Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 169


__ADS_3

Rachel berdehem beberapa kali untuk menetralisir detak jantung lalu mengalihkan pandangan pada Farel.


"Apaan sih, biasanya juga olahraga ngga ada yang nyemangatin. Terus kenapa tiba-tiba sekarang jadi butuh penyemangat."


"Nggak tahu nih, kalau nggak kamu kasih semangat, bawaannya jadi lemes, nggak mood mau ngapa-ngapain. Ayo dong cukup bilang, suamiku semangat olahraga nya."


Rachel tertawa, "Suami apaan coba. Kamu nih...."


"Di ucapin dulu aja, siapa tau jadi kenyataan, "Farel mengedipkan mata.


"Issh sejak kapan kamu jadi ganjen gini?."


"Sejak sama kamu."


Selesai pemanasan Farel langsung mencoba alat-alat gym. Rachel terus memperhatikan Farel yang sekarang mencoba salah satu alat gym yang berguna untuk menaikkan massa otot. Pantas saja tubuh Farel se bugar dan seatlentis itu, ia olahraga nya pun seberat ini dan rutin juga.


Rachel terus memperhatikan Farel hingga tiba-tiba sebuah sikelebatan bayang-bayang muncul dalam kepalanya. Rachel memejamkan mata saat sebuah potongan puzzle dan di adegan itu terus muncul dalam kepalanya seperti kaset rusak.


"Rachel."


Rachel membuka mata dan melihat Farel berjalan menghampirinya sambil membawa air mineral. Adegan ini seperti tidak asing dalam kepalanya.


"Argg..." Rachel mencengkram rambutnya saat semakin banyak adegan bermunculan dalam kepalanya.


"Rachel," Farel menjatuhkan botol mineral dan bergegas menghampiri Rachel.


"Rachel hei, kamu kenapa?." Farel berusaha menenangkan meraih kedua pergelangan tangan Rachel agar berhenti menjambak rambutnya sendiri. Farel tidak tahu apa yang terjadi tapi tidak seharusnya Rachel pun jambak rambutnya seperti ini karena akan menyakiti dirinya sendiri.


"Kenapa? Ada apa?."


Rachel menggeleng. Satu persatu ingatan Itu semakin banyak bermunculan dalam kepalanya, membuat kepalanya semakin sakit. Bukan sakit pusing biasa tapi sakit seperti ditusuk-tusuk.


"Ssstt tenang, tenang, jangan di paksa," Farwl merengkuh tubuh Rachel dalam pelukan, "Peluk aku."


Mengikuti arahan Farel, Rachel melingkarkan tangan di punggung Farel memeluk erat dan menyembunyikan wajahnya di bidang Farel. Rachel memejamkan mata rapat-rapat sambil berusaha menyusun kepingan demi kepingan adegan yang muncul dalam kepalanya menjadi satu adegan yang utuh tapi sulit sekali semakin Rachel mencoba kepalanya terasa semakin pusing.


"Gapapa, tenang ya!." Farel menepuk-nepuk lembut punggung Rachel. Mendekap semakin erat dan terus membisikan kata-kata penenang.


"Semua akan baik-baik saja. Jangan di paksa. Biarkan semua mengalir begitu saja. Tidak usah terburu-buru. Kita masih punya banyak waktu untuk mengembalikan ingatan kamu."

__ADS_1


Kata demi kata yang Farel katakan dengan begitu lembut dan teduh membuat perasaan Rachel lebih tenang. Kepingan-kepingan yang muncul dalam kepalanya Rachel di biarkan saja. Biarkan muncul apa adanya dan tidak memaksa menyusun kembali potongan-potongan adegan itu menjadi puzzle yang utuh dan benar perlahan rasa sakit di kepalanya berkurang. Bayangan adegan-adegan acak itu perlahan mulai menghilang.


"Aku di sini, aku akan selalu ada untuk kamu. Aku tidak akan kemana-mana, kita lewati ini sama-sama. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan kamu jangan merasa khawatir dan jangan merasa sendiri."


Lama mereka berpelukan sampai Rachel benar-benar merasa pulih dan pusingnya benar-benar hilang. Farel bisa merasakan itu dari pelukan Rachel yang mulai mengendur.


Farel melepas pelukan. Dengan lembut dan hati-hati Farel menangkup pipi Rachel mendongakkan wajahnya hingga mata mereka saling bertatapan.


"Sudah merasa tenang?."


Rachel menganguk.


"Kita pindah saja," Farel merangkul pundak Rachek dan membantunya berdiri.


Rachel berjalan beriringan dengan Farel meninggalkan ruangan gym, menuju ke salah satu spot yang ada di lantai 3 ini. Kursi di balkon lantai 3 menjadi pilihan Farel.


