
Tepat setelah Farel masuk ke dalam kamar tadi, Bastian dan Farel berdebat panjang lebar yang intinya Bastian melarang Farel dekat dengan Rachel selama Farel masih berpacaran dengan Luna. Tapi karena kebelet ke belakang Bastian pergi ke toilet.
Sekarang di depan kamar Rachel hanya ada Farel.
"Farel."
Farel yang sedang menyandarkan punggung di tembok sembari menunduk akhirnya mengangkat kepala. Begitu melihat Anggun mendekat, Farel melempar senyum.
"Tante."
Anggun juga tersenyum padanya, "Batsian sama Rachel kemana? Jangan bilang mereka di dalam kamar dan membiarkan kamu di luar seperti ini?."
Farel menggeleng, "Nggak Tante, Rachel memang ada di kamar lagi mandi, kalau Bastian tadi katanya kebelet pop."
Anggun menghela nafas lega, setidaknya putranya tidak sekejam itu membiarkan Farel sendirian di luar kamar begini apalagi kondisi Farel juga terlihat tidak baik-baik saja.
"Lengan sama kaki kamu kenapa? kenapa banyak luka gini? kecelakaan?
"Iya Tante. Kemari jatuh dari motor. Tapi sekarang sudah membaik kok."
"Ya ampun harusnya kamu banyak istirahat malah ke sini? takut banget Rachel kenapa-napa?."
Farel bingung harus menjawab apa, memilih untuk diam saja.
"Tante ke sini mau mengantar makanan ini buat Rachel. Nanti kalau dia sudah selesai mandi, tolong berikan sama dia ya. Tante mau ke bawah lagi lanjut makan sambil ngobrol sama Ayuma dan juga Mama kamu ya. Oh ya kamu sudah makan atau belum? lunch box nya cuma satu, kalau mau nanti Tante ambilkan satu lagi di bawah."
"Nggak usah Tante. Aku sudah kenyang,"
"Ya udah Tante ke bawah dulu ya."
"Iya Tante."
Anggun pun pamit pergi dan tak lama setelah kepergiannya pintu kamar Rachel terbuka. Refleks kepala Farel me oleh ke arah pintu seiring dengan aroma wangi memenuhi indra penciumannya. Rachel juga menatap ke arahnya. Begitu mata mereka bertemu jantung Farel berdebar dan rasa gugup menjalar dari ujung kaki sampai ujung rambut, seolah puluhan tahun tidak bertemu dan ini pertama kalinya mereka bertemu, padahal baru tadi pagi mereka bertemu.
__ADS_1
"Hai," Sapa Farel dengan kikuk.
Plak.
"Arggh." Farel terkejut saat tiba-tiba Rachel menabok lengan kirinya.
"Ngapain ke sini? Udah tahu lagi sakit bukannya istirahat di rumah ini malah ke sini. Kalau sakit lo makin parah gimana? Katanya mau cepet sembuh tapi nggak mau istirahat. Lihat tuh kapas nya sampai mengelupas gitu. Ya ampun, Farel isshh."
Beberapa detik Farel tertegun mendengar omelan Rachel panjang lebar lalu perlahan senyumnya mengembang senang mendengar omelan gadis bar-bar ini. Bahkan di saat-saat terpuruk seperti ini, Rachel masih peduli pada orang lain.
"Ga papa, luka yang ini nggak terlalu parah. Ngga perlu di tutup kapas. Nanti juga kering sendiri."
"Ya perlu dong biar nggak kena kuman, gimana sih. Bentar gue cariin kotak p3k mungkin ada di sini. Gue-."
Farel menggenggam pergelangan tangan Rachel. Rachel pun berhenti melangkah, berbalik badan dan kembali menatap Farel. Untuk yang kedua kali mata mereka bertemu, untuk yang kedua kali juga jantung Farel berdebar lebih kencang dari biasanya. Entah perasaan apa ini, sulit di jelaskan tapi hanya bisa dia rasakan saat dia bersama Rachel. Mungkin hanya sekedar perasaan khawatir, bukan?.
"Gue ga papa serius. Sekarang lo makan aja, tadi Tante Anggun membawakan makanan ini buat lo," Farel mengangkat paper bag makanan berisi lunch box.
