Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 201


__ADS_3

Seketika tubuh Ardito ambruk dengan darah mengalir dari kepala. Amora mundur dengan tangan gemetar.


"Mas Ardito!."


Amora berusaha memanggil Ardito tapi Ardito tidak menjawab. Matanya terpejam rapat di sekujur tubuh Amora. Takut, bingung, gelisah da khawatir. Perasaan Amora bercampur aduk membuat nya nyaris pingsan.


Amora berjongkok di samping Ardito dan meletakkan punggung jari di hidung Ardito. Namun, Amora tidak merasakan hembusan nafas Ardito.


"Aarrgg." Amora terduduk dengan keringat membasahi dahi. Wajahnya memucat ketakutan. Tidak ada hambatan nafas, artinya Ardito sudah meninggal. Tidak, Amora tidak bermaksud membunuh Ardito.


Amora hanya ingin memberi Ardito pelajaran atas kata-kata jahatnya tadi. Tapi karena terlalu emosi dan Amora tidak bisa berpikir jernih, Amora memukul kepalanya.


"Sekarang aku harus gimana. Telepon ambulans. Aku harus meminta bantuan medis. Mungkin Mas Ardito bisa selamat."


Amora mengambil tas dan mencari-cari ponsel nya. Begitu sudah menemukan ponselnya, Amora menelpon ambulans. Namun tiba-tiba gerakan jarinya yang menggeser layar ponsel tertahan.


"Tapi bagaimana kalau pihak rumah sakit mencurigaiku. Mereka pasti bertanya kronologi meninggalnya Mas Ardito. Mereka pasti tahu aku sudah membunuhnya. Astaga, bagaimana ini... polisi juga pasti akan terlibat. Brandon pasti akan memenjarakan ku. Tidak, aku tidak mau di penjara."


Amora mulai panik lagi. Bergantian menatap ponsel dan Ardito yang di sekitarnya sudah banyak genangan darah yang mengalir dari kepalanya.


"Tidak, lebih baik aku kabur saja. Semua ini juga bukan sepenuhnya salah ku. Kamu duluan yang mulai mancing emosiku, Mas. Kalau kamu tidak selingkuh, aku juga tidak akan melakukan ini. Kamu... kamu pantas mendapatkan ini."


Amora memutuskan untuk kabur saja. Setelah keluar dari Apartement. Amora mengecek bajunya, apa ada noda darah atau tidak. Ternyata tanpa sengaja dia menginjak noda darah di lantai sehigga jejak sepatunya ada noda darah.


Amora pun memasukkan sepatunya ke dalam tas dan membersihkan lantai depan pintu apartement dengan sapu tangan dari dalam tas.


"Nggak ada yang boleh mencurigaiku. Aku harus segera kabur."


Setelah memastikan darah bersih. Amora langsung masuk ke dalam lift dan menekan tombol dasar. Begitu sampai di lantai dasar Amora langsung menuju ke parkiran. Masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil meninggalkan Apartement dengan kecepatan tinggi.


***


Pukul 11.00, Restoran.


"Akhirnya yang di tungguin datang juga." ucap Bastian begitu melihat Rachel dan Farel tiba ke restoran. Di sana juga ada Dypta dan Rendy yang sudah menunggu.


"Biasalah pengantin baru." Farel mengerling pada teman-teman nya.


"Awas ya otak travelling," Rachel menatap penuh peringatan pada teman-temannya, "Gue sama Farel lagi sibuk cari rumah baru," jelas Rachel agar otak teman-temannya yang sudah tercemar tidak kemana-mana.


"Oh jadi belum belah duren nih, masih perjaka dong lo Rel, haha," Rendy tertawa.

__ADS_1


"Ren, mulut lo bau banget, makan nih biar wangi," Rachel mengambil bunga hias meja dan meletakkan ke mulut Rendy.


Rendy berdecih. Berhubung yang melakukan ini adik kesanyangan nya, Rendy diam saja. Tapi kalau Farel yang memasukkan bunga itu ke dalam mulutnya. Rendy akan membalas dengan memasukkan meja ke mulut Farel. Canda hehehe.


Mereka ada di restoran jadi menu mereka beragam.


"Yang jomblo jangan iri ya," Farel menyuapkan slice beef ke mulut Rachel. Rachel juga ikut memanas-manasi teman-temannya dengan membuat ekspresi senang bercampur dramatis. Farel tertawa melihat tingkah istrinya dan mengusap rambutnya.


"Dih, siapa yang bilang gue jomblo, gue juga punya ayang. Dypta aaa buka mulutnya," Rendy bercanda dan menyuapi Dypta. Dypta juga mau-mau aja di suapi Rendy.


