Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 125


__ADS_3

"Gak mungkin," Rachel mundur dengan suara tersekat di tenggorokan , "Fa-Farel bukan laki-laki seperti itu."


"Sekeras apapun kamu menyangkal! Kenyataannya memang begitu Farel telah melecehkan putri saya. Saya akan meminta pertanggungjawaban Farel dan jika dia menolak saya akan mencobloskan dia ke penjara. Dan kalau sampai Luna hamil, Saya akan meminta dia menikahi Luna. Semua bukti sudah mengarah padanya. Kalau kamu tidak percaya kamu datang saja ke Rs. Pelita dan tanyakan langsung sama papa kamu."


Dilara mendekat dan mencengkram lengan Rachel sambil menajamkan mata.


"Kalau kamu memang benar-benar perempuan berhati baik, kamu pasti akan mendukung Luna sebagai korban pelecehan daripada Farel laki-laki yang kamu cintai!."


Dilara mendorong Rachel,


"Silahkan datang ke rumah sakit dan tanya langsung sama papamu!."


Dengan pikiran berkaca-kaca, Rachel berjalan menuju mobilnya. Dilara menatap sinis Rachel dan hendak berjalan lagi tapi tertahan melihat Farel berlari sambil tersenyum.


Farel ke bassment parkiran ini untuk mencari Rachel, mungkin Rachel masih ada di sini tapi yang dia temui malah Dilara.


"MASIH BISA TERSENYUM KAMU!."


Plak....


Farel terkejut saat tiba-tiba Dilara menamparnya.


"Kenapa Tante menampar saya?."


"Kamu masih tanya setelah kamu memperkosa putri saya?."


Farel mengenyitkan dahi, "Memperkosa putri Tante? Luna ? kapan saya melakukannya?."


"Tidak usah pura-pura tidak tahu kamu Farel ! Semalam ! Semalam kamu ada di klub yang sama dengan Luna. Kamu juga menginap di lantai yang sama dengan Luna."


"Bentar-bentar," Farel menekan isi kepalanya, "Benar kalau semalam saya ke Klub, tapi saya tidak sendiri Saya bersama Rendy dan Brandon. Kita bertiga. Saya bahkan tidak tahu Luna ada di sana."


"Berhenti menyangkal dan ikut saya ke rumah sakit untuk bertanggung jawab."


"Bertanggung jawab apa sih? Tante. Saya tidak melakukan apa-apa kenapa saya harus bertanggung jawab?."


Kalimat Farel tertahan saat melihat mobil Rachel lewat di sampingnya.


"Rachel..." lirih Farel sembari menatap wajah Rachel dari kaca.


"Rachel sudah tahu semuanya! Saya sudah memberitahu dia kalau kamu melecehkan Luna. Sekarang Luna ada di rumah sakit, kondisinya kritis dan harus mendapatkan jahitan di organ intimnya yang robek. Semua itu gara-gara kamu Farel!."


"CUKUP!." Farel tak tahan lagi, "Saya tidak mengerti kenapa tiba-tiba Tante menuduh saya. Kita akan bicarakan ini nanti, tapi saya harus mengejar Rachel."


Mengabaikan teriakan Dilara, Farel masuk ke dalam mobil dan mengejar mobil Rachel.


"FAREL, MAU KEMANA KAMU? SAYA BELUM SELESAI BICARA!."

__ADS_1


Farel memacu mobilnya meninggalkan parkiran. Samar-samar sebelum pergi tadi Farel melihat mobil Racgel belok ke arah kiri. Mengikuti insting, Farel membalikkan mobil ke arah kiri.


Di sisi lain Rachel melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke RS Pelita, Rachel ingin mendengar langsung dari Papa nya apa yang sebenarnya terjadi.


"Nggak... Farel tidak mungkin melakukan itu. Tapi..."


Rachel mencengkram kuat setir mobil saat pikiran-pikiran negatif mulai menyerang. Rachel Farel tidak mungkin melecehkan perempuan, tapi masalahnya... Farel mabuk. Farel tidak sadar dan segalanya bisa terjadi.


[Farel melecehkan Luna sampai Luna bunuh diri.]


[Saya akan meminta Farel bertanggung jawab.]


[Saya akan menjebloskan Farel ke penjara.]


"Nggak."


Teriakan demi teriakan Dilara terus berdengung di telinga Rachel. Rachel memejamkan mata sejenak karena tiba-tiba kepalanya sangat sakit. Suara-suara itu seolah masuk ke dalam sela-sela sel dan menggeroti otaknya.


