Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 139


__ADS_3

Massion Hendrawan, pukul 21.00


"Mas, udah aku kedinginan." Dilara menatap Hendrawan dengan sorot mata permohonan. Wajahnya sudah pucat dan tubuhnya menggigil sejak tadi. Entah sudah berapa jam, Hendrawan merendam nya di kolam renang. Kedua tangannya di ikat di alat pemberat yang di letakkan di pinggir kolam renang. Sementara tubuhnya tenggelam hanya sebatas dada.


Para pembantu yang melihat juga tak tega tapi juga tak berani menegur.


Hendrawan tak menanggapi, justru menghisap dalam-dalam rokok nya perlahan. Dari posisi duduk nya di tepi kolam renang Hendrawan menatap Dilara.


Mas udah. Cukup, tolong berhenti!." lirih Dilara dengan suara lemah, bahkan nyaris tak terdengar lagi. "Aku benar-benar tidak tau Luna bukan putri kandung kamu, Mas. Aku benar-benar tidak tau."


"Setelah semua yang kamu lakukan kamu berharap aku mempercayai kamu lagi. Aku tidak akan pernah percaya lagi, Dilara! seharusnya sejak dulu Aku mempercayai omongan papa. Seharusnya saat papa mengatakan bisa jadi Luna bukan putri kandungku, aku langsung tes DNA. Seharusnya juga saat mengatakan sudah memberimu yang satu koper, aku percaya. Tapi justru aku menuduh papa berbohong dan menuduh papa mengancam akan membunuh kamu."


"Aku tidak bohong, Mas. Aku benar-benar tidak menerima uang satu koper, Sekretaris papa benar-benar mengancam akan membunuhku. Jika aku tidak segera pergi."


"AKU TIDAK PERCAYA,"


Hendrawan mengepalkan tangan kuat dengan sorot mata memerah marah.


"Aku tidak berbohong, aku tidak bohong sama kamu. Tolong percaya."


Dilara merasa tubuhnya sangat lemah sekarang, di tambah semilir angin malam membuat tubuhnya semakin kedinginan. Dilara benar-benar tak berdaya bahkan untuk bergerak dan memberontak pun sudah tidak mampu. Tubuhnya seolah mati rasa.


Dilara tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Hendrawan. Dilara benar-benar tidak berbohong soal Luna dan soal uang itu.


"Mas tolong aku, aku kedinginan. Aku tidak sanggup lagi."


Namun Hendrawan menulikan telinga dan menyandarkan punggung di kursi dan mendongakkan kepala menatap langit malam. Malam ini langit sangat cerah, berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang kelabu.


"Ayuma, Rachel." gumam Hendrawan masih dengan mata tertuju pada langit.


Sampai detik ini Hendrawan belum tahu keberadaan mereka. Namun yang pasti mereka berada di bawah langit yang sama dengannya. Apa sekarang mereka juga sedang memandang langit dan menatap bintang-bintang?.


Dulu inilah yang Hendrawan inginkan, Ayuma dan Rachel pergi dari hidupnya. Tapi sekarang setelah mereka benar-benar pergi, Hendrawan justru merasa begitu kehilangan, rasa sesal, benci, marah menggerogoti jiwanya sampai Hendrawan tidak bisa merasakan apa-apa sampai selain...


Kosong, Hendrawan merasa hampa.

__ADS_1


"Mas Hendrawan, tolong aku, keluarkan aku dari sini. Kenapa kamu setega ini padaku, Mas. Kamu yang meminta aku untuk datang ke rumah ini, kamu yang mengatakan mencintaiku dengan tulus, dan berjanji akan melindungi aku dalam keadaan apapun. Tapi sekarang justru kamu memperlakukan aku seperti ini?."


Hendrawan abai, fokusnya tak teralih dari langit malam. Dilara menangis melihat sikap Hendrawan yang sedingin ini.


"Mas tolong aku, tolong!."


"Mas tolong jawab pertanyaanku, Apa kamu pernah mencintaiku dengan tulus?."


Hendrawan menegakkan badan dan menatap Dilara.


"Mencintai kamu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Aku berharap tidak pernah bertemu dengan kamu Dilara."