Bastian terkekeh, "Ayang Rani lagi sekolah, jadi untuk sekarang gue suapin diri sendiri aja. Dua tahun lagi setelah Rani lulus SMA, gue langsung malam pertama."


"Nikah dulu, boboho," Farel menggeplak punggung Bastian.


Bastian tertawa, "Ya jelas dong nikah dulu terus malam pertama."


"Malam pertama mulu di otak lo. Habis nikah nanti gue mau nemenin Rani tidur." ucap Farel protektif.


"Bagus, Rel. Gue dukung lo," ucap Rendy. "Terus nanti waktu lo nemenin Rani tidur sama Tian, gue yang nemenin istri lo tidur, hahahah," Rendy tertawa.


"Lama-lama gue rendah kepala lo di minyak panas ini ya, Ren. Biar jadi menu baru kepala rebus."


"Buset, sadar banget Mas Farel," ledek Rendy menurunkan Rachel yang sekarang memanggil Farel dengan panggilan Mas.


"Heh heh," Rendy panik sementara yang lainnya tertawa.


Rachel terkekeh. Salah siapa Rendy terus menggoda nya dari tadi.


Mereka pun lanjut makan sambil bercanda ria. Tentu saja Farel dan Rachel menjadi topik hangat obrolan mereka, lebih tepatnya bahan ledekan mereka.


Meskipun kesal, Rachel senang bisa berkumpul lagi dengan teman-temannya, mengobrol dan bercanda seperti sekarang. Rasanya seperti nostalgia masa-masa sekolah dan SMA dulu. Bedanya dulu Rendy yang jadi bahan ejekan, sekarang giliran dia dan Farel yang jadi bahan obrolan.


"Kalian nanti mau tinggal di mana?." tanya Bastian.


"Yang pasti fi Jakarta, rencananya di kompleks perumahan yang letaknya di tengah-tengah rumah Mama Ayah dan Mama Papa," ucap Rachel, "Ya biar mudah aja kalau orang tua kita mau datang ke rumah kita."


Farel mengangguk, setuju dengan ucapan istrinya.


"Kita sekompleks dong, biar kompak terus," usul Rendy.


"Nggak mau ah, lo kan tukang rusuh" Rachel menjulurkan lidah pada Rendy.

__ADS_1


"Heh, blagu banget ya, Yayang. Kalau bukan gue yang ngajak suami lo ini ke Swiss, kalian nggak akan ketemu. Mungkin juga selamanya lo menetap di Swiss dan nikah sama bulu."


"Nggak masalah nikah sama bule," ucap Bastian, "Punya buku lebih besar, Hel. Lo bakal lebih puas," Bastian mengedipkan mata pada Rachel. Sementara Rachel mendelik, mengerti arah pembicaraan Bastian.


"Woi gue juga besar kali," Farel tak terima.


Sontak saja Bastian, Rendy dan Dypta memyemburkan tawa. Sementara Rachel menutup wajah malu. Entahlah, dia malu saja. Meskipun mereka belum malam pertama, mereka sudah beberapa kali mandi bersama. Kalau mandi kan telanjang, otomatis Rachel melihat itu.


"Beneran besar, Ya? jangan bohong," goda Rendy pada Rachel.


"Apaan sih," Rachel melempar sumpit pada Rendy.


"Udah deh berhenti ngomongin gue sama Farel. Kayak nggak ada topik pembicaraan lain aja. Sekali lagi ngomongin gue sama Farel, gue sumpal mulut kalian pake bara api penggorengan."


"Wow, syeraaammm," Rendy tertawa. Lalu lanjut lagi menggoda Rachel dan Farel.


Gemes banget rasanya. Malu di godain terus. Rachel pun memutar otak mencari topik pembicaraan lainnya agar mengalihkan topik perhatian teman-temannya. Tiba-tiba terlintas nama seseorang di kepala Rachel yang membuat wajahnya berubah sendu.


"Kenapa lo?." heran Rendy. "Eh eh guys Rachel mau nangis nih kita ledekin terus. Canda Rachel. Jangan nangis dong."


"Lo sih!." Farel melotot pada Rendy dan merangkuk pundak Rachel. "Kenapa? kesal sama Rendy? mau aku rebusin tulangnya?."


"Rel, bercanda lo ngeri banget," Rendy mendadak merinding.


Rachel menghela napas panjang dan menatap teman-temannya satu persatu.


"Luna, tiba-tiba gue inget Luna. Kalian udah denger kabar Luna masuk ke rumah sakit?."


Mereka bertiga mengangguk.


"Udah jenguk?."


Bersamaan, mereka menggeleng.


"Mau jenguk sekarang, maksudnya selesai makan?." tanya Rachel.


Mereka diam sesaat, lalu mengangguk.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2