
"Aku mau kamu pergi! Aku nggak mau melihat kamu lagi."
Dilara turun dari ranjang memakai ****** ***** dan bra nya. Hendrawan juga segera berpakaian lengkap. Tepat sebelum Dilara membuka pintu Hendrawan menahan pergelangan tangannya.
"Dilara aku juga terkejut. Aku juga tidak menyangka akan seperti ini. Tapi jangan lakukan ini, jangan menjauh. Aku akan membantu kamu menjelaskan pada Luna, ini moment yang tepat, bagaimana kalau aku mengatakan aku adalah Ayah kandungnya? Awalnya Luna akan sedih tapi aku yakin Luna akan menerima ku." ucap Hendrawan sepelan mungkin takut masih ada Farel di luar.
"Kamu pikir Luna akan senang mendengar fakta itu? tidak, Mas. Luna akan semakin sedih, kamu pikir bagaimana perasaan Luna melihat Ibu nya hampir berhubungan intim dari ayah sahabat dekatnya. Sudahlah, lebih baik kamu pulang. Dan jangan kemari lagi."
Dilara membuka pintu terkejut masih ada Farel di dekat pintu.
"Dimana Luna?."
"Di dalam kamar nya, Tante."
Dilara menatap sendu Farel, tidak mengatakan apapun karena dirinya bingung harus mengatakan apa dan bergegas pergi. Saat ini pikirannya kacau, Dilara ingin segera bertemu dengan Luna dan menjelaskan semuanya. Dilara tidak ingin Luna membenci dirinya karena masalah ini. Yang paling Dilara takutkan mental Luna down.
"Dilara..." Hendrawan keluar dari kamar dan ingin mengejar Dilara. Namun langkahnya tertahan saat melihat Farel.
"Anggap saja kamu tidak melihat apapun dan jangan mengatakan siapapun terutama pada Rachel dan Ayuma."
"Saya punya mata dan saya bisa melihat dengan jelas kejadian tadi. Saya juga punya mulut dan saat bisa mengatakan pada siapapun."
Saat itu juga Hendrawan memejamkan mata. Dari rangkaian kejadian tadi yang paling Hendrawan sayangkan kenapa Luna harus bersama Farel. Farel adalah orang yang sulit di kendalikan. Farel tidak pernah mau menuruti orang lain dan melakukan apapun sesukanya sendiri.
"Jadi kamu ingin mengadukan pada Rachel dan membuatnya sedih? apa itu namanya sahabat? Apa sahabat ingin membuat sahabatnya sedih?."
"Om..." Farel speechlees. Bahkan Farel tidak melihat sorot bersalah di mata Hendrawan.
"Om mikir nggak sih gimana perasaan Rachel dan Tante Ayuma? Selama ini mereka menunggu kepulangan Om dan berpikir bekerja di luar negeri untuk menafkahi mereka tapi kenyataannya... Kenyataannya Om selingkuh sama Tante Dilara. Dan tahu apa yang lebih menyakitkan untuk mereka Om. Om selingkuh dengan Ibu dari sahabat Rachel dan teman dekat Tante Ayuma. Om bisa banyangin betapa terluka nya mereka?."
"Kamu nggak usah ikut campur dan sok mengajari saya, Farel. Kamu baru anak kemarin sore yang ngga tahu apa-apa. Kamu ngga tahu bagaimana perjalanan saya dan Dilara. Jadi jangan asal menyimpulkan dan mengatakan yang tidak-tidak."
"Saya memang tidak tahu bagaimana kisah Om dan Tante Dilara, entah kalian sudah mengenal dari kecil, dari SD, SMP atau dari kapanpun saya tidak tahu. Tapi yang saya tahu Om dan Tante Ayuma berstatus sebagai suami istri dan Om menjalin hubungan terlarang dengan Tante Dilara. Itu sudah cukup membuat saya menarik kesimpulan Om adalah laki-laki pengecut."
"Tutup mulut kamu, Farel!."
__ADS_1
Bug...
Hendrawan tidak tahan untuk tidak melayangkan pukulan di wajah Farel. Pukulan begitu keras dan penuh kemarahan sampai membuat sudut bibir Farel berdarah. Namun bukannya kesakitan Farel bisa tertawa.
"Kenapa tertawa? Apa yang lucu?."
