
"Kamu dan Rachel sama-sama orang kaya. Biasanya konglomerat akan menikah dengan konglomerat untuk mempertahankan kekayaan mereka. Apalah aku yang bukan dari keluarga kaya, aku berjuang dari nol sampai aku berada di titik ini berkat kerja keras ku. Aku beda dengan Rachel, Dypta. Hidup Rachel enak sejak kecil, apapun yang diinginkan pasti akan ia dapatkan. Sedangkan aku untuk mendapatkan sesuatu harus bekerja keras mati-matian."
"Bukan begitu Luna. Kamu juga hebat, bisa sampai sejauh ini. Aku tidak bermaksud membandingkan kamu dengan Rachel. Jangan membandingkan diri seperti ini."
"Tapi ucapan kamu yang tadi seolah kamu membandingkanku dengan sahabatku sendiri."
Luna tak kuasa menahan tangis. Luna paling sedih jika di banding-bandingkan. Apalagi di bandingkan dengan Rachel.
Luna tidak benci Rachel, Sungguh. Luna sangat menyanyangi Rachel seperti kakak kandung. Tapi jika di bandingkan seperti itu siapa yang tidak kesal.
"Luna jangan menangis!." Dypta terkejut melihat Luna menangis. Meskipun dia tidak mencintai Luna bagaimanapun mereka berteman sejak kecil. Melihat temannya menangis sudah pasti Dypta merasa sedih.
"Kamu keterlaluan Dypta, kamu keterlaluan!."
"Maaf!." Dypta akhirnya menarik Luna dalam pelukannya dan mengusap-ngusqp punggungnya untuk menenangkan. "Jangan menangis!. Jangan merasa insecure, aku benar-benar minta maaf sekali. Aku tidak bermaksud membanding-bandingkan kamu dengan Rachel. Kamu hebat Luna."
"Iya udah jangan menangis lagi. Mau ikut jogging?." tanya Dypta melepas pelukannya.
"Mau, tapi aku ngga bawa pakaian olahraga. Aku tunggu di sini saja!, aku mau menyemangati kamu!." Luna tersenyum ceria hingga matanya menyipit lucu.
Dypta tersenyum mengacak rambut Luna. "Ya udah duduk di sini saja yah!." Dypta mencengkram lembut lengan Luna mengarahkannya untuk duduk di samping trotoar. Setelah itu Dypta lanjut lari lagi.
"DYPTA CALON PACAR AKU, SEMANGAT JOGGING NYA YAH!." teriak Luna.
Luna tertawa melihat Dypta melototkan mata dari kejauhan.
"Ganteng banget sih, jadi makin cinta."
Luna berharap dalam waktu 30 hari ini Dypta bisa jatuh cinta padanya. Tapi jika Dypta tidak mencintai nya juga tidak masalah lagi. Luna bisa jadian dengan Farel. Sepertinya Farel cinta mati padanya. Apapun yang dia lakukan, Farel akan selalu mencintainya.
***
Berkat kegigihan nya akhirnya Farel berhasil mengejar Rachel dan menarik ke mobilnya. Itupun tadi dengan kehebohan dan pemberontakan Rachel sampai membuat berpa banyak orang yang berada di parkiran basment apartement bawah menoleh melirik ke arah mereka.
Dan sepanjang perjalanan menuju ke mall, Rachel mendiamkannya, Rachel terlihat benar-benar bete. Tapi Farel justru terlihat senang dan sejak tadi tak berhenti senyum - senyum sendiri.
"Udah ah ngambeknya." Farel menoel lengan Rachel. Tapi Rachel mengusap lagi bekas toelan Farel seolah baru saja terkena kotoran.
"Hidiiih." Farel dengan jailnya mengelap seluruh telapak tangannya pada kaos Rachel.
"Ihhh." Rachel dengan kesal menabok lengan Farel. Tapi bukannya kesakitan, Fatel justru tertawa. Meskipun hanya tabokan setidaknya Rachel mau menyentuhnya. Dan itu cukup membuat Farel senang.
"Gue benci sama lo."
__ADS_1
"Tapi gue sayang sama lo. Gimana dong?."
"Sayang?, preett. "
"Sayang sebagai adik Rachel. Jangan berharap lebih. Gue udah anggap lo adik doang."
"Mau lo anggap adik, anggap keluarga, anggap nenek lo sekalipun . Bodo amat. Ra peduli."
Farel tertawa, "Sayangku lucu sekali kalau lagi marah."
