
Brandon mengalihkan pandangan pada Amora yang tampak sedih. Brandon menjadi merasa bersalah. Kemarin setelah insiden pertengkaran Luna dan amora di rumah sakit, Brandon datang ke rumah Amora dan membujuknya agar mau memaafkan Luna.
Amora sungguh baik hati dan bilang akan meaafkan Luna. Amora justru ingin membantu Luna menjaga Kevin.
Meskipun Ibu tiri, Brandon menyanyangi Amora. Brandon sedih melihat sikap Kevin sedingin ini pada Amora. Ya namanya juga anak kecil, tapi Brandon tetap tidak suka dan harus menegur Kevin.
"Kevin, sekarang Kevin minta maaf ya sama Oma Amora."
"Nggak mau," Kevin menyilangkan tangan di depan dada.
"Sayang," Brandon terus membujuk Kevin.
"Ya sudah Kevin mau minta maaf sama Oma, kalau Oma minta maaf dulu sama Mama. Terus Oma harus janji nggak boleh marah-marah lagi sama mama. Kevin benci. Soalnya berisik."
"Kevin, cucu Oma tersayang. Oma nggak marah sama mama kamu. Oma cuma memberitahu sama mama kamu cara merawat kamu dengan benar supaya Kevin tidak sakit lagi."
"Kevin sakit bukan karena mama, Kevin sakit karena..." Kevin tampak berpikir keras. "Ya sakit. Pokoknya sakit aja."
"Sakit pasti ada sebabnya Kevin. Kevin nggak tahu, tapi Oma tau. Mungkin makanan Kevin yang kurang sehat, mungkin mainan Kevin yang kotor tapi belum di bersihkan. Nah untuk itulah Oma di sini, untuk memastikan semua aman dan Kevin terbebas dari penyakit."
Luna menggeleng, khawatir Kevin terpengaruh dengan omongan Amora. Takut Kevin menganggapnya bukan Ibu yang baik, baru saja Luna membuka mulut Brandon mencengkram lengannya. Brandon memberi kode agar Luna tetap diam.
"Nggak! mama nggak begitu. Jangan salahin mama trus." Kevin berkaca-kaca dan mendongak menatap Luna, "Kevin sayang mama, hiks mamaaaa," akhirnya Kevin menangis karena kesal dengan situasi ini, tapi bingung harus melakukan apa.
"Kevin mau berduaan aja sama mama. Kevin nggak mau bicara sama Oma. Ayo ke kamar Mama, hiksss. Ke kamaarrrr,"
Kevin terus menangis dan meronta-ronta dalam pangkuan Luna.
"Iya, Sayang. Kita ke kamar ya, Kevin jangan nangis." Luna berdiri dengan Kevin dalam gendongannya, lalu menatap Amora dan Brandon bergantian.
"Ma, Mas aku ke kamar dulu ya. Kevin mau ke kamar. Maaf aku tidak bisa mengantar kamu ke depan."
"Tidak apa-apa," Brandon berdiri dan mengusap pipi Kevin, "Ya udah kalau begitu papa berangkat ke kantor dulu ya, sini cium dulu."
Brandon mencium dahi, pipi dan hidung putranya. Kevin masih sesegukan di gendongan Luna.
Brandon jadi merasa bersalah karena sudah memaksa Kevin melakukan hal yang tidak di sukai Kevin baru saja pulang dari rumah sakit, seharusnya Brandon menjaga kondisi psikis putranya agar tetap bahagia.
Masalahnya Brandon dilema, di satu sisi tidak ingin menyakiti perasaan Amora, tapi juga tidak tega pada putranya. Brandon jadi serba salah.
"SURUH OMA PERGI," teriak Kevin.
Karena kesal, mau tidak mau Amora pulang juga, tapi besok dia pasti akan datang
__ADS_1
***
"Mah, lihat itu, bagus nggak?."
"Wow, bagus sekali." Sarah menatap kagum cincin yang ada dalam beludru yang di sodorkan putranya, "Buat apa?."
Farel tidak langsung menjawab, tapi justru senyum-senyum sendiri. Dan tanpa Farel menjawab pun. Sarah sudah menebak untuk siapa cincin cantik itu.
"Cie, mau ngelamar ya," goda Sarah pada putranya.
Farel semakin malu, "Nggak sih, Ma. Mau ngasih aja. Tapi sekalian buat nunjukin kalau aku benar-benar serius sama dia. Karena itu aku ngasih cincin, bukan kalung, gelang atau yang lainnya."
