Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 149


__ADS_3

Edgar ikut berjongkok di samping Farel dan menciptakan air ke wajah. Air itu Edgar dapatkan dari salah satu turis yahg berbaik hati memberikan air padanya.


"Lo jangan mati dulu dong Rel. Lo baru ketemu calon istri lo, lo nggak mau peluk sama cium dia dulu?."


Rendy menoleh pada Rachel, "Nih calon suami lo hampir meninggal. Lo nggak mau ngasih dia napas buatan?."


"Eh calon suami?."


Rendy mengerutkan dahi, tampak berpikir keras sambil menatap lekat Rachel.


"Lo beneran nggak tau siapa gue?." Rendy mencoba mengetes.


Rachel menggeleng.


"Sumpah lo keterlaluan banget, Yang. Selama 5 tahun. LIMA TAHUN, gue cari lo ke mana-mana dari Sabang sampai Merauke, dari Samudra Hindia sampai Samudra Pasifik, bahkan sampai ke Pluto gue cari lo dan lo nggak ingat gue? perih Ayang sakit hati aku."


Pletak....


Edgar tak tahan untuk tidak menjitak kepala Rendy. Bukannya membantu menyadarkan Farel malah heboh sendiri dengan Rachel.


"Rachel amnesia. Jangan tanya penjelasan. Nanti saja. Sekarang urus dulu teman kamu ini."


"Oh amnesia, syukur deh kalau gitu. Ya udah Om sadarin Farel. Saya mau berduaan sama Yayang."


Rendy berdiri dan memeluk Rachel lagi. Demi apapun Edgar ingin menggali tanah dan mengubur bocah kurang ajar ini hidup-hidup.


"Lepasin."


Rendy memeluk Rachel dari belakang. Rachel yang sudah terlanjur jengkel menyikut perut Rendy.


"Aaarrgg," Rendy memegang perut nya sambil meringis. "Nggap pas sadar, nggak hilang ingatan, setiap gue meluk lo, lo pasti sikat gue. Sakit, Yayang."


"Maaf, refleks," Rachel berjongkok di samping Farel, di tempat Rendy tadi. Pandangannya tertuju pada laki-laki bernama Farel yang masih pingsan.


Rachel perlahan mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Farel. Entah mengapa tangannya seperti bergerak sendiri untuk menyentuhnya Tanpa tahu sebab nya jantungnya juga berdebar kencang.

__ADS_1


Akhirnya setelah beberapa saat, setelah mencipratkan air, memanggil-manggil nama, sambil menggoyangkan tubuhnya dan membawakan minyak kayu putih, Farel sadar juga.


"Rachel," Farel langsung terduduk dan mengendarkan pandangan. Mencari sosok perempuan yang selama 5 tahun ini dia tunggu kepulangannya Farel terlalu syok sampai pingsan.


"Rachel," Begitu menoleh ke samping dan menemukan gadis yang dia cari, Farel langsung memeluknya. Pelukan kuat sampai Rachel tertarik ke arah Farel dan nyaris duduk di pangkuannya.


Anehnya, tubuh Rachel seperti membeku, tidak mampu melawan atau memberontak seperti yang di lakukan pada cowok satunya tadi.


"Bisa gepeng putri saya kamu peluk gitu," Edgar menarik tangan Farel berhasil melepas pelukan Farel pada putrinya yang tampak sangat erat.


"Rekam ah, ntar pas tua gue liatin baik cekikikan, "Rendy ingin mengabadikan momen mereka dengan..."Eh kamera gue mana?." Rendy langsung ke sana ke mari mencari kameranya. "Untung nggak hilang."


Setelah menemukan kamerabya Rendy lanjut merekam mereka.


"Rachel, ya Tuhan." Farel melepas pelukan dan menangkup pipi Rachel. Rachel menyentuh lengan Farel ingin mendorongnya. Namun saat melihat sorot mata Farel yang terlihat khawatir, gelisah dan ketakutan membuat Rachel mengurungkan niat mendorong Farel.


Mata mereka saling berpandangan, lekat.


"Rachelku," Farel mendekap tubuh Rachel dalam pelukan, menyembunyikan air mata nya di rambut Rachel yang terurai. Farel tidak ingin menangisdan terlihat cengeng tapi pertemuan yang begitu dia dambakan sangat mengharukan.


