
"Brandon katakan sesuatu . Apa yang kamu pikirkan?."
"Aku mau bilang terima kasih. Terima kasih sudah jujur. Aku sangat menghargai itu. Di saat-saat seperti ini kamu pasti butuh seseorang untuk tepat bersandar, menguatkan dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Tapi kamu tetap berkata jujur dengan resiko aku meninggalkan kamu yang mungkin kamu akan bertambah terpuruk. Kamu juga bisa memanfaatkan sesuka hati kamu karena kamu tahu aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Tapi kamu tidak melakukan itu. Sekali lagi terima kasih."
"Rachel kamu harus sadar kamu sekuat dan sehebat itu. Aku bangga sama kamu sudah bisa melewati ini semua. Hari ini pasti sangat berat untuk kamu?."
Rachel menganguk sembari terus mengusap air matanya yang seolah tidak berhenti.
"Kemarilah," Brandon merentangkan tangan, "Mungkin Tuhan memang menyiapkan bahuku untuk tempat kamu bersandar dan lenganku untuk memelukmu."
Rachel masih diam.
"Kemarilah, aku janji akan membawa kebahagiaan untuk kamu."
Rachel masih tetap diam dan ragu.
"Rachel."
Rachel perlahan mendekat dan Brandon menariknya dalam pelukan. Brandon melingkarkan lengan kokohnya menyelubungi tubuhnya yang tampak mungil . Rachel tidak semungil itu, tubuhnya cukup tinggi, tapi dalam pelukan Brandon tubuhnya seolah mengecil.
"Jangan takut, semua akan baik-baik saja selama kita bersama."
Mendongak menatap langit, Brandon mengusap rambut Rachel. Hening cukup lama, mereka sama-sama-sama diam dan saling memeluk. Rachel mencari ketenangan dan kekuatan dalam pelukan Brandin sementara Brandon mencari kenyamanan dan kehangatan yang tidak bisa di temukan pada siapapun selama ini.
Perlahan Brandon melepas pelukan.
"Sudah ya pelukannya, nggak lucu kalau tiba-tibq ada satpam muncul terus mentung kepala kita pakai tongkat gara-gara pelukan di RS."
Rachel menganguk,
"Jalan sebentar lagi, mau kan?."
"Iya."
Brandon melepas jaket dan menyelubungkan ke punggung Rachel.
"Dingin. Nanti kamu masuk angin."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Brandon menggenggam tangan Rachel sambil melangkah lagi menelusuri jalan Setapak taman rumah sakit. Jika tadi Rachel berjalan sendiri, sekarang ada Brandon di sampingnya. Perasaannya jadi lebih tenang ada seseorang yang menamninya dan berjanji tidak akan pernah meninggalkannya.
"Soal perasaan kamu ke Farel. Kamu ingin melupakannya kan? setahuku dia pacaran sama Luna."
__ADS_1
"Iya."
"Kalau gitu itu bukan masalah besar lagi. anggap saja Farel masa lalu kamu. Masa lalu menjadi pelajaran dan masa depan menjadi impian. Dan aku yang akan menjadi impian kamu."
Masih terus berjalan pelan Brandon menoleh pada Rachel sekilas lalu menatap ke depan lagi. Begitu juga Rachel yang menatap lurus menara ruang ke depan.
"Aku akan membantu kamu melupakan Farel dan membuat kamu jatuh cinta padaku."
"Jika aku tidak bisa?."
"Pasti bisa perasaan memang sulit dikendalikan apalagi cinta. Tapi kalau kamu benar-benar berniat ingin melupakan Farel, kamu pasti bisa melupakannya. Tapi kalau kamu tidak bersungguh-sungguh sampai mati pun kamu tidak akan pernah bisa melupakan Farel."
Rachel menghela nafas panjang. Mungkin sudah waktunya dia melupakan Farel. Cinta Pertama Cinta terakhir contohnya mamanya sendiri.
Ayuma mencintai Hendrawan dan Hendrawan adalah cinta pertamanya. Tapi cinta pertama mama nya yang berkhianat.
Farel sudah bersama Luna, Gadis impian nya sejak kecil. Jika Farel bahagia bersama perempuan lain, kenapa Rachel tidak bisa bahagia dan terus di belenggu pada harapan memiliki Farel yang tidak mungkin terwujud.
Mungkin sekarang waktunya Rachel benar-benar melupakan Farel untuk selamanya.
"Bagaimana?." tanya Brandon setelah hening cukup lama.