Sarah menganguk-angguk, "Hm, Mama dukung sekali. Ya ampun anak mama sudah dewasa," Sarah mengusap rambut Farel sambil berkaca-kaca.
"Mama kangen Farel kecil ya?." tanya Farel sambil tersenyum.
"Hm, Mama rindu sekali Farel kecil. Farel yang siap pasang badan melawan siapapun yang jahat sama mama. Kamu tuh pemberani banget waktu kecil."
Farel tertawa. "Nggak nyangka waktu berlalu secepat ini Mama ingat saat pertama kali kita bertemu di kantor ayah, saat kamu berusia 5 tahun, kamu lucu banget, matanya bulat, tiba-tiba panggil mama dengan panggilan mama, bahkan memaksa Mama pulang bersama kamu, Mama ingat sekali, waktu itu Mama menolak, karena saat itu Mama ada rapat penting. Terus kamu guling-guling di lantai sambil menangis."
Farel tertawa, "Masa sih Mah aku kok nggak ingat."
"Saat itu kamu berusia 5 tahun mungkin hanya ingatan tertentu yang sangat membekas yang kamu ingat."
Sarah tertawa, "Nggak tau tuh Ayah kamu."
"Ekhem," Anthony berdehem, sambil berjalan mendekat istri dan anaknya yang duduk di stool chair di pantry bar. Karena Sarah suka memasak cara menghias dapur sedemikian rupa sehingga menjadi tempat yang nyaman bukan hanya untuk memasak tapi juga untuk mengobrol ringan seperti sekarang sejak tadi Sarah dan Farel betah berlama-lama mengobrol pantry bar.
"Mas," Sapa Sarah.
Anthony berdiri di samping Sarah dan merangkul pinggangnya.
"Hobi banget setiap ngobrol berdua pasti ngomongin Ayah." Ucap Anthony sambil mencium pelepasan Sarah.
Farel tertawa, "Ya dari pada ngobrolin suami orang. Ya mending ngobrolin Ayah, ih kepo."
Sarah tersenyum mendengar candaan Farel.
"Selain ngobrolin kamu, Aku dan Farel juga ngobrolin tentang Farel yang mau ngasih cincin buat calon menantu kamu."
"Oh yah? mana cincinnya?." tanya Anthony antusias. "Kamu nggak mungkin kan ngasih Rachel cincin murahan."
"Ini Yah," Farel menyerahkan kotak beludru.
__ADS_1
"Berlian nya berapa karat ini? harganya berapa? beli nya di mana?yang desain siapa?."
Sarah tertawa melihat kehebohan Anthony.
"Tanpa Ayah minta pun, aku pasti akan memberikan yang terbaik buat Rachel. Aku minta Oma Sopia yang mendesainnya, jadi nggak di ragukan lagi desain dan kualitasnya."
Anthony menganguk-angguk. Ibu mertuanya memang seorang desainer perhiasan.
"Terus kapan kamu ngasihnya?."
"Rencana nya nanti malam. Soalnya pagi ini Rachel lagi jalan sama Rendy."
"Rendy?." Anthony menyipitkan mata, "Dan kamu membiarkannya begitu saja? nggak ikut?."
"Mas, Rachel sama Rendy sahabat," Saraha menggeleng-gelengkan kepala. Heran dengan keprotektifan suaminya, "Aku yakin Rendy cuma mau menghabiskan waktu berdua sama sahabatnya."
"Iya Sayang. Tapi harus tetap waspada dong."
"Oke Siap," tiba-tiba Farel berdiri dan memberi hormat pada Anthony, "Oke komandan perintah di terima. Saya akan mengamankan calon menantu Ayah komandan. Tapi nanti saya ada rapat."
"Gampang, Ayah aja yang urus."
Farel tertawa, "Tos dulu dong, Yah."
Farel dan Anthony melakukan high five, menunjukkan betapa kompaknya Ayah dan anak itu sekarang.
"Mama mau ikutan dong."
Farel mengalihkan pandangan pada Rachel.
Cup.
"Hehe, aku pergi sekarang." setelah mencuri kecupan di pipi Mamanya, Farel langsung lari.
"AYAH NGGAK SUKA KAMU CIUM MAMA!."
Sarah hanya tertawa mendengar teriakan suaminya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...