Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 36 Aku akan terus menggenggam tanganmu


__ADS_3

Luna, Dilara dan Hendrawan yang tadinya tertawa riang sambil mengobrol harus terhenti seketika serempak menoleh ke arah pintu. Orang yang tidak mengenal mereka pasti menganggap kalau Hendrawan dan Luna adalah keluarga kecil yang bahagia. Sebuah Keluarga yang di idam-idamkan Rachel.


"Farel, Rachel?." Luna tersenyum ceria menyambut kedatangan mereka.


"Maaf Pa."


Farel mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Rachel lalu mendekat ke arah brankar. Luna yang melihat mereka bergandengan tangan seketika senyumnya luntur.


Sejujur nya Luna masih ingin dengan perasaannya sekarang. Dia mencintai Dypta tapi entah kenapa jika Farel terlalu dekat dengan Rachel dia merasa kesal. Semakin ke sini Luna semakin dilema. Mungkin persentase cinta Luna terhadap Dypta dan Farel adalah 50:50.


"Rachel sini Nak!." Dilara tersenyum lalu bergeser ke sisi brankar sehingga Farel dan Rachel lebih dekat dengan brankar.


"Mesra banget, cieeee." Luna menatap genggaman Farel kepada Rachel.


"Iyah tadi kena lem jadi ngga bisa lepas." Farel nyengir dan mengangkat tangannya dengan tangan Rachel yang masih bergenggaman.


Rachel memandangi wajah dari samping, Rachel bingung dengan sikap Farel . Biasanya jika mereka sedang berduaan kemudian Luna datang Farel pasti langsung menjaga jarak. Tapi sekarang Farel tetap di dekatnya bahkan menggenggam tangannya di depan Luna.


"Ya ampun kok bisa kena lem sih?. Emang kalian dari mana?, aku jadi pengen kena lem juga biar juga bisa menggenggam tangan kalian.


Hendrawan menatap sendu Luna, Senyum itu pasti senyum palsu. Hendrawan tahu di dalam hatinya Luna pasti sedih melihat kedekatan Farel dan Rachel. Hendrawan tidak akan membuat putrinya bersedih.


Sudah bertahun-tahun Luna hidup susah bahkan sejak kecil di titipan Panti asuhan. Hati Hendrawan sakit saat membanyangkan Luna tidur di kasur tipis, kedinginan saat hujan, kegerahan saat musim panas Bahkan dia harus berebut mainan dengan anak-anak Panti lainnya.


Rachel dan Luna.


Mereka sama-sama putrinya tapi jalan hidup mereka berbeda. Luna hidup susah sementara Rachel hidup bahagia dengan bergelimang harta sejak kecil. Hendrawan menangis saat Dilara cerita jika Luna harus banting tulang menjadi penyanyi demi membantu nya mencari uang.


Hendrawan merasa bersalah karena terlambat menemukan Luna dan Dilara.


Sekarang waktunya Hendrawan membahagiakan mereka. Hendrawan akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Luna.


"Rachel?."


"Iya Pa." Mendengar panggilan itu Refleks Rachel menoleh ke arah papahnya.


"Kita pulang sekarang ya, sudah sore."


Saat itu juga Farel memicingkan mata pada Hendrawan.


Hendrawan berharap dengan Rachel pergi, Luna bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Farel.

__ADS_1


"Rachel baru saja tiba di sini Om, Om sudah menyuruhnya pulang?, bahkan Rachel belum mengucapkan terima kasih pada Luna seperti yang Om inginkan kan?."


Farel benar-benar tak habis pikir dengan Hendrawan Farel ingin membelah kepala Hendrawan dan mengecek isi kepalanya, kira-kira apa isi kepalanya sampai mengatakan itu pada putri kandungnya?.


Oh ya Tuhan, begitu melirik ke arah Rachel dan melihat wajah sendu, rasanya Farel ingin membawa Rachel pergi dari sini. Padahal di Apartement tadi, Rachel terlihat sangat bahagia, matanya berbinar cantik dan senyumnya mengembang lucu, tapi begitu sampai di sini. Hilang semuanya. Hanya ada kesedihan, meski begitu Rachel tetap tersenyum.


"Kalau Om mau pulang, ya sudah sana pulang!, Saya yang mengajak Rachel ke sini, saya juga yang akan mengantarkannya pulang. Om nggak usah khawatir, saya pastikan Rachel tidak terluka sedikitpun."