Farel menghentikan mobil saat lampu merah, lalu meraih tubuh Rachel hingga condong ke arahnya. Rachel berontak dan berusaha melepaskan diri dari Farel yang berusaha mengacak-ngacak rambutnya, mencubit kedua pipi dan mencapit hidungnya.
"Lo bilang apa tadi?." tanya Rachel setelah berhasil melepaskan diri.
"Bilang apa?."
"Lo bilang sayangku gitu."
Farel mengenyit, " Masa sih gue bilang gitu?."
"Iyah tadi."
"Enggak deh, perasaan lo doang. Tapi kalo lo mau di panggil sayang, boleh kok. Rachel sayang, Rachel sayang."
Di saat Farel tertawa, di situlah Rachel kesal.
"Rachel sayang, kita beneran pergi ke mall kan?."
"Berhenti manggil gue sayang."
"Iyah kenapa sayang?."
"FAREL."
"Apa sayang ku? kamu mau apa? jangan teriak-teriak gitu dong."
Farel tertawa lebar sambil fokus menyetir sedangkan Rachel menatap nya dari samping dengan sorot mata penuh kekesalan. Sejak tadi Farel terus saja menjahilinya, sepertinya tekanan darah Rachel akan naik.
Sesampainya di mall, Rachel langsung turun dari mobil dan berlari cepat menuju ke dalam mall. Rachel langsung bertemu Mamah nya di salah satu toko Bakery.
"Mamah."
"Hai sayang!."
__ADS_1
"Mamah nunggu lama yah?."
"Engga kok, Mamah juga baru sampai. Oh yah kamu tadi bilang sama Farel. Mana Farel?."
"Ada di mobil Ma. Ngga tahu mau ngapain?, katanya nanti mau nyusul ke sini."
Ayuma menganguk-anguk, "Kok bisa sama Farel?, Bukannya kemarin kalian lagi marahan? Apa udah baikan?."
"Sebenarnya aku masih kesal sama Farel, Mah. Pengennya satu, dua atau empat hari ngga ketemu dia. Tapi Farel malah menginap di apartement Dypta , terus tadi pagi dia nunggu di depan apartement. Terus mengikuti aku sampai ke sini."
Ayuma tersenyum melihat wajah jutek putrinya, tapi binar matanya tidak bohong. Binar mata itu mengatakan Rachel senang kebersamaannya dengan Farel.
"Ya kamu pindah ya ke Apartement Dypta. Kenapa nggak kuliah di luar negeri saja?."
"Mamah, aku ingin selalu dekat dengan Mamah. Mamah alasannya tak ingin pergi jauh-jauh."
"Terima kasih sayang."
"Sama-sama."
Ayuma menggenggap tangan putrinya dan mengusap punggung tangannya.
"Oh yah. Kita ngapain ke mall, Mah. Tumben ke sini. Biasanya Mamah kalau wekeend ngajak aku makan di restaurant, nonton atau liburan ke tempat wisata."
"Ngga papa. Ngga ada tujuan khusus. Mamah cuman pengen ke sini aja. Biar kamu nggak lupa kalau mall ini adalah milik kamu."
Rachel tersenyum, " Bukan milik aku, tapi milik Mamah."
"Bukan milik Mamah tapi milik orang tua Mamah yang di titipan ke Mamah sebelum mereka meninggal. Suatu hari nanti kamu juga akan mengelola mall ini dan beberapa pusat perbelanjaan milik keluarga Mamah."
Orang-orang mengenal Ayuma sebagai istri dari keluarga konglomerat keluarga besar keluarga Tanoepramudya. Tapi tanpa mereka tahu Ayuma justru berasal dari keluarga kalangan atas. Keluarga besar Ayuma memiliki perusahaan besar yang bergerak dalam bidang properti. Bisnis ini mengelola aset berupa tanah dan bangunan.
"Mamah tidak bermaksud membebani kamu dengan semua ini, tapi Mamah berharap kamu mau meneruskan bisnis Mamah. Mamah minta maaf jika pundak kamu terlalu berat memikul semua ini."
"Ngga Ma. Jangan ngomong begitu. Aku nggak merasa terbebani kok." Rachel menggenggam tangan Mamah nya. "Tadi nya aku tidak ingin menjadi pengusaha. Aku berencana bekerja di kedinasan sosial. Tapi demi Mamah aku belajar bisnis dengan serius."
"Excusme Ladies." Suara sapaan seseorang menjeda obrolan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1