
Ayuma tertawa, "Mereka kayaknya belum berubah ya, Mama jadi nggak sabar bertemu dengan teman-teman kamu itu. Terus gimana lanjutan nya?."
"Pokoknya rame banget, Ma. Sampai ada orang-orang yang ada di bandara melirik ke arah kami. Terus mama tahu bagian mana yang paling absurd tapi sweet? Om Anthony bawa spanduk yang tulisannya, 'Welcome Home My Daughter'." Rachel tersenyum sendiri bila mengingat momen-momen itu.
"Oh ya?."
"Iya, Ma Mama nggak nyangka kan, soal om Anthony kelihatannya agak galak. Tapi ternyata sweet juga. Terus yang bikin aku malu banget plus gugup waktu tante Sarah sama Om Anthony bilang kalau aku menantunya. Aku sampai nggak tahu mau ngomong apa waktu itu. Coba aja kalau waktu itu aku datang sama Mama pasti aku nggak segugup itu."
Ayuma tersenyum dan mengusap rambut putrinya.
"Maaf ya mama baru sempat datang ke sini. Terus sekarang gimana? kamu masih kaku ketemu sama mereka? Oh ya kamu bilang kamu tinggal di rumah Farel untuk sementara waktu kan, ciee, udah latihan tinggal serumah sama mertua nih." Ayuma menyenggol-nyenggol lengan putrinya dengan gemas.
"Apaan sih, Ma. Ini juga gara-gara mama biarin anak gadis mama pulang sendirian."
Ayuma tertawa dan memeluk putrinya dari samping.
"Udah ah malah peluk-pelukan gini kapan selesainya. Rafa pasti cariin mama," ucap Ayuma sambil melepas pelukan.
"Kan mama yang peluk-peluk aku."
"Soalnya mama kangen sama putri mama yang cerewet."
Mereka pun lanjut memasukkan barang-barang ke dalam lemari, Ayuma juga memasukkan baju-baju milik Edgar.
"Oh ya, Ma. Semalam aku juga bertemu dengan keluarga papa, Tanoepramudya Family. Lebih tepatnya aku dinner di rumah Om Sebastian."
Gerakan tangan Ayuma yang menatap baju di lemari tertahan. Jantungnya mendadak berdebar kencang.
Nama yang pertama kali muncul dalam kepala Ayuma adalah Hendrawan. Terakhir kali yang Ayuma tahu Wisnu sudah memutus hubungan dengan Hendrawan. Hendrawan juga tidak tinggal serumah dengan Wisnu, Sebastian dan Anggun. Tapi itu sudah 5 tahun yang lalu mungkin yang mereka tinggal bersama.
Edgar sudah bilang, tidak perlu cemas memikirkan pertemuan Hendrawan dan Rachel, Tapi tetap saja Ayuma merasa khawatir.
"Terus gimana? kamu ketemu siapa saja?." tanya Ayuma sambil melanjutkan menatap baju-baju di lemari tapi konsentrasi nya terpusat sepenuhnya pada Rachel.
"Aku ke sana di antar Farel, terus bertemu dengan Oppa Wisnu, Om Sebastian dan Tante Anggun."
"Cuma itu."
"Oh ada lagi."
__ADS_1
Jantung Ayuma terasa berdisko menunggu kalimat lanjutan dari Rachel.
"Bastian hahahaa, aku sampai lupa si jail itu."
"Udah?."
"Udah, Ma." Rachel menatap mamanya dengan dahi berkerut. "Memangnya mama berpikir aku bertemu dengan siapa lagi?."
"Enggak kok, mama nggak berpikir siapa-siapa."
Hening sesaat, Rachel terdiam dan mengamati lekat wajah mama nya, sementara Ayuma lanjut mengeluarkan baju dari koper dan menata di lemari lagi.
"Oh aku tau... Yang mama maksud pasti papa kan?."
Ayuma berdehem, hampir saja tersedak salivanya sendiri. "Iya."
"Sayang sekali aku nggak bertemu papa malam itu. Oppa Wisnu bilang Papa tinggal di rumah sendiri. Oppa Wisnu juga memintaku datang ke rumah Papa. Tapi aku menunggu izin dari mama dulu. Aku boleh bertemu dengan Papah mah.