"Ck, kamu semakin lama semakin kurang ajar ya!."


"Cuma Om doang yang bilang saya kurang ajar, semua orang yang saya temui selalu mengatakan saya sopan dan baik. Saya bersikap tergantung dengan siapa saya berbicara."


Hendrawan baru saja membuka mulut tapi Dilara lebih dulu berbicara.


"Mas Hendrawan sudah yah, Nak Farel sudah yah!."


Dilara tidak menyangka Farel akan membela Rachel sebesar ini bahkan sampai bersikap tidak sopan pada orang tua. Tapi Dilara mengerti Farel melakukan ini karena ingin melindungi sahabatnya. Apalagi Farel dengan Rachel sudah berteman lama daripada dengan Luna. Tapi Dilara tau, perempuan yang Farel cintai hanyalah putrinya, Luna.


Dan menurut Dilara sikap Hendrawan juga agak berlebihan dengan menyuruh Rachel pulang demi agar Luna bisa berduaan dengan Farel.


"Maaf Tante saya tidak bermaksud membuat keributan tapi saya tidak suka sikap Om Hendrawan pada Rachel."


"Rachel, kamu pulang sama Papa sekarang atau Papa tidak akan pernahmau bicara dengan kamu lagi!."


Rachel mencelos.


Farel membuka mulut hendak hendak memaki Hendrawan, tapi tertahan saat Rachel mengeratkan genggaman tangannya sehingga membuat Farel menahan kalimatnya.


Rachel menoleh pada Farel sambil menggelengkan kepala.


"Farel, Gu-gue..."


"Ngga usah ngomong gue tahu."


Farel sangat mengenal Rachel dan Farel juga tahu sekarang Racheo pasti ingin menangis. Semakin banyak berbicara air matanya akan semakin mendobrak ingin keluar. Farel juga tahu Rachel paling tidak suka menangis di depan semua orang, karena itu Farel menghentikan Rachel berbicara.


"Terima kasih," lirih Rachel lalu mengalihkan pandangan ke arah Luna.


"Luna maaf aku ngga bisa lama-lama menemani kamu di sini. Maaf juga aku terlambat bilang terima kasih. Terima kasih sudah menolongku. Maaf gara-gara aku kamu jadi terluka kayak gini."


"Gapapa Rachel. Aku lebih senang aku yang terluka daripada kamu yang terluka. Kamu juga ngga perlu merasa bersalah. Aku menolong kamu karena keinginan ku sendiri."

__ADS_1


Rachel menganguk,


"Rachel, Ayo!."


Hendrawan menggenggam tangan putrinya dan menariknya hingga genggaman tangan Rachel dari Farel terlepas.


"Tante Dilara, aku pamit pulang yah!."


"Iyah sayang hati-hati."


Hendrawan dan Rachel keluar dari ruang rawat Luna , Dilara mengikuti Hendrawan dan Rachel keluar ruangan sekaligus memberikan waktu untuk putrinya dan Farel berbicara. Sepertinya Luna juga sangat merindukan Luna.


.


.


.


Hendrawan segera menarik tangan Rachel menuju ke lift. Dengan tak sabar Hendrawan menekan lift lantai dasar. Begitu pintu lift tertutup Hendrawan langsung menghempaskan tangan Rachel.


"Maksud kamu apaan sih gandengan tangan sama Farel seperti tadi?, Kamu tau kan Luna mencintai Farel. Kamu pikir Luna nggak cemburu liat kedekatan kamu sama Farel. Luna tersenyum bukan berarti dia baik-baik saja. Ck. Kamu ini sudah menyebabkan luka fisik kamu tambah lagi dengan luka batin. Papa ngga nyangka ternyata kamu sejahat ini Rachel. Mulai sekarang jaga jarak dengan Farel. Jangan egois dan menang sendiri.


'Pa, putri Papa ini juga mencintai Farel, apa sebagai Ayah, Papa tidak bisa merasakan itu?.'


Rachel ingin sekali mengatakan kalimat itu, tapi khawatir keadaan akan semakin rumit.


"Rachel kamu dengar Papa ngga sih?."


"Iyah Pa aku dengar. Tapi aku tidak akan menjauhi Farel."


"Egois sekali kamu. Kamu mau jadi orang ketiga?. kecil-kecil udah jadi pelakor kamu."


Degh


Lagi-lagi hati Rachel sakit mendengar ucapan Papa nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2