Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 157


__ADS_3

Grup Ayah Anthony Family.


Farel : Pengumuman, Pengumuman.


Rani : Apa, abang?


Farel : Jeng, jeng, tralala,trilili.


Rana : Bisa nggak, Bang. Nggak usah pake intro langsung to the point


Reza : Awas aja nggak penting. Abang aku kick dari grup.


Anthony : Setuju sama yang atas.


Sarah : Kenapa abang? kamu baik-baik saja kan di sana?.


Farel : Dari dulu sampai sekarang, cuma Mama yang sayang sama aku.


Rani : Rani juga sayang sama Abang.


Farel : I love you Rani.


Rani : I love you too,, Abang.


Rana : AOA ABANG CEPAT!.


Farel : Nggak di grup nggak di life, kamu suka banget ngegas. Sabar dong, Na. Abang nih gemetaran ngetik gini.


Reza : Gemetaran? gemetaran apa nih? Ayah, aku kok mencium bau-bau mencurigakan.


Anthony : Farel, kamu pamit pergi ke Swiss mau liburan ya bukan jajan sembarangan.


Rani : Ini pasti pembicaraan 18+. Tolong dedek masih 17.


Rana : Aku masih 17, tapi aku paham.


Reza : Kebanyakan gaul sama Bang Rendy sih, makannya jadi gitu, Ayah Rana tuh!.


Rana : Kang ngadu.


Anthony : Ayah udah gali tanah, tinggal nunggu Rendy pulang terus kita masukin ke lubang.


Farel : Nih pada kenapa deh punya otak kemasukin pasir apa gimana? jadi ngeres semua. Aku beluk selesai bicara udah mulai nyimpulin aja.


Sarah : Nanti Mama cuci ulang otak mereka, kebetulan hari ini mama lagi sibuk, besok Mama nyuci lagi.


Anthony : Sayuran kali yah, Sayang, pake cuci segala.


Reza : Tolong di grup di larang sayang-sayangan. Hargai yang jomblo.


Rani : Setuju sama yang di atas.

__ADS_1


Reza : RANI GUE SS GUE KIRIM KE BANG TIAN, berantem deh kalian. Terus Bang Tian minta aku bujukin kamu. Aku yang dapat cuan cuan.


Rani : Reza ember.


Farel : Hali semuanya, bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik tolong fokus sebentar pada saya.


Rani : Haha, kacian abang di kacangin. Y udH abang mau bilang apa?.


Farel : Send pict [Farel pelukan sama cewek dari belakang.]


Reza : LOH LOH LOH APA INI?.


Rana : Itu siapa abang?


Rani : Ini pertama kalinya abang ngirim foto lagi sama cewek di grup, pacar Abang?.


Anthony : Kemarin siapa yang bilang aku akan setia meskipun berpuluh-puluh tahun menunggu. Meskipun rambutku sudah memutih, gigiku sudah mulai rontok, kulitku sudah keriput, aku akan terus menunggu kepulangan Rachel. Eh tahu-tahu nya pelukan sama cewek lain. Kamu bukan anak Ayah lagi, Farel!.


Reza : Yeee, aku jadi pewaris tunggal.


Rana : Tunggal? apa aku bukan manusia? Apa aku bukan anak-anak Ayah Anthony?.


Rani : Aku juga anak Ayah.


Reza : Maksudnya jadi pewaris tunggal cowok kalau Abang di coret dari KK. Aku mau minta warisan saham 50% di perusahaan Ayah.


Rani : Oh gitu yah, kalau gitu aku juga mau warisan departemen sore aja Ayah.


Anthony : Woi! Bapak kalian ini masih hidup, bisa-bisa nya kalian rebutan warisan! Dasar anak durhaka.


Reza : Hehehe.


Rana : Hahahaa.


Rani : Awkwkwkwkwk.


Sarah : Hohoho.


Rana : Ih Mama lucu deh hihihi.


Sarah : Diem dulu ya, fokus sama Abang. Abang itu pacar Abang? terus kapan abang pulang?.


Farel : Besok abang pulang membawa calon mantu Ayah sama Mama.


***


Hendrawan house, 22.00


Malam mulai larut, terdengar suara serangga-serangga malam bisa beraktifitas malam hari. Tanda, sudah waktunya tidur. Tapi laki-laki yang duduk di kursi roda bersyal merah masih enggan beranjak. Masih betah menghabiskan waktu menatap ke arah dinding. Lebih tepatnya menatap sebuah foto. Foto dirinya bersama mantan istri dan putri nya, Ayuma dan Rachel.


