Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 132


__ADS_3

"Lo percaya sama gue?."


Farel menganguk,


"Kenapa ?."


"Apanya yang kenapa? Semalam kita tidur bersama Eh maksudnya kita nggak sengaja tidur bersama dan bangun di ranjang yang sama, artinya semalaman lo ada sama gue."


Naif, terlalu percaya dan terlalu baik, itulah kesan yang Brandon dapatkan dari Farel sekarang. Harusnya di saat seperti ini Farel memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan nya sehingga dia bisa memiliki Rachel sepenuhnya. Tapi Farel tetap membelanya hanya dengan satu bukti dia percaya padahal bukti itu salah.


Ponsel Farel berdering.


Sebelum mengangkat telepon, Farel melihat jam di ponselnya. Ternyata sudah jam y sore. Waktu berlalu begitu cepat.


"Halo Mah?."


[Halo Farel. Maaf tadi Mama sama papa ada di sekolah adik-adik kamu acara anniversary sekolah, Mama juga baru ingat mama menonaktifkan ponsel Mama. Dari sekolahan Mama sama Ayah langsung ke rumah sakit naik taksi dan adik-adikmu pulang dengan sopir. Kami sudah sampai kok, tapi kata resepsionis Rachel di pindahkan, di pindahkan kemana?.]


Farel terhenyak,


"Dipindahkan? di pindahkan kemana?. aku juga ngga tahu Mah. Mamah udah coba hubungi Tante Ayuma?."


[Udah, tapi nomernya nggak aktif.]


Farel mulai panik, tapi mencoba untuk tenang.


"Ada apa?." tanya Brandon melihat wajah panik Farel.


Farel menoleh pada Brandon, tak mengatakan apapun. Dan fokus mendengarkan ucapan Sarah.


"Aku otw ke rumah sakit Pelita, Mah. Sekarang."


Farel mengakhiri panggilan, lalu memasukkan ponsel ke dalam dashboard mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Brandon sampai berpegangan pada sisi kaca mobil.


"Kenapa?."


"Kata mamah gue, Rachel dan Tante Ayuma hilang?."


"Hilang gimana?."


"Gue juga ngga tahu, Mama gue bilang mereka ngga ada di rumah sakit. Udah gue mau fokus nyetir biar cepat sampai ke rumah sakit."


Farel mencengkram kuat setir mobil sembari memfokuskan pandangan ke depan. Meskipun kepala nya terasa rumit. Kepala nya di penuhi 'Kenapa mereka pergi?'


'Rachel please, jangan kemana-mana tunggu aku.' Batin Farel.

__ADS_1


***


Setelah menemui Dokter untuk mengurus proses tes DNA antara dirinya dan Luna, Hendrawan keluar dari ruangan Dokter, berjalan di lorong rumah sakit dengan lunglai.


Ada banyak hal yang Hendrawan pikirkan sekarang tentang Dilara dan Luna. Tentang Ayuma dan Rachel.


Bagaimana jika Luna bukan putri kandungnya? Bagaimana kalau selama ini Dilara berbohong?.


Bagaimana jika Rachel tidak menganggap dirinya papa lagi.


Apa, Hendrawan akan menghabiskan sisa umurnya sendirian? sebatang kara?


"Aarrrgg." Hendrawan mengerang sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Ada apa Pak?." tanya seorang perawat yang kebetulan lewat dan melihat Hendrawan kesakitan.


"Saya tidak apa-apa, hanya pusing."


Perawat itu menganguk dan meninggalkan Hendrawan.


Hendrawan kembali melangkah, kakinya bergerak menuju ke resepsionis untuk menanyakan ruangan setelah operasi tadi.


Namun dia justru di kejutkan dengan keberadaan Anthony dan Sarah.


"Kalian, apa yang kalian lakukan di sini?."


"Kami datang untuk menjenguk Rachel, tapi resepsionis rumah sakit mengatakan Ayuma sudah memindahkan Rachel." jelas Sarah.


"Dipindahkan bagaimana?."


Hendrawan menghampiri resepsionis.


"Apa benar Rachel Aqella Tanoepramudya dengan wali Ayuma di pindahkan?."


"Sekitar 20 menit yang lalu, Bu Ayuma membawa pasien bernama Rachel keluar dari rumah sakit. Tapi beliau tidak mengatakan kemana beliau akan memindahkan Rachel."


