
Mengabaikan Farel, Dypta duduk di kursi belajarnya setelah meletakkan handuk di dalam kamar.
"Mau sampai kapan lo kayak gini?."
"Kayak gini apa maksud lo?. Gue dari kecil emang udah ganteng."
Dypta memutar bola mata, "Maksud gue berhenti menjadikan Rachel mainan lo yang bisa lo mainin saat lo lagi bosan."
"Mulut lo ngga pernah pakai kulit duren yah? sembarangan banget kalau ngomong." Farel bereaksi. Ekspresi jenaka nya berubah menjadi serius. "Gue ngga ada niat sekalipun untuk mempermainkan Rachel."
"Ya kalau begitu berhenti!."
"Berhenti apa? emang gue melakukan apa?."
"Rel lo pintar kalau masalah pelajaran, tapi kenapa kalau masalah perasaan gini lo bodoh banget. Lo sadar ngga sih lo itu tukang PHP, perhatiannya ke siapa suka nya sama siapa? Kalau lo mau sama Luna ya udah lo ga usah perhatian sama Rachel dengan embel-embel perhatian abang ke adek. Ngga ada adek-adekan antara cewek dan cowok tanpa ikatan darah. Salah satu nya pasti akan menyimpan rasa."
"Gue ngga pernah ada niat untuk mempermainkan Rachel atau php-in. Gue emang bener nganggep dia adik gue sendiri. Gue gak pernah baperin dia. Rachel juga bilang dia gak suka gue."
Demi apapun Dypta ingin sekali menonjok wajah Farel terlihat polis tanpa dosa itu.
"Ya udah anggep aja Rachel adik Lo, dan biarin Rachel jadian sama gue."
"Ngga bisa!."
"Kenapa ngga bisa?. Apa yang salah dari gue? Apa gue playboy? Apa gue tukang mabuk? Apa gue suka main ****? Apa gue pernah pacaran? Enggak kan?."
Farel terdiam, dari segi apapun Dypta jelas cocok jadi pacar idaman, suami idaman, menantu idaman. Tidak ada yang meragukan dalam diri Dypta untuk menjadi pacar Rachel, tapi....
"Gue tetep gak rela!."
"Ya terus lo mau nya gimana? buat jadi pacar Rachel." Dyta benar-benar geregetan dengan sahabat karib nya ini.
"Ya gak usah pacaran."
__ADS_1
"Lo boleh pacaran sama Luna, tapi Rachel ngga boleh?."
"Bukannya gak boleh, tapi belum waktunya. Rachel masih kecil, ngga boleh pacaran."
"Kapan?, nungguin lo nikah dulu sama Luna baru Rachel boleh pacaran? Sumpah lo itu ingin gue cincang-cincang!."
Dypta berdecih kemudian fokus mengerjakan design nya.
Sebagai mahasiswa arsitektur, hari-hari Dypta di sibukkan dengan survei, membuat sketsa, membuat gambar, membuat maket, presentasi dan kepusingan lainnya. Dypta nyaris tidak punya waktu untuk bermain bersama teman-temannya. Meski begitu dia sangat meluangkan waktu nya berkumpul dengan teman-temannya.
Bukan hanya dirinya, mereka juga sibuk. Bastian di gembleng habis-habisan oleh kakeknya sebagai pewaris kerajaan bisnis keluarga. Sama hal nya dengan Farel yang mengambil jurusan bisnis untuk meneruskan perusahaan keluarga mereka. Bastian juga mengambil jurusan bisnis.
Rachel mengambil jurusan manajemen. Rachel tidak terlalu sibuk dengan kuliah. Tapi Rachel sibuk dengan kegiatan sosial, ikut kegiatan kampus mengajar, bergabung bersama komunitas perlindungan perempuan dan komunitas-komunitas lain berkaitan dengan sosial dan kemanusiaan. Rachel tidak suka publikasi dan lebih suka bekerja di balik layar.
Rendy memiliki jiwa petualangan tinggi memilih jurusan pariwisata. Hampir setiap minggu travelling. Tapi bukan hanya sekedar travelling, setiap daerah yang dia kunjungi dan memiliki potensi tinggi, Rendy akan membangun sesuatu di sana entah Villa, resort, restoran, hotel atau investasi. Rendy kelihatannya hahahahihii, tapi dia sangat cerdas. Otak bisnis nya paling lancar. Modal itu emang dari orang tuanya, tapi sebagai hutang, target satu tahun bisnis nya harus balik modal.
