Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 116


__ADS_3

Rachel mengambil surat itu dan menatap sendu kertas binder berwarna pink, warna kesukaannya Luna. Dengan perlahan-lahan, Rachel mulai membaca surat itu.


...----------------...


...[Rachel, sahabatku....


...Ada banyak hal yang ingin aku katakan, tapi aku bingung memulai dari mana....


...Mungkin aku mulai dengan perasaanku. Aku benar-benar senang berteman dengan kamu. Dari dulu sampai sekarang aku masih menyanyangimu sebagai sahabatku....


...Tapi karena sering bersama, banyak orang yang membandingkan kita. Awalnya aku biasa saja, tapi semakin kesini aku semakin kesal. Dan aku mulai membanding-bandingkan diriku sendiri dengan kamu....


...Aku iri dengan kamu yang sangat cantik, iri dengan keluarga kamu yang lengkap, iri dengan kamu yang terlahir dari orang kaya dan apa yang kamu inginkan selalu kamu dapatkan....


...Aku sulit mengendalikan perasaan ini, hingga tanpa sadar aku selalu menginginkan apapun yang yang kamu miliki....


...Hingga puncaknya kemarin, aku berusaha untuk melindungi karirku dengan mengkambinghitamkan kamu. Tapi rencanaku tidak berjalan lancar. Karir yanga ku bangun dan berusaha ku lindungi mati-matian hancur oleh tanganku sendiri....


...Sekarang semua orang membenciku, ah tidak juga dari dulu orang-orang memang sudah membenciku. Harusnya aku terbiasa dengan hal itu, tapi aku tetap saja aku merasa sedih dan takut....


...Dulu walaupun aku tahu semua orang membenciku, aku tidak pernah merasa sedih karena ada memiliki kamu, seseorang yang tidak akan pernah pergi atau meninggalkan aku. Tapi justru aku yang membuat kamu pergi karena kebodohanku sendiri....


...Maaf, maaf untuk segalanya....


^^^Mungkin itu saja yang bisa aku sampaikan. Aku nggak tahu akan pergi berapa lama atau bisa jadi Nggak akan pulang lagi.^^^


...Terima kasih sudah mau menjadi temanku....


Luna.


...----------------...


Rachel berkaca-kaca setelah selesai membaca surat itu. Di beberapa bagian kertas itu terdapat noda seperti tetesan air mata. Mungkin Luna menangis saat menulis surat ini.


"Menurut kamu itu keputusan terbaik kan?."


Rachel masih diam dan menatap kertas itu. Kita masih bisa mempertahankan Luna di sini, salah satu caranya dengan kamu mengklarifikasi san mengatakan ini bukan salah Luna. Kamu juga ikut andil, kamu-."


"Tante," Rachel menatap Dilara, menarik nafas dalam-dalam. Meskipun berat, Rachel harus berani menolak.

__ADS_1


"Maaf, Tante. Saya rasa keputusan Papa untuk mengirim Luna ke luar negeri adalah keputusan yang paling tepat. Papa juga pasti sudah memikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan itu. Apalagi Papa sangat menyanyangi Luna, papa pasti ingin memberikan yang terbaik untuk Luna."


Rachel tersenyum, "Kalau tak ada yang ingin Tante katakan lagi, saya pamit ya. Sebentar lagi kelas saya akan di mulai."


"Rachel tunggu," Dilara menahan pergelangan tangan Rachel. "Tante mohon Rachel, Tante tidak ingin berpisah dengan Luna. Luna juga tidak pernah jauh dari saya. Saya takut terjadi sesuatu dengan Luna kalau tinggal sendirian di luar negeri, Rachel. Saya mohon."


Tiba-tiba Dilara berlutut dihadapan Rachel, sontak saja Rachel membulatkan mata terkejut, beberapa mahasiswa juga menoleh ke arahnya.


"Tante, apa yang Tante lakukan. Tolong berdiri."


"Tidak, saya tidak akan berdiri sebelum kamu mengiyakan permintaan saya."


Rachel terus berusaha membangunkan Dilara, tapi Dilara tetap menolak. Hingga ada beberapa mahasiswa berlarian meninggalkan gedung fakultas Rachel.


"Rachel, lo tau nggak? Luna lagi berantem sama Bella di parkiran." ucap Wulan yang baru saja tiba dari parkiran tadi.


