Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 78


__ADS_3

Begitu juga Rachel yang terkejut, saking terkejutnya ia tidak tahu harus berbicara apa.


"Jangan asal bicara lo!." Bastian menyeletuk dan menajamkan mata pada Luna penuh peringatan.


Melihat intensitas pembicaraan uang semakin serius. Sarah mengajak Reza, Rana dan Rani untuk masuk ke dalam rumah.


"Mama aku mau sama Kak Rachel." Reza menolak pergi.


"Nanti main lagi sama Rachel. Reza, Rana dan Rani masuk ke dalam rumah. Tolong dengarkan Mama."


Ketiga bocah itu menganguk, Sarah menggandeng tangan Rani dan Reza sedangkan Rana menggandeng tangan Reza.


"Aku nggak bohong Tian, Om Hendrawan sendiri yang bilang padaku kalau beliau adalah Ayah kandungku. Kalau kamu nggak percaya kamu bisa tanya langsung pada Om Hendrawan. Aku nggak menyangka Ayah yang selama ini aku rindukan ternyata Ayah sahabat ku sendiri. Oh iya aku punya bukti."


Luna mengeluarkan ponsel dan memutar voice note Hendrawan yang baru tadi pagi Hendrawan kirim. Sebenarnya Luna telat bukan karena sakit tapi karena berbicara dengan Hendrawan tadi pagi.


"Kalian semua dengarkan, itu suara Papa Hendrawan."


Luna memasukkan ponsel ke dalam tas dan menatap Rachel sembari tersenyum riang, namun tak ada senyuman di wajah Rachel justru memucat saking terkejutnya.


"Rachel kita bersaudara, aku juga bagian dari keluarga Tanoepramudya. Kamu pasti sulit menerima kenyataan ini dan harus berbagi kasih sayang Papa Hendrawan denganku. Tapi kenyataan nya begitu Rachel, kita bersaudara, saudara kandung."


"Oh jadi ini alasannya," Rachel tertawa dengan mata berkaca-kaca. "Sekarang aku tahu kenapa Papa tidak bisa menyanyangiku seperti Ayah lainnya. Kenapa Papa justru lebih memprioritaskan kamu dan selalu mengutamakan kebahagian mu daripada kebahagiaanku. Dan ternyata kamu adalah anak kandung Papa. Wow, bahkan demi kebahagiaan putrinya yang lain Papa mengorbankan kebahagiaan ku yang juga putri kandung Papa. Papa begitu takut kamu terluka, tanpa memikirkan kalau aku juga sama terlukanya."


Sarah berjalan mendekat setelah menitipkan anak-anak kepada seorang art. Berdiri di samping suaminya dan menatap Anthony penuh tanda tanya. Anthony menggeleng tanda tidak tahu.


"Wajar Om Hendrawan lebih perhatian kepada ku, karena kami sudah terpisah sangat lama. Sebagai manusia seharusnya kita bersyukur, Rachel. Kamu bersyukur bisa tinggal serumah dengan Ayah kandungmu sendiri, mendapatkan fasilitas yang baik dan hidup berkecukupan sedangkan aku..."


"Sejak kecil aku tinggal di Panti asuhan, serba kekurangan. Aku juga tidak mendapatkan kasih sayang dari Ayah dan Ibu. Aku juga baru tahu kalau Mama Dilara Mama kandungku setelah aku berumur 7 tahun. Meski begitu aku tidak mengeluh dan tetap bersyukur pada Tuhan atas kehidupan yang aku miliki. Dengan bersyukur aku bisa melewati semua penderitaan dalam hidupku."


Luna tersenyum, "Dari sekian puluh tahun aku menderita akhirnya Tuhan memberiku kebahagiaan dengan menghadirkan kembali Ayah kandungku. Ini awal kebahagiaanku Rachel, kamu juga ikut bahagia kan Rachel? aku senang sekali bisa bersaudara dengan kamu."

__ADS_1


Luna ingin memeluk Rachel tapi Rachel justru mundur.


"Kenapa? kenapa kamu tidak mau memelukku? kamu tidak bahagia mendengar kabar bahagia ini? kamu tidak suka menjadi saudara ku?."


Rachel menjambak rambutnya dengan kasar.


"Aku bingung? aku bingung kenapa semua ini bisa terjadi? Oke kalau kamu memang saudara ku. Tapi kamu lebih muda 1 tahun dariku. Jangan bilang Papa menikah siri? Tante Dilara sampai Tante Dilara hamil? Atau mereka berselingkuh diam-diam di belakang Mama dan berzina?."


Luna menggeleng dan tersenyum.


"Aku buah cinta Mama dan Papa, Rachel. Mama dan Papa sudah mengenal sejak kuliah, lalu seiring berjalan nya waktu mereka semakin dekat. Dan akhirnya jatuh cinta. Tiba-tiba Mama kamu datang sampai terjadilah malam itu."


