Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 52


__ADS_3

Hendrawan begitu kesakitan, tapi tidak ada yang mengerti dirinya. Semua orang menyalahkannya karena tidak bisa mencintai Ayuma dan Rachel. Padahal dia sendiri juga tersiksa.


"Kamu ini benar-benar..."


"Aku apa? Aku melakukan apa, Pa? coba katakan kapan aku pernah membangkang perintah Papa? Aku selalu menuruti Papa dan melakukan apapun yang Papa inginkan. Apa belum cukup Papa menyiksaku? apa Papa ingin melihatku mati menderita?."


"Cukup Hendrawan! Arrgg..." Wisnu menekan dadanya yang tiba-tiba sesak.


"Opa." dengan panik dan khawatir, Rachel menahan lengan Wisnu.


"Papa," Hendrawan segera merangkul lengan Papa nya membawanya ke sofa.


"Papa, kita bawa Opa ke rumah sakit."


"Tidak perlu, Rachel," Wisnu merogoh obat di dalam saku.


"Rachel, cepat ambil air!."


"Iya, Pa."


Rachel mengambil segelas air putih dan memberikan pada Wisnu. Hendrawan segera membantu Papa nya minum obat. Hendrawan segera membantu Papa nya minum obat, selain itu membawa ke salah satu kamar untuk istirahat.


"Maaf, Pa. Aku tidak bermaksud membuat Papa emosi sampai Papa mengalami serangan jantung tiba-tiba seperti ini." Hendrawan duduk di tepi kasur dan menggenggam erat tangan Papa nya.


Hening cukup lama. Hendrawan hanya menatap papanya dalam diam. Meskipun kadang berselisih paham, Hendrawan sangat menyanyangi Wisnu. Bagaimanapun juga Wisnu adalah Ayah kandungnya. Apalagi sebelum meninggal mendiang mamahnya menyuruh Hendrawan menjaga Papa nya dengan baik.


Sungguh Hendrawan menyesal sudah memancing emosi Papa nya seperti tadi. Meskipun kenyataannya memang seperti itu, kenyataan bahwa Papa nya sering memaksa kehendak sehingga Hendrawan tumbuh seperti yang Papa nya ajarkan.


"Sayangi Rachel, dia putrimu."


Hendrawan menganguk, Rachel yang berdiri di samping Hendrawan menatap sendu kakeknya.


"Aku selalu menyanyangi Rachel, Pa. Sudah sekarang Papa istirahat ya. Papa menginap di sini saja."


Perlahan Wisnu memejamkan mata. Rencananya tadi Wisnu infin menghabiskan waktu bersama cucunya, tapi gara-gara penyakitnya harus berbaring lemah di ranjang.


Saat di rumah tadi, tiba-tiba Wisnu sangat merindukan Rachel. Hatinya membawa langkah kakinya datang ke rumah ini. Dan firasatnya tidak salah. Cucu kesanyangan nya sedang bersedih karena Ayah kandungnya sendiri.


Wisnu begitu terkejut saat Hendrawan mengatakan bahwa sikap nya yang sekarang karen meniru sikap nya yang dulu.


Benar sekali, dulu Wisnu mendidik Hendrawan dan Biantara anak pertamanya, begitu keras. Wisnu melakukan itu agar anak-anak nya disiplin dan menjadi orang sukses. Biantara Papa nya Bastian, tetap tumbuh menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab dan tidak pernah kasar kepada Bastian.


Sedangkan Hendrawan...

__ADS_1


Jujur saja Wisnu merasa bersalah. Mungkin pola asuhnya pada Biantara tidak cocok untuk Hendrawan sehingga Hendrawan tumbuh menjadi sosok yang keras dan kasar seperti sekarang. Dan akhirnya melampiaskan kemarahannya kepada Rachel.


"Pa..." Hendrawan menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri di depan wajah Papa nya. Tidak ada reaksi apapun, sepertinya Papa nya sudah tidur.


"Aku keluar dulu ya, Pa."


Hendrawan mengusap punggung tangan Papa nya sekilas harus keluar dari ruangan bersama Rachel.


Sesampainya di luar kamar, Hendrawan memicingkan mata pada Rachel.


