
"Farel, kamu tidak lupa kan kamu pernah menyatakan perasaan padaku?."
"Oh yah cincin itu." seru Luna lagi.
Luna mengambil cincin berlian di dalam tasnya.
"Aku selalu membawa cincin berlian ini di dalam tasku. Saat aku merindukan kamu aku melihat cincin ini. Malam itu di rumahku kamu menyatakan cinta sambil memberikan cincin ini. Jika aku menolak, aku akan memakainya di jari tengah tapi jika aku menerima, aku memakainya di jari manis. Dan sekarang aku sudah memutuskan, aku akan memakai cincin ini di jari manisnya."
Luna memasukkan cincin ke jari manis tangan kanannya.
"Jadi mulai sekarang kita jadian kan?."
"Farel, kenapa diam saja?. Mulai hari ini kita jadian kan? Kamu sudah menungguku lebih dari 10 tahun dan aku juga tidak jadian dengan laki-laki lain karena aku menghargai perasaan kamu. Sekarang aku sudah menerima cinta kamu. Kamu jahat banget kalau tiba-tiba berkata tidak padahal aku sudah luluh."
Namun lagi-lagi Farel hanya diam.
"Farel."
"Eh, i-iya."
"Iya apa? Bilang kamu mencintaiku."
"Iya, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintai kamu, Farel." Luna bersorak senang dan memeluk Farel.
Farel tidak membalas pelukan itu melainkan mengepalkan tangan yang bertumpu di atas paha. Bingung itulah yang Farel rasakan sekarang. Bingung kenapa hati nya tidak berbunga-bungq layaknya seseorang yang di peluk pacarnya. Bahkan jantungnya tidak berdebar kencang padahal pujaan hati sejak kecil menerima cintanya.
Sekarang Farel justru memikirkan Rachel.
"LUNA, INI RUJAK KESUKAAN-."
Rachel membeku di ambang pintu saat melihat Farel dan Luna berpelukan. Kedua tangannya yang mengangkat plastik berisi rujak perlahan menurun dan melemas. Pandangan matanya bertemu dengan mata Farel.
Sontak saja Farel mendorong Luna menjauh.
"Eh," Luna terkejut tiba-tiba Farel melepaskan pelukannya dengan agak kasar. Luna menoleh ke arah pintu mengikuti pandangan mata Farel, ternyata di sana ada Rachel.
"Rachel," Dilara menepuk pundak Rachel karena menghalangi jalannya masuk.
Rachel mengerjab dan segera menyingkirkan memberi jalan untuk Dilara.
__ADS_1
"Mama." Luna menghampiri Dilara. "Lihat ini, Ma."
Luna menunjukkan cincin berlian yang ada di jari manis tangan kanannya.
"Rachel lihat ini juga."
Rachel ikut menatap cincin berlian yang sangat cantik.
"Aku dan Farel resmi jadian hari ini."
"Oh ya selamat." Rachel tersenyum, lalu mengalihkan pandangan pada Farel. " Selamat juga Farel, akhirnya lo bisa jadian juga sama pujaan hati masa kecil lo. Lo pasti bahagia banget. Jangan lupa traktir makan dan kabar-kabar ke yang lain."
Farel hanya diam dengan pandangan mata tak lepas menelusuri mata Rachel. Bibir dan ekspresi wajah bisa mengelabui, tapi mata tidak akan bisa bohong.
'Apa kamu benar-benar bahagia untukku? Bibir kamu tersenyum, tapi kenapa mata kamu seolah ingin menangis, Rachel' batin Farel dalam kebingungan.
"Terima kasih Rachel. doakan juga ya semoga hubunganku dan Farel langgeng, aku berencana serius dengan Farel sampai kami menikah. Doakan juga semoga aku dan Farel menua bersama sampai maut memisahkan kita."
Rachel menganguk sembari mempertahankan senyuman meskipun rasanya ingin menjerit sekeras-kerasnya saking sesak dada nya sekarang. Rachel tahu momen ini pasti akan terjadi. Cepat atau lambat mereka pasti bersama, tapi ternyata hatinya tidak sekuat itu menerima kenyataan. Kenyataan bahwa laki-laki yang dia cintai dari kecil, bahkan sebelum kehadiran Luna, tidak akan pernah bisa dia miliki.
