
Farel menggeleng, "Nggak, lo bukan orang jahat. Kalau ada yang bilang lo jahat gue tabok mulutnya pakai buldoser."
Rachel tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Udah nggak usah di bahas lagi, cuman bikin sedih. Mending lo makan aja, pura-pura bahagia juga butuh tenaga, Rachel."
Farel membuka lunch box, lalu mengarahkan ke depan Rachel.
"Mau gue suapi?."
"Gue bisa makan sendiri."
"Ga papa, gue suapi."
"Tangan kanan lo kan lagi sakit terus lo mau nyuapin gue pakai tangan kiri?."
"Siapa bilang gue pakai tangan kiri, gue mau nyuapin lo pakai mulut."
"FAREL."
Farel tertawa.
"Rel ya kok lo di sini? lo nggak nemenin Luna? Mungkin sekarang Luna butuh lo. Mungkin dia-hhhmmp."
Rachel terkejut dengan mata melotot saat tiba-tiba Farel menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Dari tadi gue nyuruh lo makan, lo malah ngomong terus."
Rachel mengunyah nasi dengan cepat, lalu melotot pada manusia jahil ini.
"Nyebelin."
Farel terkekeh dan mengacak rambutnya.
"Makan yang banyak biar tumbuh besar kayak ..."
"FAREL."
Farel terkekeh karena bisa menggoda Rachel.
***
"Farel, kenapa nggak angkat telepon, hiks."
__ADS_1
Tak terhitung berapa kalo Luna mengirim pesan dan menelpon Farel tapi tak ada satu pun balasan. Padahal saat ini dia sangat membutuhkan Farel tapi kenapa Farel tidak ada saat dia membutuhkan.
Tak apa jika Farel tidak bisa menemui nya Luna juga mengerti sekarang Farel sedang sakit. Paling tidak Luna berharap Farel mau mengangkat panggilan mendengarkan curhatan nya. Saat ini Luna benar-benar butuh pendengar.
Biasanya di saat-saat terpuruknya, Rachel yang selalu ada untuknya. Rachel akan jadi orang pertama yang menghiburnya, tapi sekarang... Luna tidak bisa bertemu Rachel lagi. Luna terlalu malu atas apa yang dia lakukan tadi pagi.
Sekarang satu-satu nya harapan Luna hanyalah Farel, laki-laki yang sangat dia cintai. Luna berharap Farel menemaninya bicara sekarang.
"Farel, aku mau ketemu kamu."
Di dalam taksi, Luna tak bisa membendung tangisnya. Tak peduli lagi pada Pak Sopir, entah apa yang beliau pikirkan tentangnya, Luna hanya ingin menangis dan melupakan kesedihannya sekarang.
Luna masih terus mencoba menelpon dan mengirim pesan pada Farel tapi tak ada satu pun pesannya yang di balas. Farel sangat keterlaluan. Padahal dulu sebelum mereka jadian Farel selalu ada untuknya. Tapi sekarang jangankan selalu ada, menanyakan kabar saja tidak.
"Farel, angkat lima menit aja. Aku ingin cerita."
Luna ingin sekali ke rumah Farel, tapi takut ketemu Sarah dan Anthony setelah membuat kekacauan tadi pagi.
Luna tidak tahu harus kemana sekarang. Dia meminta Pak Sopir jalan saja sambil Luna memikirkan tujuannya.
Entah mau kemana sekarang, dia tidak punya teman dekat yang bisa dia temui atau dia minta tolong untuk menginap semalam. Teman-teman dekatnya hanya ada Rachel dan Geng Farel tapi setelah kejadian di rumah Farel tadi, Luna malu jika bertemu dengan mereka apalagi semua yang dia katakan adalah kebohongan.
Luna merasa sendiri sekarang.
"Farel angkat! please. Aku mohon, aku butuh kamu."
Namun itu terjadi karena Dilara dan Hendrawan membohonginya, seandainya Ayah dan Ibunya tidak berbohong Luna tidak akan bicara seperti itu. Dia juga tidak akan merasakan di tampar di depan semua orang dan semua orang tidak akan membencinya seperti sekarang.
