
Brandon termenung di tempat.
"Kamu sudah makan malam?."
"Sudah sama papa."
"Ya udah sekarang kamu mandi, terus istirahat. Aku siapkan baju ganti kamu.".
Luna berbalik badan dan di saat itu juga air matanya mengalir begitu saja, menggigit bibir bawah untuk menahan isak Luna berjalan cepat menuju ke kamar.
***
Hotel Artos, Mattem bei interlaken, 08.00 AM.
Sejak 15 menit yang lalu ponselnya terus berbaring layar ponsel menampilkan nama Rendy. Farel mendengar dering itu, di dekat nakas di samping tempat tidurnya. Kini hanya tiduran di ranjang dengan posisi miring, pandangan mata tertuju pada jendela hotel yang menampilkan pemandangan Swiss yang tampak cerah.
Farel sengaja tidak mengangkat panggilan lebih tepatnya malas. Kemarin malam sebelum mereka berpisah dan masuk ke kamar masing-masing, Rendy mengatakan besok pagi akan mengajaknya ke pegunungan Jungraf.
Farel bisa membayangkan Rendy pasti sedang mencak-mencak dan memakinya sekarang. Farel juga menebak mungkin beberapa menit lagi pintu kamar akan digedor-gedor.
Tapi rasanya Farel malas kemana-mana. Dunia terasa beda. Tidak seindah dan semenyenangkan dulu.
Farel meraih ponsel yang sudah tidak berdering lagi, mungkin Rendy lelah meneleponnya, mungkin juga dia ngambek dan pergi sendirian. Farel meraih ponsel bukan untuk menelepon balik Rendy atau mengirim pesan tapi membuka galeri dan mencari foto seseorang.
Foto dan video Rachel.
"Rachel..."
Farel sedikit terobati saat melihat foto dan video Rachel.
Saat merasa begitu rindu ada beberapa hal yang Farel lakukan, kadang membaca ulang riwayat chattingan mereka, kadang memeluk baju Rachel yang tertinggal di apartemennya saat dulu mereka masih tinggal di gedung apartemen yang sama.
Kadang juga Farel termenung dan memejamkan mata lalu muncul sosok Rachel dalam bayang-bayangnya dalam imajinasinya, mereka bertemu, mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.
"Kamu sedang apa sekarang? Kamu baik-baik saja kan? Kamu masih mengingatku?."
__ADS_1
Farel bermonolog sendiri dengan foto-foto Rachel, Farel selalu berkaca-kaca. Entahlah dadanya selalu sesak setiap membayangkan kebersamaan manis mereka sampai pada perpisahan ini. Tidak menyangka kepergian Rachel akan memberi efek sebesar ini.
"Sehari setelah kamu pergi aku masih bisa tertawa, aku bercanda dengan Rendy, Dypta dan Bastian. Aku juga bersenang-senang bersama Mama, Ayah, Rana, Rani dan Reza. Tapi rasanya hampa. Rachel, sampai seiring berjalannya waktu aku merasa tidak mampu tertawa dan tersenyum lagi. Kamu tidak pergi sendiri. Kamu pergi bersama sebagian jiwaku."
Farel mendekatkan ponselnya ke dada lalu mendekap erat seolah sedang memeluk Rachel. Farel ingin Rachel pulang.
Panduan bercampur frustasi membuat Farel Sampai berpikir, tidak masalah jika sekarang Rachel sudah menikah atau bahkan punya anak bersama laki-laki lain asalkan Farel masih bisa melihatnya
Boleh tak masalah hanya menatapnya dari jauh setidaknya dia tahu Rachel baik-baik saja dan masih menginjak bumi yang sama dengannya
"Pulanglah aku merindukanmu."
Tok... tok... tok...
Farel mengerjab mendengar pintu di gedor diiringi panggilan namanya.
"Rel buka pintunya Gue tahu lo udah bangun nggak usah pura-pura budeg, Budeg. Beneran tau rasa lo!."