"Serius lengan lo ga papa? Nggak sakit?."
"Tadi katanya nggak sakit."
"Yang itu masih sakit, Rachel."
Rachel tertawa, "Maaf, cuma mau ngecek doang. Ya udah Ayo makan gue memang udah laper banget." dengan riang Rachel mengambil paper bag di tangan Farel lalu berjalan duluan menuju ke tangga.
"Makannya di sini aja."
Tiba-tiba Farel menggenggam pergelangan tangan nya dan mengajak menuju ke balkon lantai dua.
"Farel, mau kemana? gue mau makan sama Mama, Tante Anggun dan Tante Sarah juga."
"Di sini aja. Tempatnya bagus, dari tadi gue penasaran mau ke sini. Tapi sebagai tamu nggak mungkin kan gue nyelonong gitu aja duduk-duduk di sini. Jadi gue ngajak lo sebagai tuan rumah ke sini."
__ADS_1
Farel memegang pundak Rachel dan mendudukannta di sisi kanan bangku dekat tembok sedangkan dia duduk di sisi bangku dekat pintu.
Rachel baru saja ingin protes namun begitu semilir angin menerpa lembut kulit wajahnya seketika senyum Rachel terdiam, terhipnotis dengan sejuknya angin dan indahnya pemandangan dari balkon ini. Ada banyak pohon di sini dan di bawah pohon ada aneka macam bunga.
Rachel dengar dari Mamanya, Kakek dan Nenek nya suka dengan apapun yang menyangkut tentang alam. Karena itu mereka membangun rumah ini dengan konsep Green Building tak heran lagi di rumah ini banyak tanaman.
"Mama pernah bilang Kakek dan Nenek suka duduk id bangku balkon ini."
"Oh yah?."
Rachel menganguk dan tersenyum.
Bastian yang baru kembali dari kamar mandi jengkel setengah mati begitu melihat Farel dan Rachel di balkon rumah. Duduk berduaan dan terlihat sangat dekat. Tanpa menunggu lama Bastian mendekat, ingin menyemprot Farel dengan kata-kata pedas namun...
Begitu melihat senyum Rachel, Bastian menghentikan langkah. Entah apa yang mereka bicarakan tapi melihat senyum Rachel secerah itu, hati Bastian tenang sekali.
Beberapa detik Bastian terdiam dengan pandangan mata terus mengawasi mereka dari kejauhan. Lalu perlahan langkahnya mundur dan berbalik badan dan pergi. Untuk kali ini saja Bastian membiarkan Farel dekat dengan Rachel, untuk menghibur hati Rachel yang sedang bersedih.
Tapi besok-besok Bastian akan dengan tegas melarang Farel dekat dengan Rachel seandainya Farel belum putus dengan Luna.
"Mama bilang setiap sore, Kakek dan Nenek duduk di sini, bersandar di punggung bangku dan Nenek bersandar di bahu Kakek, lalu mengobrol hal-hal random," Rachel tersenyum begitu juga Farel yang ikut tersenyum.
"Mereka romantis kan?."
Farel menganguk, "Sangat-sangat romantis."
Rachel menghela nafas panjang lalu menatap jauh ke depan
"Gue rasa gue akan betah tinggal di sini. Mungkin akan terasa lebih nyaman daripada tinggal di rumah mewah papa." Rachel mengukir senyum di bibirnya, dengan pandangan mata masih menatap ke depan.
"Mama dan Papa akan bercerai. Dan Papa akan menikah dengan Tante Dilara. Bahkan sekarang Papa sudah mengajak Tante Dilara dab Luna pindah ke sana. Gue dan Luna benar-benar saudara kandung. Harusnya gue senang kan? Luna benar-benar menjadi adik kandung gue karena selama ini gue sudah menganggap Luna seperti adik kandung gue. Tapi begitu Tuhan menjadikan Luna sebagai Adik kandung gue, kenapa rasanya sakit ya, Rel? Apa gue terlihat jahat kalau sekarang gue berharap Luna bukan adik gue?."
.
__ADS_1
.
Bersambung....