"Tapi seharusnya kamu menahan Ayuma karena kondisi Rachel darurat, sangat riskan memindahkan pasien dalam kondisi seperti itu."


"Maaf Pak, sekali lagi itu bukan urusan kami. Keluarga pasien sudah menyelesaikan seluruh administrasi dan tidak ada tanggungan lagi di rumah sakit ini sehingga kami tidak ada hak untuk melarang Bu Ayuma membawa putrinya pergi."


"Terus sekarang di mana keberadaan mereka? saya ingin tahu."


"Kami sudah mengatakan tadi, Pak. Itu bukan urusan kami lagi. Maaf tolong permisi, di belakang Bapak ada yang mengantri juga. kalau Bapak masih bersikeras seperti ini, saya akan memanggil satpam. Tolong jaga ketertiban dan kenyamanan di rumah sakit ini."


Hendrawan baru saja ingin protes tapi Anthony lebih dulu mencengkram lengannya dan menariknya menjauh.

__ADS_1


"Punya telinga berfungsi dengan benar kan? Resepsionis bilang Ayuma sudah membawa Rachel pergi. Ya keberadaan mereka bukan lagi tanggung jawab rumah sakit lagi."


"Terus sekarang dimana keberadaan mereka?." Hendrawan mengacak rambutnya dengan frustasi.


"Saya tidak tahu, kalau pun saya tahu keberadaan mereka, saya tidak akan memberitahu kamu."


Hendrawan memicingkan mata pada Anthony.


"Mas sudah," Sarah mendekat dan mengusap lengan Anthony, "Kita pulang saja, nanti kita cari tahu lagi keberadaan mereka."


Sarah menarik Anthony pergi. Namun Dilara yang sejak tadi mencari keberadaan Hendrawan mendekati mereka, bersamaan dengan kedatangan Brandon dan Farel.


Pandangan Dilara langsung teralih pada Farel.


"Farel," Dilara menggenggam tangan Farel. "Tolong Luna! kondisi Luna sangat lemah. Dia baru saja sadar tapi histeris lagi dan akhirnya pingsan lagi. Luna selalu mengatakan dia tidak ingin hidup. Dia merasa hidupnya sangat hancur. Tolong bantu saya, Farel. Saya mohon, tolong selamatkan putri saya."


Dilara tak kuasa menahan tangis.


"Maaf," Sarah melepas genggaman tangan Dilara dari lengan putranya. Lalu berdiri di depan Farel, berhadapan langsung dengan Dilara. Tubuh Sarah tampak mungil di depan tubuh tinggi putranya.


"Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi kenapa kamu meminta Farel menyelamatkan Luna. Seharusnya kamu mendatangi Dokter."


Dilara menyeka air mata nya, "Cerita nya rumit, saya akan menjelaskan nya nanti, tapi saya membutuhkan Farel untuk Luna sekarang. Ayo Farel! ikut Tante. Tolong putri saya, saya tidak mau kehilangan putri saya. Luna terus mencoba bunuh diri."


Brandon terdiam dengan pikiran gelisah. Bukan kondisi fisik Luna, batin nya juga ikut terluka. Perasaan Brandon jadi tak menentu sekarang. Di satu sisi dia ingin berada di samping Rachel di sisi lain dia juga tidak tega dengan Luna. Tapi jika mengaku, hidupnya akan ikut hancur. Cinta nya, karirnya akan lenyap seketika.


"Farel, tolong!."


Dilara berusaha menarik tangan Farel, Farel baru saja ingin protes tapi Sarah lebih dulu menangkis lengan Dilara.


Sementara Anthony cukup memantau, dia percaya istrinya mampu mengatasi perempuan ini. Dalam hati Anthony merasa bangga dengan istrinya yang selalu melindungi Farel. Dari Farel kecil hingga dewasa begini, kasih sayang Sarah tidak pernah berubah walaupun Farel tidak keluar dari rahimnya.


"Sarah tolong!." Dilara terlihat sangat frustasi dan meraup wajahnya kasar, "Sebentar saja, saya ingin membawa Farel ke ruangan Luna."


"Jelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi. Bukan saya tidak memiliki empati, saya hanya tidak ingi siapapun memanfaatkan putra saya."


"Saya tidak memanfaatkan Farel, saya hanya ingin meminta Farel bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Saya-"


"Dilara cukup!."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2