
Farel : Luna, kamu di mana sih?. kita harus ketemu dan membicarakan hubungan kita. Jangan menghindar seperti ini. Aku nggak mau menunggu satu bulan. Hubungan kita sudah selesai seminggu yang lalu.
Farel : Menghindar tidak akan membuatku penasaran dan jatuh cinta sama kamu, justru aku kesal dengan tingkah kamu yang seperti ini.
...----------------...
"Kamu pikir aku nggak kesal? Aku juga kesel sama kamu Farel!." Luna mendengkus sambil mengomel pada ponselnya seolah sedang mengomeli Farel .
Seandainya sekarang Luna ada di rumah, Luna akan melampiaskan kekesalannya dengan membuang barang-barang . Tapi sayangnya, Sekarang dia sedang ada di luar kota di lokasi syuting untuk seriesnya.
Tidak ingin mendengar kata putus dari Farel. Selama seminggu ini dia tinggal di apartemen baru yang diberikan Papanya sehingga Farel tidak bisa menemuinya.
Nomor wa-nya tetap aktif, tapi Luna mematikan tanda centang biru dan menghilangkan tanda online sehingga meskipun dia sedang online tidak ada tulisan online dengan begitu Farel tidak akan tahu dia sudah membaca pesan-pesannya.
Farel : Luna, pokoknya hubungan kita selesai.
"Enak aja nggak bisa!."
Luna mendengkus, "Aku sudah move on dari Dypta dan sudah terlanjur mencintai kamu tapi kamu malah mencampakanku seperti ini? Oh tidak semudah itu. Kalau ada yang pergi diantara kita, aku yang harus pergi duluan. Harus memutuskan kapan hubungan kita berakhir atau tetap lanjut. Aku gak mau dicampakkan kayak gini.
Luna berkaca-kaca sembari tetap terus mnatap layar ponselnya.
"Padahal aku sudah mengatakan aku membutuhkan kamu tapi kenapa kamu tetap putusin aku. Mulut kamu menyangkal saat aku mengatakan ada orang ketiga diantara kita tapi firasatku mengatakan kamu memang sedang mencintai perempuan lain. Karena itu kamu ingin cepat-cepat ingin putus biar kamu bisa jadian dengan perempuan itu kan?"
"Siapa Rel? Siapa perempuan itu? apa Rachel? Apa selama ini kamu mencintai Rachel? Tapi Rachel sama Brandon. Aku nggak bisa nuduh Rachel pelakor !!! Tapi firasatku mengatakan Rachel memang orang ketiga diantara kita."
"Aku akan mencari tahu. Awas aja kalau memang ada orang ketiga. Aku akan terus gangguin kamu sama pacar kamu! Ih kesel deh ! Untung ganteng. Cinta lagi."
Luna malah nafas panjang. Rasanya Luna ingin putus, tapi nanti dia jomblo. Sedangkan Rachel punya pacar. Sebelum dapat ganti Farel. Luna nggak mau putus. Dia nggak mau single.
***
"Ck Luna ke mana sih?" Farel berdecak nyaris mengumpat sangking kesalnya sekarang. "Mau putus aja kayak nagih utang nunggu 1 bulan."
Farel tidak menyangka hubungan dengan Luna akan jadi serumit ini. Mungkin Luna juga syok dengan permintaan putusnya yang tiba-tiba ini, melakukan ini juga demi kebaikan mereka.
Tetap melanjutkan hubungan ini hanya akan menyakiti Luna. Luna juga berhak mendapat laki-laki yang benar-benar mencintainya sebagai pacar bukan sebagai orang lain apalagi karena Obsesi.
Tidak dipungkiri Farel merasa bersalah sekarang. Sebenarnya gampang saja jika Farel ingin putus dengan Luna, Farel tinggal membuat IGS atau mengatakan pada wartawan mereka putus atau hanya sekedar unfollow Luna saja semua orang tahu mereka sudah putus.
Tapi Farel tidak bisa melakukan itu, Farel tidak ingin menyakiti Luna lebih jauh. Farel ingin putus dengan cara baik-baik dan tidak ada permusuhan di antara mereka.
"Gue telepon lagi deh."
Telepon Luna sambil berjalan memasuki lorong kampus.
"Luna angkat dong! Lo..."
