Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 119


__ADS_3

Farel tak mau kalah dan menjaamkan mata pada Brandon.


"Tapi lo tau kan Rachel cinta sama siapa?."


Brandin mengepalkan tangan kuat, ",Gue nggak peduli Rachel cinta sama siapa, yang penting dia ada di sisi gue. Dia bilang dia bahagia dengan hubungan ini."


"Bahagia?. Farel terkekeh, merebut vodka dari tangan Brandon dan menuangkan ke dalam gelasnya, lalu meneguk lagi, "Lo tau jawabannya, Apa Rachel benar-benar bahagia sama lo atau enggak!."


Brandon menunduk dengan menumpukkan kedua tangan di atas lutut lalu mencengkram rambutnya.


Kini mereka sudah mabuk, antara sadar atau tidak sadar dengan apa yang mereka katakan.


"Rachel bahagia! Rachel cinta pertama gue! gue nggak mau kehilangan cinta pertama gue seperti gue kehilangan mama. Semua hal yang ada di dalam diri Rachel mengingatkan gue sama mama. Gue nggak mau kehilangan sosok Mama untuk yang ke dua kalinya."


Brandon berkaca-kaca.


"Lo sama kayak gue! itu namanya obsesi. Obsesi itu ..." Farel menggelengkan kepala saat kepalanya terasa berat dan berputar-putar, "Eh itu apa? kenapa banyak bintang-bintang?. Don, lo liat bintang itu?."


Farel merangkul pundak Brandon dan menunjuk atap dengan jari telunjuknya. "Itu bintangnya beesaaar."


"Mana?." Brandon juga menggeleng-gelengkan kepala karena kepalanya terasa berat, "Oh itu, iya besar, warnanya biru," rancau Brandon.


Farel menggeplak punggung Brandon.


"Mana ada bintang biru."


"Terus apa?."


"Hijau hahahaha."


Mereka sama-sama tertawa konyol. Lalu teman Brandon datang dan memberikan vodka baru untuk mereka. Sekaligus traktiran dari senior.


"Ini dari Bang Tirta."


"Ok, thanks."


Lalu sambil terus minum, kedua mata pemuda tampan itu lanjut berdebat tentang perasaan mereka pada Rachel dengan kesadaran yang sudah setengah hilang.


.


.


.


"Eh itu bukannya Farel sama Brandon ya? mantan lo sama pacar nya temen lo Rachel itu kan?."


Luna menoleh mengikuti arah pandang temannya, sedikit menyipitkan mata untuk memperjelas pandangan karena tempat klub agak gelap.


"Iya, itu mereka." jawab Luna setelah yakin kedua pemuda yang terlihat akrab itu Farel dan Brandon. Mereka terlihat seperti sedang berdebat, tapi tiba-tiba tertawa bersamaan.

__ADS_1


"Wah semua orang ada di pihak Rachel nih. Kasian banget lo, Na."


Luna hanya tersenyum kecut, May protes tapi kenyataannya memang begitu. Sekarang semua orang memusuhi nya dan berada di pihak Rachel.


Setelah dari rumah sakit tadi, Luna kembali ke apartmemt. Sedangkan Dilara ke kantor Hendrawan. Lalu kedua temannya sesama artis ini datang setelah Luna mengatakan pada mereka akan pindah ke luar negeri.


Mereka sedih mendengar itu, lalu mengajak Luna ke Klub untuk bersenang-senang sebelum keberangkatan nya besok. Sekaligus untuk perpisahan.


Awalnya Luna menolak, selain kondisi nya kurang fit. Luna juga tidak mood melakukan apapun. Tapi pada akhirnya Luna mengiyakan permintaan mereka.


Luna takut mereka memusuhinya dan meninggalkan nya. Luna takut tidak punya teman.


"Udah tenang aja, meskipun semua orang musuhin lo. Kita berdua nggak akan pernah ninggalin lo."


Luna menganguk, "Terima kasih."


"Sama-sama."


Luna lega mendengar itu, setidaknya dia masih punya teman dekat.


"Udahlah, lupakan urusan cowok malam ini. Kita senang-senang saja. Luna, lo harus cobain ini!."


Luna mengambil gelas berukuran sedang yang di sodorkan temannya.


"Cheeers."