Itu pun bukan foto asli melainkan foto gabungan Hendrawan dengan istri dan putrinya. Hari itu, saat dengan arogannya, Hendrawan membakar barang-barang milik Ayuma dan Rachel. Hendrawan membakar semua kenangan bersama mereka.

__ADS_1


Tak tersisa.


Kini saat Hendrawan merindukan mereka, Hendrawan tak tahu bagaimana menyalurkan rasa rindunya. Selain diam dan menangis.


"Apa kamu sudah mendapatkan kabar keberadaan mereka?."


Johny yang berdiri di belakang Hendrawan mendekaf. Selama Hendrawan sakit, Johny yang mengurusnya. Johny juga yang mengurus perusahaan Hendrawan, yang sekarang sedang merintis ulang setelah mengalami kebangkrutan.


Hendrawan pernah berjasa besar dalam hidup Johny dengan memberikan biaya pengobatan pada Ibunya. Johny tidak tega meninggalkan Hendrawan dalam keadaan terpuruk seperti ini. Saat Johny sedang bekerja, Johny menyuruh perawat untuk menjaga Hendrawan di rumah. Tapi Hendrawan jarang mau di rumah. Setiap hari dia pasti berkeliling Jakarta mencari Ayuma dan Rachel.


Sesekali Wisnu, Sebastian dan Anggun juga menjenguk Hendrawan. Meskipun mereka sudah memutuskan hubungan dengan Hendrawan, mereka tetap tidak tega meninggalkan Hendrawan sendiri.


"Maaf, Pa. Saya belum tahu di mana keberadaan mereka."


Air mata Hendrawan mengalir begitu saja. Tak terhitung berapa kali dia menangis, tapi air matanya seolah tidak pernah kering. Setiap mengingat Ayuma dan Rachel, setiap mengingat tawa dan tangis mereka, dada Hendrawan selalu sesak. Kerinduan berbalut penyesalan ini sungguh menyiksa.


"Menurut kamu, apa saya masih punya kesempatan bertemu dengan mereka?."


"Saya tidak tahu Pak Hendrawan saya tidak bisa memprediksi masa depan. Tapi satu hal yang saya percaya, Jika kita berdoa dengan tulus dan bersungguh-sungguh Tuhan akan mengabulkannya, dan jika Tuhan tidak mengabulkannya maka memang itu yang terbaik untuk kita."


"Setiap hari saya berdoa. Saya sungguh-sunggyh menyesal. Sekali saja, saya ingin bertemu mereka, itu sudah seperti anugerah yang luar biasa untuk saya."


Johny menatap sendiri Hendrawan yang tampak lemah di kursi roda.


"Pak Hendrawan yang sabar dan terus berdoa. Mungkin suatu hari nanti Pak Hendrawan bisa bertemu dengan Bu Ayuma dan Rachel. Sekarang sudah malam, sebaiknya Pak Hendrawan istirahat."


Johny mendorong kursi roda Hendrawan menuju ke kamar dan membantunya tiduran di kasur. Hendrawan meraih foto Ayuma dan Rachel di nakas, lalu memeluk erat sembari memejamkan mata. Lagi, air matanya mengalir.


***


"Selamat pagi," Sapa Luna begitu Brandon membuka mata.


Brandon melenguh dan membuat suara khas orang baru bangun, lalu memejamkan mata lagi setelah sekilas menatap istrinya baru tidur di sampingnya.


"Pagi," gumamnya dengan mata terpejam.


Luna tersenyum, memposisikan diri miring dan menatap lekat wajah tampan suaminya. Luna mengulurkan tangan, menyentuh jari telunjuknya yang lentik di dahi Brandon, lalu bergerak turun mengusap alisnya, kelopak matanya, hidung mancungnya, pipinya, rahangnya dan berakhir pada bibirnya.


Brandon membuka mata saat merasakan bibir bawahnya di usap.


"Maaf," Luna langsung menarik tangannya, merasa tak enak dan takut Brandon marah.


Memang selama ini Brandon tidak pernah marah. Dia lebih banyak diam, sorot matanya lebih banyak berbicara. Lima tahun tinggal bersamanya, Luna mulai memahami Brandon menyampaikan emosi dengan tatapan matanya. Tapi tetap saja sampai sekarang Luna masih sulit mengartikan tatapan matanya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2