"Farel, aku mohon di angkat, please."
Dan tiba-tiba panggilan di angkat, seketika Luna berbinar.
"Halo, Farel. Ya ampun akhirnya kamu mengangkat telepon ku juga. Kamu dari mana saja? aku ingin cerita aku-."
"Halo, Kak Luna. Ini aku Rani.Hp Bang Farel ketinggalan di rumah, karena dari tadi bunyi terus aku angkat deh."
Seketika bahu Luna merosot mendengar suara itu. Matanya kaca-kaca, kecewa, marah, kesal semua bercampur aduk membuat Luna semakin terpuruk.
"Terus Abang kemana? ke dokter,?"
"Enggak Kak, Abang sama Mama bilang mereka mau ke rumah Tante Ayuma sama Kak Rachel."
Air mata Luna yang sempat mengering kini mengalir lagi. Rachel. Lagi-lagi Rachel. sekarang semua orang berpihak pada Rachel, padahal bukan Rachel yang sedih, Luna juga. Di bohongi orang tua, tidak di anggap cucu oleh Kakek kandungnya, keluarga besar Kakek kandung memutuskan hubungan, di benci teman-temannya bahkan pacar pun ikut menjauh.
__ADS_1
Sedangkan Rachel, meskipun tidak mendapatkan kasih sayang dari Hendrawan tapi Rachel mendapatkan kasih sayang dari semua orang.
Lelah, Luna lelah menjadi dirinya. Luna sekali saja ingin menjadi Rachel dan di cintai banyak orang.
"Rani ngapain kamu pegang ponsel Abang, Sayang. Nggak boleh! Ayo balikin."
"Oke Ayah, ya udah Kak Luna. Aku matiin dulu panggilannya yah. Nanti kalau Abang pulang Rani bilang Kak Luna telepon."
"Iya Rani, terima kasih."
"Sama-sama Kak Luna."
Panggilan di akhiri dan saat itu tangis Luna pecah. Tangisnya semakin kencang sampai membuat Sopir beberapa kali menoleh ke belakang untuk melihat kondisi Luna.
Namun karena tidak tahu apa yang terjadi, dan Sopir mengira mungkin saja penumpangnya ini ingin sendiri, akhirnya Pak Sopir tetap diam dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Maaf yah Pak kalau tangis saya mengganggu Bapak!. Saya benar-benar sedih sekarang dan saya merasa tidak punya siapa-siapa lagi."
"Iya Neng ga papa. Ngomong-ngomong Neng ini Neng Luna kan? penyanyi terkenal itu?.".
Luna tersenyum, "Iya Pak, tolong jangan beritahu siapa-siapa yah kalau saya menangis dalam taksi ini!."
"Iya Neng, saya sudah sering membawa penumpang-penumpang yang sedang menangis. Saya juga menjaga privasi orang. Kalau Neng masih ingin menangis, menangis saja. Biar lega!."
"Terima kasih Pak, terima kasih banyak."
"Sama-sama Neng."
Pak Sopir pun melajukan mobil lagi, namun tiba-tiba mobil belakang menyalip dan berhenti di depannya. Dengan cepat Pak Sopir mengerem mobil tepat sebelum mobilnya menabrak mobil porshe di depannya ini.
"Neng tidak apa-apa? Maaf, Neng, di depan ada mobil yang tiba-tiba berhenti di depan mobil saya."
"Saya tidak apa-apa, Pak."
Luna melongokkan kepala ke depan, begitu pemilik mobil Porsche itu turun dari mobil seketika Luna membuatkan mata begitu menyadari mereka adalah Mama dan Papa nya.
Luna membuka mulut baru saja ingin meminta Pak Sopir melajukan mobil tapi... Setelah di pikir-pikir mau sampai kapan dia kabur-kaburan seperti ini. Mama dan Papa nya pasti sangat mengkhawatirkannya sekarang. Apalagi sekarang kondisi Papa nya terluka tapi Papa nya masih mau mencarinya.
Mereka memang bersalah tapi sekarang hanya mereka yang Luna miliki. Orang yang Luna percaya tidak akan pernah meninggalkannya hanya mereka, Mama dan Papa nya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...