Langkahnya tertahan begitu juga suaranya yang tercekat di tenggorokan saat matanya bertatapan dengan seseorang yang selama 7 hari ini dia rindukan kedatangannya.
Rachel,
Gadis ini juga termenung, berdiri sekitar 20 langkah dari tempat Farel berdiri. Di tengah lalu lalang mahasiswa, mata mereka saling bertaut satu sama lain. Dalam diam saling memandang penuh rindu .
Farel tak menghiraukan ponselnya yang berhenti berdering tanda panggilan Luna tak terjawab. Menurunkan tangan dari telinga dan memfokuskan pandangan sepenuhnya pada gadis itu.
Rachel tampak cantik dan elegan dengan turtleneck panjang warna coklat dimasukkan ke dalam celana White Light pants berwarna hitam sampai sebatas rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan kedua tangan memeluk 2 buku besar di depan dadanya.
Tujuh hari tidak bertemu, rasanya Rachel bertambah cantik. Atau sebab rindunya yang teramat besar sampai semua hal yang ada dalam gadis itu terlihat mempesona.
Sama halnya dengan Rachel.
Kerinduannya yang begitu besar membuatnya enggan memalingkan pandangan. Ingin terus menatap laki-laki menyebalkan ini dalam waktu lama.
Selama 7 hari, setiap menit Rachel menahan diri mati-matian untuk tidak mengirim pesan, menelpon dan menemui Farel di rumahnya.
Rachel harus membiasakan diri tanpa Farel dan mulai membiasakan diri bersama Brandon. Namun semakin Rachel mencoba melupakan Farel, semakin dalam juga perasaannya atau mungkin ini hanya soal waktu. Biarlah waktu yang menghapuskan perasaan ini.
Farel mendekat, mengikis jarak seiring jarak mereka semakin dekat, Debaran jantung kian menguat satu sama lain.
"Hai." Sapa Farel.
"Hai," Sapa balik Rachel sembari tersenyum.
Rasanya baru kemarin bercanda dan tertawa riang selayaknya dua orang tak terpisahkan, tapi sekarang seperti orang asing yang baru bertemu. Inilah yang paling mereka takutkan saat sudah memiliki pasangan masing-masing. Seolah jarak tercipta sendiri tanpa ada niat menjaga jarak. Hal ini sulit dijelaskan, tapi semua terjadi begitu saja.
"Gimana keadaan lo ? Sudah membaik?."
"Gue udah baikan, Gue bahkan sudah bisa naik motor lagi. Tapi Mama mengomel terus dan menyuruh gue naik mobil. Jadi selama 3 hari ini ke kampus gue selalu bawa mobil.
"Gue setuju sama Mama lo."
__ADS_1
Farel menganguk, "Lo masih ada kuliah?."
"Iya habis ini gue masuk kelas."
"Oh gitu ya tadi di sini dari mana?."
"Dari perpus pusat pinjam ini buku besar ini." Rachel menunjukkan buku yang ada dalam dekapannya.
Sekarang mereka ada di area area Perpustakaan Pusat yang letaknya ada di tengah-tengah kampus.Sama-sama datang ke sini mereka pasti sulit bertemu karena beda gedung fakultas.
"Lo sendiri mau ke perpustakaan?."
"Salah satu matkul gue ngajak diskusi di perpus mau nggak mau ya harus ke sana."
"Oh kirain ke perpus mau tidur kayak waktu SMA dulu setiap ke perpustakaan pasti lo duduk di bawah ac terus ngorok."
Farel tertawa pelan. "Kayak lo nggak aja. Lo juga ikut tidur di samping gue mana lo geser-geser tubuh gue biar lo bisa tiduran dibawah AC."
Rachel tertawa, "Terus akhirnya kita jadi berantem. Lo ingat waktu itu kita sampai lempar-lemparan buku di rak perpustakaan. Petugas perpustakaan yang super galak sampai memukul kepala kita dengan buku tebal saking kesalnya dengan kelakuan kita."
"Terus kita dihukum berdiri hormat bendera merah putih sambil teriak ' Rachel nggak akan berantem lagi Farel dan Rachel akan menyayangi satu sama lain ' habis itu kita diceng-cengin satu sekolahan."
Mereka sama-sama tertawa.
