main dengan lidahnya.


"Ouh, Sayang." Hendrawan membayangkan Dilara di sofa dan menindihnya tanpa melepas tautan di bibir.


"Mas Hendrawan."


"Iya Sayang."


Bibir Hendrawan turun ke bawah dan memberi hisapan di leher Dilara. Dilara mendongak tak kuasa menahan desiran-desiran yang menjalar di sekujur tubuh. Satu tangannya memcengkram bantal sementara satu tangannya mencengkram rambut Hendrawan.


Di sofa ruang tamu itu pergulatan mereka semakin panas dan liar.


Dan tanoa mereka sadari ada seseorang yang memantau mereka melalui kamera yang ada di bawah meja.

__ADS_1


Ayuma...


Dari kantornya, sejak tadi Ayuma menyaksikan semuanya.


"Aku seperti melihat live porn," Ayuma tertawa, tawa di iringi dengan air mata.


Setiap tetesnya menggambarkan luka, kesedihan, kemarahan, dan sakitnya sebagai seorang istri yang terkhianati. Ayuma melihat semuanya mulai dari kedatangan Hendrawan ke rumah itu, sambutan hangat Dilara, hingga berakhir saling menindih di sofa seperti sekarang.


Ayuma tidak mau menutup mata dan membela suaminya karena di sini terlihat jelas Hendrawan berusaha menggoda Dilara terlebih dahulu. Terus memancing dan pada akhirnya sama saja, Dilara menerima baik rayuan Hendrawan.


"Mas Hendrawan, ah, sudah, Mas."


Ayuma menggigit kukunya sambil terus memandang ke arah layar laptop, darahnya mendidih dan kepalanya terasa ingin meledak saat Hendrawan menurunkan baju lengan Dilara dan mulutnya meraup dada Dilara yang berukuran cukup besar.


"*Kamu manis sekali, Sayang."


"Udah, Mas. Oh... Mas geli. A-aku tidak pernah merasakan ini."


"Sebentar lagi kamuakan merasakan lebih. Aku akan membawa mu menari-nari di atas awan*."


Hendrawan menjeda raupan mulutnya di dada Dilara, lalu memandang nya dengan tatapan penuh damba. Dilara tersenyum dengan pipi nya merona merah.


"*Cantik sekali. Kami perempuan yang paling cantik di dunia ini. Berkali-kali lebih cantik daripada Ayuma."


"Gombal banget sih*."


Hendrawan tersenyum dan mencium lagi bibir kekasihnya.


"*Kita pindah ke kamar. Lebih luas dan bebas."


"Mas Ya ampun*."


Ayuma mencengkram kuat bolpoin di tangannya. Pandangan matanya masih tertuju pada laptop yang sekarang menunjukkan sofa putih. Sudah tidak ada Hendrawan dan Dilara tapi pandangan matanya masih terfokus ke sana.


Selanjutnya apa yang terjadi?.


Ayuma bertanya-tanya...


Apa mereka akan saling membuka baju, saling mencumbu, saling menindih, kemudian penyatuan dan mencapai puncak kenikmatan bersama? Puncak kenikmatan yang selama ini mungkin tidak pernah Hendrawan raih saat bercinta dengannya.


"ARGGGH." Ayuma mengobrak-abrik meja kerjanya hingga semua barang-barang yang ada di atas meja terlepas ke sisi kanan kiri meja.


"Kenapa aku harus jatuh cinta dengan laki-laki brengsek seperti kamu, Mas. Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini. Apa kurangku sebagai Istri kamu?."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2