"Lihat kan! akibat dari perbuatan kamu yang nggak nurut sama Papa. Kalau sejak awal kamu nurut permintaan Papa soal perjodohan ini, Opa kamu tidak akan salah paham dan jatuh sakit. Kamu jadi cucu tidak ada pengertian-pengertiannya sama sekali. Opa kamu sudah tua tapi malah kamu tambahan beban masalah kamu. Kamu jangan suka ngadu yang tidak-tidak."


"Aku tidak pernah mengadu apa-apa sama Opa, Pa."


"Ck, kamu di bilangin nyahut aja. Nanti Papa atur perjodohan kamu dengan anak teman Papa. Kamu tenang saja Papa akan mencarikan pemuda yang baik. Papa menjodohlan kamu bukan untuk diri Papa sendiri, bukan juga untuk perjodohan bisnis. Papa ingin mencarikan laki-laki yang baik yang bisa menjaga kamu. Papa akan carikan yang sesempurna mungkin untuk kamu. Ya udah masuk kamar. Ingat kata-kata Papa tadi, jauhi Farel!."


Rachel langsung pergi tanpa mengatakan apapun, hati nya sudah terlalu kecewa.


Setelah mengunci pintu, dengan langkah gontai Rachel berjalan menuju ranjang, berbaring di sana dan terlentang.


Pandangannya matanya merebut, bibirnya melengkung ke bawah dan garis wajahnya menurun. Rasanya seperti seluruh kebahagiaan dalam jiwa Rachel tersebut habis, kosong, sepi dan hampa.


"Oma, apa Oma tenang di sana? Bolehkah Rachel ikut sama Oma?."


"Jangan nangis. Papa bilang ngga boleh nangis."


Namun semakin Rachel mencoba menahan tangis, air matanya mengalir semakin deras.


"Aku juga tidak ingin menangis, Pa. Aku juga lelah menangis. Tapi kenapa aku ngga bisa berhenti menangis, Pa. Papa."


Rachel memposisikan diri miring dan meraih guling lalu memeluknya.


Rachel memejamkan mata sesaat untuk mengurangi kesedihannya, tetapi semakin dia mencoba menenangkan diri, pikirannya semakin kacau.


Sesaat Rachel termenung dalam pikiran kosong. Sorot mata nya tak lepas dari pisau tajam itu. Sedikit saja menggores tangannya darah itu mengalir.


"Mungkin luka fisik bisa mengurangi luka batinku."


Dengan tangan gemetar, Rachel mengarahkan pisau itu ke lengannya, sisi tajam pisau yang dingin menyentuh kulit nya, ingin menggores di sana tapi tiba-tiba...


Tok...tok...


"Non Rachel."

__ADS_1


Dengan cepat Rachel memasukkan kembali cutter ke dalam laci.


"Iya Bi?."


"Ini pesanan makanan Non sudah datang."


Rachel mengenyitkan alis, seingatnya dia tidak memesan makanan apapun. Apa mungkin salah kirim?.


Dengan cepat Rachel menghapus air mata lalu membuka pintu dan menatap bingung. Bi Siwi membawa dua paperbag makanan dan dua kantong plastik berisi aneka coklat, snack, es cream, banana milik dan lain-lain.


"Ini Non."


"Aku ngga pesan makanan Bi."


"Tapi Mas-ma yang ngirim makanan tadi bilang ini pesanan Non Rachel."


Rachel membuka salah satu paperbag makanan yang ternyata berisi dimsum dan ternyata di dalam nya ada note.


Hei My Strong Girl Rachel.


Habiskan semua makanan ini. Ingat, apapun masalahnya. Makan solusi nya. Jangan cari solusi lain, kalau ada masalah. Semua akan baik-baik saja, lo ngga sendiri gue akan selalu ada di pihak lo.


Dari sahabat tersayang lo Farel.


Rachel tersenyum.


"Nyebelin banget sih!."


Air mata Rachel yang sempat mengering kini mengalir lagi setelah membaca note dari Farel.


Benar, bagaimana dia lupa. Selama ini jika ada masalah ia selalu melampiaskan kepada makanan. Seharusnya Rachel tidak berpikir untuk melukai diri sendiri saat ada masalah. Seharusnya dia melampiaskan ke hal-hal yang tidak merugikan diri sendiri.


Selain itu keadaan memaksa nya untuk menjauhi Farel, sangat menyiksa Rachel. Bukan karena cinta nya tapi Rachel kehilangan sosok sahabat yang selalu ada untuknya.


"Non Rachel kenapa menangis?."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2