
[Farel : Gue juga kaget, ternyata 10.030 foto galeri gue, 99% isinya foto lo. Ini baru HP ini, belum hp satunya.]
[Rachel : Oh jadi selama ini lo diam-diam suka foto gue! dasar penguntit.]
[Farel : Gue juga nggak sadar. Gue akan bom lo malam ini dengan foto aib lo. Hahaha.]
[Rachel : AWAS LO GUE BALES.]
Saat sedang mencari foto Farel di galeri ada chat dari Brandon dan Farel bersamaan.
[Brandon : Ya udah, good night, I love you.]
[Farel : Nih foto waktu SMA dulu.]
[Rachel : I love you too.]
Rachel membalas dari pull up chat tanpa melihat chat room. Namun tiba-tiba ada chat lagi yang masuk.
[Brandon : Rachel, kamu belum bales chatku. aku bilang I love you.]
[Farel : Apa ini kok lo tiba-tiba chat I love you too.]
Rachel membulatkan mata saat tanpa sadar salah mengirim pesan. Dengan cepat Rachel mengirim balasan I love you too pada Brandon dan menarik pesannya dari Farel.
[Rachel : Salah kirim, gue mau kirim ke Ayang Brandon.]
[Farel : Oh.]
[Farel : Perih, Ya.]
[Rachel : Apanya yang perih.]
Rachel keluar dari chat room Farel dan membalas chat Brandon lagi. Chatnya yang tadi sudah di baca tapi belum Brandon balas lagi.
[Rachel : Maaf ya lama balasnya. Kamu sudah tidur?.]
[Brandon : Belum. Aku mau tanya sesuatu. Dari story Luna, berarti sekarang Farel sudah tahu kan kamu suka sama dia. Terus respon Farel gimana?.]
Rachel baru saja ingin membalas Brandon, namun tiba-tiba ada chat dari seorang yang membuat jantungnya berdebar kencang.
"Papa," lirih Rachel sambil membaca nama Wa papa nya. Rachel memang tidak memblokir nomer papa nya, toh selama ini papa nya juga jarang chat. Rachel bahkan lupa kapan terakhir mereka chatingan.
Lalu sekarang tiba-tiba papa nya chat lagi.
Dengan gugup Rachel menekan room chat Papanya. Setelah membaca isi chat itu, Rachel meremas kuat ponsel dengan mata berkaca-kaca.
Rachel membaca ulang chat Papanya.
__ADS_1
[Papaku : Kenapa jam segini masih online? sana tidur.]
Mungkin bagi sebagian orang kalimat itu biasa saja. Apalagi jika sudah terbiasa mendapat perhatian seorang ayah. Tapi bagi Rachel kalimat itu sangat menyentuh. Apalagi selama ini Papanya jarang perhatian. Jangankan perhatian, mengharapkan kehadiran dirinya di dunia ini pun tidak.
Rachel bertanya-tanya Kenapa tiba-tiba Papanya chat di tengah-tengah huru-hara ini.
Apa Papa merindukanku ? Ah sepertinya tidak mungkin.
Bibirnya boleh menyangkal, tapi jauh di dalam hatinya Rachel berharap Papanya memang benar-benar merindukannya.
Rachel bukan tipe orang yang pendendam , Yang Berlalu biarlah berlalu, tapi ada satu dua kejadian yang memang sulit dilupakan, salah satunya pengkhianatan Papanya dan kata-kata jahat Papanya. Namun sebagai rasa hormatnya kepada orang tua, Rachel tetap membalas chat Papanya.
[Rachel : Iya, Pa. Ini juga mau tidur kok.].
[Papaku : Ya sudah sana cepat tidur. Kalau kebanyakan bergadang nanti kamu sakit kayak mama kamu. Btw mama kamu sakit apa? kelelahan doang atau mungkin mama kamu hamil?]
"Eh," Rachel sampai melotot membaca chat papa nya.
[Rachel : Nggak kok, Pa Mama nggak hamil. Aku menemani mama ke dokter dan dokter bilang mama cuman kelelahan. Dokter juga bilang agar mama nggak terlalu banyak beban pikiran.]
[Papaku : Oh gitu, mungkin mama kamu sibuk gara-gara mengurus berkas-berkas perceraian. Bilang sama kamu supaya jangan terlalu memaksakan diri dan lupakan sebentar mengurus berkas-berkas perceraian.]
[Rachel : Iya nanti aku sampaikan sama mama.]
Jeda beberapa menit. Tanda ceklis sudah berubah biru artinya Hendrawan sudah membaca, tapi belum ada balasan. Mungkin papa nya sedang membalas chat lain.