"Ya itu gara-gara lo sih lempar gue buku duluan." kesal Farel
"Enak aja lo yang lempar gue duluan pakai kaos kaki Rendy yang bau bangkai itu."
"Soal kaos kaki gue jadi inget waktu jam olahraga gue pernah sembunyiin kaos kaki lo di tas Pak Budi guru matematika super killer."
"Sumpah lo jahat banget waktu itu. Hampir di skors BK. Tapi Pak Budi bilang karena gue cantik gue dimaafin hahaha."
Dan cerita mereka masih terus berlanjut tanpa sadar kaki mereka bergerak sendiri untuk duduk di bangku samping trotoar terus bercerita random tentang masa-masa lucu zaman sekolah.
Stok cerita mereka di masa lalu tidak ada habisnya. Apalagi persahabatan mereka sudah sangat lama ditambah mereka juga sama-sama bandel. Ada saja tingkah mereka yang membuat guru-guru dan para siswa geleng-geleng kepala.
Mereka benar-benar partner in crime.
"Enak aja lo duluan."
"Lo duluan."
"Hahaha lo sih bandel banget, digundulin kan rambut loh waktu itu." Rachel tertawa.
"Gue masih kesel sama tu pak guru BK botak. Kok ngajak ngajak gue sih."
"Eh eh parahnya lo nggak mau botak sendiri, masa nyuruh dia buat botakin gue juga."
Farel tertawa, "Ya lo juga ikut bandel sama gue. Terus lo nangis sambil teriak gini gak mau botak nanti orang-orang nggak bisa bedain kepala aku sama pentol. Sumpah ya lo aneh banget waktu SMP hahaha terus lo ngadu sama ayah, ayah marahin gue."
Rachel tertawa, "Soalnya kalau gue ngadu sama Papa gue justru Papa bakalan marahin gue, Om Anthony kan selalu ada di pihak gue."
Namun jarak dan waktu tidak akan bisa mengaburkan ikatan antara keduanya. ikatan yang terjalin sejak masa kecil dalam tali persahabatan. Seasing apapun mereka selama apapun perpisahan, jika sudah duduk bersama saling bertukar cerita masa lalu, chemistry itu akan muncul dengan sendirinya.
"Ya ampun kok kita malah duduk di sini sih," Rachel merutuk pada dirinya sendiri karena larut dalam obrolan bersama Farel.
Begitu juga Farel yang langsung ingat teman-temannya yang mungkin sudah menunggu di perpustakaan.
"Ya udah aku ke kelas dulu Rel."
"Iya."
Rachel baru saja berdiri tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Sambil mengangkat telepon yang ternyata dari Paman Samuel, Rachel melangkah menuju ke kelasnya.
Sementara Farel masih duduk di bangku dengan pandangan mata tertuju pada punggung Rachel yang mulai menjauh. Entah berapa menit mereka mengobrol, sepertinya cukup lama tapi bagi Farel rasanya terlalu singkat.
Masih kurang, Farel masih ingin terus mengobrol banyak hal dengan gadis itu. Tapi sekarang sudah berbeda. Mereka tak sebebas dulu. Saya sudah memiliki pacar dan akan membagikan cerita-cerita seru masa lalunya bersama Brandon.
"Bye gadis Bar-bar."
Farel tertahan saat melihat Rachel berlari ke arah kiri yang berlawanan dengan arah gedung fakultasnya.
"Mama masuk rumah sakit kok bisa? Mama sakit apa Paman? terus gimana keadaannya Mama baik-baik saja kan paman?."
Sambil berlari menuju ke halaman kampus Rachel terus memberondong Paman Samuel dengan berbagai pertanyaan seputar mamanya.
"Iya paman aku akan segera ke rumah sakit Tolong jaga mama."
Rachel ingin memesan grab online namun seseorang menahannya.
"Rachel."
__ADS_1
"Farel."
"Ada apa?."
"Mama mama masuk rumah sakit Aku harus ke rumah sakit sekarang."
"Ya udah aku antar."
"Nggak usah aku bisa."
"Ayo!." Farel menggenggam tangan Rachel dan mengajaknya berlari menuju ke mobil.
Sesampainya di mobil Farel langsung melajukan mobil menuju ke alamat rumah sakit yang diberikan Paman Samuel. Rachel tak berhenti memainkan kuku-kukunya dengan gelisah, menoleh bolak-balik antara jendela samping dan kaca depan dan sekali menarik naik turunkan kakinya.