Belum sempat Ayuma menjawab pintu terbuka. Mereka sama-sama menoleh ke arah pintu, ternyata Edgar yang muncul.
"Lanjut nanti aja beres-beresnya. Dari tadi kamu belum istirahat," Edgar berjalan mendekati Ayuma.
"Aduh duh jiwa iriku bergetar lihat mama sama papa uwouwo terus."
Edgar tersenyum samar dan mengalihkan perhatian pada putrinya.
"Farel nungguin kamu di bawah dari tadi."
"Nih papa usir aku secara halus biar papa bisa berduaan sama mama gitu. Oke deh oke, aku keluar sekarang."
"Rachel, kamu tuh jail banget ya." Ayuma melotot gemas pada putrinya.
Rachel tertawa dan bergegas keluar kamar.
***
Jam 04.00 sore setelah puas melepas rindu dengan ayuma dan Edgar Farel mengajak Rachel makan di restoran Padang yang dulu sering mereka datangi setelah memesan menu sambil menunggu mereka menikmati es jeruk.
"Dari kemarin aku pengen banget makan nasi padang, aku pernah makan di Swiss restoran Indonesia gitu, makanan yang dijual juga khas makanan Indonesia ada rendang juga rasanya juga enak. Tapi aku penasaran gimana rasanya rendang asli dari Indonesia. Jadi pengen ke Padang langsung." ucap Rachel sambil menyeruput es jeruknya.
__ADS_1
"Mau ke Padang Oke, aku temani nanti aku cari penginapan dan lain-lain."
Rachel tersenyum dan menggeleng, "Nggak kok. Kan di sini udah ada masakan padang juga, jadi nggak perlu ke padang langsung. Terus kamu bilang pemilik restoran ini orang asli padang kan, pasti cita masakan rendang di sini mirip rendang asli Padang. Aku mau ke Padang tadi cuma bercanda Farel Ya ampun kamu ini hahaha."
Farel mengusap belakang kepalanya. Dia terlalu excited. Dia hanya mencoba memberikan yang terbaik untuk Rachel.
"Dulu setiap makan di sini kamu pasti habis dua piring."
"Dua piring?." Rachel sampai melotot sementara Farel tertawa melihat respon Rachel. "Itu antara masakan di restoran ini sangat enak atau aku nya yang terlalu rakus?."
"Kamu memang doyan makan dari dulu."
Masih dengan senyum menghiasi wajahnya, Farel menyeruput es jeruknya.
"Dulu kita sering makan di sini? seberapa sering?."
"Bukan cuma kita berdua tapi sama Tian Rendy, Dypta dan Luna juga kalau untuk seberapa sering nggak setiap hari juga mungkin 4 atau 5 kali sebulan."
Rachel mengangguk-angguk, "Oh ya aku kan sudah bertemu kamu Tian, Rendy dan Dipta terus Luna dia di mana? Aku ingin bertemu dia, aku sama Luna pasti dekat banget kan. Apalagi kita perempuan sendiri di antara persahabatan kita berenam."
"Hm kalian cukup dekat tapi karena ada masalah, hubungan kalian sempat renggang."
"Oh ya karena apa?."
Farelku menceritakan awal mula pertemuan Rachel dan Luna saat masih berusia 7 tahun kedekatan mereka yang selalu ada untuk satu sama lain. Rahel selalu mendukung Luna yang ber cita-cita ingin menjadi seorang aktris terkenal begitu juga Luna mendukung Rachel yang bercita-cita menjadi aktivis sosial yang berguna untuk banyak orang.
"Oh yah? aku bercita-cita jadi aktivis?."
"Hm dulu waktu kuliah kamu sering ikut organisasi kemanusiaan, ikut volunteer, ikut komunitas kampus, mengajar juga. Komunitas ini berisi perkumpulan mahasiswa yang mengajar anak-anak panti asuhan dan anak pinggir jalan. Kamu suka sekali melakukan itu."
Rachel menganguk-angguk, "Di Swiss, aku juga ikut beberapa komunitas kemanusiaan gitu."
Dengan perlahan Farel menggerakkan tangannya di atas meja hingga menggenggam tangan Rachel. Rachel terkejut beberapa saat.
.
.
.
__ADS_1
bersambung...