"Lalu Tante Ayuma meminta Kakek Wisnu untuk menjodohkan mereka. Tapi Papa menolak karena Papa mencintai Mama. Tapi Mama kamu justru menjebak Papa dengan memberikan obat perangsang sampai terjadilah malam itu."


"Malam yang tidak pernah Papa inginkan, yang secara tidak langsung Papa juga tidak menginginkan kehadiran kamu. Lalu Tante Ayuma hamil dan mau tidak mau minta Papa bertanggung jawab. Mama kamu seorang pelakor, Rachel."


"TIDAK MUNGKIN MAMA MELAKUKAN ITU."


"Aku tahu pasti sulit menerima kenyataan ini tapi fakta nya memang begitu, Rachel. Mama kamu seorang pelakor. Pelakor dari kisah cinta Mama Dilara dan Papa Hendrawan. Tapi aku yakin kamu sangat baik dan tidak akan mungkin jadi pelakor seperti Mama kamu. Kamu..."


Plak.


Semua orang terkejut Rachel menganyunkan tangan dan menampar keras pipi Luna sampai Luna terhuyung ke samping.


"Sekali lagi lo bilang Mama gue pelakor. Bukan hanya pipi lo aja yang gue tampar, tapi juga merobek mulut lo sampai lo nggak bisa bicara lagi!."


Luna membeku di tempat dengan tangan memegang pipinya. Panas itu seolah menjalar dari pipi masuk ke dalam hati lalu menjalar ke seluruh tubuh.


Seumur hidup ini baru pertama kali ada yang berani menamparnya. Bahkan Mama Dilara Ibu kandungnya tidak pernah menamparnya.


Dan parahnya lagi Rachel melakukan itu semua di depan semua orang seolah sengaja mempermalukan nya. Sempat tadi, Luna berharap Farel menahan tangan Rachel sebelum Rachel mendaratkan tangan di pipi nya. Tapi Farel hanya diam saja.

__ADS_1


Luna menegakkan badan dan menatap Rachel tak habis pikir.


"Rachel, kenapa kami menamparku? Aku hanya memberitahu kamu sebuah fakta. Aku tahu fakta ini menyakitkan tapi begitulah kenyataan nya. Tapi itu sudah masa lalu aku yakin Tante Ayuma sudah berubah."


"Fakta lo bilang? lo punya bukti? Sini tunjukkin sama gue kalau Mama ngasih obat perangsang untuk Papa. Nggak punya kan lo? kalau nggak tahu apa-apa nggak usah ngomong."


Rachel bisa menahan semua hinaan yang di lontarkan padanya, tapi jika sudah menyangkut Ibu, Rachel tidak bisa tinggal diam.


Rachel juga tidak ingin menyakiti Luna. Apalagi menamparnya seperti ini. Tapi mulutnya sudah keterlaluan.


Seandainya semua yang di katakan Luna adalah benar. Tapi tidak seharusnya dia mengatakan itu di depan semua orang. Masalah ini masalah pribadi dan harus dibicarakan secara kekeluargaan.


Duduk dalam satu meja bersama Hendrawan, Dilara, Ayuma untuk mendengarkan bagaimana detail ceritanya dari masing-masing pihak sehingga tidak ada kesalahpahaman. Kesalahpahaman adalah sebuah kehancuran dalam sebuah hubungan entah hubungan keluarga, persahabatan atau hubungan apapun itu.


Tapi Luna dengan bangganya mengumbar aib keluarga di depan semua orang. Rachel benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Luna.


"Papa sendiri yang menjelaskan semua itu padaku Rachel."


"Terus kalau Papa bilang bumi bentuknya segitiga lo juga percaya? kalimat terucap tanoa bukti itu namanya omong kosong. Gue percaya Mama tidak akan melakukan itu. Mama bukan seorang pelakor. Dan gue yakin gue bukan anak di luar nikah. Kalau lo mau bukti akan aku carikan. Kapan Papa dan Mama menikah, kapan Mama hamil, kapan gue di lahirkan. Gue akan carikan semua bukti itu. Tapi untuk apa gu carikan bukti kalau nyata nya lo akan tetap mempercanyai yang intinya lo akan merasa berada di atas gue."


Rachel melangkah maju dan menatap Luna tepat di bola mata.


"Dan berdasarkan cerita yang lo katakan tadi. Lo bilang lo buah cinta dari Papa dan Mama lo? Buah cinta hasil perselingkuhan maksudnya? Lo tau Lun, hal yang paling menjijikan di dunia ini adalah perselingkuhan. Kalau gue jadi lo gue nggak akan cerita semua ini di depan semua orang. Alih-alih menjatuhkan gue dan mendapatkan simpati, lo justru membongkar aib lo sendiri."


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2