"Nggak papa Tante Ayuma pasti baik-baik saja beliau perempuan yang hebat."
"Takut Farel gue takut terjadi sesuatu sama mama."
"Gak akan," Farhan mengulurkan tangan dan meremas lembut tangan Rachel yang terkepal. Rachel menoleh dan mempertemukan matanya dengan mata Farel yang menyorot teduh.
"Nggak papa gue yakin Tante Ayuma ngga papa."
Mendengar suara lembut dan sorot mata menenangkan Farel, perasaan Rachel mulai tenang. perlahan nafasnya mulai teratur dan kakinya tidak bergerak naik turun seperti tadi.
Farel mempercepat laju mobil namun tetap mengutamakan keselamatan mereka. Tangan kanannya masih agak sakit, namun rasa sakit itu seolah tadi terasa lagi melihat kekhawatiran Rachel sekarang. Bagaimana caranya Farel harus sampai di rumah sakit secepat mungkin dalam keadaan selamat.
Begitu sampai di rumah sakit Farel menghentikan mobil di depan lobi Rumah Sakit, Rachel langsung berlari menuju ke ruang rawat mamahnya sementara Farel memarkirkan mobil dulu.
"Aku beli air dulu buat Rachel."
Beli tiga botol air di toko seberang rumah sakit, Farel langsung ke ruang rawat Tante Ayuma. Sebelum pergi, Rachel sudah memberitahu Farel kamar ruang rawat mamanya. ada dua lantai 4 niner A3001.
Begitu pintu lift terbuka, menenteng plastik berisi 3 botol air, Farel belok ke arah kiri, berjalan dengan buru-buru namun ...
Langkahnya tertahan saat melihat Rachel berdiri di depan ruang rawat Tante Ayuma dalam dekapan Brandon.
Farel terdiam di tempat dengan pandangan mata tertuju pada Brandon dan Rachel yang masih berpelukan. Biasanya Farel yang ada di posisi itu, yang selalu ada untuk Rachel dalam keadaan apapun. Karena memang itu yang mereka lakukan dalam persahabatan.
Namun kini posisinya sudah diambil alih. Bukan diambil alih tapi tepatnya seseorang yang lebih pantas dan lebih berhak berada di sisi Rachel.
Ada kemarahan yang begitu besar di dalam hati yang sulit Farel jelaskan, rasanya Farel ingin berlari ke arah mereka, menarik dalam pelukan dan memperingatkan Brandon untuk tidak dekat-dekat dengan Rachel.
Perasaan ini sungguh menyiksa . Apa ini yang dinamakan cemburu?
"Farel."
Farel mengerjap mendengar panggilan dari belakang.
"Paman Samuel."
"Kamu ingin menjenguk Ayuma?."
"Iya paman."
"Ya udah ayo ke sana!."
Samuel senang saat-saat terpuruk banyak teman-teman Rachel yang datang memberi dukungan pada Rachel. Samuel juga yang menghubungi Brandon sehingga Brandon datang ke sini lebih dulu daripada Rachel lalu saat Rachel tiba Brandon langsung memeluknya untuk menguatkan. Karena setahu Samuel, Brandon pacar Rachel.
"Saya ada urusan lain, setelah urusan saya selesai saya akan ke sini. Saya titip ini paman."
Farel menyerahkan kantong plastik berisi 3 botol air kepada Paman Samuel.
"Ya udah hati-hati ya!."
Farel mengangguk berbalik badan berjalan pelan hingga berdiri di tempat di depan lift.
Sebelum masuk ke dalam lift Farel menoleh ke arah Rachel dan Brandon lagi mereka sudah tidak berpelukan tapi posisi berdiri mereka masih dalam jarak dekat, Brandon mengusap lengan Rachel sepertinya berusaha menenangkan.
Farel ingin tetap di sini menemani Rachel meskipun Rachel mungkin tidak membutuhkannya. Tapi perasaan ini sungguh menyiksa. Perasaan marah jengkel, kesal saat melihat Brandon dan Rachel Sedekat Itu.
Farel takut tidak bisa mengendalikan diri dan malah membuat kekacauan di sini.
Pada akhirnya Farel memilih pergi.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1