Dilara dan Rachel sama-sama terkejut mendengar itu.


"Luna," Tanpa menunggu lama Dilara melepas genggaman tangannya dari Rachel dan berlari menuju ke parkiran. "Ya Tuhan, apa yang terjadi?." gumam Dilara sambil mempercepat lari.


Di sisi lain di parkiran ada beberapa mahasiswa gabut berkumpul do sana. Kehebohan itu di sebabkan pertengkaran Bella dan Luna.


Luna terus berusaha melepaskan jambakan Bella, tapi Bella justru memperkuat jambakannya. Luna juga sudah berusaha melawan dengan menjambak balik Bella tapi tenaga Bella sangat kuat. Akhirnya Bella melepaskan jambakannya dan menahan tangan Bella pada rambutnya.


"Sakit, tolong."


"Sakit? Rasa sakit lo nggak seberapa di bandingkan rasa sakit gue. Gara-gara IGS sampah lo itu, gue menyerang orang yang salah dan gue dikeluarkan dari kampus. Coba aja lo nggak fitnah Rachel gue nggak akan menyerang Rachel waktu itu. Gue benci sama lo, Luna. Gue benci."


"AARRG," Luna meringis sembari berkaca-kaca merasakan kepalanya yang sangat sakit dan pusing.


Seharusnya tadi Luna menuruti permintaan mama nya untuk menunggu di mobil saja. Tapi Luna tetap keras kepala dan ingin bertemu dengan Rachel langsung.


Naasnya saat dia baru keluar dari mobil, dengan menundukkan kepala agar orang-orang tidak menyadarkan. Luna tanpa sengaja menabrak Bella hingga topinya terlepas. Dan tiba-ti w saja Bella menarik maskernya. Bella langsung marah-marah dan menjambak rambutnya tanpa Luna tahu apa sebabnya.


"Tolong lepaskan aku, sakit."


"Lepaskan? Oke gue lepasin!."


Bella melepaskan jambakannya namun dia menganyunkan tubuh Luna dan mendorong kuat-kuat hingga di sini kepala Lu s membentur mobil. Pusing, Luna merasa kepalanya seperti berputar-putar Pandangannya mulai mengabur.

__ADS_1


Tapi sepertinya Bella belum selesai. Bella tidak peduli jika setelah dia masuk penjara. Hidupnya sudah hancur sekalian saja dia hancurkan sehancur-hancurnya.


Hari ini Bella datang ke kampus untuk mengambil surat DO. Begitu sampai parkiran ternyata bertemu Luna. Kemarahan Bella langsung naik ke ubun-ubun dan menyerang Luna.


Bella berjongkok di depan Luna, menganyunkan tangan tinggi-tinggi ingin menampar nya, tiba-tiba...


"Cukup!."


Bella menoleh dan memicingkan mata pada siapapun itu yang menahan tangannya. Namun begitu menyadari orang itu adalah Farel, Bella langsung berdiri dan mundur.


"Yang kemarin masih kurang? Lo mau lagi?."


Bella menelan ludah dengan susah payah melihat sorot mata tajam, dan nada suara penuh ancaman dari Farel.


"YA TUHAN LUNA." teriak Dilara terkejut melihat Luna yang di bully Bella.


Dilara menoleh pada Farel,


"Farel, tolong bantu Tante bawa Luna ke rumah sakit, Tante mohon, Farel!."


Farel mengalihkan pandangan pada Luna dan memasukkan Luna ke dalam mobil, namun matanya tanpa sengaja menatap sosok yang sangat dia kenal berdiri di dekat pohon.


"Rachel," lirih Farel.


Rachel menatapnya dengan sorot mata yang tidak bisa Farel deskripsikan, Farel mematung untuk beberapa saat dengan pandangan mata tak lepas menatap mata Rachel.


"Rachel, ayo ke kelas 5 menit lagi kelas akan di mulai."


wulan menarik pergelangan tangan Rachel dan mengajak lari karena waktu mereka tinggal sedikit lagi. Jika terlambat datang, dosen tidak akan mengizinkan mereka masuk kelas.


"Farel, tolong," panggil Dilara.


Farel mengacak rambutnya dengan kasar lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil meninggalkan halaman kampus.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2