Ada beberapa pesan juga yang masuk, tapi rasanya Rachel enggan keluar dari chat room Papanya. Jari-jarinya justru sibuk menggulir layar ponsel untuk membaca ulang riwayat chattingannya dengan papa nya dulu.
Bodohnya Rachel tersenyum kegirangan padahal Papanya sudah menyakiti sedemikian jahatnya. Seharusnya sekarang Rachel mengabaikan saja seperti yang sering Papanya lakukan. Tapi hati tak tega. Dan tidak dipungkiri Rachel rindu chatingan seperti ini.
[Papaku : Kamu senang sebentar lagi papa dan mama akan berpisah?]
[Rachel : Selama itu membuat mama senang, aku juga ikut senang. Papa juga senangkan? setelah mama dan papa bercerai nanti, papa bisa menikah dengan Tante Dilara.].
Jeda lagi padahal Hendrawan sudah membaca chatnya. Rachel penasaran Apa yang sedang Papanya lakukan sekarang sampai chattingan terputus-putus.
[Rachel : Papa... lagi apa ?.]
[Papaku : Papa lagi kerja, ini dibuang kerja papa.]
[Rachel : Papa masih aja suka lembur kalau malam.]
[Papaku : Hm, hari ini papa sibuk sekali. Untuk beberapa hari kedepan Papa juga pasti akan sibuk dan sering bergadang. Kamu tahu kan berita yang beredar. Berita itu berimbas pada perusahaan papa. Sekarang Papa sedang menaikkan lagi saham dan menghubungi bagi para rekan kerja para rekan kerja yang tiba-tiba memutus kontrak sepihak. Papa juga harus mencari investor dan mempertahankan investor lama.]
Sesaat Rachel terdiam setelah membaca chat Papanya. Untuk pertama kalinya Papanya mengirim pesan sepanjang ini.
Dengan Senyum mereka, Rachel membalas lagi pesan papa nya.
__ADS_1
[Rachel : Oh gitu ya, Pa. Maaf gara-gara berita yang beredar jadi berimbas pada perusahaan Papa.]
Hendrawan tiba-tiba menelpon, Rachel sampai terkejut. Setelah berdehem beberapa kali Rahel pun mengangkat panggilan.
"Halo, Pa."
Sambil mengangkat telepon papanya, Rachel meraih guling dan memeluknya, sedang memeluk papa nya.
"Papa udah makan?."
"Udah, kamu?."
"Aku juga udah makan."
Jeda lagi, Rachel menunggu Papanya berbicara.
Soal berita itu Papa sudah mencari tahu ternyata menjadi dalang semua ini.
Perlahan senyum Rachel memudar, wajahnya berubah serius.
"Iya Pak Bastian yang membantuku."
"Tindakan Bastian Ini sudah termasuk tindakan kriminal.Papa bisa saja melaporkan Bastian ke polisi atas kasus pencemaran nama baik."
Rachel terhenyak.
"Pa, papa nggak akan melakukan itu kan?."
"Tentu saja papa akan melakukannya. Tapi papa tidak akan melaporkan sepupu nakal kamu itu ke polisi asalkan kamu mau membuat klarifikasi bahwa kamu yang memancing emosi Luna sampai Luna kesal. Kamu mengatakan Luna anak haram , pantas dilahirkan di dunia ini, kamu juga yang menampar Luna. Nah itu Luna tidak bisa mengendalikan emosinya dan pada akhirnya membuat IG Story itu. Kamu bisa kan? Papa tunggu klarifikasi kamu besok pagi. Tulis aja di IG Story kamu dan tag IG Luna."
Baru beberapa detik yang lalu Rachel berharap Papanya menghubunginya Karena rindu. Rachel bahkan sampai berkaca-kaca saking terharunya. Tapi ternyata Papanya tidak pernah benar-benar tulus padanya. Ujung-ujungnya semua itu untuk Luna.
Harusnya sejak awal Rachel tidak perlu berharap sehingga tidak perlu terluka lagi.
"Halo Rachel kamu dengar papa kan?."
"Iya Pak, Aku dengar."
"Besok pagi Papa tunggu dan Papa tidak akan melaporkan Bastian ke polisi.
Rachel memejamkan mata sejenak, menarik nafas dan mengeluarkan perlahan.
"Maaf Pak aku nggak bisa. Silakan saja Papa laporkan Bastian ke polisi aku yang akan menjadi saksi Bastian. Aku yang akan membela mati-matian Bastian sampai dia dinyatakan tidak bersalah. Kalaupun pada akhirnya Bastian bersalah Aku siap menggantikannya di penjara."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....