
"Mama!." teriak Farel.
"Iya"
"Mama."
"Iya, Sayang. Mau apa? Kamu ingin apa? Katakan sesuatu dari tadi kamu terus memanggil Mama tapi tidak mengatakan apa-apa?"
Sejak tadi pagi Sarah bolak-balik ke kamar Farel untuk mengecek kondisinya. Kemarin sudah membaik dan demamnya pun sudah turun. Tapi pagi ini saat Sarah mengecek ke kamarnya Farel tidak keluar dari kamar dan suhu badannya naik lagi.
"Abang."
Rana, Rani dan Reza masuk ke dalam kamar diikuti Anthony di belakang mereka. Setelah sarapan tadi mereka menemani Farel sebentar, Sarah menyuruh mereka bermain di luar agar Farel bisa beristirahat dengan tenang tanpa kerusuhan mereka.
"Kok nggak sembuh-sembuh,?" Rani naik ke atas kasur dan duduk bersila di samping Farel. Sementara Reza dan Rana berdiri di dekat Sarah yang duduk di tepi kasur.
Anthony ikut mendekat, rasanya ingin meledek putranya, sakit demam gini aja udah kayak sakit kronis, tapi berhubung tidak ingin mendapat omelan dari Sarah, Anthony diam saja. Anthony merasa Farel tidak sesakit itu tapi dia ingin dimanja oleh Sarah.
"Abang butuh rebahan aja, habis rebahan nanti juga sembuh kok," ucap Farel sembari menatap Rani.
Rani mengusap dahi Farel, "Ih panas,
Rana coba pegang dahi Abang!."
"Iya panas," ucap Rana setelah menempelkan punggung tangan di dahi Abangnya .
"Sepanas apa sih? Kalau ceplok telor di dahi Abang bisa matang nggak?" celetuk Reza.
Rani, Rana dan Anthony tergelak mendengar candaan Reza. Sementara Sarah menahan tawa demi menjaga perasaan putranya.
Farel diam saja dengan ekspresi datar, namun dalam hati sejengkel-jengkelnya. Awas saja setelah dia sembuh, dia akan benar-benar-benar menggantung Reza dengan posisi kaki di atas pohon di belakang rumah.
"Bercanda Abang, jangan marah," Reza terkekeh.
"Udah sana main lagi. Biarin Abang istirahat."
"Oke, mama!." jawab ketiga bocah manis itu bersamaan.
"Aku mau cium Abang biar cepat sembuh," Rani menunduk dan mendaratkan ciuman di pipi Farel. Rana juga Farel di bagian dahi.
"Aku cium apa ya? Cium bibir Abang boleh?"
"Sini kamu, Abang goreng kamu!" Jengkel Farel.
"KABUR!." Reza langsung lari keluar kamar sambil tertawa riang . Rana dan Rani ikut lari mengikuti Reza .
"Jangan lari-lari lagi dong, ayah capek kejar-kejaran." Anthony mendegus.Sejak tadi mereka tidak berhenti kejar-kejaran. Mau tidak mau agar bisa mengawasi mereka . Anthony juga ikut kejar-kejaran. Sekaligus hari Minggu ini menghabiskan waktu bersama mereka. Namun alhasil, capek. Mereka seperti robot dengan baterai Powerful. Sedangkan Anthony, umur memang tidak bisa dibohongi .
"AYAH AYO MAIN," teriak Rana dari luar.
"Tuh Udah dipanggil anak kamu," ucap Sarah.
"Anak kamu juga!." Anthony mengerucutkan bibir .
Sarah terkekeh, "Mereka sedang aktif aktifnya, Mas. Semangat ya menjaga anak!."
Anthony kembali mengejar anak-anaknya.
.
.
.
Sarah mengalihkan pandangan nya ke arah Farel.
"Mama buatkan bubur dulu buat makan siang terus nanti minum obat."
" Jangan lama-lama mama."
"Iya ,iya, anak mama kayak kalau lagi sakit manjanya ngalahin anak 7 tahun." Sarah mengusap rambut Farel dan keluar dari kamar Farel.
11 menit kemudia, Sarah kembali lagi ke kamar membawa semangkok bubur ayam tapi ternyata Farel sudah tidur. Tidurnya sangat pulas membuat Sarah tak tega membangunkannya. Akhirnya Sarah membawa lagi bubur itu ke dapur. Namun langkahnya tertahan setelah mendengar tiba-tiba Farel mengigau.
"Rachel."
Buru-buru Sarah meletakkan nampan di nakas samping tempat tidur, duduk di tepi kasur dan membangunkan Farel.
"Farel, Nak bangun!."
"Rachel, jangan jadian!."