Luna juga sedang sibuk mewujudkan cita-cita nya menjadi artis multitalenta. Luna berlatih bekerja keras. Siang dan malam terus mengasah kemampuan bernyanyi nya hingga dia bisa berada di posisi nya sekarang.
Dan Dypta berharap persahabatan mereka akan langgeng sampai tua nanti.
Tapi masalahnya cinta-cintaan ini yang Dypta khawatirkan akan memecah belah persahabatan mereka.
***
Pagi-pagi sekali Farel sudah mengetuk pintu Apartement Rachel. Kebetulan sekali juga Rachel baru saja keluar dari Apartement. Begitu melihat Farel, Rachel langsung lari menuju lift.
"Achel...Achel TUNGGU!."
Farel langsung berlari secepat kilat menuju lift tepat sebelum pintu lift tertutup.
"Dypta yang melihat kelakuan Farel hanya menggelengkan kepala. Dia yqng mencintai Rachel saja tidak sebegitu nya mengejar cinta Rachel, tapi Farel yang katanya cuma menganggap teman justru mengejar Rachel seperti seorang pacar yang mengejar pacar nya yang ngambek."
Dypta pun mengunci pintu apartement yang langsung terkunci otomatis, lalu berjalan menuju lift sambil meregangkan tangan. Pagi ini Dypta ingin joging, sesibuk apapun dia selalu menyempatkan waktu untuk olahraga.
__ADS_1
Sebelum Jogging Dypta melakukan pemanasan terlebih dahulu terutama di otot- otot kaki agar tidak kram saat berlari.
"Hai!."
Dypta yang sedang meregangkan kaki terkejut melihat Luna berada di sampingnya. Tapi tak peduli lalu melanjutkan peregangan lagi.
Luna mengerutcutkan bibir nya, tak heran Dypta emang cuek, agak dingin. dan jarang berbicara. Tapi jika topik pembicaraan penting, Dypta bisa berbicara panjang lebar.
"Aku mau tanya." ucap Luna kemudian.
"Apa?."
"Waktu itu saat aku menyatakan perasaan cintaku kepadamu, kamu bilang belum mencintaiku dan kamu memberi kesempatan untuk ku agar aku bisa meluluhkan hati mu dalam waktu 30 hari. Jika aku gagal maka aku harus berhenti mengejar kamu. Oke aku menyanggupi. Malam itu juga akan bilang, aku ingin pindah ke unit apartement yang ada di depan Apartement kamu kalau penyewa sebelumnya pergi. Aku berencana tinggal di apartement itu sehingga dalam satu bulan ini kita akan menjadi dekat. Tapi kenapa kamu justru merekomendasikan Apartement untuk Rachel?."
"Atau jangan-jangan selama ini diam-diam kamu mencintai Rachel. Karena itu kamu minta Rachel pindah ke depan Apartement kamu.? tanya Luna karena sejak tadi Dypta hanya diam.
Luna benar-benar tidak bisa menebak bagaimana perasaan Dypta. Karena Dypta memang jarang menunjukkan ekspresi, selama ini Dypta tidak mengejar Rachel layaknya orang PDKT. Perlakuan Dypta pun kepada Rachel biasa saja, tidak ada yang spesial.
Entah karena Dypta tidak mencintai Rachel atau Dypta terlalu pintar menyembunyikan perasaannya.
"Kalau misal aku mencintai Rachel, apa yang akan kamu lakukan?." tanya Dypta iseng.
"Kecewa, aku sangat kecewa sam kamu Dypta, selama ini aku berjuang mati-matian untuk mendapatkan kamu. Tapi malah mencintai perempuan lain, dan pere.ouan lain itu adalah sahabat ku sendiri. Aku tanya apakah kamu berniat menghancurkan persahabatan ku dengan Rachel?."
"Aku tanya misalnya Luna, misal...."
Luna tertawa "Dan itu menjadi jawabku kalau kamu benar-benar mencintai Rachel. Aju kecewa banget, Kamu keterlaluan banget kalau kamu sampai mencintai Rachel yang tidak melakukan apapun, sedangkan aku berjuang mati-matian untuk kamu. Tapi wajar juga sih kamu mencintai Rachel karena kalian sama-sama anak konglomerat."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1