Hendrawan berdiri, membuang putung rokok di dekat kakinya dan menginjaknya. Tak terhitung berapa banyak air matanya mengalir, hidup Dilara sudah sulit sejak dulu, tapi air mata nya tak sebanyak dia bertemu dengan Hendrawan. Rasanya seperti menangis setiap hari setelah kembali pada Hendrawan.


Dingin, dia sangat kedinginan sekarang.


"Apa aku akan menyusul Ibu Bapak sekarang?." Dilara tersenyum getir.


Tak kuat menahan pusing dan dingin, Dilara memejamkan mata lagi.


Perlahan kesadaran Dilara terenggut dan matanya terpejam rapat.


***


Sesampainya di rumah Hendrawan, Sebastian langsung mematikan mesin mobil. Sesuai dengan janji pada papa nya, malam ini Sebastian datang ke rumah Hendrawan, mengecek kondisi adik bandel nya itu. Sebenarnya Sebastian berniat datang tadi siang tapi karena ada pekerjaan penting di kantor, mau tidak mau menunda kedatangannya ke sini.


"Selamat malam, Pak Sebastian." ucap Pak Satpam.


"Malam, apa Hendrawan ada di rumah?."


"Ada, Pak. Beliau sedang anu... sedang itu sama Nyonya Dilara."


Sebastian menyipitkan mata, "Anu apa? Zina, Ck anak itu benar-benar, seharusnya kalau mau gituan di sah kan dulu. Bukan nya numpuk dosa terus." Omel Sebastian, gemas dengan tingkah adiknya.


"Ya sudah saya langsung masuk aja atau apa sekalian saya panggil warga biar digrebek." canda Sebastian.

__ADS_1


Pak Satpam melotot terkejut, "Eh Pak bukan Zina, saya tidak tahu, tapi bapak bisa cek sendiri."


Sebastian bergegas masuk ke dalam rumah, sementara Pak Satpam tampak ingin mengikuti Sebastian atau tidak. Tapi kalau di pikir-pikir akhirnya mengikuti Sebastian tapi tetap berjarak, mungkin sekitar 10 langkah. Pak Satpam hanya berjaga-jaga, siapa tau mereka akan bertengkar seperti waktu itu sehingga dia bisa melerai.


"Hendrawan di mana Kamu?." teriak Sebastian sembari mengendarkan pandangan dan cukup heran melihat kondisi rumah Hendrawan tampak sepi. Dimana keberadaan Dilara dan Luna? Hubungan mereka baik-baik saja kan? Apakah terjadi sesuatu yang dia tidak tahu.


Sejujurnya Sebastian tidak peduli. Mau adiknya itu jungkir balik Sebastian tidak peduli. Tapi Sebastian harus membawa kabar bahagia paling tidak kabar Hendrawan baik-baik saja pada papa nya agar papa nya tenang.


"HENDRAWAN."


Sebastian terus memanggil nama adiknya, begitu sampai lorong teras samping rumah langkah nya terhenti. Di depan nya sekitar sepuluh langkah Hendrawan berjalan ke arahnya dengan langkah gontai. Lampu tidak di nyatakan, hanya ada bias cahaya sari rebulan, tapi Sebastian bisa melihat adiknya tampak kacau.


"Kenapa kamu?." Sebastian menghampiri Hendrawan. Kini mereka tepat saling berhadapan.


"Aku hancur, bang."


Sebastian mengerutkan dahi, semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi sampai Hendrawan seperti ini.


"Hancur kenapa? Seharusnya sekarang kamu bahagia kan? Akhirnya kamu bisa bersama dengan perempuan yang kamu cintai dan anak kandung yang kamu sayangi."


"Luna bukan putri kandung ku, Bang. Dilara bohong."


"Bohong gimana?."


Hendrawan mendekat dan mencengkram lengan Sebastian dengan kepala tertunduk dan menunpukkan berat badannya pada Sebastian. Rasanya Hendrawan ingin ambruk, bukan karena lelah fisik, tapi lelah pikiran. Rasa bersalah, rasa kecewa, rasa marah pada dirinya sendiri membuat Hendrawan begitu tersiksa.


"Aku sudah tes DNA, Luna bukan putri kandungku. Dilara membohongiku. Dilara tidur dengan laki-laki lain selain aku. Aku melakukan segalanya demi dirinya tapi ternyata dia membohongiku. Sekarang aku sudah kehilangan segala nya, Bang. Hidupku benar-benar hancur."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2