Hingga tiba-tiba ponsel di dalam totbag nya berdering.


Rachel membuka mata dan merogoh ponsel yang ternyata ada telepon dari Dilara.


Kembali suara Dilara itu bergema di telinganya.


[Kalau sampai Luna hamil, Farel harus menikahi Luna.]


"Rachel terus menunduk dan menatap ponselnya yang terus berdering dan menunjukkan foto profil Dilara, foto itu foto Dilara, Hendrawan dan Luna.


"AWAS LAMPU MERAH, LAMPU MERAH BERHENTI."


Samar-samar Rachel mendengar suara teriakan, lalu saat mengangkat kepala dan menoleh ke samping. Sebuah truk menghantam mobilnya.


Rachel memejamkan mata kuat dan tidak bisa mengendalikan diri. Tubuh nya bergerak begitu saja, terguling mengikuti mobil. Tidak ada yang dia pikirkan selain rasanya begitu dekat dengan kematian. Tapi Rachel belum ingin pulang sekarang. Rachel masih ingin membahagiakan mama nya.


Begitu mobil berhenti, kepalanya seolah blank, hanya kebingungan lalu perlahan dia merasakan beberapa titik tubuhnya terasa sakit dan darah mengalir di kulit.


Di ambang kesadaraan, teling nya menangkap langkah kaki mendekat dan teriakan.


"RACHEL, RACHEL."


Suara itu di antara suara semua orang, sayup-sayup Rachel mengenalinya. Tak lama berselang setelah panggilan familliar itu sebuah tangan menariknya keluar dari mobil. Tubuhnya terayun dalam gendongan seseorang. Menguatkan diri Rachel membuka mata dan samar-samar menatap wajah itu dari bawah. Dia...


"Farel." lirihnya lemah.


"Bertahan, tolong bertahan."


Farel berlari menuju ke mobil dengan di bantu seorang bapak-bapak. Farel meminta bapak itu merangkul kepala Rachel di belakangnya, sementara dia menyetir

__ADS_1


Mengusap air matanya yang entah kapan menetes Farel menlajukan mobil menuju ke rumah sakit terdekat.


Berulang kali di sela fokus menyetir Farel menyeka air mata, sesak, luar biasa sesak sampai Farel ingin menjerit dan meneriakan nama Rachel keras-keras.


"Rachel kuatlah!."


Sesampainya di rumah sakit Faren masuk ke dalam dan meminta perawat untuk membawa brankar.


Dengan hati-hati dibantu suster, Farel memindahkan tubuh Rachel yang pucat berselimutkan darah ke atas berakar.


"Rachel," Farel tak kuasa menahan tangis, "Rachel bertahan aku mohon!."


Hendrawan yang baru keluar dari lift hendak mencari Dilara terkejut saat melihat Farel. Lalu pandangannya tertuju pada seseorang yang terbaring di atas brankar.


"Ra-rachel."


Hendrawan membeku beberapa saat lalu dengan perasaan linglung dan ketakutan yang menyerbu ke sekujur tubuh. Hendrawan berlari mengikuti Farel dan berdiri di sampingnya sembari menatap wajah putrinya.


Dokter dan perawat membawa masuk Rachel ke dalam ruang UGD.


"Tolong tunggu di luar!."


Pintu tertutup.


Farel berdiri tepat di depan pintu dan menyandarkan kepalanya di sana.


"Apa yang terjadi Rachel kecelakaan?." Hendrawan menyentuh lengan Farel.


Farel melirik tajam pada Hendrawan.


"Semua ini gara-gara Dilara yang mengatakan Saya telah memperkosa Luna sampai Luna bunuh diri. Saya tidak melakukan apa-apa. Kenapa kalian menuduh saya !"


"Saya tidak menuduh kamu ! Saya baru menduga!."


"Kalau begitu kenapa anda membiarkan Dilarq mendatangi Rachel dan mengatakan itu semua?."


Hendrawan mengepalkan tangan kuat lalu merogoh ponsel di saku dan menelpon Dilara.


Panggilan pertama tak terjawab. Hendrawan menelpon Dilara sekali lagi. Baru panggilan kedua terjawab. Sementara Hendrawan menelpon Dilara. Farel mengirim pesan pada Ayuma dan mengabarkan bahwa Rachel kecelakaan.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2