"Mama aku bahagia sekali."
Dilara menggenggam tangan Luna, mendekat pada Farel lalu meraih tangan Farel dan menyentuh pada tangan putrinya.
"Nak Farel, kamu tidak akan menyesal memilih Luna sebagai kekasih kamu. Bukan karena Luna putri Tante, Tante seolah melebih-lebihkan, kenyataan Luna memang sebaik itu. Dari kecil Luna hidup serba kesulitan, tapi Luna tidak pernah mengeluhkan terus berusaha. Luna mandiri, berbakat juga cerdas. Tidak seperti anak-anak lain yang menggatungkan hidupnya pada orang tuanya."
"Luna mirip sekali dengan Mamah kamu, Farel. Tante dengar Mama kamu juga berasal dari Panti asuhan. Hidup Mam kamu penuh kesulitan dan penuh perjuangan. Sampai akhirnya Mama kamu bertemu Anthony, Papa kamu."
"Kisak kamu dan Luna mirip sekali dengan Mamah dan Papa kamu. Apalagi sifat dan karakter Luna mirip sekali dengan Sarah. Jika kalian memutuskan untuk menikah, hidup kamu pasti bahagia seperti kedua orang tua kamu Farel."
"Luna pasti bisa menjadi istri yang baik dan menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak kamu. Mungkin juga suatu hari nanti kalian memiliki tiga anak kembar yang lucu-lucu seperti Rana, Rani dan Reza."
"Tante tutup Luna, ya, Nak Farel. Sayangi dan cintai dia dengan tulus. kata orang Ayah adalah cinta pertama putrinya tapi Luna tidak pernah tau Ayahnya, jadi kamu adalah cinta pertama Luna. Tante berharap kamu juga menjadi cinta terakhirnya."
Dilara mengusap pipi Luna dan Farel bergantian.
Saat itulah Rachel berjalan mundur dan diam-diam pergi dari sana. Jika tahu akan terjadi seperti ini, Rachel tidak akan datang ke rumah sakit sehingga dia tidak perlu melihat adegan menyakitkan itu secara langsung.
Rachel mempercepat lari menuju ke lift, begitu sampai lift, air matanya tumpah.
"Nggak usah nangis bodoh," Rachel merutuk pada dirinya sendiri sembari terus mengusap air mata yang seolah tidak ada habisnya.
__ADS_1
"Kamu tahu kan sejak awal mereka saling mencintai, kamu nya aja yang terlalu berharap."
"Rachel tolong jangan nangis. Udah cukup. Capek!."
Rachel meletakkan tangan di dada kiri dan menekan dadanya kuat berharap rasa sakitnya berkurang, tapi semakin lama semakin sesak dan air matanya mengalir semakin deras.
"Kenapa... kenapa aku harus melihat semua ini. Kenapa aku harus ke sini."
"Farel." lirih menunduk sembari menekan dada nya semakin kuat. "Kenapa kamu tidak pernah melihat ke arahku? Aku di sini. Aku juga mencintai kamu."
Begitu pintu lift terbuka, Rachel berlari lagi sambil menunduk agar orang-orang tidak menyadari matanya yang memerah. Namun karena terlalu terburu-buru tanpa sengaja Rachel menabrak seseorang.
"Hati-hati."
Suara itu.
Rachel mendongak dan tangisnya langsung pecah begitu melihat sosok Sarah.
"Tante."
"Rachel, ada apa? kenapa menangis?."
Rachel menggeleng dengan air mata yang mengalir semakin kencang.
"Ya udah kita ke mobil Tante ya."
Sarah merangkul lengan Rachel dan mengajaknya keluar rumah sakit menuju mobil.
Sarah baru saja tiba di rumah sakit ingin menjenguk temannya yang bernama Agatha yang mengalami kecelakaan. Tapi melihat Rachel menangis Sarah jadi tak tega. Besok saja dia menjenguk temannya, untuk sekarang Sarah ingin fokus menenangkan putri tak sedarahnya ini.
Begitu sampai di mobil Sarah meraih kepala Rachel agar bersandar di bajunya lalu menyuruh supir untuk melajukan mobil meninggalkan rumah sakit.
"Menangislah jika itu bisa membuat kamu lega."
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1