Sarah mengenyitkan alis.
"Rachel."
Berhenti membangunkan, Sarah kini mengamati lekat wajah putranya. Semalam setelah pulang dari rumah Rachel wajah Farel tanpa lesu, makan pun hanya beberapa sendok. Masuk ke dalam kamar dan tidak keluar-keluar lagi. Mungkin telah terjadi sesuatu tadi malam .
"Rachel, jangan pergi!."
***
"Mah, Pah!."
Kedua orang tua Brandon yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton TV menoleh ke sumber suara itu, senyum Amora mengembang begitu melihat putranya datang bersama seorang gadis manis yang sering Brandon ceritakan sambil menunjukkan fotonya.
"Yang ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga!." Amora berdiri dan mendekat pada mereka begitu juga, Ardhito Papa Brandon juga ikut berdiri.
Rachel tersenyum ramah, "Siang Om Tante,"
"Siang!." sahut Amora dan Ardito bersamaan.
"Saya bawakan sesuatu untuk Tante dan Om." Rachel menyerahkan paper bag berisi kue kepada mereka.
__ADS_1
"Ya ampun malah repot-repot membawa makanan. Lain kali nggak usah bawa apa-apa. Kalau mau main, main aja. Cukup bawa diri kamu dalam keadaan sehat itu sudah cukup membuat Brandon sangat senang."
"Apaan sih Mah," Brandon melirik pada Rachel lalu mengosok belakang lehernya.
"Senang kan kamu akhirnya bisa resmi sama pujaan hati." goda Ardito.
"Udah dong!." Brandon benar-benar malu digodain habis-habisan Papa dan Mamanya di depan Rachel.
Rachel sendiri bingung harus merespon apa hanya bisa tersenyum ramah, tapi tidak dipungkiri hatinya senang kehadirannya diterima baik orang tua Brandon.
"Oh ya, ayo kita makan sekarang. Tante sudah selesai masak."
Brandon mengajak Rachel ke sini memang untuk makan siang bersama kedua orang tuanya dan Amora sangat antusias akan memasak sendiri untuk calon menantunya.
Tentu saja Amora senang dengan kedatangan Rachel. Ini pertama kalinya Brandon membawa gadis ke rumah. Amora sempat khawatir putranya menyimpang karena selama ini tidak ada tanda-tanda Brandon terdiri tertarik dengan perempuan .
"Gimana? masakan Tante enak nggak?." tanya Amora.
"Enak, Tante."
"Kalau enak nambah yah!" Amora mengambil rendang dan meletakkan di piring Rachel makan yang banyak.
"Iya Tante terima kasih."
"Sama-sama. Kamu sering datang ke sini ya biar Tante ada temannya, Tante ibu rumah tangga dan kadang suka gabut. Seru kan kalau kita bisa hangout bersama sesama perempuan gitu!."
Rachel tersenyum dan mengangguk,
"Boleh, Tante agendakan saja."
"Oke!."
Setelah makan siang Brandon mengajak Rachel berjalan sambil melihat-lihat sekitaran rumah Brandon. Di halaman rumah Brandan ternyata ada rumah pohon, Rachel tertarik dengan rumah pohon itu dan mengajak Brandon untuk masuk ke dalam rumah pohon itu.
Rumah pohon ini terlihat sangat kokoh dan kuat di dalamnya ada tempat di dalamnya ada tempat tidur yang terbuat dari susunan bambu, berukuran sedang, cukup untuk dua orang rebahan di sana, tapi pasti sangat sempit, tapi jika untuk duduk-duduk saja sangat luas.
Rachel duduk sambil melihat-lihat isi rumah pohon, sementara Brandon mengeluarkan bola basket dari lemari kecil yang juga terbuat dari kayu.
"Awas ular!."
Aargg,
Rachel terkejut dan langsung menghamburdiri diri mendekat pada Brandon, Brandon tertawa.
"Bercanda Rachel."
"Ish kamu ini!."
Rachel memukul Brandon dan keluar dari dalam rumah pohon, sekarang berdiri di emperan balkon sambil menumpukan tangan pada pagar yang terbuat dari pilinan kayu.
Brandon ikut berdiri di sampingnya,
"Kamu biasanya di rumah pohon ini sama siapa?."
"Selain itu?."
"Nggak ada."
"Yang bener?."
Brandon mengangguk, "Aku nggak suka orang asing masuk ke dalam hidupku, membiarkan mereka dekat denganku, mengetahui banyak tentangku, lalu tiba-tiba meninggalkanku setelah aku mempercayainya. Seperti Mama. Mama Amora bukan nama kandungku. Mama kandungku meninggalkanku dan Papa katanya hidupnya tidak bahagia bersama kami dan memilih laki-laki lain."