"Aku akan melupakan Farel."
Brandon tersenyum, "Aku senang mendengar itu, Ayo."
***
Ayuma sudah di izinkan pulang. Pagi tadi di temani Bastian, Sebastian dan Anggun. Rachel membawa Ayuma ke rumah. Berbincang-bincang cukup lama, lalu mereka pulang.
Sekarang di ruang keluarga itu hanya ada Rachel dan Ayuma.
Rachel membantu mama nya selonjoran di sofa panjang dan punggung bersandarkan dua bantal sembari menonton TV. Ada juga pembantu mereka, Bi Siwi yang menemani mereka.
Sekitar 3 hari yang lalu Bi Siwi berhenti di rumah Hendrawan. Bi Siwi tidak tahan dengan kelakuan Hendrawan dan Dilara yang belum menikah tapi sudah kumpul kebo sampai berhubungan intim.
"Potongan apel sudah siap, silahkan nyonya Ayuma di cicipi." Bi Siwi menyodorkan piring berisi potongan apel kepada Ayuma.
"Terima kasih Bi."
"Sama-sama nyonya."
Ayuma mengambil potongan apel dan memakannya sembari melempar senyum kepada Bi Siwi.
"Saya senang Bibi mau bekerja sama saya."
__ADS_1
"Harusnya saya yang bicara begitu sama Nyonya. Kerja sama Nyonya itu enak, ngga ribet dan bayaran nya juga oke. Hehehe"
Saat pertama kali datang ke rumah ini, Bi Siwi ingin menceritakan semua hal yang dilakukan oleh Hendrawan dan Dilara setelah Ayuma pergi dari rumah. Tapi Ayuma menolak, Ayuma tidak ingin mendengar apapun tentang mereka.
Sekarang Ayuma hanya ingin fokus kepada dirinya dan putri tersayangnya.
Tok.
Tok.
Di tengah-tengah obrolan mereka tiba-tiba pintu di ketuk.
"Saya buka pintu dulu, Nyonya."
"Iya."
Bi Siwi berjalan ke arah pintu, setelah pintu terbuka, Bi Siwi memelototkan mata begitu melihat siapa yang datang.
"Mau ngapain pelakor ke sini? Situ nggak mendadak amnesia dan lupa mendatangi rumah siapa kan? ini rumah Nyonya Ayuma bukan rumah Pak Hendrawan. Jadi kalau situ berniat datang ke sini untuk merebut, situ salah alamat."
Dilada menahan diri untuk tidak menampar mulut kurang ajar mulut mantan pembantu nya ini. Ternyata mulut nya cepat ceplos dan belagu nya belum hilang juga. Sekarang malah semakin menjadi-jadi.
Pembantu kurang ajar ini pasti sudah mengadu pada Ayuma, apa saya yang di lakukannya selama tinggal bersama Hendrawan, atau mungkin Ayuma menyuruh Siwi untuk mematai-matai? ah iya. Pasti begitu. Dilara yakin, Ayuma pasti menyuruh pembantu nya bersikap kurang ajar padanya.
"Siwi kedatangan saya ke sini untuk menjenguk Ayuma."
"Halah, nggak usah sok baik kamu. Saya tau pelakor seperti kamu punya niat terselubung kan?."
"Tidak, Siwi. Saya tidak punya niat terselubung. Kedatangan saya ke sini murni ingin menjenguk Ayuma."
"Saya tidak percaya, kamu pasti..."
"BI SIAPA YANG DATANG ? KENAPA LAMA..."
"Tunggu di sini, saya mau bilang dulu sama Nyonya Ayuma. Apakah Nyonya mengizinkan kamu masuk atau eh-eh MAU KEMANA? Nyonya Ayuma belum mengizinkan kamu masuk. Aish dasar Pelakor!."
Dilara bergegas masuk ke dalam mencari sumber suara Ayuma. Ternyata Ayuma sedang ada di ruang tengah.
Kini mereka saling bertatapan. Ayuma cukup terkejut dengan kedatangan Dilara. Angin apa yang membuat Dilara datang menemuinya?.
"Kamu ini yah saya bilang tunggu di depan, sampai saya bilang pada Nyonya Ayuma dulu mengizinkan masuk atau tidak, eh ini malah nyelonong gitu aja. Kamu teriak-teriak mengatakan saya tidak sopan tapi kamu sendiri juga tidak sopan. Emang dasar pelakor nggak ada akhlak!."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...