
"Kevin juga putra kandung Brandon. Dia juga lebih berhak atas hak asuh Kevin. Jangan lupa, Kevin bisa tumbuh seperti ini karena uang Brandon, uang kami. Kalau Brandon tidak membiayai hidup kamu dan hidup Kevin, Kevin tidak akan bisa tumbuh menjadi anak sepintar ini. Kamu cuma mengandung 9 bulan sisanya uang Brandin yang membesarkan Kevin."
Luna mencuci tangan untuk membersihkan sisa busa di tangan. Setelah mengeringkan tangan benar-benar bersih. Luna mendekat pada Amora, Luna ingin bicara lebih serius, hati ke hati sebagai sesama perempuan. Mungkin Amora akan mengerti perasaannya.
"Mama," Luna menyentuh tangan Amora tapi Amora langsung menangkisnya.
"Jangan sentuh saya. Saya alergi dengan sentuhan kamu. Kamu bukan menantu idaman saya. Menantu idaman saya itu seperti Agnesn gadis pintar, berpendidikan tinggi berasal dari keluarga baik-baik. Yang jelas tidak murahan seperti kamu."
Luna mengusap air mata nya di pipi.
"Mama, saya tahu saya tidak sesempurna Agnes. Saya tidak berpendidikan tinggi seperti Agnes, saya hanya lulusan SMA. Saya juga bukan dari golongan keluarga orang kaya. Ibu saya perempuan biasa dan saya tidak tahu di mana keberadaan Ayah saya. Tapi saya terus berusaha memperbaiki diri. saya berusaha semaksimal mungkin merawat dan membesarkan Kevin. Tolong jangan lakukan ini. Saya mohon, saya tidak bisa hidup tanpa Kevin."
Amora berdecih,
"Kamu pikir saya percaya. Oh jelas tidak! saya tidak akan percaya satupun ucapan kamu. Kamu tidak benar-benar tulus menyanyangi Kevin. Kamu menjadikan Kevin sebagai senjata untuk mengikat Brandon tetap berada di sisi kamu kan? kamu tidak ingin berpisah dengan Brandon, iya kan, Memangnya laki-laki mana lagi yang mau menerima perempuan seperti kamu kalau bukan putra saya? licik sekali kamu!."
Luna menggeleng, air mata nya terus berurai
"Saya tidak bohong, Ma. Saya tulus menyanyangi Kevin. Kevin putra kandung saya. Kevin yang membuat saya bertahan hidup sampai sekarang. Saya memang bukan menantu idaman Mama. Tapi saya akan terus berusaha menjadi Ibu yang baik untuk Kevin. Saya akan melakukan apapun untuk Kevin."
"Tapi kamu dengan pendidikan rendah dan latar belakang keluarga kamu yang tidak jelas itu tidak akan mampu merawat Kevin. Sudahlah saya tidak mau berdebat lagi. keputusan saya dan Mas Ardito tidak bisa di ganggu gugat. Kamu harus bercerai dengan Brandon dan hak asuh Kevin akan jatuh pad Brandon dan Agnes."
"Tidak saya tidak akan membiarkan siapapun mengambil Kevin dari saya."
Luna menghapus air matanya dan berlari meninggalkan dapur."
"Luna mau kemana kamu?. saya belum selesai berbicara. Dasar tidak punya sopan santun. Bagaimana bisa kamu meminta saya menyanyangi kamu kalau kamu tidak bisa menghormati saya. Benar-benar menantu kurang ajar dan tidak tahu di untung."
Luna sudah sampai di ruang tengah. Berhenti sesaat saat melihat Kevin sedang bermain dengan Ardito, Brandon dan Agnes. Agnes berusaha merebut perhatian Kevin dengan memberikan banyak mainan, tapi Kevin terlihat enggan dan mendorong-dorong Agnes yang berusaha memeluknya.
__ADS_1
"Kevin nggak mau. Kevin nggak suka dia. Jauh-jauh dari Kevin. Kevin nggak mau di peluk. Papa." Kevin merapatkan tubuhnya pada Brandon.
Brandon yang duduk lesehan di karet langsung mendekap putranya. Begitu juga Agnes duduk di samping Brandin sementara Ardito duduk di sofa.