Mereka membenturkan gelas masing-masing dan meneguknya. Luna langsung memejamkan mata saat merasakan alkohol membasahi tenggorokan nya. Rasanya agak pahit.


Luna menggeleng, "Enggak mau, pahit."


"Ayo dong! masa segitu doang. Kita berdua aja udah hampir habis nih. Kalau lo nggak mau habisnya, kita nggak akan temenan lagi sama lo."


"Jangan," Luna menggeleng cepat.


"Ya udah habisin."


Menahan rasa pahit Luna meneguk bir itu sampai habis.


"Yeah." kedua teman Luna bersorak riang.


Luna tersenyum lebar, senang melihat teman-temannya senang. Kedua teman Luna mengajak Luna ke Dance floor. Luna berjoget mengikuti irama musik. Beberapa laki-laki mendekat dan mengerubunginya.


Luna yang sudah mabuk tidak memperdulikan mereka dan terus berjoget. Hingga perlahan-lahan Luna merasa tubuhnya terasa aneh.


"Panas." Luna merasa begitu panas dan area sensitif nya terasa gatal.


Luna mengendarkan pandangannya ke sekeliling, keringat mulai membasahi dahi dan Luna mulai meraba-raba dada dan area intimnya.


"Aku kenapa?."

__ADS_1


"Ikit gue!." tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya, Luna yang merasa pusing dan merasa tubuhnya semakin aneh, hanya mengikuti langkah perempuan yang entah siapa ini.


"Kamu siapa?."


Luna mencoba memulihkan kesadarannya, namun efek alkohol membuatnya pusing dan tidak bisa berpikir apapun. Di tambah dengan tubuhnya yang terasa sangat panas.


Mereka sampai di lantai 5, lantai yang khusus untuk menginap terdiri dari 8 kamar.


"Kamu mau membawaku kemana?."


Bella tak menjawab, membuka salah satu pintu kamar yang sudah dia pesan, lalu mendorong Luna ke ranjang.


"Gue bakal rekam lo dan sebar vidio lo. Lo harus ikut merasakan kehancuran gue."


Bella memasang kamera tersembunyi di dekat vas bunga lalu mematikan lampu dan keluar dari kamar.


Sesampainya di lantai dua, Bella tak henti untuk berdecak sambil menatap ke arah pintu menunggu kedatangan Om-om yang sudah janjian dengannya. Selain untuk membalaskan dendam pada Luna, Bella juga mendapatkan uang dari om om yang menginginkan tubuh Luna. Secara garis besar, Bella menjual Luna.


Apalagi Luna seorang artis, tentu banyak yang mengincarnya.


Untuk menjebak Luna, Bella bekerja sama dengan kedua teman Luna. Bella memesan minuman dengan kadar alkohol tinggi dan mencampur dengan obat perangsang. Setelah Bella mendapatkan uang dari Om-om itu Bella akan membagi dengan mereka.


Sambil menunggu, Bella mengecek rekamannya untuk memantau apa yang sedang Luna lakukan.


"Eh?."


Dan betapa terkejutnya Bella saat melihat Luna sedang bercumbu dengan seorang laki-laki.


"Ini siapa?."


Bella memperbesar layar vidio serta menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas siapa cowok ini dan ternyata....


"Sial kok bisa sih? kenapa harus dia. Duh gimana nih."


Bella menggigit kukunya sambil terus menatap ke arah ponsel. Di rekaman itu terlihat Luna dan cowok itu mulai melucuti pakaian masing-masing, saling mencumbu liar dan penuh gairah. Melakukan foreplay cukup lama lalu menyatukan tubuh mereka.


Bella sampai menelan ludah dengan susah payah melihat pernyatuan liar mereka. Melihat percintaan sepertinya mereka sama-sama tidak sadar.


***


Perlahan Farel membuka mata, namun karena kepala nya sangat pusing. Farel memejamkan mata lagi. Setelah merasa lebih enakan Farel membuka mata, mengerjab beberapa kali untuk memperjelas pandangan.


"Eh," Farel tersentak saat mendapati wajahnya berjarak sangat dekat dengan Brandon dengan posisi saling berpelukan.


"Sial," Farel sontak menendang perut Brandon hingga Brandon terguling jatuh di bawah kasur.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2