Rachel mencelos, "Terdiam dengan mata menatap lekat mata Brandon."
"Saat pertama kali aku melihat kamu menyemangati Farel dengan suara keras dan sorot mata tulus, aku merasa akan membutuhkan orang-orang seperti kamu aku merasa kamu akan setia dan tidak akan pernah meninggalkanku seperti mama. Tolong bilang yang aku katakan ini benar?." Rachel mengulas senyum dengan mata berkaca-kaca. Pantas saja Brandon jarang tersenyum dan tertawa karena sebagian tawa dan senyumnya direnggut bersama kepergian mamahnya.
"Mau main basket?."
"Basket? Aku mau main basket dengan Kapten Brandon," Rachel tersenyum ceria sampai matanya menyipit lucu. Saking lucunya Brandon tak tahan untuk tidak mengacak rambut Rachel.
Padahal sejak tadi Brandon menahan diri untuk tidak melakukan skinship. Takutnya Rachel merasa tidak nyaman, tapi gadis ini terlalu lucu dan menggemaskan.
"Ayo kamu turun duluan."
Rachel turun duluan dan Brandon mengikuti dari belakang.
Sesampainya turun di lantai basket Brandon langsung mendrible bola.
Rachel yang mengikuti, tapi langkahnya tertahan saat ponselnya berdering. Rachel merogoh ponselnya yang ada di dalam sling bag. Ternyata ada telepon dari Sarah.
"Halo Tante Sarah!."
"Halo Rachel. Maaf Tante mengganggu kamu Kamu lagi sibuk?."
"Oh ya. Ini aku lagi main di rumah Brandon, kenapa Tante?."
"Farel drop , dari tadi terus memanggil-manggil kamu. Kamu bisa ke sini sebentar? Sebentar saja jenguk Farel, Tante khawatir sekali dengan kondisi Farel."
"Kenapa bisa drop tante? Apa Farel kelelahan gara-gara kemarin datang ke rumahku?."
"Tante tidak tahu, Dokter bilang Farel terlalu banyak beraktivitas."
Seketika Rachel merasa bersalah, mungkin benar gara-gara Farel datang ke rumahnya demi bisa memberinya semangat kondisi Farel jadi drop. Secara gak langsung Rachel menjadi penyebab Farel drop seperti ini.
"Halo Rachel?."
"Ya Tante."
"Gimana Rachel? Sebentar saja. Farel mengigau manggil nama kamu terus mungkin jika kamu datang kondisi Farel akan membaik Tante benar-benar minta maaf mengganggu kamu seperti ini tapi Tante sangat khawatir dengan kondisi Farel."
Rachel terharu dengan support Farel yang selalu mendukungnya di saat-saat terendah sebagai sahabat sudah seharusnya Rachel melakukan hal yang sama Rachel akan selalu mendukung Farel sebagai sahabat terbaiknya.
"Iya Tante aku akan datang ke sana tapi mungkin agak lama ya Tante karena jarak rumah Brandon ke rumah Farel cukup jauh."
__ADS_1
"Terima kasih Rahel Tante senang sekali mendengarnya Tante akan menunggu kamu, hati-hati berkendara nggak usah ngebut-ngebut yang penting kamu selamat sampai di sini. Terima kasih Rahel."
"Sama-sama, Tante."
Rachel mengakhiri panggilan.
Brandon sengaja tidak bertanya sampai Rachel menyelesaikan panggilan baru setelah itu kini Brandon mendekat.
"Ada apa? apa semua baik-baik aja kan? kamu terlihat gelisah begitu."
Rachel mengangkat kepala mempertemukan mata nya dengan mata Brandan, hari minggu ini mereka berencana menghabiskan waktu bersama sekaligus mengenal satu sama lain ini baru setengah hari masih banyak agenda mereka sampai malam nanti tapi Farel membutuhkannya, Farel drop juga gara-gara datang ke rumahnya kemarin.
Rachel bingung bagaimana cara menyampaikan kepada Brandon tanpa menyinggung perasaannya, Rachel tahu bagaimana rasanya sakit saat berduaan tiba-tiba ditinggal begitu saja.
Rasa sakit itu sering Rachel alami dulu saat dia berduaan dengan Farel tiba-tiba Luna menelpon dan membutuhkan Farel saat itu juga Farel meninggalkannya dan pergi menemui Luna pergi seolah Rachel rumah singgah yang bisa didatangi dan ditinggalkan kapan saja untuk kembali pulang ke rumah nya, Luna.
"Hai kenapa?." Brandon menyentuh lengan Rachel.
"Bilang aja!."