"Kevin kamu nggak boleh gitu dong. Kamu harus baik sama Tante Agnes."
"Kevin, anak baik, anak ganteng. Sini sama Tante. Tante nggak gigit kok," Agnes tersenyum dan mencoba membujuk Kevin lagi. Dengan perlahan dan hati-hati Agnes mengusap lengan Kevin tapi Kevin menangkis tangannya.
"Nggak mau, jangan sentuh Kevin, Papa." Kevin mengadu pada Brandon. Tangan kecilnya melingkar di leher Brandon. "Kevin nggak mau dia, Papa. Suruh dia pergi. Suruh jangan pegang Kevin."
Brandon mengusap punggung putranya, lalu melirik pada Agnes yang tampak sedih.
"Sayang, kenalan Kevin nggak suka sama Tange Agnes, Tante cuma mau gendong Kevin."
"Nggak mau, pokoknya nggak suka," Kevhn mulai berkaca-kaca, "Kevin nggak suka di pegang. Nggak mau di peluk juga. Kevin mau mama. Kevin mau di peluk sama di gendong mama. Di mana mama? panggilin mama, papa."
"Mama di sini sayang."
"MAMA;" Kevin melepas pelukan pada Brandon dan berlari menghampiri Luna.
Luna agak menunduk, merentangkan tangan Kevin langsung menghamburkan diri ke dalam pelukannya. Luna menggendong Kevin dan mengusap rambutnya untuk menenangkan.
"Mama hiks, Opa sama papa paksa Kevin buat peluk perempuan itu. Kevin nggak suka. Tapi di paksa-paksa terus. Kevin mau pulang mama. Kevin takut. Kevin nggak mau di sini lagi."
"Ya udah iya, kita pulang sekarang."
Sambil mengusap rambut putranya, Luna menatap semua orang yang ada di ruang tamu.
"Saya permisi pulang. Selamat siang semuanya, Pa, Mas Brandon, Agnes."
__ADS_1
Luna langsung pergi beriringan dengan air mata nya yang jatuh. Namun buru-buru Luna menghapusnya agar Kevin tidak menyadari tangisannya. Tapi matanya yang sembab karena menangis di dapur tadi sudah membuat Kevin bertanya-tanya sejak tadi.
"Dasar menantu tidak punya sopan santun. Harusnya nunggu papa bilang iya baru dia boleh pulang. Kalau kamu pulang ya pulang saja sana. Kenapa harus bawa Kevin!." kesal Ardito. "Papa masih ingin bermain dengan Kevin, Brandon besok bawa Kevin ke sini lagi."
Brandon berdiri dan mengemasi badang-barang milik Luna dan Kevin yang tertinggal.
"Kamu mau kemana?." tanya Agnes menyentuh lengan Brandon.
"Tentu saja pulang. Aku harus mengantar anak dan istriku pulang."
"Brandon Sayang di sini dulu. Mumpung ada Agnes, ini mama bawakan cemilan," ucap Amora yang baru datang membawa nampan berisi cemilan.
"Nggak, Ma. Aku buru-buru. Aku pulang dulu, Ma, Pa, Agnes."
Tanpa menunggu jawaban mereka, Brandon menenteng tas dan bergegas mengejar istrinya. Ternyata Luna sudah keluar dari gerbang. Brandon segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil meninggalkan halaman rumah. Benar saja Luna berjalan di tepi jalan.
Brandon menghentikan mobil tepat di samping Luna.
"Papa, hiks kenapa papa biarin mama pergi sendiri," Kevin langsung menangis begitu melihat papa nya datang.
"Maafin papa, ayo masuk ke dalam mobil," Brandon menatap tak tega Luna. Apalagi melihat mata Luna yang sudah benar-benar sembab. Brandon tidak tahu apa yang mama nya dan Luna bicarakan sampai Luna menangis seperti ini.
"Luna, ayo masuk," Brandon menyentuh punggung Luna dan mengarahkan nya masuk ke dalam mobil, "Ayo, panas nanti kamu dan Kevin kepanasan."
"Mama," Kevin menatap wajah mama nya, "Ayo kita pulang naik mobil papa, kalau jalan kaki nanti mama capek."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...