
"Om Angga bikin kue? Wah Om Angga pasti cute pake celemek." Rachel terkekeh membanyangkan wajah garang Angga yang memakai celemek.
"Mana ada cute, Ayah itu udah tua, nggak ada cute-cute nya. Yang ada Ayah pasti aneh pakai celemek." sinis Farel lalu berjalan ke dapur.
"Eh aku duluan." namun Rachel berjalan lebih cepat menuju ke dapur.
Farel berdecih, "Mau ketemu Om aja kayak seperti akan bertemu artis papan atas."
Sarah terkekeh dan berjalan di samping putranya, "Ngga usah cemburu gitu, Rachel memuji Ayah kami sendiri."
Farel membulatkan matanya, "Siapa yang cemburu?, Mamah jangan sembarangan."
"Farel, Farel. Tingkah kamu ini mengingatkan Mamah sama tingkah Ayah waktu muda dulu. Kamu ingat saat Mamah dekat sama kamu, Ayah pasti cemburu berat. Padahal kamu itu anak kandungnya dan seharusnya dia cemburu. Tapi saking cinta nya sama Mamah, dengan siapapun Ayah pasti cemburu. Begitu halnya dengan kamu, saking cinta nya kamu sama Rachel kamu begitu cemburu sekali dengan Ayah kamu sendiri."
"Benarkah?."
"Iyah Farel." Darah senang dengan jawaban Farel.
"Ayah suka gitu juga?."
"Iya, masa kamu nggak ingat?."
"Ingat, Ayah merasa kesal saat aku dekat dengan Mamah sampai Aku di marahi. Tapi aku kira Ayah cuman bercanda."
"Ayah kamu cemburu, coba deh kamu bicara dengan Ayah kamu, deep talk soal perasaan. Mungkin sesama lelaki kalian bisa saling mengerti."
Farel terdiam dan terlihat gelisah.
"A-aku bingung Mah. Aku mau ke dapur ikut Ayah bikin Kue."
Farel berbalik badan dan berlari cepat meninggalkan Mamahnya sebelum mamahnya bertanya - tanya lagi tentang perasaannya.
"Jangan lupa pakai celemek biar kelihatan cute di mata Rachel." goda Sarah.
"AKU NGGAK DENGER NGGAK DENGER."
Farel menutup telinga sambil berlari semakin cepat. Sementara Sarah tergelak melihat tingkah putrinya. Meskipun Farel sudah besar, tapi di mata Sarah, Farel masih anak-anak.
"OM ANGGAAAA."
Angga tersenyum mendengar suara riang itu. Tanpa melihat pun Angga masih bisa mengenali suara itu.
"OM." seru Rachel saat sudah berada di sisi Angga. Lalu nyaris menyemburkan tawa saat melihat Angga berbadan tegap dan tinggi memakai celemek berwarna Pink motif bunga-bunga.
"Ngga usah ketawa atau om getok kepala kamu pakai centong."
__ADS_1
"HAHAHAA." Rachel justru tertawa semakin keras.
"Om, om kelihatan cute banget pake celemek itu."
Angga melirik celemek yang dia pakai. Setelah anak-anak tidur, Angga mengajak Sarah untuk berhangat-hangat di kasur, Sarah mengiyakan tapi setelah membuat kue bersama. Di hari Wekeend Sarah ingin melakukan sesuatu selain urusan ranjang.
Maksudnya moment-moment kecil seperti membuat kue, menonton film bersama, atau tidur-tiduran sambil berpelukan.
"Cute apa sih." Farel datang dan menarik rambut Rachel.
"Sakit." Rachel membalas dengan menonjok lengan Farel.
"Ayah emang cute." ucap Angga yang memuji diri sendiri.
"Ayah udah tua jadi bukan cute lagi tapi aneh."
Sarah yang baru datang hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Ayah dan anak ini yang sejak dulu selalu bertengkar.
"Selain cute, Om Angga juga kelihatan selalu ganteng." Puji Rachel sambil memberi finger love dengan kedua tangannya pada Angga.
Angga terkekeh lalu melirik putra nya yang nampak sebal.
"Mamah aku mau bantuin." ucap Farel sambil menatap Sarah yang memakai apron biru.
Angga dan Sarah tergelak bersamaan, sementara Rachel bingung kenapa mereka semua tertawa sedangkan Farel berdecak kesal tapi tetap memakai apron Pink.