"Tadi yang menelponku Tante Sarah, Ibu dari Farel. Beliau bilang Farel drop, 3 hari yang lalu Farel baru saja kecelakaan saat menuju ke apartemenku. Kondisinya masih belum membaik terus kemarin bersama geng nya datang ke rumahku memberiku support. Setelah orang tuaku bercerai dan sekarang kondisi Farel ngedrop aku merasa bersalah, gara-gara Aku Farel jadi sakit gini!."
Brandon hanya diam menunggu Rachel menyelesaikan kalimatnya.
"Terus kata Tante Sarah Farel terus menginggau memanggil namaku dan Tante Sarah memintaku datang menjenguk Farel, Tante Sarah bilang mungkin setelah aku datang kondisi Farel membaik."
"Mengigau memanggil nama kamu?."
Rachel mengangguk,
Brandon terdiam dan tampak sedang berpikir Rachel penasaran apa yang Brandon pikirkan sekarang, apa dia marah kesal, apa dia akan mengizinkannya pergi atau justru melarangnya pergi.
"Ya sudah aku antar!."
"Eh,"
"Kenapa?."
"Serius?."
Brandon tersenyum melihat wajah Rachel tampak bingung.
"Nggak ada laki-laki yang rela ceweknya dekat dengan laki-laki manapun meskipun itu hanya sahabatnya, aku juga nggak suka tapi kalau dipikir-pikir aku hanya orang baru yang datang dalam hidup kamu sementara Farel dan gengnya yang sering kamu ceritakan itu, sudah menemani kamu sejak kecil rasanya sangat nggak tahu diri kalau aku tiba-tiba melarang kamu dekat dengan mereka."
Rachel tersenyum lega sekali ternyata Brandon jauh lebih dewasa dari yang dia pikirkan, dia sosok yang nyari sempurna, sejauh ini mengenal Berandan satu-satunya kekurangan Brandon hanya kurang bisa mengaksepresiasikan perasaannya dan dingin.
"Terima kasih Aku akan berusaha menjaga batasan ku dengan teman-temanku yang cowok tapi kadang-kadang mereka suka jahil ya begitulah,"
"Ya aku percaya aku akan selalu mempercayai kamu!."
Rachel terdiam sejujurnya kepercayaan berat dan ini cukup berat di pundak Rachel.
Rachel takut mengecewakan Brandon takut tidak bisa jatuh cinta dan melukai hatinya, karena sampai detik ini perasaannya itu masih untuk Farel.
Tapi Brandan juga sudah menyanggupinya, Brandon akan membuatnya jatuh cinta seandainya Rachel tidak bisa jatuh cinta padanya, Brandon juga tidak akan marah.
"Jenguk Farel sekarang kan?." tanya Brandon.
"Iya, sekarang!."
.
.
.
Sesampainya di rumah Farel, Rachel dan Brandon turun dari mobil.
"Rachel, akhirnya sampai juga!."
Sarah langsung memeluk Rachel begitu Rachel berjalan menuju ke teras rumah.
Sejak tadi Sarah dan Anthony sudah menunggu kedatangan Rachel.
"Tante, Om maaf baru datang sekarang!."
"Nggak papa kamu mau datang saja Tante sudah sangat senang Farel sudah menunggu kamu dari tadi. Dia pasti senang bertemu kamu." ucap Sarah sementara Anthony hanya mengangguk
Lalu mereka sama-sama mengalihkan pandangan pada Brandon yang berdiri di samping Rachel, mereka bertanya-tanya siapa pemuda ini selama ini setiap datang ke rumah jika tidak sendiri Rachel pasti datang bersama Rendy, Dypta atau Tian. Tumben dengan wajah baru.
"Ini siapa?."Anthony akhirnya bertanya karena tidak tahan dengan rasa penasarannya, "Anggota baru?."
"Bukan, Om. Dia pacarku. Namanya Brandon."
Seketika Sarah sama-sama melotot lebar terkejut saking terkejutnya sampai mereka tidak bisa berkata-kata. Anthony bahkan langsung berubah masam.
Sarah langsung mengerti kenapa putranya bisa drop ternyata Farel melihat Rachel jadian dengan cowok lain.
Hening cukup lama diantara mereka.
"Om, Tante, salam kenal,!" Sapa Brandon dengan ramah, dia sendiri bingung kenapa tiba-tiba kedua orang tua Farel terdiam cukup lama.
Anthony berdehem, "Kanpan jadiannya?. Kok kamu nggak bilang sama Om?."
"Baru kemarin Om, aku udah Brondon resmi pacaran. Jadi mulai sekarang kemana-mana aku nggak akan sendiri lagi, Brandon yang akan menemaniku."
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1