"Farel!." Edgar terus berusaha melepaskan pelukan Farel, sementara Rendy cengar-cengir merekam momen mereka.


Farel tidak protes menjeda pelukan mereka, tapi tak mengalihkan tetapan sedikitpun dari wajah Rachel. Ditatap intens begitu membuat Rachel jadi agak gugup, ah bukan hanya sekarang sejak tadi dia memang sudah sangat gugup.


"Qila," Edgar mencengkram lembut lengan Rachel, membantunya berdiri. Farel juga ikut berdiri dan langsung menggenggam lengan Rachel. Wajahnya tampak waspada. Ketakutan san kegelisahan masih menyelumbungi hatinya.


Meskipun dia sudah bertemu dengan Rachel Farel masih takut tiba-tiba Rachel pergi kalau dia tidak fokus Sedetik Saja


Rachel terasa agak sakit saat tangannya di remas begitu kuat. Tapi tak tega juga menarik tangannya. Wajah laki-laki tampak memelas dan nelangsa.


"Aduh kamu ini!." Edgar menepuk kesal tangab Farel dari tangan putrinya.


Rendy terkekeh dan berhenti merekam lalu mengalungkan kamera di leher agar tidak jatuh lagi.


"Sabar Om. Si bucin ini udah gak ketemu selama 5 tahun. Wajar dia kayak gini. Sekarang saya punya banyak pertanyaan buat Om. Om tadi bilang Yayang amnesia, itu gimana ceritanya? Terus kenapa Yayang panggil Om dengan panggilan papa? ini maksudnya papa panggilan sebagai Ayahnya Rachel? atau papa sebagai panggilan suami istri?."

__ADS_1


Farel melotot dan langsung menarik Rachel ke sisinya saat Rendy menyebut Edgar dan Rachel kemungkinan suami istri.


Rachel yang terkejut refleks memberontak dan mencoba melepaskan diri dari Farel. Tapi Farel justru mengeratkan rangkulan di pinggangnya. Farel menatap Edgar dengan tatapan penuh tanda tanya dan menyelidik.


Edgar memejamkan mata sejenak menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan maut di wajah Farel dan Rendy bersamaan. Setelah mereka berdua melakukan kehebohan yang membuat semua orang menatap aneh ke arahnya sekarang mereka menatapnya seolah Edgar penjahat?.


Tapi percuma juga mengusir mereka. Mereka tidak akan mau pergi, apalagi Farel terlihat sangat posesif pada putrinya.


Sekarang yang menjadi pertanyaan Edgar. Bagaimana Farel dan Rendy menemukannya? Edgar sudah mengganti identitas mereka. Anthony, Sarah dan Matthew memberitahu mereka?.


Iya dari sekian banyak orang hanya tiga orang itu yang Edgar beritahu keberadaan Rachel dan Ayuma. Mereka pengertian dan tidak memaksa nya membawa Ayuma dan Rachel pulang. Anthony dan Sarah bilang mereka akan tetap menunggu sampai Ayuma memutuskan sendiri tanpa ada paksaan.


"Om," panggil Farel karena sejak tadi Edgar hanya diam, "Kami butuh penjelasan."


"Papa Edgar papaku," ucap Rachel sambil menatap Farel di sampingnya, Farel menoleh hingga pandangan mereka saling bertemu, "Bu-bukan suamiku."


'Dan sepertinya Rachel juga enggan berpisah dengan si Farel ini.' Batin Edgar.


Pada akhirnya Edgar menghel nafas panjang dan menganguk ."Ikut saya pulang dan kita bicara di rumah saja."


Edgar mengulurkan tangan pada Rachel, ingin menggenggam tangannya, tapi Farel tiba-tiba sudah menggenggam tangan Rachel dan menggeser Rachel agar berdiri di sisi kirinya, sehingga jarak Rachel cukup jauh dari Edgar.


"Maaf, Om. Ini calon istri saya. Biar saya saja yang menggenggam tangannya."


"Calon suami! Belum jadi suami. Rachel masih jadi putri saya. Sudah seharusnya saya yang melindungi nya."


"Saya saja, Om." kekeh Farel, kali ini dengan suara yang lebih tegas dari tadi.


"Udah-udah, Yayang sama gue aja," Rendy menggenggam tangan Rachel dan mengajaknya berlari.


"Eh."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2