"Saya hanya sedang membanyangkan bagaimana rasa sakit Rachel saat tahu Ayah yang sangat dia cintai ternyata mengkhianati nya seperti ini. Rasanya pasti berkali-kali lipat lebih sakit daripada tonjokan Om ini."
"Saya bilang jangan katakan apapun pada Rachel atau Ayuma!."
"Tanpa saya katakan pun, cepat atau lambat pengkhianatan Om inu pasti terendus juga. Atau mungkin selama ini Tante Ayuma sudah tahu dan mungkin juga sedang mengajukan gugatan cerai ke pengadilan Agama. Semesta selalu punya kejutan, Om. Om tidak akan pernah tahu apa yang akan Om hadapi hari esok."
"Satu lagi, silahkan saja Om pergi dari hidup Rachel. Saya yang akan menggantikan posisi Om untuk melindungi, menjaga dan memberikan kasih sayang pada Rachel."
"Jangan coba-coba! kamu tidak boleh meninggalkan Luna!."
Farel mengepalkan tangan dan langsung pergi begitu saja Hendrawan ingin mengejar, tapi dia juga harus menenangkan Luna.
Farel segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil meninggalkan halaman rumah.
Sekitar jam dua siang, Farel tiba di Apartement. Merebahkan diri di kasur dan menatap langit-langit kamar. Kekalahan di pertandingan Basket tadi cukup membuat Farel sedih, tapi Farel juga mengerti setiap kompetensi pasti ada yang menang dan kalah. Ada hal lain yang membuat Farel berkali-kali lipat lebih sedih.
Rachel.
Sejak pertandingan Basket sampai detik ini Farel belum bisa mengenyahkan Rachel dari pikirannya. Farel bertanya-tanya apa yang Rachel lakukan sekarang? Apa dia masih bersama Brandon? Apa Rachel sudah yahu selama ini Papa nya selingkuh? Jika belum tahu, bagaimana reaksi Rachel nanti setelah tahu?.
Farel meraih ponsel dan mengirim pesan pada Rachel.
Farel : Rachel, lo dimana sekarang?.
Centang satu Rachel tidak menghidupkan data. Sepertinya Rachel msih bersama Brandon dan sengaja tidak mengaktifkan ponsel agar tidak ada yang mengganggu.
"Rachel..." lirihnya dengan pandangan mata masih tertuju pada room chat Rachel. Berharap tiba-tiba Rachel online dan membalas chatnya.
Sambil menunggu, Farel membaca ulang riwayat chat mereka.
__ADS_1
Tak kunjung mendapat pesan balasan dari Rachel, kantuk justru menyerang dan beberapa kali Farel menguap. Menahan mata agar tetap terjaga, agar Rachel membalas pesannya nanti, Farel bisa langsung membalas chat nya, tapi karena terlalu mengantuk akhirnya Farel tertidur.
Sepuluh menit berlalu, Farel mulai lelap. Lima belas menit berlalu, Farel hanyut dalam mimpi. Dua puluh menit berlalu, Farel semakin menghayati mimpi.
Tiga puluh menit kemudian...
"RACHEL."
Farel terbangun dengan nafas terengah. Dadanya naik turun. Matanya bergerak-gerak gelisah. Rangkaian adegan di mimpi tadi tampak begitu nyata sampai terbawa ke dunia nyata. Mimpi buruk yang tidak pernah Farel sangka-sangka.
Di dalam mimpi, Hendrawan pulang dan menemui Rachel dan Ayuma lalu mengatakan semuanya. Mengatakan bahwa selama ini dirinya tidak menginginkan mereka dan satu-satu nya perempuan yang dia cintai adalah Dilara. Rachel kecewa dan loncat di balkon lantai 3.
"Ngga ini nggak mungkin terjadi."
Farel mengecek ponselnya, seketika mata nya berbinar saat ada pesan dari Rachel.
Rachel : Gue di Apart.
Farel mengetik balasan lagi.
Farel : Lo nggak papa kan?.
Tidak ada balasan.
Farel segera turun daru ranjang, mengganti seragam Basket dengan kaos dan celana jeans. Dengan tak sabaran meraih jaket, memakainya sambil meraih kunci motor. Kemudian mengambil helm dan bergegas meninggalkan apart.
Farel melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi menelusuri jalanan.
"Rachel tunggu sebentar, gue datang."
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....