"Duduk sini!." Farel mendudukkan Rachel di kursi, sementara dia sendiri berjongkok di depan Rachel. Meraih kedua tangannya dan menatap teduh Rachel pun menatap lekat Farel. Lagi, Rachel merasakan kehangatan dari perlakuan Farel ini, Farel dengan lembut menyentuh lengannya, memeluknya, membisikan kata-kata penenang sungguh manis.


Sekarang perasaan Rachel sudah benar-benar tenang.


"Apa yang kamu rasakan? kamu masih pusing?."


"Tadi kenapa? kamu ingat kenangan-kenangan masa lalu?."


"Hm, seperti kaset rusak yang di putar kembali. Potongan adegannya muncul samar-samar. Aku berusaha menyatukan potongan itu, tapi kepala ku justru semakin pusing."


Farel mendengarkan dengan seksama. Kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan, Farel bisa melihat itu dari sorot mata Rachel sekarang. Hilangnya ingatan ini pasti sangat menyiksa.


"Terus seperti yang kamu katakan. Aku berhenti menyatukan adegan-adegan itu dan perlahan kepalaku tidak pusing lagi."


Tanpa melepas tatapan mata dari Rachel, Farel mengeratkam genggaman tangannya.


"Kalau begitu jangan di paksakan lagi seandainya tiba-tiba potongan-potongan kejadian random yang muncul dalam kepala kamu. Biarlah mengalir begitu saja. Aku yakin, pelan-pelan ingatan kamu akan kembali lagi. Tidak perlu tergesa-gesa."


Farel mengulurkan tangan dan mengusap rambut Rachel yang tergerai panjang.


"Dan yang paling penting, saat kepala kamu sakit jangan menjambak rambut kamu seperti tadi. Jangan menyakiti diri kamu sendiri. Jambak saja aku.


Rachel tersenyum samar.

__ADS_1


"Aku serius, jangan senyum-senyum begitu titik kamu bisa melakukan apapun padaku saat kepala kamu pusing. Jambak, tonjok, tampar, atau apapun itu. Tapi aku lebih suka kalau kamu memelukku."


Rachel tertawa dan mengacak rambut Farel sembari berkata, "Modus terselubung."


Farel tersenyum samar, "Kalau sekarang masih butuh pelukan?."


"Nggak."


"Kalau gitu aku yang mau peluk, Farel menumpukkan tubuh dengan siku sehingga posisi tubuhnya lebih sejajar dengan Rachel. tanpa memperdulikan penolakan Rachel langsung menariknya dalam pelukan.


"Pemaksa," Rachel mendengkus dan memukul pelan punggung Farel ."Aku hanya ingin memberikan kamu ketenangan."


"Aku udah merasa tenang dari tadi. Kamu saja yang modus."


"Hm, maafin calon suamimu yang tukang modus ini."


Rachel tersenyum.


***


"Mama kok nggak bilang-bilang mau pulang. Tahu-tahu udah sampai sini." Rachel mengerucutkan bibir sambil membantu Ayuma mengeluarkan baju-baju dari koper.


Tadi pagi Rachel berencana pergi bersama Farel ke tempat-tempat yang dulu sering mereka datangi. Tapi tiba-tiba ada nomor baru yang menelpon dan ternyata nomor itu milik Ayuma secara singkat Ayuma mengatakan mereka sudah sampai di Indonesia. Bahkan mereka sudah sampai di rumah Ayuma, rumah dulu milik orang tua Ayuma.


Sekarang di sinilah Rachel sedang membantu mamanya membereskan koper-koper. sementara Farel di luar bersama Edgar dan Rafa. Ayuma bilang sejak tadi Rafa sangat rewel dan tidak mau lepas, setelah mendapat bujukan dari Farel akhirnya Rafa mau melepas Ayuma Dan sekarang sedang bermain dengan Farel.


"Biar Surprise." Ucap Ayuma.


"Sama anak sendiri surprise surprise galah sih mah." Rachel menggeleng-gelengkan kepala lalu tak lama terkekeh juga. "Kalau mama memberitahuku sejak awal, aku bisa membuat rencana penyambutan mama. Kemarin waktu aku tiba di bandara aku disambut banyak orang tahu Mah."


"Oh ya, siapa?."


"Bangak, ada Om Anthony, Terus Tante Sarah dan ketiga anak kembarnya. Terus ada Bastian, Dypta juga. Mereka dulu sahabat kecil aku kan Ma? Mereka berempat ganteng-ganteng, tapi menurutku agak nggak waras, Ma."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2