"Ini gimana sih cara pakainya." gemas Farel karena sejak tadi dia tidak bisa memakai apron nya.
"Pakai apron aja ga bisa. Mau sok sok-an masak. Sini gue pakein." Rachel meraih apron itu lalu membantu Farel memakainya.
"Gimana kalau kita battle. Tim 1 Mamah sama Ayah. Terus kalian Tim 2. Yang jadi juri nya nanti Reza, Rana Dan Rani. Siapapun yang roti nya habis duluan dialah pemenangnya. Dan yang menang boleh minta apapun pada yang kalah. Gimana?." usul Sarah.
"Setuju." riang Rachel.
Karena Rachel terlihat bahagia, Farel pun menyetujui usulan Mamah nya.
"Nanti kalau aku menang, aku mau nyuruh Ayah goyang ngebor."
Angga berdecih, "Lihat saja nanti siapa yang menang, yang pasti Mamah dan Ayah." Angga merangkul pundak Sarah dan mencuri kecupan di pipi.
"Mas." Sarah langsung mencubit perut suaminya yang tidak tahu tempat jika ingin bermesraan.
Tak menunggu lama, mereka pun bergabung dengan tim masing-masing, mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat roti sesuai dengan jenis roti yang akan di buat. Awalnya mereka ingin membuat kue, tapi akhirnya mereka memutuskan untuk membuat roti saja menyesuaikan dengan stok yang ada di dapur.
Setelah itu Angga mengaktifkan timer dan kompetensi memasak kecil pun dimulai.
__ADS_1
Sontak saja dapur menjadi heboh. Angga dan Farel memang tidak bisa memasak namun mereka mengikuti instruksi Sarah dan Rachel.
"Farel itu bukan tepung tapi baking soda."
"Mas Angga telur nya kurang, tolong ambilin dua."
"Farel ya ampun, gini loh cara pakai mixer nya."
"Mas Angga, please ngga usah meluk-meluk dulu. Ini bukan waktu nya bermesraan." gemas Sarah yang tiba-tiba Angga memeluknya dari belakang. Memang sudah menjadi kebiasaan Angga saat Sarah memasak, Angga akan memeluknya. Tapi masalahnya sekarang sedang kompetensi, ada Rachel juga. Sarah malu karena sudah tua tapi kayak abg yang sedang pacaran.
"Fatel ngga usah ikut-ikutan." sentak Rachel saat tiba-tiba Farel memeluknya dari belakang.
"Biar romantis kayak Ayah sama Mamah, hehee."
"Heh, Ayah sama Mamah udah nikah. Jadi sah-sah saja kami bermesraan, lah kamu sama Rachel. Nikah dulu sana terus lakukan apapun yang ingin kalian lakukan."
Farel tersenyum masih di posisi memeluk Rachel dari belakang. Rachel terus mengomel dan menyuruh Farel untuk melepaskan pelukannya tapi Farel justru memeluknya erat. Malas berdebat, akhirnya Rachel hanya diam saja dan fokus membuat adonan roti.
"Gimana Rachel? Ayah minta kita nikah. Kamu mau nggak nikah sama aku?."
"Apaan sih Rel."
Farel tertawa, "Tuch Yah, Rachel ngga mau."
Rachel tidak mengambil hati perkataan Farel. Karena seperti biasanya Farel selalu PHP. Dan seperti biasa juga mereka mengatakan itu hanya untuk menjahilinya. Rachel tahu di hati Farel hanya ada nama Luna.
Tapi rasanya Rachel tak bisa menjauhi Farel, bukan karena cintanya pada Farel tapi karena keluarganya. Rachel suka berada di tengah-tengah keluarga Farel. Mereka sangat harmonis, hangat dan menyenangkan.
***
"MAMAH, MAMAH, MAMAH."
Sarah yang sedang menata roti di meja menoleh dan senyumnya mengembang begitu melihat ketiga krucilnya berjalan mendekat dengan muka bantal. Terlihat jelas mereka baru bangun.
"Eh ada ka Rachel. Halo ka Rachel." Sapa Rana.
"Kak Rachel." Rani ikut menyapa.
Reza yang masih mengantuk-ngantuk langsung melek begitu mendengar nama Rachel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1