Rendy menggedor pintu sambil menahan kejengkelan, entah gedoran yang ke berapa kali akhirnya pintu terbuka. Farel muncul dengan penampilan yang sangat tidak sedap dipandang mata, rambutnya acak-acakan, matanya bengkak, wajahnya lesu seolah tidak ada tanda kehidupan di sana. Untung saja wajah tampan jadi nggak buru-buruk amat."
"Gue nggak mau kemana-mana." ucap Farel dengan suara malas.
"Siapa yang maksa gue?."
"Ya gue sih. Tapi kan lo bisa nolak tapi pada akhirnya lu mau juga kan jadi gue nggak sepenuhnya bersalah. Nggak mau tahu loh Rel. Lo harus ikut gue hari ini kalau nggak LO GUE END kita putus."
Farel berdecih.
"Ayolah Rel lo nggak akan nyesel ikut gue ke pegunungan Jungraf, di sana pemandangannya indah banget seindah pemandangan cewek-cewek di Pantai pakai bikini."
"Gue jadi semakin yakin, nggak mau ikut lo ke sana."
"Bercanda Rel. Oke gue salah perumpamaan. Pemandangan gunung Jungraf seperti pemandangan yang indah di Surga."
"Emang lo pernah mati? kok tahu pemandangan surga."
__ADS_1
Rendy memejamkan mata sejenak. "Ya Tuhan, Tolong berikan hamba ke lapangan hati yang luas untuk menghadapi makhluk ciptaanmu yang bernama Farel ini tapi hamba benar-benar kesal, Ya Tuhan. Bolehkah hamba mengirim dia ke sisimu sekarang juga Tuhan!."
Farel terkekeh, "Ya udah lo duluan, Gue mandi dulu."
Rendy membuka mata dan seketika senyumnya mengembang lebar.
"Oke gue tunggu beneran di lobby, awas aja lo nggak datang gue jadiin pepes."
Rendy meninggalkan Farel sambil mendumel.
"Gue merasa seperti Duda Anak satu ngurusin anak bandel si Farel itu."
"Harusnya dia tuh bersyukur punya sahabat kayak gue, mana ada coba orang yang bertahan dicuekin, kebaikannya tak dianggap selama 5 tahun. Kurang baik apalagi gue ini kalau orang lain jadi Sahabat lo nggak akan ada orang yang bertahan ya. Bastian sama Dypta juga perhatian sama lo tapi gue berkali-kali lipat lebih perhatian. Gue ngurusin lo dari bangun tidur sampai tidur lagi sumpah lo nggak tahu diri banget, Rel!."
Sepanjang menelusuri lorong adalah masuk ke dalam lift, Rendy terus mengomel dan bermonolog sendiri.
"Capek ah ngomong terus!." Rendy tertawa merasa konyol dengan dirinya sendiri dia yang mengajak Farel ke sini, dia yang repot, dia yang marah, dia juga yang capek.
"Emang susah jadi orang baik."
Setelah lift terbuka Rendy bergegas meninggalkan lift menuju ke lobby Hotel. Namun karena langkahnya terburu-buru, tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
"Sorry," Ucap Rendy, Rendy menunduk dan membantu perempuan itu mengambil tasnya yang jatuh bersamaan dengan perempuan itu yang juga mengambil tasnya yang jatuh, bersamaan dengan perempuan itu yang juga mengambil tas nya, lalu mereka sama-sama mendongak dan mata mereka saling bertatapan sambil memegang ujung kanan kiri tas.
"Eh kamu..." ucap perempuan itu membuat Rendy mengenyitkan alis. Pertama Rendy terkejut karena perempuan itu seperti mengenalinya, padahal seingat Rendy dia belum pernah bertemu dengan perempuan ini. Kedua, dia bicara bahasa Indonesia artinya dia orang Indonesia atau blasteran Indonesia.
"Kita pernah bertemu?." tanya Rendy bingung.
"Oh maaf," perempuan itu mengambuk tasnya dan memakai di lengannya, wajahnya tampak gugup, "Aku tidak bermaksud sok kenal. Kita belum pernah bertemu tapi aku pernah melihat kamu saatbaku sedang jalan-jalan di danau Thun."
'Oh penggemar baru ternyata, emang susah jadi orang ganteng.' Batin Rendy.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...